Help.
untitled
Show & Tell

No title available
The Bowery Presents

shark vs the universe

#extradirty

Origami Around
h

blake kathryn
almost home

Game Changer & Make Some Noise
noise dept.

gracie abrams

❣ Chile in a Photography ❣
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Lint Roller? I Barely Know Her
Sade Olutola
macklin celebrini has autism

Product Placement
todays bird

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from Brazil

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from Türkiye
seen from Spain

seen from Canada
seen from Ecuador

seen from Zimbabwe

seen from Ecuador

seen from Argentina
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Spain
seen from United Kingdom

seen from Kuwait
@anisarinovita
Help.
M E N I K A H,
28.04.19
Bagian tersabar dari sebuah pernikahan bagi saya adalah “penerimaan”.
Bagaimana kita bisa menerima segala kekurangan yang masing masing pasangan kita miliki;
Bagaimana kita bisa menerima segala sikap yang dirasa tidak sesuai harapan kita namun kita mau berusaha membantu membuatnya berubah menjadi yang lebih baik lagi;
Bagaimana kita bisa memaksimalkan rasa syukur kita terhadap apa saja yang masing-masing pasangan kita miliki;
Menjadi seorang istri dari Muhammad Anas, mengajarkan saya banyak sekali hal sederhana. Dari sekedar mengingatkan akan hal yang baik, mengajak untuk senantiasa mengaji setiap selesai solat 5 waktu, memiliki niat yang tinggi untuk terus dan terus berbuat baik setiap harinya.
Bagiku, menjadi istrinya adalah “Nikmat TuhanMu lah yang mana lagi, yang kamu dustakan?”
Terima kasih sudah selalu sabar, mas :)
- Dalam, Catatan Hati Seorang Istri.
menempatkan kepercayaanmu.
©kurniawangunadi
Seseorang begitu tenang dalam menunggu, sebab dalam hatinya ada rasa percaya. Mengapa ada keresahan, kekhawatiran, kegelisahan? Karena tiadanya percaya. Tidak ada satu hal yang pasti memang, tapi rasa percaya mampu meredakan ketidakpastian.
Kau menunggunya, itu ketidakpastian. Kau mau percaya? Tidak ada satupun darinya yang bisa membuatmu percaya bahwa kau harus menunggu sekian lama. Jadi, meletakkan kepercayaan itu harus pada tempatnya.
Allah masih menjadi yang pertama, kan?
Masih kan? :)
2018, teras depan rumah 🍁
Setelah video ini, tongsis kami hilang 🙃 (at Bromo Tengger Semeru National Park)
47% bilang kita gak mirip, padahal produksi satu pabrik. Kerasa banget anak ini cepet gedenya, dulu mah boro boro mikirin makan malem itu bikin gemuk, eh skrg dia yg jd alarm buat gak makan malem. Tiap minggu pagi atau sore yang sering banget ngajak lari lucu, tapi kakaknya mager 😐 Beda umur kita emang jauh banget. Sampai kadang kalo lagi jalan bareng terus ketemu temen, eh ditanya: "siapa En? Siapa?" sampe cuman senyum doang dibalesnya. Semakin besar, dia semakin gampang buat diajak pergi sekedar nemenin ke miniso atau jajan chatime. Makin pinter juga minta ini itu sama kakaknya. Bener bener gak kerasa bentar lagi dia kuliah. Proposalnya sih, ngajuin ke luar kota. Eh tapi, kakaknya rada gak rela dirumah sendirian. Ntar ga ada yang nemenin w ke kokas, jajan shihlin lagi. People change ya, but memories dont. Semangat menuju perguruan tinggi ya, Dek.
Explore Gunung Bromo - Bukit Teletubies: Makaci @kidangirenkadv udah memandu kita dengan nyaman untuk explore di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru 🙆🙆🙆🙆 (at Bromo Tengger Semeru National Park)
11°C (at Bromo Tengger Semeru National Park)
Kota sejuta warung lalapan, Ngalam. (at Malang)
24/11
Ternyata aku melewatkan dua orang yang juga semakin menua.
Ternyata aku juga melewatkan satu orang yang semakin menjadi lelaki dewasa.
Aku tak pernah meminta untuk tinggal dan besar dari mereka berdua. Allah yang beri nikmat semuanya.
Aku tak pernah meminta untuk dibesarkan dari 2 orang yang super luar biasa demi pendidikan dan kehidupan kedua anaknya. Allah yang beri nikmat semuanya.
Aku tak pernah membayangkan untuk bisa seperti sekarang. Tapi Allah lah yang memberi nikmat ini semuanya.
BagiNya, aku hanya perlu terus dan terus meminta. Entah lewat kewajiban tiang agama kita, atau sekedar sunnah sunnah Nya. Ternyata, dia jauh memberi apa yang saya butuhkan. Terkadang kesal karena apa yang saya sangat inginkan tapi belum ia kabulkan. Namun, Mama selalu mengingatkan bahwasannya, "Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan." tersebab itu aku sadar bahwasannya Rencana Allah selalu sungguh luar biasa.
Betapa bahagianya, nikmat hidup dengan sehat dan rezeki yang Allah cukupkan. Semuanya akan terasa bahagia dengan dilengkapi Syukur, Alhamdulillah.
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Tak ada lantunan lain selain Syukur atas nikmat yang senantiasa Dia berikan. Semoga Allah senantiasa menguatkan untuk kedepannya. Aamiin.
Akhir 24, 2017.
Rupanya sejak jauh hari Dia telah mengabulkan doaku, tapi aku seringkali menangkap pertanda-Nya dengan keliru. Lalu aku tersenyum malu-malu, sebab tersadar betapa Dia telah menyelamatkanku.
doa itu dipanjatkan biar dikabulkan. bukan di posting biar naik rating
anonim
Sore - sore depan kaca. Sempet kaget, ternyata saya unyu juga. Pantes banyak yang gemes.
(via jalansaja)
Hehe
Jodoh iku seng ngatur Allah. Ojo terlalu ambisi, mengko nek dudu jodohe malah loro ati. [Ibuk]
Sejuta Doa
menapak arah jalanan berliku
menyibak hati yang lama terpaku
nanar kata berbisik dalam doa
penantian cinta seorang hamba
Allah kuserahkan segalanya
hidup dan matiku Engkau yang tahu
pertemukan aku pada hambaMu
yang mencintaiMu setulus hatinya
hati tak bisa dipaksa
jiwa berlabuh hanya untuk engkau
biarlah beda bermukim usia
jika Allah ridha akan satu jua
cinta bertasbih memuji asmaNya
kataku terurai menanti harapan
ada jawaban dalam doa cintaku
cinta bertasbih agungkan namaNya
segala ujiNya takkan sia-sia
sejuta doaku hanya untuk dia
🍃
Munsyid: Sigma
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017
Sudah Oktober, kekhawatiran perempuan itu tumbuh semakin subur dikalangan perempuan. Seperti melihat bagaimana perempuan itu saling membandingkan satu sama lain, dalam berkeluarga, dalam kehamilan, dalam proses kelahiran, dalam mengasuh anak, dsb.
Saat sudah menikah, pahamilah segala sesuatunya dengan ilmu. Jangan mudah khawatir dengan “kata orang”. Perempuan harus bisa belajar abai terhadap kata dari orang lain, sebab setiap perempuan, setiap proses menuju pernikahan, setiap memulai berkeluarga, setiap kehamilan, setiap kelahiran, setiap mendidik anak, masing-masing diberikan anugerahnya. Di berikan tantangannya sendiri-sendiri :)
MAMA, The best Ibu Rumah Tangga x Wanita Karir
Entah kenapa mau cerita hal ini. Karena 1 dari peran mama yang udh dijalanin sedang gue jalanin.
Mama, ibuku. Wanita kelahiran Yogyakarta 1972 ini dinikahkan oleh Mbah Harto (Ayahnya) pada umur 20tahun. Kalo kata mama, era nya memang banyak sekali wanita yang dinikahkan pada masa muda.
Aku sangat sangat sangat merasa beruntung dikeluarkan dan diperjuangkan selama 9bulan dari rahimnya. Kenapa? Ada banyak hal yang membuat aku sangat AMAZEEEE sama apa yang mama lakuin buat anak bahkan suaminya.
*Point 1*
Mama memilih jalan kehidupannya untuk menjadi wanita karir yang sangat seimbang mengurus rumah tangganya. Hal itu terlihat dari, pandainya mama memutar waktu untuk bekerja dan tetap membantu mengurus rumah tangga. Kadang sesekali membantu untuk mencuci dan aku membilas pakaiannya. Mengangkat jemuran, aku yang menggosoknya. Dan pekerjaan yang saling melengkapi lainnya. Lelah memang, 8 jam telah bekerja di kantor dengan pekerjaan yang PERANYAAAAA setara dengan laki di divisinya. So proud of you mah❤
*Point 2*
Keterampilannya memasak terkadang bikin aku sirik maksimal:[ tapi aku yakin, aku pasti bisa hahahaha. Practice make perfect!
Pernah gak kalian dibawain bekel tanpa absen sedikitpun? Itu mamaku. Semenjak pernah gejala tifus waktu SMP, mama jadi orang yang paling overprotective kalo masalah makanan. Sebisa mungkin, sepagi mungkin mama bangun buat MASAK, MASAAAAAAAK biar dua anaknya yang punya riwayat penyakin amandel gak sakit atau jajan sembarangan.
Mama rela bangun jam 3 atau setengah 4, untuk nyiapin satu satu kotak makan anaknya. Kadang dua, jika kami lupa sarapan. DAN ITUUUUUU RUTIN dari SMP sampe sekarang udah KERJA. Aku sungguh sangat beruntung;''''')
Makanya, kadang kalo diajak jajan untuk makan siang suka sedih. Inget perjuangan mama buat masak, kalo gak dimakan:[
Pernah suatu ketika, saat kuliah.
Aku dibawakan bekal makan siang, namun saat itu temenku mengjak mentraktir kami makan siang. Alhasil, aku gak makan bekal buatan mama. Tau apa yang terjadi? Besoknya positif tifus dan harus dirawat di rumah sakit. Hehe. The power of bekal mama.
Dulu, adekku laki-laki sangat tidak mau dibawakan bekal. Sama aku juga. Tapiiiii, banyak hal yang berubah, temen makan bekal kami makin banyak hehe. Kadang suka berbagi atau sekedar sharing lauk hahaha.
Dan masakan mama gak pernah sekalipun mengecewakan, walaupun cuman sambel sama ikan cue. Tetep nikmat🙆
*Point 3*
Seimbang. Hidupnya penuh keseimbangan. Aku merasa banyak belajar ketika kecemplung di industri kimia seperti ini. Padahal basicku yg lebih mateng dibanding mama. Tapi pengalaman memang adalah pelajaran yang paling berharga. Mama, pengalamannya lebih dari 14tahun di industri kimia sungguh jadi trendsetterku saat ini. Ingat sekali pesannya, "bekerja gausah pilih bagian. Apapun bagiannya, ambil dan terima lalu jalani karena kelak kamu sendiri yang akan tau zona nyamanmu sendiri sebelum kamu mencoba."
Oleh karena itu, aku kecemplung dibagian yang tak terbayangkan sebelumnya. Kuncinya satu, nikmati dan ambil sebanyak-banyaknya relasi.
Kalo dibilang role model kamu siapa? Mama.
Kalo ditanya kamu ingin punya suami seperti siapa? Ayah.
Karena kalo bukan karena restu Ayah, mama juga gakan bisa seimbang ngejalanin kedua pekerjaan ini. Tak pernah protes atas apa pencapaian yang dilebihi oleh mama. Ayah tetap support dan tak pernah ngerasa kalah karena pencapaiannya yg mungkin tak sebaik mama. Ayah yang setia anter mama kerja, karena pilihan ayah yang tak mengijinkan mama belajar motor sendiri. Ayah yang menunda mama juga memilih pilihan jabatan yang tinggi, karena Ayah yang paham kuasa mama cukup sampai dibatas ini.
Aku ingin seperti Mama, jika bisa lebih akan jauh lebih bagus bukan?
Apakah kamu mau menemani pencapaianku seperti Ayahku ke Mamaku? :)