Orang Tua Kita dan Kita Menjadi Orang Tua
Selalu ada rasa nyeri setiap meninggalkan rumah Klaten. Rasanya aku belum cukup berbakti pada orangtuaku namun kini aku harus berbakti pada suamiku.
Bagiku sendiri, tinggal bersama orangtua selalu menjadi pilihan terindah. Bapak masih suka membuatkanku susu di pagi hari dan ibu masih menanyaiku mau dimasakin apa. Ibu juga masih dengan semangat mijitin dan ngerokin aku saat ku bercerita badanku pegal luar biasa.
Bapak dan Ibu juga amat menyayangi cucu-cucunya. Ibu selalu punya cukup tenaga untuk menemani Fahima main dan Bapak suka membuatkan Fahima lemon tea.
Saat aku jadi orangtua seperti sekarang, aku menyadari betapa dulu aku taken for granted cinta mereka. Baru aku melihat bahwa tidak semua orangtua mencintai anaknya seperti mereka mencintaiku.
Menurutku kesuksesan terbesar orangtua adalah ketika anaknya bisa tumbuh mendewasa dengan nilai-nilai keimanan dan kebaikan.
Ketika aku merenungi jalan hidupku, aku menyadari bahwa aku selalu dilingkupi dengan orang-orang baik. Aku dipertemukan dengan orang-orang yang membuatku semakin dekat dengan Allah dan aku hampir tak pernah bertemu dengan orang jahat, bahkan ketika aku menggelandang sendirian sampe Batam dan kehilangan dompet. Tidak, tidak ada yang pernah jahat denganku.
Bukankah dijauhkan dari musibah adalah juga kasih sayang Allah?
Bahkan hingga kini, aku merasa diberkahi karena memiliki teman hidup yang baik. Aku percaya bahwa itu semua terjadi karena doa tak putus-putus dari orangtuaku. Aku menyaksikan Bapak selalu bangun jam 2 untuk tahajjud dan tak lepas puasa senin kamis. Bapak adalah manusia sederhana yang mengartikan bahwa muslim yang baik adalah dia yang segera ke masjid saat ada adzan. Dan bapak diberkahi hidup yang membuatnya mudah melakukan itu, maksudnya bapak tidak dibebani jabatan tinggi atau pekerjaan rumit yang mungkin bisa membuatnya harus sejenak menunda solat karena ada rapat dll. Di situlah kesenangan Bapak: bisa solat tepat waktu di masjid. Bahkan jika bapak sedang bertamu ke rumah besan, bapak akan tetap solat subuh di masjid di sekitar rumahnya.
Pun ibu. Meski tak serajin bapak untuk tahajjud dan puasa, ibu tak pernah lepas dhuha, selalu bergantian dg bapak mengerjakannya. Namun yang paling kuingat dari ibu, selain kerja keras dan integritasnya commute Klaten Solo 31 tahun, ibu sering menyadarkanku bahwa Allah itu Ada dan akan selalu Membersamai.
Mungkin Ibu tak hafal Ar Razaaq dan 98 Asmaul Husna lainnya, tapi Ibu yang menenangkanku saat aku gagal dapat beasiswa, Ibu tetap tenang saat H-7 menikahkan kakak dan belum ada uang, Ibu juga yang bercerita, "aku ki nek nulungi uwong ra tau ngarep dibales uwong. Gusti Allah ki mesti luwih apik balesanne." Aku tu kalo nolongin orang, nggak pernah berharap dibalas sama dia. Gusti Allah tu pasti lebih baik balasannya. Saat aku bercerita banyak kekhawatiran, Ibu selalu menguatkan, "wis mbak, rasah dipikir, ngko tak diwenehi dalan." Dah mbak, nggak usah dipikir, nanti juga dikasih jalan (oleh Allah).
Ibu mungkin bukan ustadzah dengan rentetan hafalan Quran. Tapi aku menyaksikan betul bagaimana keimanan itu mewujud dan secara nyata menjiwai Ibu menjalani kehidupannya sebagai hamba.
Dan ketika aku menjadi manusia dewasa juga orangtua, kusadari betapa untuk selalu percaya kepada Allah itu... susah.
Adaa saja alasan kita khawatir dan takut. Khawatir anak kita diapa-apain, khawatir nggak bisa bayar sekolah, takut ini takut itu, khawatir nggak bisa ini nggak bisa itu, dll.
Kadang terselip iriku pada keduanya. Bapak ibu memiliki hidup sederhana, tinggal di kota kecil, berhasil membesarkan 3 anaknya sampai bisa kuliah di PTN, menikahkan 2 anak perempuannya dengan laki-laki yang baik, Ibu tuntas menjadi abdi negara selama 31 tahun, hingga kini keluarga tumbuh penuh cinta, dan insya Allah mereka akan haji tahun depan. Bagiku itu semua adalah prestasi yang tak bisa dilakukan semua orang.
Yaah Naad.. kau hanya lihat capaiannya saja maka kau iri.
Di balik capaian itu tentu ada kerja keras, darah, dan air mata... ada keinginan pribadi yang harus dinomorsekian-kan, ada banyak harap yang mungkin belum terwujud, ada waktu istirahat yang terkorbankan, ada emosi yang terkuras habis, dan ada keikhlasan menjalani ketentuan Allah.
Maka sungguh, ketakutan terbesarku adalah apakah aku akan bisa mendidik anak-anakku sebagaimana mereka mendidikku?
Wajar aku khawatir, karena aku membesarkan anakku di lingkungan yang jauh berbeda dengan lingkungan di mana dulu aku dibesarkan. Bagaimanapun kini aku hidup di kota besar dengan persaingan hidup berkali lipat dan gaya hidup materialis. Aku benar-benar memohon bimbingan dan petunjukNya karena aku merasa betul-betul clueless. Terakhir kali aku berdoa sederas ini adalah dulu, saat aku berdoa tentang jodoh.
Dalam beragama, bapak ibu tidak pernah mencekokiku harus hafal ini itu, bahkan aku baru pakai jilbab saat SMA. Namun di usia itu pula, saat moral judgement sudah semakin matang, saat abstract thinking sudah semakin berkembang, aku mulai menghayati makna menjadi muslim.
Jadi bagi Nadia di masa kecil, islam bukanlah rutinitas dzikir harian, bukan pula target harus hafal ini itu, bukan pula duduk melingkar berjam-jam, bukan pula kalimat "Allah suka kalo kita bla bla bla... Allah tidak suka kalo kita bla bla bla..."
Bapak ibu menempatkanku di sekolah negeri sejak SD, membiarkanku tumbuh mengenal berbagai teman. Namun satu yang mereka selalu tekankan: solat di masjid dan ngaji setelah maghrib. Aku sudah terbiasa solat di masjid sejak 5 tahun. Mau lagi main, lagi nonton tipi, lagi nggak ada bapak ibu; tiap ada adzan, aku selalu lari ke masjid.
Begitulah hingga kini kupercaya: selalu ada doa bapak dan ibu yang mengiringi jalan hidup kita, yang entah dia mendekatkan kita pada pertolonganNya atau menjauhkan kita dari musibah.
Matur sembah nuwun Pak, Bu.