Kadar manusia kita sampai mana?
Dalam kondisi seperti ini, kita benar-benar di uji. Bukan hanya perkara materi tetapi juga kadar kita sebagai manusia. Ada yang saling mencari keuntungan di tengah kelangkaan, ada yang tetap berjuang dibawah ancaman, ada yang egois memikirkan diri sendiri, ada yang mati-matian berjuang untuk orang lain.
Tipe ke-satu, jenis orang seperti ini kemanusiaannya sudah rusak akut. Dimana meletakkan materi diatas semuanya. Seperti kita sudah tau, kelangkaan pasti akan terjadi. Bagi manusia yang orientasinya semata-mata keuntungan besar, ini adalah kesempatan mahal yang jangan sampai dilewatkan. Tidak ada yang salah dengan berjualan, tetapi perkara menimbunlah yang dipersoalkan. Ada yang dengan sengaja memang menciptakan kondisi langka, menebar ketakutan dan menjual dengan semena-mena. Apalagi manusia mudah sekali kalut kalau sudah dibuat takut.
Tipe ke-dua, Jenis orang yang seperti kebanyakan kita yaitu mudah sekali panik. Bagaimana jika nanti terjadi krisis, bagaimana jika nanti semuanya langka, bagaimana jika tak bisa lagi keluar rumah dan sederet pertanyaan bagaimana lainnya. Jenis manusia seperti ini mudah sekali diombang-ambing oleh keadaan. Percaya pada hal-hal yang sepatutnya tidak perlu di percaya. Khawatir berlebihan dan hingga lupa adanya Tuhan. Akibatnya memborong banyak benda untuk jaga-jaga didepan katanya. Parahnya lagi, tipe manusia seperti ini menular lebih cepat dari sekedar virus, ia menciptakan kelangkaan, ketakutan dan ketidakpedulian.
Tipe ke-tiga, ada yang hanya bisa menyalahkan. Padahal ini adalah ujian yang pasti akan datang. Mengkritisi memang tidak ada salahnya, tapi menghujat apa juga gunanya. Ini bukan pertarungan politik, ini pertarungan kemanusiaan. Mencintai tokoh tertentu memang tidak salah, tetapi memujanya berlebihan itulah yang salah. Membenci tokoh tertentu itu hakmu, tapi menghujatnya berlebihan, tengok dulu dirimu.
Tipe ke-empat, orang yang tetap berjuang dalam apapun keadaannya. Dibawah terik matahari dan dibawah ancaman yang mengintai. Bukan egois apalagi apatis. Mereka juga takut sebenarnya, tapi bisa berbuat apa? Kalau ketakutan bisa menciptakan rasa kenyang, mungkin mereka lebih memilih dirumah berdiam diri bersama anak istri. Ternyata tidak seremeh itu, mencemaskan diri sendiri tidak lebih penting daripada mencemaskan orang-orang yang disayangi. Tak ada seorang ayah membiarkan anaknya kelaparan. Lebih dari apapun untuk mewakili kata-kata yang tidak bisa tersampaikan.
Tipe ke-lima, Mereka yang yang memilih bergerak dengan sekecil apapun tindakan. Ada yang bergerak dengan kata-katanya, ada yang bergerak dengan ilmunya, ada yang bergerak dengan pengaruhnya ada pula yang bergerak dengan hartanya, sekecil-kecilnya ada yang bergerak dengan doanya. Mereka yang memilih turun tangan daripada sekedar berangan-angan. Tidak ada yang lebih besar dan lebih kecil manfaatnya, karna sama-sama saling mengisi kurangnya. Baginya, tidak ada yang lebih berharga dari kemanusiaan itu sendiri. Meskipun mempertaruhkan nyawa sendiri.
Dunia akan tetap ada orang buruk dan dunia tidak akan pernah kehilangan orang baik. Hanya saja kita mau berada diposisi yang mana, tidak ada namanya netral, atau mencari aman saja. Seburuk apapun tindakan pasti ada resikonya, dan sebaik apapun tindakan belum tentu dianggap baik. Hanya itu yang perlu kamu catat.