Arus Balik
Coba memikirkan kembali gelisah yang datang. Kekhawatiran ini tidak biasa. Mengganggu siang malam, adakah ini fase dimana aku harus mempertanyakan kembali apa yang sudah aku lakukan satu dekade ini, atau merencanakan kembali visi yang telah kita bangun?
Sudah banyak nasehat diterima, perhatian datang dalam bentuk apapun. Bukan pesimis dengan keadaan ini. Seekor elang tak mungkin kembali kesangkar, tanpa membawa makan untuk anaknya.
Manusia bisa memberi nasehat, namun tidak ada kepastian ia bisa menerapkan nasehat itu untuk dirinya sendiri. Apa yang aku lakukan 5 semester ini adalah jalan ke arah hutan belantara, tidak ada yang tau nanti apa yang bisa menghidupiku didalam sana. Tidak ada yang tau seberapa beresiko dalam berjalan didalamnya. Semua hanya praduga.
Semakin kesini semakin aku tidak tau apa-apa, kembalipun aku juga luput menandai jalan pulang. Tanggung perkaranya, ini sudah berjalan 5 semester. Apa yang ingin ku gapai saat ini semakin jauh, semakin buram. Bagaimana yang seharusnya? Menata ulang kembali atau, membuat rencana dengan keadaan yang seadanya.
Ini titik terendahku, aku melihat keatas dan terus menengadah. Ahh, sudahlah..







