Sudah bulan ketiga sejak aku memutuskan untuk melibatkanmu kembali di bagian hidupku. Berbulan-bulan sebelum kembali dari pengasingan. Kau masih ada. Tetap ada. Enggan beranjak. Hingga aku datang, merayumu untuk meninggalkan sangkarmu.
Pertemuan kali ini membuatku terenyuh. Lantas tersadar, bahwa kau bukan hanya seseorang. Melainkan sesuatu. Aku ingin menyelamimu lebih dalam. Tak apa jika pada akhirnya aku tenggelam. Sebab kau yang akan menarikku kembali ke permukaan.
Aku ingin berkisah tentangmu. Tentang seseorang yang tak hanya memberiku hujan, tapi juga menghadirkan pelangi setelahnya.
Kau itu tanah. Merendah serendah-rendahnya adalah keahlianmu. Bahkan ketika kau telah memiliki segalanya, kau tetap berada di tempatmu berpijak. Kau pernah berucap, bahwa kau tak memiliki impian, apapun itu. Sebab katamu, kau tak pandai berhitung, dan enggan melakukannya. Kemudian aku berharap, kau adalah tanah yang bisa ku genggam.
Kau itu angin. Seringkali kau berjalan tanpa rencana. Hanya dengan prinsip, "Kemana angin berhembus", kau hinggap ke tempat dan orang-orang yang tak kau duga. Menjadikanmu seseorang dengan persinggahan paling banyak. Tapi kau bilang telah menemukan rumahmu. Aku. Tempatmu akan pulang setelah lelah mengembara. Tempatmu mengisi tenaga, setelah tangis dan tawa; luka dan bahagia; pun jatuh dan cinta yang diberi oleh semesta.
Kau itu savana. Atau, kau mungkin langit biru. Kau itu luas. Tak dapat dijangkau oleh apapun. Dunia bukanlah apa-apa. Sebab kau melihat dunia dengan caramu sendiri. Akan ku katakan padamu begini, "Kau tak butuh dunia. Sebaliknya, dunia yang membutuhkanmu. Terlebih duniaku".
Kau itu mars. Kau memiliki bintang dan mataharimu sendiri. Kau tidak terpaku pada siang pun malam. Bagimu, langit adalah hijau dan dedaunan berwarna biru. Kau adalah imajinasi yang membuatku ingin memilikimu, sekali lagi.
Kau itu magnet. Membuatku terhanyut pada apa-apa yang kau ucapkan. Membuatku terlena pada apa-apa yang kau lakukan. Membuatku berdecak pada apa-apa yang ada di pikirmu. Lantas, kau membuatku candu pada apa-apa yang akan terjadi padamu. Di hari ini, esok, dan selamanya.
Kau itu puisi. Segala hal yang indah pun mengindahkan. Kau membuat satu menjadi makna. Merapalkan doa menjadi harapan. Kau syahdu meneduhkan. Berkali kau bilang, buaianku melemahkanmu. Namun, sungguh, kaulah yang membuatku terkulai. Oleh apa-apa tentangku yang kau ubah menjadi bait-bait yang membahagiakan.
Lalu, kau itu cinta. You proof that sunset can be a beautiful ending. Kau mengajariku bahwa tak ada cinta yang gila dan menggilakan. Bahwa di matamu, masa lalu bukanlah cinta melainkan perjalanan. Perjalanan menuju rumah yang sebenar-benarnya rumah.
Tujuh hal yang ku tulis tentangmu hanyalah segelintir yang ku ungkap. Izinkan aku tetap di dekatmu dan biarkan inderaku yang mengungkap segalanya. Kau terlalu istimewa untuk dilewatkan, dan maaf sebab pernah melewatkanmu.
Terakhir, terima kasih, karena menjadikanku rumahmu.
Kini dan nanti, yakinlah bahwa hanya kau yang akan ku tuju.