Menemukan Rasa Cukup
Seorang pedagang nasi, membuka dagangannya ba'da shubuh sampai jam sembilan pagi. Warungnya selalu ramai dan selalu habis.
Banyak pelanggannya yang terlambat karena kesiangan dan warungnya sudah keburu tutup.
"Kenapa tidak menambah porsi dan jam buka?" tanyaku penasaran. Omset jelas bertambah, juga tidak mengecewakan pelanggan yang kesiangan.
"Jualan juga harus punya kendali, jangan kita yang dikendalikan." Ucapnya. "Kalau ingin memuaskan semua pelanggan, tidak mungkin, yang kecewa pasti ada aja"
"Lebih baik memaksimalkan pelayanan disaat kita punya energi yang cukup untuk melayani. Daripada memaksakan, tapi tidak terlayani dengan baik"
"Kan bisa nambah karyawan?" tanyaku semakin penasaran. "Ya Bisa, tapi sekali lagi kita harus punya kendali, yaitu rasa cukup itu sendiri".
"Emangnya engga takut kesaingin? Nanti kalau tiba-tiba ada penjual lain yang lebih enak dan waktunya lebih lama gimana?"
"Ya gpp, itu rezekinya dia. Lagian kalau fokusnya ke orang lain, nanti kita jadi lupa sama apa yang menjadi resep khas dari masakan kita sendiri"
"Mending fokus ke usaha sendiri aja, itu yang bisa kita ukur. Kalau ngukur buat bandingin ke usaha orang lain terus, engga bakal nyampe mas. Yang ada kita capek sendiri"
"Terus ngapain di rumah, kalau pagi-pagi udah tutup?"
"Nah justru itu, kita jadi punya banyak waktu buat hal lain. Kebutuhan engga cuma perut, banyak hal yang juga mesti diseimbangkan"
"Keluarga misalnya, ibadah, kesehatan, atau bisa jadi aktualisasi diri".
—ibnufir












