Setidaknya langkah yang saya ambil tidak membuat saya kembali terluka.
Setidaknya memberi spasi pada kisah yang sebelumnya ada, tidak menjauhkan siapa dengan siapa tetapi kembali menyatukan dua insan yang ego-nya sama-sama tinggi.
Mungkin awal mulanya dia adalah pasangan saya dengan egoisnya dia mengatakan tidak akan kembali dengan kekasihnya yang dulu. Tapi saya paham dari sorot matanya, dia berbohong, gumam saya dalam hati. Hari berganti, bulan pun ikut berganti. Sorot mata penyesalan dan kekecewaan atas dirinya dan kekasihnya sebelumnya, rupanya memberi luka yang sangat membekas. Dan dari sorot matanya juga saya sadar harus melepas, sepertinya dia ingin menghukum dirinya dan memberikan efek jera pada kekasihnya yang dulu, sebelum pada akhirnya saya memilih untuk tidak melanjutkan kisah itu, percuma kata saya. Dia tidak benar-benar tulus, matanya memandang saya tapi pikirannya selalu tentang bayang kekasihnya yang dulu. Saya menangis, benar saja, saya kembali gagal, dan saya juga seorang pengecut handal. Bisanya cuma melarikan diri dan menyelamatkan seseorang dalam patah hatinya. Rupanya langkah saya untuk memberi spasi dapat menyatukan mereka kembali. Saya harap tidak ada luka lagi, dan egois dipadamkan. Semoga kabar baik lekas tersebar setelah ini. Saya tau saya jauh lebih egois dengan mementingkan bahagianya. Saya menangis, kecewa dengan apa-apa yang sudah dia ceritakan dan segala hal baik tentang dia tidak dia peragakan dihadapan saya, saya tau itu hanya omong kosong belaka untuk menenangkan saya yang waktu itu sedang patah hati hebat, dan memilih keputusan singkat. Lucu memang, tapi cerita ini hanya akan mengisi lembar kosong dan segera berganti dengan buku baru.
Samarinda, 2020.

















