Bagiku ia seperti kimpoidra, selalu menelanjangiku dengan aksaranya yang indah namun tajam
Bastara cakrawala dilagunan bumantara nan megah. Biru merayu sang Maharani yang baginya adalah rembulan pada malam, matahari pada siang.
Ia bangun saat surya masih tidur, pulang saat bulan tengah menggantung tinggi. Sungguh merupakan seorang yang hibuk. Tidak ingin lepas tanggung jawab meski dada sungguh menyesakkan dirinya.
Ia pulang dengan daksa yang tak lagi wangi, lengket dan berpeluh. Saat sedang sibuk melerai lelah, hanya satu nama yang selalu ia cari dalam gawainya. Sang maharani, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia masih kuat hingga kini.
“Aku sudah pulang.” serunya saat tengah mencari-cari sosok yang bertubuh mungil itu.
“Alhamdulillah, sana mandi terus makan.” seru sang maharani.
“Sebentar lagi ya, aku masih capek. Sini peluk dulu.” jawabnya
“Ga mau ah kamu bau.” ledekan sang maharani membuatnya semakin ingin memeluknya.
“Bodo amat, peluk pokoknya.” ia memeluk erat tubuh mungil itu dari belakang.
“haha yauda iya, habis itu mandi ya?” sang maharani akhirnya mengiyakan meskipun tubuhnya sudah lebih dulu dijajah sebelum sempat menyelesaikan perkataannya.
Dengan rutinitas seperti biasa mereka melewati malam seperti yang sudah-sudah.
“Ayo tidur.” seru sang maharani.
“Ga mau.” jawabnya sedikit cemberut.
“Kok ga mau? Apa tidak cape seharian kerja?” tanya sang maharani.
“Engga, aku masih kangen soalnya.” jawabnya.
“Hahaha ya ampun aku ‘kan disini aja gak kemana-mana.” sang maharani tertawa mendengar jawaban darinya membuat sang maharani menjadi gemas.
Obrolan semakin ngalor-ngidul sampai-sampai lupa bahwa waktu sudah menunjukkan larut malam. Sekali lagi sang maharani berusaha membujuknya untuk menyudahi hari ini dan segera beristirahat.
“Tidur, yuk? Udah larut malem.” seru sang maharani.
“Mana kepalanya?” tanyanya.
“Kepalaku? ini kepalaku, kenapa?” sang maharani terdengar bingung.
“Siniin, kepalanya, dadaku rindu sama kepalanya.” serunya.
“Eh? haha, kepalaku berat.” sang maharani terkejut dan menjawabnya dengan guyonan.
“Engga berat. Cepetan!” serunya geram.
“iya.. iya..” sang maharani mengiyakan.
Ia merasa seluruh lelahnya seketika hilang hanya dengan memeluk perempuan itu. Melihatnya kelat dari matanya sendiri. Di dengarnya setiap hembusan napas yang keluar dari hidung minimalis itu. Rasanya seperti surga.
“Sungguh nyaman sekali.” gumamnya sembari memeluk memejamkan mata.