Hudoq
Hudoq is a thanksgiving festival of many of sub-groups of the Dayak ethnic group of East Kalimantan province, Indonesia.
🩵 avery cochrane 🩵
wallacepolsom
todays bird
Not today Justin
TVSTRANGERTHINGS

Discoholic 🪩
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
taylor price
untitled
RMH
he wasn't even looking at me and he found me
Xuebing Du

Love Begins
Sade Olutola
h

roma★
One Nice Bug Per Day

oozey mess
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

if i look back, i am lost
seen from Germany
seen from Nepal

seen from Nepal

seen from Nepal
seen from France
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Burkina Faso
seen from United States
seen from United States
Hudoq
Hudoq is a thanksgiving festival of many of sub-groups of the Dayak ethnic group of East Kalimantan province, Indonesia.
You're weird, but i like you
Hunting makanan Cikini dan Sabang
Minggu 20 April 2014,
Sore di hari terakhir liburan paskah saya putuskan untuk jalan-jalan sekitaran Jakarta. Cuaca Jakarta sepertinya sedang tidak bisa diprediksi. Keluar dengan keadaan terang dan panas, tiba-tiba di tengah perjalanan mendadak mendung.
Kedai Tjikini menjadi tujuan pertama saya untuk makan siang. Sebuah kedai yang tidak terlalu besar tetapi cukup nyaman. Saya memesan main course Galantine dan minuman Sarsaparilla Badak, minuman yang selalu mengingatkan saya akan masa kecil. Ketika lebaran biasanya bisa sering sekali minum sarsaparilla dan sekarang sudah jarang restaurant atau warung yang menyediakan sarsaparilla jadi ini juga salah satu alasan saya makan di Kedai Tjikini (priceless).
Sambil menunggu pesanan kita bisa mendengarkan musik retro dan suara pengunjung yang berinteraksi. Suasana sore ini seperti sedang berada didalam sebuah set adegan film drama.
Setelah selesai makan siang saya pergi ke tujuan selanjutnya Saudagar Kopi Sabang. Baru beberapa meter saya berkendara hujan turun dan saya memilih berteduh di Taman Ismail Marzuki (TIM). Tidak ada acara besar hari ini. TIM sepertinya sepi-sepi saja hanya ada anak-anak kecil sanggar teater tanah airku yang semangat berlatih.
Akhirnya hujan berhenti, dan perjalanan ke Saudagar kopi berlanjut. Setelah melihat review Tony Wahid (ahli kopi indonesia) di www.cikopi.com saya penasaran mencari lokasi Saudagar kopi, karena setiap kali lewat daerah sabang selalu nggak ketemu tempatnya.
Setelah jalan pelan-pelan akhirnya ketemu juga lokasi Saudagar Kopi, walaupun di pinggir jalan tetap sering kelewatan karena biasanya tujuan ke jalan Sabang langsung ke Kopi Oey.
Sore ini pengunjungnya masih sepi. Saya memesan kopi single origin Toraja dan potato wedges ( enaaak tapi lupa difoto :( ). Sambil menunggu pesanan saya mengeluarkan laptop untuk browsing, internetnya cepat mungkin karena masih sepi.
Untuk penikmat kopi serius sepertinya disini bukan lokasi yang tepat karena pilihan kopi hanya ada dua jenis Toraja dan Blend coffee signature Saudagar kopi, tetapi selain itu masih banyak pilihan minuman lain dengan tema kopi.
Selesai menikmati kopi saya memutuskan untuk langsung pulang karena ada pertandingan penting yang harus ditonton Norwich vs Liverpool (Liverpool menuju Juara English Premier League). Setelah hujan tadi cuaca kembali cerah. Sore yang indah untuk liburan yang terlalu singkat.
Jalan-jalan sore ini diinspirasi dari quotes yang diposting salah satu orang yang spesial bagi saya.
I really love the sun, I really love the wind, I really love the rain and absolutely really love you.
Kedai Tjikini
Jl. Cikini Raya No. 17, Cikini (021) 39835094
Saudagar Kopi
Jl. Sabang 26 Jakarta Pusat
Antony octavia 2014 Portfolio
Wolf
Pencil on paper
Jogja
14 Jam di Jogja
Rencana
Setelah melewatkan Art | Jog di tahun sebelumnya, ini menjadi rencana gila sesudah sidang tugas akhir saya. Hampir saja rencana ini batal karena waktu yang ditentukan (18 Juli 2013) bertepatan dengan keluarnya jadwal sidang tugas akhir dan kedatangan klub sepakbola favorit saya Liverpool FC ke Jakarta (20 Juli 2013). sedangkan Art | Jog hanya berlangsung hingga tanggal 20 Juli 2013.
Art | Jog merupakan salah satu art fair terbesar di Indonesia atau mungkin di Asia yang diselenggarakan di Jogjakarta. Art | Jog kali ini bertema Maritime Culture. Melibatkan banyak sekali seniman untuk menghadirkan karya seni rupa yang berkualitas dengan berbagai medium. Sehingga wajar saja jika saya ingin sekali datang ke Jogja demi mengapresiasi dan melihat lebih dekat karya-karya seniman lokal maupun internasional yang berpartisipasi di dalamnya.
Saya meyakinkan diri dan menyusun rencana kurang dalam satu minggu sebelum keberangkatan. Rencananya adalah berkonsentrasi untuk sidang tugas akhir (08.00- 18.00), kemudian malam harinya berangkat menuju Jogja (21.15- 06.00), sampai di Jogja kemudian istirahat sampai setelah sholat Jum'at (07.00- 13.00), start menuju Art | Jog (13.00-17.00), Berbuka puasa (18.00-20.00), Pulang ke Jakarta (21.00- 05.00) istirahat dan dilanjutkan nonton Liverpool FC di stadion GBK Senayan.
Karena ketertarikan di bidang yang sama saya bersama teman-teman yang sudah saya racuni untuk ikut (Fauzan dan Kalya), berangkat dari Stasiun Pasar Senen berdasarkan jadwal yang sudah dibuat. Terbilang nekad dan khawatir tanpa tujuan yang jelas karena di dalam kereta kami baru menyadari bahwa hanya akan berada di Jogja selama 14 Jam. Tapi kami selalu punya cara sendiri untuk membuat perjalanan ini menjadi menyenangkan. Setelah candaan ringan selama di kereta tidak dapat menutupi kelelahan, akhrinya satu persatu mulai tidur dan saya seperti biasa menjadi yang paling terakhir untuk istirahat.
Jogjakarta
Kereta tiba di Stasiun Tugu tepat sesuai jadwal kami pukul 06.00 (walaupun di tiket tertulis tiba pukul 04.55). Kami langsung menuju rumah salah satu saudara Kalya di sekitaran keraton untuk beristirahat. pemilik rumah adalah mba Inggit dan mas Ballance yang ternyata merupakan salah satu anggota Jogja Hiphop Foundation. Terima kasih untuk keramahanya, saya dan Fauzan disediakan satu ruangan untuk beristirahat sedangkan Kalya melepas kangen dengan tiga keponakanya yang masih kecil-kecil.
Jam 13.00 setelah sholat Jum'at kami mulai perjalanan menuju Art | Jog. Sebelumnya ditawarkan mba Inggit untuk diantar, tapi kami memilih berjalan kaki saja sambil menikmati jalan-jalan di Jogja. Kebetulan setelah di check melalui GPS jarak menuju Taman Budaya (venue Art | Jog) tidak terlalu jauh. Perjalanan kami bergantung pada GPS karena tidak ada satupun dari kami yang hapal jalanan di Jogja. Maklum saja terakhir saya main ke Jogja 10 tahun yang lalu, Fauzan 11 tahun yang lalu, hanya Kalya yang tahun lalu baru saja liburan ke Jogja tapi dia tetap tidak terlalu hapal dengan jalan-jalan di Jogja.
30 menit perjalanan kami sudah tiba di depan Taman Budaya. Sepertinya waktu masih tersisa banyak. Kami menyimpan rasa penasaran dan memutuskan untuk tidak langsung masuk, tetapi mampir sebentar ke batik Mirota di Malioboro dan melewati pasar Beringharjo.
Art | Jog | 2013
Jam 15.00 kami sudah tiba kembali di depan Taman Budaya disambut dengan kemegahan instalasi bangunan karya Farhansiki dan komedi putar karya Iwan Effendi feat Pappermoon Puppet. Begitu puas saat pertama kali kami melangkahkan kaki ke dalam venue, karena perjuangan dan keisengan menjadi kenyataan.
Art | Jog menjadi bukti bahwa Indonesia merupakan salah satu kiblat kesenian dan kebudayaan di dunia. Betapa tidak, ratusan seniman yang berpartisipasi mungkin hanya sebagian dari seluruh seniman Indonesia yang bekualitas.
Art | Jog menjadi ruang berinteraksi antara karya seni dengan masyarakat. Sudah seharusnya art fair atau kegiatan sejenisnya menjadi kebutuhan masyarakat yang hidup ditengah rutinitas. Masyarakat selain disibukan dengan pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan hidup sudah selayaknya dapat melihat dan mempelajari tentang keindahan. Tentu saja kegiatan semacam ini menjadi hal yang positif dalam membangun karakter masyarakat.
Betapa bangganya kami dapat melihat karya seni rupa dari seniman lokal dan internasional. Banyak dari mereka yang menjadi idola baru dan menginspirasi baik dalam berkarya maupun kehidupan.
Selesai melihat seluruh karya didalam venue kami mampir di booth merchandise dan membeli beberapa produk Art | Jog | 2013. Tidak lupa merchandise karya dari Eko Nugroho salah satu artist favorit saya di Indonesia.
Jam 17.00 kami sudah berada didepan venue sambil beristirahat karena lelah berjalan kaki. Kami bersiap menanti beduk buka puasa dan berencana menikmati ambience Art | Jog di malam hari sebelum pulang ke Jakarta.
Indische Koffie
Bosan menunggu malam kami memutuskan untuk mencari makanan disekitaran Taman Budaya. Hasil browsing yang cukup random mengarahkan kami menuju Indische Koffie yang terletak di dalam Benteng Vredeburg. Tidak ada satupun dari kami yang pernah makan di sana sebelumnya.
Sampai di lokasi Interior klasik khas Belanda menyambut kami, tetapi kami lebih memilih untuk makan di luar sambil menikmati udara dan langit sore yang cerah. Adzan Maghrib berkumandang, Menu yang dipesan sudah datang semua. Tidak butuh waktu lama Indische Koffie menjadi favorit kami dan sangat di rekomendasikan. Karena kita dapat menikmati menu-menu Internasional dan Lokal dengan harga yang termasuk standard dan rasa yang menurut kami luar biasa enak.
Sambil menikmati makanan dan berdiskusi tentang apa yang kami lihat di Art | Jog tadi sore, waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya kami kehabisan tenaga dan khawatir tertinggal kereta (21.00) jika harus kembali ke Taman budaya untuk menikmati ambience Art | Jog di malam hari. Keinginan itu akhirnya disimpan dan mengagendakan Art | Jog tahun depan sebagai rencana wajib kami.
Kejutan tidak berhenti, karena jumlah pemesanan menu yang memenuhi kuota hadiah, kami mendapatkan hadiah promo dari Indische Koffie dan Telkomsel berupa naik Andong gratis keliling sekitaran benteng Vredeburg. Kami menggunakan hadiah tersebut untuk menuju Stasiun Tugu dan mempersiapkan diri pulang ke Jakarta.
Akhirnya Kereta kami Arya Dwipangga tiba tepat waktu di stasiun Tugu. Terima kasih Jogja dan Art | Jog sudah memberikan inspirasi, ketenangan dan harapan. Kami berjanji akan hadir kembali di Art | Jog sebagai pengunjung atau bahkan suatu saat ikut berpartisipasi (semoga).
Woman
i am happy
BHISMA
BHISMA Musical
May 16 & 17, 2013 | Thursday & Friday 18.00-21.00 at Auditorium Anggrek, Binus University
Ticket & Information : 087886309111 (Rizko) or 085240504565 (Gerry)
Happy Birthday
Birthday card - color pencil on paper
COLT
Digital Painting
SALVADOR DALI AND GALA
Digital Painting
Portrait of Salvador Dali and his wife Gala
Liburan Keluarga Bahagia
Bulan Desember 2012 Tante Niken, Kalya dan Anja liburan ke Bali. Kebetulan waktu itu saya masih kerja praktek di Terralogical dan sedang libur. Jadi ceritanya saya menawarkan diri menjadi tour guide dadakan menemani keluarga bahagia ini keliling Bali dalam satu hari.
Perjalanan dimulai dengan saya yang kesiangan karena handphone baru saja hilang, jadi nggak ada alarm yang setia bangunin setiap pagi. Tapi sesuai rencana, mereka langsung menuju Batu Bulan ditemani Bli Jindre pemilik mobil sewaan, untuk menonton pertunjukan tari Barong. Setelah saya selesai bersiap, kami memutuskan bertemu di pasar Sukawati.
Kira-kira jam 09.00 perjalanan baru dimulai. Rute yang direncanakan sedikit berubah, kita menuju Kintamani untuk makan siang sekaligus menikmati udara sejuk dengan latar gunung Batur. Dari Kintamani kita memilih turun melalui jalur yang melewati Tegal Alang di Ubud, untuk melihat pemandangan sawah dan membeli souvenir.
Setelah itu baru menuju lokasi yang bikin Kalya penasaran "Museum Blanco". Kalya penasaran dengan lukisan karya Don Antonio Blanco, pelukis terkenal yang jatuh cinta dengan gadis Bali bernama Ni Ronji dan memutuskan untuk tinggal di Ubud. Saat itu pengunjung museum sedang sepi, jadi kami bisa dengan leluasa keliling setiap sudut ruangan.
Puas keliling Museum Blanco kami mengejar sunset di pantai Padma karena dekat dengan lokasi hotel tempat mereka menginap. Perjalanan cukup jauh, Kalya dan Anja sempat tidur di perjalanan. Beruntung Bli Jindre punya jalan pintas untuk menghindari macetnya Bali di bulan Desember. Walaupun cuaca sedang tidak baik, tapi kami beruntung bisa mendapatkan sunset di pantai Padma yang cukup ramai.
Malam akhirnya tiba, kami memilih untuk makan malam disekitar pantai karena sudah lapar. Sesudah makan saya mengantar mereka menuju penginapan di Legian untuk beristirahat. Selesai sudah tugas jadi tour guide dadakan dalam sehari. Terima kasih Tante niken dan Keluarga untuk jalan-jalan dan traktiran selama di Bali.
Ini sebagai hadiah ulang tahun tante Niken, semoga selalu diberikan kebahagiaan untuk keluarga.
KRUI
Potensi pariwisata tersembunyi di daerah pesisir barat Provinsi Lampung. Namanya tenggelam diantara Bali, Lombok dan Mentawai. Tetapi daerah ini adalah salah satu tujuan wisata yang rutin dikunjungi turis domestik maupun mancanegara setiap tahunnya.
Berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, pantai di pesisir Krui menghasilkan ombak yang konstan juga terdapat banyak sekali spot selancar dengan berbagai variasi ombak. Bagi penggemar pantai dan olahraga selancar tempat ini adalah "surga".
Tinggal bagaimana peran pemerintah dan masyarakat memperhatikan juga memelihara potensi pariwisata di daerah ini.
Labuhan Jukung
Hari pertama sampai di Krui Langsung menuju ke Labuhan Jukung. Pantai yang indah dengan air bersih dan ombak yang besar.
Sayangnya saya belum bisa mendapatkan foto ombak yang bagus di pantai ini. Tapi setidaknya sunset dan canda tawa menjadi penutup sore ini. Terima kasih Andi, Yoris, Siska, Risdo, Kesya dan Heni
JIMI HENDRIX
Ink On Canvas