Kamu, ialah nama dalam doa yang kubunyikan; nada dalam rindu yang kusembunyikan.
Keni
Alisa U Zemlji Chuda
taylor price
will byers stan first human second
Cosimo Galluzzi

Discoholic 🪩
DEAR READER
we're not kids anymore.
RMH
wallacepolsom
TVSTRANGERTHINGS
No title available
Peter Solarz
Claire Keane

JVL
dirt enthusiast
tumblr dot com
Not today Justin
$LAYYYTER

祝日 / Permanent Vacation

seen from Chile
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Switzerland
seen from Greece

seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Albania
seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Germany
seen from Mexico
seen from United States
@arhfi
Kamu, ialah nama dalam doa yang kubunyikan; nada dalam rindu yang kusembunyikan.
Terimakasih Telah Datang dalam Hidupku, Walau Hanya Sebentar
Kukira aku telah cukup siap menghadapi kehilangan. Ternyata yang paling sulit bukanlah melepaskanmu, melainkan menerim bahwa kebersamaan kita memang tak ditakdirkan lama.
Kau datang seperti musim yang tak dijanjikan, menghangatkan hatiku yang lama beku, lalu pergi sebelum aku sempat benar benar merasa pulih.
Namun tetap, terimakasih telah menyapaku dengan kehadiranmu, walau hanya sekejap dalam hidup yang panjang ini.
Terimakasih karena pernah membuatku tertawa, meski kini aku harus belajar tersenyum sendirian. Terimakasih karena pernah membuatku merasa dicintai, meski akhirnya aku harus mencintai daoam diam yang tak terbalas.
Aku marah, aku tidak membenci. Hanya ada ruamg kosong yang tak bisa aku isi kembali dengan hal lain selain kenangan tentang.
Jika suatu saat itu kau datang hanya menunjukkan betapa hangatnya sebuah perhatian, meski hanya sesaat, aku tetap bersykur.
Kini, tak ada lagi yang perlu aku tunggu. Tak ada lagi yang perlu ku kekejar. Karena yang pernah datang, sudah memilih jalan pulamh uang tal melibatkan aku lagi di dalamnya.
Dan aku? Aku akan melanjutkan hidup. Dengan langkah yang mungkin masih sedikit gemetar, tapi kali ini tanpa berharap siapa pun kembali.
Terimakasih telah datang dalam hidupku, walau hanya sebentar. Sungguh, itu lebih baik daripada tidak pernah sama sekali.
Pematangsiantar, 5 Agustus 2025
DISTOPIA CINTA
[Aku di mabuk taya tentang apa sebenarnya cinta,
Ia tak pernah datang padaku pada nasib baik]
Bu
aku bingung
Isi kepalaku berputar,
aku ling-lung
Banyak senandika
tiap kedip yang panjang terbuka
Mereka mengitariku
seperti permainan orbit tata surya
Satu planet meledak saat ini
karena aku tak pernah mengerti
Konsep cinta
Dan masih banyak lagi planet lain
Apa cinta itu balon merah muda?
Atau awan gelap di cakrawala?
Apa cinta itu abu rokok yang hangus sia-sia?
Apa cinta itu? Apa
Kalau begitu kita sama
Nihil rasa manisnya dimabuk asmara
Aku selalu dibuat heran, Bu
Mengapa cinta menjadikanku teman sedihnya
Entah aku pernah salah apa
Sampai geram dendamnya begitu pelik
Namun sedalam-dalamnya aku memohon maaf
cinta tak mau beriringan dengan nasib baik
Aku jadi kembung meminum tanya
Tapi, puisi tak pernah kenyang dengan tanda
Bu, mau bersulang sekali lagi
Aku akan mabuk saja malam ini!
Rindu Padamu Butuh Adorisi Utuh
Apakah cinta harus dirayakan satu malam saja?
Apakah aku harus pura pura buta
dan selalu menutup rapat mataku
tiap kali melihat sepasang merpati menikmati asmaraloka?
Mereka memotong rindu setengah harga
Sedangkan aku tersiksa selaksa rindu yang mencekik erat dahaga
Melihat sepasang kepala bercumbu mesra
dan aku hanya bisa mengecup sisa telapak tanganmu meski lekat terasa
Itu sisa beberapa bulan yang lalu,
kalau tak salah perhitunganku
Tragisnya; aku dan kau ada disatu tempat yang sama dengan hati yang berbeda
Bagaimana bisa kepergianmu membuatku kehilangan setengah sukma?
Seperti aku terlempar begitu saja kedalam lakuna
Sedangkan tanpaku, kau terlihat baik-baik saja
Saat nabastala menggelap dan malam meninggikan dirinya
Rembulan dipuja-puja oleh pujangga durjana
Aku merenung, bagaimana kau bisa berkata tanpa merasa berdosa
jika sesungguhnya kau sangat mencintaiku
dengan tertidur pulas di dekat ibumu
dan leluasa sejenak melupakanku
Disebelah lainnya
aku dengan renjana
meringkuk dan menutup mulut
membiarkan air mataku mengkristal di pipi
Merelakan bantal yang harus basah
dan rindu yang lagi-lagi harus patah
Dunia membiarkan kita saling cinta
Namun semesta lupa memberikan surat izin mencinta
Aku harus mengurus ke mana suratnya?
Aku harus bayar administrasi pada siapa?
April Sudah Sampai, Kamu Belum
April
Aku membenci hujan untuk beberapa alasan.
Satu, aku tak suka kedinginan.
Dua, aku tak suka jadwal temu yang kau batalkan.
Terakhir, aku lebih tak suka ketika aku harus melewati keduanya sendirian.
Disini atau di kota yang lainnya
Ada sepasang tempat yang paling enggan aku kunjungi.
Rumah sakit atau bandara, kau mendatangkan ku pada keduanya
Dan saat itu mereka tak pernah membawamu kembali.
Pernah satu waktu
Kau katakan padaku
Bahwa kedua tempat itu
Adalah favoritmu.
Di sana ada cium-cium yang lebih lekat dari yang terlihat di atas altar.
Di sana kau temui tangis dan doa yang lebih kuat dari yang terdengar di rumah-rumah ibadah.
Dalam keduanya akan kita saksikan genggaman tangan yang bertemu atau berpisah.
Tapi, tak pernah kau katakan bahwa kita akan menjadi salah satunya.
Antara aku yang tak pernah siap atau kau yang tak pernah ingin aku untuk berjaga.
Sekejap pelukmu menjafi neraka yang singgah di malam nan jelita.
Tak pernah sekalipun kau tahu betapa kejamnya kecup-kecupmu yang lucu
Mendadak mencekik aku dalam tidur, dalam mimpi tentangmu
Aku rela kau pergi sejauh mungkin asal aku ikut.
Aku tak masalah kau pergi selama yang kau ingin asal aku ikut.
Tapi, kali ini kau ingkar.
Sekali ini, aku kau tinggalkan.
Sekali ini dan memang hanya sekali.
Sebab, kau tak pernah ku lihat lagi
Sayang …
Tahun sudah tiba di April
Namun masih kudapat gigil
Desember yang belum berakhir
Kita yang Terbuang Sia-Sia
Pertemuan tanpa ada kata yang terucap.
Skenario yang tak pernah sengaja dibuat, mengimani tatapan mata yang seolah bernubuat.
Beranjak dalam kehilangan yang sama,
Menerpa dekapan perih yang serupa,
Mengilhami rasa yang terluka,
Menyetujui untuk berbagi cerita.
Kita adalah yang terbuang sia-sia.
Saling mendekat dan memeluk erat,
Saling menyentuh dan merasa utuh,
Saling menuansa dan meromansa.
Saling menjaga dan menuai asa.
Kita yang salah menerima dan telah kecewa.
Kita yang salah mengharap dan sempat menetap.
Kita yang salah meneduh dan terbunuh.
Kita yang terbuang dan sia-sia.
Kita yang pernah terbuang dan pernah sia-sia.
DIALEK(KITA)
Bagaimana mungkin
Badai sepertiku
Bersanding dengan damai sepertimu
Dan bagaimana bisa
gemuruh petir yang riuh
Mengawinin laitan teduh
Bagaimana caranya
Aku yang sekeras batu
Menyatu dengan kau; lembutnya
Dari mana ada
Aku yang sepahit ciu
Dapat mengecup kau semanis madu
Terlalu banyak irisan ironi antara kita;
Aku kanvas putih yang hanya kenal hitam
Kau adalah sebuah warna kecuali kelam
Kita selalu salah mengeja rasa
Dan cinta tak pernah tepat mempertemukan kita
Jika sal mempertanyakan tentang kisah paling romantis di Tanah Surga
Maka aku pun bertanya
Dapatkah aku menyatu denganmu seperti Adam dan Ibu Hawa
atau sodom melebur gomoras?
Sebab di pelataranmu yang megah
Aku hanya rintik gerimis yang tak berharga
Maka adakah bisa kau dan kau menjelma kita
Atau aku harus jadi isak
Yang di bakar oleh bapak
Agar Yang Maha Semesta Merestui bahagia jadi akhir kita kelak
Kau dan aku bertemu
hanya sebatas alam biru
Menjadi awan putih yang menggebu
Turun sebagai pelebur debu
Membawa kenangan sendu
Saat kita membumi, manusia merayakan rindu
Hal paling romantis antara kau dan aku adalah kita saling meniadakan kita yang dulu
Aku dan kamu mati, musnah berlalu
Ini Bukan Lagi Puisi Tentangmu
Sudah kubilang, kan?
kamu puisi. Jika kamu telah menjelma puisi, melupakanmu akan menjadi hal yang sulit.
Tapi kamu bilang, suatu kehormatan bisa jadi bagian dalam puisiku dan kau memilih untuk tidak aku lupakan. Lalu, jadilah kau bagian dari puisiku.
Bodohnya aku!
Akhirnya aku menerima bahwa melupakanmu memang mustahil. Maka aku berhenti berusaha melupakanmu.
Ah, kau tidak usah terlampau bahagia dulu.
Aku memutuskan untuk menyusun kata-kata tentang dunia selain dirimu. Agar puisi-puisi tentangmu — meski abadi — akan terdesak oleh puisi-puisi lain. Kelak, puisi-puisi tentangmu akan ada di bagian rak berdebu, tersingkir oleh puisi-puisi tentang mereka yang berjuang untuk menetap di sampingku atau tentang semesta yang membentang menunggu diterjemahkan oleh kata-kataku.
Meski masih membawa-bawa tentangmu, aku menolak menyebut puisi ini tentangmu. Ini puisi tentang bagaimana aku menemukan cara untuk melepaskanmu.
Ini bukan lagi puisi tentangmu.
Desember dan yang Dirindukannya
Jangankan untuk mengakhirinya
Mengawalinyapun aku tak tahu darimana
Aksa yang egois, detik-detik yang bengis
Amarahmu yang terlalu romantis
Sebermulanya kita hanya dua yang sempurna
Berangan sepasang adalah satu selamanya
Di antara rintik Desember yang kaku
Aku ingin merasakanmu lagi
Barang kali untuk mendapat itu
Kita harus lebih dulu menjadi kubangan dijalan buntu
Tak cukup dalam untuk berpilu
Mengudara dan hilang dalam biru
Mungkin mendekapmu sekali lagi saja
Butuh usaha ku selama-lamanya sehebat-hebatnya
Sejatinya apa yang kumiliki
Pasti tahu arah kembali.
Namun untukmu
Jalan pulang mesti harus kuberitahu
Karena jika tak begitu
Aku yang kewalahan merindukanmu.
Eksistensi
Perkenalkan,
namaku siapa,
aku ini seorang apa,
aku ini lahir kapan,
umurku berapa,
aku tinggal dimana,
caraku hidup dan mati bagaimana.
Dan sekarang malah kau tanyakan mengapa
kukatakan ini semua
Cukup sedikit perkenalannya,
aku harap kau senang membacanya
jika tidak, ya kita kenalan saja.
Seandainya pun kubuatkan sebuah buku dari
segala rasa, dengan semua kata, penantian
dan kerinduan
Pastilah kau menjadi isinya
Jangan lagi tanyakan "Adakah untukku?"
Sebab segalanya sudah tentangmu.
Air Mata Mati
Setelah perpisahan cukup panjang
Aku belajar untuk menari di atas tubuhku yang mengerang
Menggigit senyum yang pahit
Membuang energi berlari dari semua sakit
Mencari ribuan diksi baru
Menuang senandika untukmu
Sebab puisiku takkan cukup
Membeli satu lagi pelukmu yang redup
Kau mengajariku bahwa
Air mata hanya akan jadi sia-sia
Jika kukuras untuk manusia sepertimu
Yang kucintai dengan penuh dan tetap tak tahu siapa aku
Kau pergi saat aku coba mengambil langkah lagi
Entah maksudmu apa, aku pun tak mengerti
Tapi, banyak terimakasih sebab aku jafi belajar
Menjahit luka ku sendiri meski parahnya tak dapat di nalar
Menulis tentangmu hingga tinta menjadi darah
Dan kata serupa daging
Merangkai kembali tulangku yang patah
Wakau aku tetap jadi orang sinting
Karena pulang padamu hanya ilusi
Sebab bagimu surga adalah isakan ku yang patah hati
Maka malam ini aku memilih kembali pasa mata puisi
Agar cukup kata yang menangis, jangan aku lagi
Bermain Peran
"mari bermain peran"
aku jadi korban
kau jadi penikam
atau, sebaliknya?
Siapa mau jadi yang paling banyak dirobek hatinya?
Siapa mau jadi yang paling menderita?
Siapa yang mau jadi umpannya?
Siapa yang mau susun skenarionya?
Di depan; panggung sandiwara
Setelah ini giliran kita
Berdrama ria
Aku jadi korban
Kau jadi penikam
Atau, sebaliknya?
MERAKIT RINDU
"Jumpailah aku"
Pada tiap bait-bait yang aku tulis
Kita akan bersua dialam mimpi nanti
Aku akan merangkul dan memelukmu
Dalam rindu yang telah kurakit dalam kalimat
Buatlah rasa yang telah kita satukan
Mekar didalam bunga tidurmu
Aku akan masuk kedalam fantasimu
Kita aka berlayar kelautan rasa
Dan berdansa diatasnya hingga subuh bertamu
Kita akan melukis sejarah dalam kata
Dan melipat jejaknya dalam uraian aksara
Menjelma cinta yang berterbangan bebas diangkasa
Terperangkap berdua bersama ribuan bintang dicakrawala
Aku dan kamu
Akan mewarnai dunia yang keruh ini
Dalam sekejap namun untuk waktu yang panjang
Aku dan kamu
akan menciptakan makna
Bukan sekedar retorika
Namun akan terbalut
Dalam semantik cinta yang kelak bersua
Aku Kepada Diriku
Disebut apa aku jika sembunyi
dibalik degup jantung yang pelan
didalam, jauh didalam kata-kata yang teredam, menyakitkan
kata-kata yang kekurangan gairah untuk keluar main
Akhir-akhir ini sering terlintas tanya
seberapa hancur sebuah rumah jika roboh pondasinya?
atau, bagaimana jarak mampu membuat kehidupan tetap ada?
Atau, seberapa makna apa tanda koma dalam deratan angka?
atau juga, bila mana kata kehilangan huruf, ia jadi apa?
Malam kini adalah waktu suhad
waktu menimang-nimang
waktu menina bobokkan ketiadaan
setelah guyur hujan tiada henti dikala petang sepanjang bulan ini
Bagaimana kabarmu, diriku?
inu distopia atau utopia?
Jika semua ini tentang semoga
banyak yabg sudah kulirihkan dalam doa
dan, selau berakhir dengan semoga pula
"Semoga Yang Esa Ijabah"
Tiada secankir kopi sebagai penengah
kacau-kau jiwa
punjua pergolakkan didalam dada
Kecil, semakin kecil
Menjadi alfa, menjadi tak terlihat
Biar nama saja, tanpa wajah.
Pluralisme
Kekasih, ku jemput kau di gerbang gereja sepulang kau beribadah, seperti biasa kita berkeliling taman kota.
Notifikasi pesanmu belum sempat kubaca "Jangan lupa sholat jumat sayang". Pesan yang selalu kau kirim kepadaku sebelum aku pergi ke masjid untuk beribadah.
Hari ini kita sedikit berduka, di beberapa media sosial tersiar berita pertikaian antar agama.
Orang-orang ngebacod tentang surga, namun Tuhan hanya dijadikan vigura. Berlomba-lomba mendalami agama lalu merasa dirinya adalah Tuhan yang pantas menghakimi apa saja yang tak sejalan dengan mereka.
Bukan semua agama mengajarkan cinta dan kasih.
Tak bisakah mereka seperti kita yang saling mengasihi.
Bukankan suara azan dan lonceng greja juga saling berdampingan.
Kenapa perbedaan di perdebatkan, sedangkan Tuhan menciptakan kita beragam.
Kenapa kemanusiaan mulai dikesampingkan.
Dan pancasila dianggap orang-orangan sawah.
Doa kita sama.
Aamiin kita juga sama.
Tuhanmu, Rassulku.
Hanya keyakinan kita saja yang berbeda. "Untukmu agamamu, dan untukku lah agamaju"