man is condemned to meaning
Marleau Ponty
Monterey Bay Aquarium

#extradirty

izzy's playlists!
cherry valley forever
Sade Olutola
KIROKAZE
DEAR READER

Kaledo Art
hello vonnie
TVSTRANGERTHINGS
Today's Document
Three Goblin Art
Game of Thrones Daily

No title available
almost home

PR's Tumblrdome

Product Placement

JVL
he wasn't even looking at me and he found me
No title available

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Singapore
@anarchy-ring
man is condemned to meaning
Marleau Ponty
Pertanyaan terkait jaringan aktor
apakah manusia benar-benar memiliki kuasa ketika ia benar-benar membutuhkan aktor lain? apakah relasi kuasa masih menjadi relevan dalam perspektif ini? apakah manusia dan teknologi adalah dua bagian yang terpisah? atau memiliki tingkat keagenan yang sama? mengapa beberapa ide mapan dan yang lain tidak? apakah karena jaringan pada ranah ini tidak stabil?
Catatan Tentang Agnostisisme II: Bagaimana Agnostik Hidup
ketika saya sampai membaca buku Robin Le Poidevin pada Bab 6 yang menjabarkan kemungkinan agostik yang religius secara praktis, saya cukup mendapat pencerahan baru. pada Bab sebelumnya diceritakan bahwa sifat mudah percaya dari manusia itu terkait adanya relasi kuasa, bisa mudah percaya dengan tokoh agama tertentu misalnya. Pengalaman-pengalaman spiritual seperti kehadiran sosok yang transendental tidak menjadikan pengalaman itu valid secara rasional. Temporal lobe adalah bagian dari otak manusia yang menghasilkan halusinasi, cukup menjelaskan bagaimana pengalaman tentang hantu atau sosok transendental itu terasa hadir. Apakah kita bisa religius secara praktis dan agnostik secara teoretis. Jawaban singkatnya adalah “ya bisa”. secara teoretis kita bisa menjadi ateis dan teis dalam hal praktis. penjabaran oleh Le Poidevin adalah sebagai berikut: ketika kita membca karya fiksi misalnya L’Éstranger dari Albert Camus yang menceritakan seorang bernama Meursault yang tidak merasakan emosi sama sekali ketika ibunya meninggal, ketika ia membunuh orang, sampai ketika ia dijatuhi hukuman. Kita merasakan betapa amoralnya karakter tersebut. kisah fiksi lain seperti Lord Of The Flies karya William Golding (salah satu buku yang saya beli tanpa harga diskon dari toko buku), kita merasa kasihan terhadap Piggy, kita merasakan kejahatan Jack Merridew, kita bersimpati terhadap Ralph. Dinisilah agama dipandang dalam kehidupan kita, seperti sebuah fiksi yang membangkitkan emosi jiwa, merasakan kebenaran dan kesalahan, moral dan amoral dst. sebagaimana peristiwa dalam kitab tidak masuk akal dan mengada-ngada, kita merasakan simpati dan emosi lainnya terhadap tokoh tertentu, inilah bagaimana agama dijiwai. Menjadi agnostik mungkin penuh dengan ketidakpastian dan keraguan bahkan plin-plan, tapi aspek emosi yang bermoral masih relevan dalam diri kita sebagai manusia.
Catatan Singkat Tentang Agnostisisme
Saya baru saja membaca karya Robin Le Podevin tentang pengantar pendek agnostisisme. Buku ini tipis isinya sedikit, namun memberikan saya perspektif baru terkait agnostisisme. Pada definisinya agnostisisme adalah sikap terhadap yang tidak bisa kita ketahui, meskipun banyak yang menghubungkan ini dengan ateisme namun ia lebih dari itu, Ketika anda tidak bisa mengetahui kebenaran sains atau seni, anda bisa menyebut diri anda agnostik terhadap dua Lembaga itu. Ketika anda diajukan pertanyaan “apakah anda percaya akan hal ini?”, Ketika jawaban anda adalah “saya tidak yakin” atau “saya tidak tahu” maka anda dihadapkan dengan keadaan agnostik. Saya tidak lupa menyebutkan dalam karya ini disebutkan tokoh terkemuka agnostik yakni Thomas Huxley yang juga dijuluki “Darwin Bulldog”. Huxley menemukan istilah ini dari bahasa Yunani dalam frasa “agnosto theo” yang berarti, kepada tuhan yang tidak diketahui. Agnostisisme adalah keadaan mental atau kognitif, skeptisisme adalah metode untuk mencapai keadaan itu. Ketika kida dihadapkan pada pengalamam empiris, hal itu bisa saja mengelabui kita, namun pemikiran rasional tidak juga bisa membuktikannya. Keberadaan tuhan tidak bisa dibuktikan..namun juga tidak bisa disangkal. Dalam pandangan saya sendiri, menjadi agnostik bukan sebuah jalan “aman” atau jalan tengah antara teis dan ateis, namun lebih dari itu. Ada kegelisahan filosofis “bagaimana jika ini..?”, “bagaimana jika ternyata begini?”. Pertanyaan terus muncul dan tidak ada jawaban yang mutlak. Ketika sekian banyak Lembaga kebenaran seperti sains, filsafat, seni, dan agama memiliki jawaban masing-masing tentang kosmos dan keberadaan tuhan, jalan pikiran seorang agnostik terus bertanya-tanya tanpa ada bukti.
Pemikiran Terhadap Nasionalisme
baru-baru ini saya membaca tulisan George Orwell tentang nasionalisme. Orwell mengemukakan bahwa nasionalisme membutakan seperti cinta. nasionalisme pun bukan hanya soal kecintaan, tapi juga soal prestise dan kuasa, dimana hal ini berujung kepada superioritas kelompok atau golongan tertentu. ketika seseorang berada di pihak nasionalisme tertentu, seberapa kejam dan tidak berkeprimanusiaannya tindakan dan aksi sebuah negara, hal tersebut akan dianggap normal dan baik-baik saja oleh golongan nasionalis. saya tidak pernah tidak setuju dengan Orwell, saya sepakat dalam hal ini. namun terkadang pandangan Machiavelian mengatakan hal yang berbeda dimana rasa takut akan menumbuhkan kepatuhan terhadap sebuah negara, itu yang menjadikan sebuah pemerintahan efektif. disini terasa kontras antara cinta dan rasa takut.
Catatan Untuk Etika dan Emosi
Kata cinta sering kali dianggap lebih efektif dan bermakna ketimbang terapi kejut listrik dan obat-obatan psikotropika, kadang-kadang itu satu-satunya obat terhadap kondisi yang tak hanya muncul karena konsekuensi sifat biologis tapi juga oleh kejahatan
“Death to all those, who whimper and cry” - Bob Dylan #nftindonesia #80scomics #cyberpunk #cyberpunkart #manga #anime #japanesecyberpunk #illustration #art #conceptart #cyberpunkillustration #マンガ #akira #アニメ #アート #contemporaryart #brutsubmission #popculture #80saesthetic #80s #citypop #art #illustration #digitalart #procreate #lowbrow #lowbrowart #cryptoart #NFT #vaporwave https://www.instagram.com/p/CSoTFWuF0jI/?utm_medium=tumblr
Quattro Freshly minted artwork available at @cybernetics_nft on @refinableapp Go visit our profile for this NFT details #quattro #audiquattro #nftindonesia #80scomics #cyberpunk #cyberpunkart #manga #anime #japanesecyberpunk #illustration #art #conceptart #cyberpunkillustration #マンガ #akira #アニメ #アート #contemporaryart #brutsubmission #popculture #80saesthetic #80s #citypop #art #illustration #digitalart #procreate #lowbrow #lowbrowart #nftart #NFT #vaporwave https://www.instagram.com/p/CSlcCs4lI9U/?utm_medium=tumblr
Big Bean Burrito Robot #obscureillustration #productplacement #contemporaryart #art #illustration #surreal #surrealism #popsurrealism #lowbrowartist #lowbrow #lowbrowart #lowbrowpopsurrealists #アート #モンスター #漫画 #brutsubmission #analog #grafitti #pastelaesthetic #indonesiancontemporaryart #popart #surrealist #digitalart #digitalpainting #cryptoart #nftart #NFT https://www.instagram.com/p/CR51y16gMoy/?utm_medium=tumblr
there are no other artwork dedicated to my mother. never thought that it'll happen so fast, seems like only yesterday that we have dinner chit chat. you really know how to raise and handle a little dirty snotty brat like me, here i'm boldy say that i'm the proudest son in the world and i really do hope you feel the same to me. really hope that this isn't goodbye. send my warmest love to bapa too, you guys can now be the happiest couple up there. and i have a fantasy..if there's ever one chance for me to choose where to be born, i will choose none other than you, and i hope that you will accept me as your kid again. the hardest and devastating part is probably the part where i miss you everyday, though it's hard but i hope that proves you enough that i really cared. and i'll let the public to know that. can't thank you enough for everything you gave me. rest in peace ibu & bapa. til i see you again #artwork #illustration #citypop #popsurrealist #surreal #surrealillustration #digitalart #ars #kunst #monmere #analogcommune #digitalillustration #図 #popart #manga #lowbrowart #lowbrowartist https://www.instagram.com/p/CRdoziAgfmw/?utm_medium=tumblr
A-Thoughts : Budaya Submisif dan Otoriter Dalam Tradisi Penghormatan Dan Kebaktian Kepada Orang Tua
Kita dilahirkan dalam dunia ini bukan atas dasar kemauan kita, dalam ungkapan Jean-Paul Sartre, kita terlempar dalam dunia ini, terkutuk dengan kebebasan kita. Orang tua di sisi lain, menginginkan kehadiran anak, melalui hubungan seksual. Namun itu dilakukan atas kehendak dan keinginan mereka sendiri. Apakah kita sebagai anak menginginkan kelahiran kita di dunia ini? Kehendak kita bukan pada diri kita, namun dokrin yang kita dapat semasa kecil kita adalah bahwa kita harus bersyukur akan kehidupan ini, berterima kasihlah kepada orang tua dan berbaktilah kepada kedua orang tua karena mereka telah membesarkan dan mendidik kita dengan tumpah darah mereka. Meninggalkan kita pada satu pilihan, bahwa kita harus tunduk kepada orang tua, sosok pendidik, penyelamat dalam rumah tangga. Seolah-olah kita berhutang seumur hidup kita atas jasa yang mereka yang tak bisa kita bayar dengan hal apapun. Namun apa pilihan kita? Tidak ada. Segala tuntutan mereka harus kita penuhi, Ketika mereka sakit kita harus segera cepat tanggap, ekonomi mereka Ketika mereka sudah tua harus kita sokong sementara kita harus menyokong ekonomi diri kita sendiri. Perlu dikethui bahwa tradisi ini terjadi di Indonesia, dimana hal-hal yang mapan dan radikal dikonservasi. Tradisi memberi ke orang tua dalam hal materiil berupa uang, makanan, dan benda lainnya agar hidup kita selamat dalam dunia dan akhirat membuktikan bahwa ketergantungan kita dengan mereka sepanjang hidup berdasarkan ketakutan. Ketakutan akan laknat, sial, dosa yang dalam hal ini abstrak sekali, tidak ada realitas objektifnya. Dalam masa kecil saya, sempat beredar video ikan pari yang dilansir bahwa ikan pari tersebut adalah manusia yang telah dikutuk oleh orang tuanya karena dia telah durhaka (terdapat beberapa versi cerita terkait video ini, dalam hal ini, versi cerita yang saya dapat adalah bahwa dia telah menghina orang tuanya, karena tidak diperbolehkan keluar, bergaul dengan teman-temannya). Dalam masa kecil saya, video tersebut menumbuhkan rasa takut yang besar terhadap perlakuan saya kepada kedua orang tua saya, dan itu adalah gejala-gejala kediktatoran dalam keluarga. Pada masa dewasa saya, saya selalu ditekankan bahwa kewajiban saya untuk terus memberi uang kepada orang tua saya adalah hal yang etis dan tidak bisa dibantah. Di satu sisi saya selalu ingin membangun mimpi-mimpi saya pada waktu itu, untuk membangun ekonomi, melalui ekspresi-ekspresi seni saya, dalam hal ini adalah musik dan seni rupa. Saya merasakan adanya belenggu dan ikatan yang kurang sehat disini, yang membiaskan antara afeksi dengan tradisi yang konservatif. Kembali lagi kepada pernyataan Sartre yang disinggung diawal, saya tidak memilih untuk dilahirkan di dunia ini, orang tua saya yang telah melahirkan saya ke dunia ini, dan kemudian saya berhutang budi sepenuhnya kepada orang tua saya terhadap karunia kehidupan ini. Ini menimbulkan pertanyaan besar, kenapa saya justru menjadi berhutang kepada kedua orang tua saya, atas kelahiran saya di dunia yang notabene itu adalah keinginan mereka?. Mungkin adik-adik saya tidak menyadari hal ini, tapi saya menyadarinya. Namun saya tidak ingin ada kesalah pahaman dalam hal emosional, saya sangat menyayangi kedua orang tua saya dalam hal apapun. Sekarang mereka telah tiada, dan saya merasa sendiri, tidak ada ada lagi teman untuk berkeluh kesah dalam pahitnya kehidupan, tidak ada lagi teman untuk selebrasi atas segala pencapaian dan manisnya kehidupan. Saya cukup dekat dengan orang tua saya, terutama ibu saya, kami sering berbagi cerita satu sama lain. Dan dalam hal ini saya menemukan (dari obrolan saya berasama ibu saya) akar dari tradisi “hutang eternal” ini adalah turun temurun. Nenek saya sangat keras dalam mendidik dan menundukan anak-anaknya, termasuk ibu saya. Saya berasumsi meski ibu saya tidak ada intensi untuk mendidik saya atau meminta bakti saya dalam hal yang serupa, namun tradisi turun temurun ini sudah mengakar dalam alam bawah sadar, sehingga mau tidak mau, sengaja atau tidak sengaja, perlakuan tertentu terjadi pada saya. Saya tidak megeneralisir semua perilaku orang tua pada generasi saya, tapi saya meyakini sebagian orang mengalami hal yang sama. Selama ini saya merasa kedudukan dan bakti saya kepada orang tua bukan atas dasar afeksi (setidaknya sebagian besar/setengahnya) tetapi atas rasa takut saya kepada mereka. Rasa takut yang begitu abstrak dan superfisial, takut dosa, takut hidup saya tidak terberkahi, takut terlaknat, takut sial. “Il Principe” karya Niccolo Machiavelli cukup membuka pikiran saya dalam hal rasa takut, dimana ikatan bersarkan rasa itu sangat kuat sehingga orang-orang tunduk kepada penguasa, tapi tunduk karena rasa cinta melemahkan dan menghadirkan berbagai permintaan akan kesempurnaan, dan tanggung jawab yang mungkin saja berujung pada pemberontakan. Namun itu adalah hal yang berbeda dalam penghormatan kepada orang tua karena ada aspek-aspek lain yang menjadikannya berbeda, karena kita betul-betul lahir dari Rahim ibu kita dan dibesarkan oleh ayah dan ibu kita. Bukankah lebih baik jika apa yang kita beri kepada mereka bukan atas dasar paksaan dan rasa takut? Bukankah afeksi akan menciptakan ikatan lain dan tanggung jawab yang berbeda?. Saya tetap menyayangi mereka, saya tetap merindukan keberadaan mereka, tapi saya harap bukan karena rasa takut akan hilangnya panutan/role model, tetapi murni karena afeksi.
Day 1.2 #robot #robots #scarcrow #monster #dystopian #doodle #doodleart #art #artwork #contemporaryart #digital #digitaldrawing #drawing #illustration #beuxarts #beux #collage #ars #seamless #lowbrow #lowbrowart #lowbrowlust #brutsubmission #図 #アート #お絵かき #person
Day 1.0 #monster #dystopian #crow #raven #doodle #doodleart #art #artwork #contemporaryart #digital #digitaldrawing #drawing #illustration #beuxarts #beux #collage #ars #seamless #lowbrow #lowbrowart #lowbrowlust #brutsubmission #図 #アート #お絵かき #person
#mountain #family #holiday #art #artwork #contemporaryart #digital #digitaldrawing #drawing #illustration #beuxarts #beux #collage #ars #seamless #lowbrow #lowbrowart #lowbrowlust #brutsubmission #図 #アート #お絵かき #person
La Llorona Loca #art #artwork #contemporaryart #digital #digitaldrawing #drawing #illustration #beuxarts #beux #collage #ars #seamless
Did this artwork for a band called Healing Leopard
Exploring mandala #doodle #art #drawing #mandala #doodleart #doodlearts #illustration #ornament #beuxarts #beux #kunst