haruskah ada alasan untuk memberi ?
saya baru saja membaca blog seseorang yang menulis pengalamannya dengan ‘pengemis’ yang tidak mengenakan. saya jadi teringat akan pengemis-pengemis di tempat saya menimba ilmu sekarang, Islamabad, yang tidak jauh berbeda. tanpa ada maksud meremehkan, merendahkan atau merasa sombong, saya igin bercerita tentang hal yang sejak lama sering menimbulkan gejolak d fikiran maupun hati saya, ‘how to be good to a beggar ?’.
dulu waktu kecil, wang (panggilan saya kepada ayah) mengajari saya untuk tidak memberi kepada pengemis, “itu artinya kita mendidik dia untuk manja dan ndak berusaha untuk cari kerjaan lain” katanya. sometimes i admit it’s true, but sometimes, even always saya merasa kasihan saat liat mereka dengan pakaian kumuh, baju compang camping, apalagi kalau sudah tua, duh ga kuat hati ini bang. Meskipun saya akan sangat lebih menghargai ktika mreka mmpunyai usaha untuk dptin rizki halal slain mngemis.
tapi di sini, Islamabad, saya menemukan banyak sekalli bentuk gemah rupa loh jinawi mereka, yang berbeda dengan pengemis di indonesia pada umumnya, yang duduk kalem di pinggiran mall, ruko2, jalan2, dengan aqua gelas legend, menengadahkan tangan dan ga lupa berdoa ketika ada yang bermurah hati berbagi rezki, dan bersabar kalo aqua gelas nya belom keisi. mereka disini beda, bukannya bikin mata menitikan air malah pngin ngusir. Astagfirullaah, saya tau ini sama sekali tidak mencerminkan ciri-ciri muslimah sejati, sayar’i berprestasi dan menginspirasi, but you should try to know it.
gak jarang ketika ke tempat perbelanjaan didketin sama pengemis entah ibu2, adek2, cowo, cewe, bahkan cowe (you know what i mean). Dan kalo kita ga ngasi bakal di ikutin sampai beberapa meter bahkan bisa sampai di towel2 atau narik2 tas seolah ngerengek minta dikasi, dari pada pengemis mereka lebih kaya tukang palak yang tidak galak (tapi gak semuanya seperti itu sih). sebagai orang asia tenggara yang menjunjung sopan santun dan etika, pastinya saya dan kebanyakan teman2 indonesia merasa risih, apalagi ga semua dari kita paham bahasa urdu, dan akhirnya ga jadi ngasih duit, padahal punya. belum lagi doktrin2 seperti yang ditanamkan oleh ayah saya tadu atau alasan terkait takut uangnya bakal dipake buat macem-macem lah,tidak mengedukasi lah, nanti jadi kebiasaan lah, hidupnya gak akan maju2 lah etc etc yang menghalangi kita untuk memberi sedikit rizki yang ga lebih dari duit jajan sehari, tapi itu ckup buat mereka bersenang hati.
Tapi yang saya renungi disini adalah apakah pantas kita meramal bukan2 yang akan terjadi setelah mereka diberi uang ? apakah dengan tidak memberi itu adalah cara yang tepat untuk mengedukasi mereka ? apakah niat kita yang katanya untuk kebaikan mereka itu lebih penting dari skedar mengisi sedikit ruang diperut mereka ? apakah ini benar2 jalan Allah menjadikan tangan kita perantara untuk menyambung hidup mereka?
Entahlah, padahal islam memerintahkan untuk menyantuni anak yatim dan mengasihi fakir miskin. Sudah, smpai dstu saja, tanpa ada embel2 pngcualian mereka itu suka towel2 atau maksa2. mungkin kita terkadang berfikir, 'kalau aja mereka berperilaku baik kita pasti udh gw kasih tuh'. Hmmm bukankah tidak ada alasan untuk berbuat baik ? Begitu kata ceramah2 yang sering saya dengar. Tapi nyatanya tidak semua manusia sampai ke tahap itu, termasuk saya yg msh awam tntang agama. tapi setidaknya dengan keadaan yang berkecukupan ga ada salahnya untuk sekedar mmberi sedikit rzki sbgai tnda syukur. Karena kit ga tau amal baik mana yang benar2 akan diterima, dan bisa jadi rzki yg kt bagi wlopun sdikit tp iklas hati bkal jd pemulus urusan kita d dunia bhkan diakhirat nanti. Wallahu a'lam. Jadi, masih fikir panjang untuk memberi ? Ushikum wa iyya yaa nafsi.