Kenapa Saya Berpihak pada Buruh dan Ikut Mayday Setiap Tahun
Sebagai orang yang bekerja kantoran di pusat kota, sering kali saya mendengar ucapan dari teman-teman –yang juga pekerja kantoran, yang bernada meledek tiap kali menonton atau melihat demo buruh. Cuma bisa demo lah, nuntut gaji terus padahal (dianggap) tidak produktif lah, mengganggu ketertiban umum lah, biang kemacetan lah, dan lain-lain. Saya memang jarang menyanggahnya langsung. Saya cenderung malas menanggapi hal-hal seperti itu karena saya pikir hanya buang-buang waktu dan tidak akan mengubah persepsi mereka.
Dalam tulisan ini, saya coba untuk mengartikulasikan posisi saya soal ini. Lebih tepatnya, saya ingin menulis tentang alasan-alasan mengapa saya selalu berpihak pada kaum buruh –atau lebih tepatnya, rakyat pekerja, dan mengapa sejak 2013 selalu mengikuti Mayday, hari buruh internasional (pun hari ini, bersama istri, saya mengikuti Mayday di Patung Kuda, dan pulang duluan karena hujan).
Saya lahir di keluarga buruh. Ayah saya adalah seorang buruh pabrik kulit. Pabriknya mengolah kulit-kulit mentah dari sapi dan kambing menjadi kulit siap pakai. Kulit-kulit ini akan diolah kembali jadi sepatu, jaket, atau produk terkait lainnya di perusahaan lain, yang tentunya berharga mahal (mungkin tidak sanggup dibeli oleh ayah).
Gaji ayah saya tidaklah besar. Ia kerja di pabrik yang kurang bonafit, setidaknya dilihat dari ukuran bangunan dan jumlah pekerjanya yang tidak banyak. Meski ayah saya tidak pernah menceritakan soal keuangan keluarga (bahkan sampai saat saya berkeluarga sekarang), namun ibulah yang kerap menceritakan soal kesulitan keuangan keluarga kami. Dia sering cerita kalau tidak jarang meminjam uang dari saudara dan tetangga hanya demi membayar uang sekolah saya dan adik yang memang semakin mahal.
Uang jajan saya, sejak sekolah dasar sampai kuliah, terhitung kecil jika dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Beruntung saya punya banyak kawan yang sedikit banyak bisa membantu soal itu.
Sampai kemudian 2014 lalu ayah saya kena PHK. Di pabrik kulit itu ayah saya sudah bekerja selama 20an tahun, dan jabatan terakhirnya adalah kepala produksi. Kalau merunut berdasarkan Undang-undang yang berlaku, ayah saya akan mendapat pesangon yang cukup besar, mengingat masa mengabdi yang sudah puluhan tahun. Tapi tahu apa yang terjadi? Ayah saya tidak mendapat hak yang semestinya. Ia hanya mendapat sekian puluh juta (kurang tahu persisnya), itupun dicicil dan tidak tahu kapan turunnya. Sempat keluarga kami terkatung-katung menunggu kejelasan nasib.
Beruntung saat itu saya sudah lulus kuliah dan juga sudah bekerja. Upah yang saya dapat sedikit banyak bisa menanggung beban keluarga yang digantung oleh pemilik pabrik (yang saya tahu semakin kaya saja karena rumahnya di dekat pabrik semakin besar, keduanya dekat dengan tempat tinggal saya).
Pesangon yang saya maksud itu sampai sekarang belum juga lunas. Tiga tahun sudah menunggu atas hak yang harusnya dibayar atas kerja 20 tahun lebih.
Latar belakang keluarga buruhlah yang pertama-tama mempengaruhi cara pandang saya. Cara pandang tersebut semakin mempengaruhi apa-apa yang saya lakukan setalahnya, termasuk aktivitas saat kuliah dulu.
Di bangku kuliah, saya cukup beruntung karena mengenal banyak kawan dari jurusan dan fakultas lain. Dari mereka, dan tentu saja buku-buku di perpustakaan, saya belajar tidak hanya teori-teori yang ada di jurusan saja. Saya juga belajar filsafat, politik, ekonomi, dan lain-lain.
Dari belajar itu, ada satu teori yang menurut saya sangat memuaskan untuk menjawab, kenapa ayah saya, di satu sisi, tak juga punya penghasilan cukup untuk bisa dibilang hidup sejahtera, tapi di sisi lain ada pemilik pabrik yang semakin kaya. Teori itu umum disebut teori nilai lebih. Kalau tidak salah saya mulai mengenal teori ini tahun 2012 atau 2011, setelah mengambil mata kuliah Pengantar Filsafat.
Untuk memproduksi barang, dibutuhkan beberapa alat produksi, yaitu bahan mentah, perkakas (termasuk juga mesin dan bahan-bahan kimia, dalam kasus pekerjaan ayah), dan buruh itu sendiri. Bahan mentah dan perkakas tidak akan menjadi apapun ketika tidak diberikan curahan kerja oleh sang buruh. Dalam hal ini artinya sang buruhlah yang memberikan “nilai” kepada dua alat produksi itu, yang membuat nilainya berkali lipat ketimbang saat masih jadi bahan mentah. Inilah yang disebut dengan nilai lebih.
Masalahnya, nilai lebih yang diciptakan oleh buruh tidak jadi dasar penentuan gaji seorang buruh. Gaji buruh ditentukan berdasarkan kompohen hidup–yang nantinya jadi dasar upah minimum yang ditentukan pemerintah. Sementara nilai lebihnya itu sendiri diambil oleh pengusaha. Itulah yang juga jadi sumber keuntungan perusahaan.
Saya jadi tahu, menemukan penjelasan kenapa hidup keluarga kami begini-begini saja, tapi si bos gonta-ganti mobil hampir tiap tahun dan rumahnya makin besar.
Ditambah lagi, kalau kita pikir-pikir lebih dalam, buruhlah (atau dalam konteks yang lebih luas, mereka yang bekerja dan diupah untuk itu) yang menciptakan segala sesuatu. Coba sebut, barang apa yang tidak dibuat oleh buruh? Kipas angin? Buruh yang buat. Televisi? Mereka juga. Mobil dan motor? Juga dibuat buruh. Bahkan sampai gedung pencakar langit, gedung pemerintah, Jembatan Semanggi, pelabuhan, mereka semua yang buat. Intinya, dunia ini, masyarakat kita ini, eksis sampai sekarang berkat tangan-tangan kokoh para buruh.
Buruh. Mereka yang sering kita sebut orang-orang tidak berpendidikan yang hanya tahu cara memacetkan jalan saja.
Beruntungnya lagi, saya berkesempatan kenal dan dekat dengan serikat buruh (terimakasih untuk Fildzah, istri saya yang mengenalkannya). Melalui interaksi tersebut, saya jadi semakin tahu bagaimana kehidupan buruh yang tidak berserikat, dan bagaimana yang memutuskan untuk berserikat.
Saya sebelumnya bercerita soal nasib ayah saya yang di PHK dan haknya tidak dibayar sampai sekarang. Semua ini tidak terjadi, atau bisa diantisipasi, seandainya di pabrik ayah saya itu ada serikat. Nyatanya di sana tidak ada.
Itu satu. Sementara dalam interaksi saya dengan serikat itu, saya berkesimpulan bahwa perjuangan serikat itu adalah perjuangan harian, bukan semata saat Mayday saja. Justru sebaliknya, perjuangan serikat adalah perjuangan sehari-hari, sehari-hari! Sebab tak ada hari tanpa masalah yang dialami kaum buruh.
Saya pernah dengar cerita seorang aktivis buruh. Dia awalnya adalah seorang buruh di pabrik sepatu. Biasanya jelang puasa, produksi akan digenjot mengejar target, dia akan kerja bahkan sampai 12 jam, dan esok pagnya harus bekerja lagi. Tapi jelang lebaran, tanpa alasan apapun, perusahaan mem-PHK-nya secara sepihak.
Pernah juga dengar cerita soal buruh yang di-PHK karena alasan perusahaan bangkrut, dan tidak ada uang untuk memberikan pesangon. Para buruh pun harus menerimanya. Tapi beberapa bulan saja, perusahaan itu kembali berdiri. Pemiliknya sama, tapi namanya berbeda. Orang-orang yang di-PHK itu kembali dipekerjakan, tapi dengan status kontrak, padahal sebelum di-PHK ia sudah jadi pekerja tetap.
Di Sumedang, Jawa Barat, buruh-buruh pabrik makanan ringan, meski gajinya sudah sesuai dengan aturan, namun status kerjanya tidak jelas. Ada yang telah jadi pekerja kontrak belasan tahun. Itu jelas-jelas melanggar aturan, dan serikat punya legalitas untuk mengadvokasinya. Dan ini tidak hanya dialami satu dua orang buruh saja, tapi sampai-sampai ratusan buruh mengalami hal serupa.
Di Tangerang Selatan, para buruh harus rela mendirikan tenda di halaman pabrik karena perusahaan mengumumkan penutupan perusahaan hanya beberapa hari sebelum benar-benar ditutup. Mereka semua kaget karena semua serba mendadak. Lebih dari itu semua, pabrik sama sekali tidak memberikan hak para pekerjanya. Buruh, dimana mereka berjuang dalam serikat, sangat sulit menemukan kejelasan soal nasibnya karena sang pemilik pabrik tidak pernah sekalipun datang lagi ke tempat usahanya. Dan itu masih mereka lakukan sampai sekarang.
Beban kerja yang sangat berat juga mempengaruhi sisi paling sublim dari seorang manusia –kasih sayang. Karena beban kerja yang berat, banyak buruh, baik perempuan atupun laki-laki, tak punya waktu sosial yang cukup untuk berinteraksi dengan lawan jenis, dan membangun hubungan layaknya laki-laki dan perempuan. Mereka berakhir sebagai pekerja tanpa roh, karena semua energinya telah habis berdiri seharian di dalam pabrik.
Jika kamu pikir apa yang saya ceritakan di sini hanya bualan, maka cobalah sesekali mampir saja ke kawasan-kawasan industri, Cakung misalnya, dan bicara dengan buruh-buruh di sana saat mereka berdesakkan pulang ke kontrakkan masing-masing. Atau kalau repot, silakan baca buku Buruh Menuliskan Perlawanannya, sudah ada di toko-toko buku.
Apa yang diperjuangkan buruh bukan semata untuk dirinya sendiri saja. Kalau ada pekerja lain yang bilang kalau buruh cuma tahu tuntut upah, maka dia sama sekali cuma asal bicara dan tidak pantas untuk didengar. Apa yang disebut dengan “minta naikkan upah” adalah soal regulasi. Yang artinya, tuntutan ini juga berimplikasi bagi semua pekerja, apapun dan dimanapun kerjanya.
Tuntutan buruh justru kerap kali merupakan tuntutan masyarakat secara umum. Tuntutan buruh adalah tuntutan yang justru dapat dirasakan manfaatnya oleh sebagian besar masyarakat. Sejarah jelas-jelas membuktikan hal ini.
Kerja delapan jam sehari itu bukan ujug-ujug pemberian dari tuhan. Abad ke 19, kerja itu bisa sampai 18 jam per hari. Kerja delapan jam sehari adalah buah dari kemenangan kelas buruh di Amerika Serikat sana, yang diperjuangkan dengan kematian banyak buruh karena tertembus peluru aparat, dan dampaknya kita semua rasakan saat ini. Keberhasilan ini lah yang kemudian yang jadi cikal bakal Mayday.
Dulu juga, mempekerjakan anak kecil itu dianggap wajar. Sampai kemudian serikat buruh mengatakan bahwa itu adalah hal yang tidak manusiawi.
Buruh juga berperan dalam kemerdekaan Indonesia. Setelah proklamasi, buruh kereta api lah yang pertama kali mengambil alih aset perusahaan Belanda, baru kemudian diikuti oleh buruh lain. Beberapa stasiun yang berhasil diduduki di antaranya dalah Manggarai, Jatinegara, dan puncaknya pada pengambil alihan Balai Kereta Api Pusat di Bandung. Kalau sejarah ini tidak diketahui, ya tidak apa-apa. Wajar. Toh pendidikan sejarah kita memang sangat tokoh-besar-sentris, dan minus narasi-narasi kecil seperti ini.
BPJS itu diinisiasi oleh kalangan buruh juga. Di titik ketika legislatif kita lamban dalam merumuskan kebijakan jaminan sosial nasional, serikat buruh masif menekannya. Mereka berdemonstrasi tanpa henti, beraudiensi, melakukan edukasi publik, hingga pada akhirnya BPJS disahkan pada 2011 lalu dan dinikmati kita semua saat ini.
Yang paling dekat tentu saja diberlakukannya hari libur nasional tiap 1 Mei sejak 2013 lalu. Apa libur 1 Mei ini cuma berlaku buat buruh pabrik saja? Tentu tidak.
Adil sejak dalam pikirian memang heroik untuk dikatakan, namun begitu sulit untuk dilakukan. Kita dapat dengan mudah mengucilkan dan mencaci maki perjuangan kawan-kawan buruh, padahal kita tidak pernah tahu apa dan bagaimana mereka dari dekat. Kita begitu sibuk dengan atribut-atribut yang dipakai buruh, seakan mereka tak pantas untuk memiliki dan menggunakannya, tapi kita lupa bahwa mereka juga manusia yang ingin hidup sejahtera.
Kita terlalu sibuk dengan label buruh sebagai pekerja kotor dan kasar, tanpa sadar bahwa kita semua, orang-orang upahan, adalah juga buruh. Kita adalah buruh.