Hujan
sempat hilang dalam ingatan, bahwa hujan pernah menjadi saksi.
kadang turun secara tiba-tiba, padahal sudah diberi pertanda. kita terlalu percaya bahwa mendung tak selalu hujan, hingga akhirnya payung diabaikan.
tatkala hujan turun di siang atau malam, tidak sering tapi kerap beliau yang terakhir di mushola. menunggu hujan reda mungkin? tapi aku datang membawakan payung. sesekali jika tidak deras hanya satu payung.
jalannya yang begitu pelan dan sangat hati-hati. jika membawa payung dua, maka aku pulang terlebih dahulu. jika satu, maka kita berada dibawah payung yang sama kemudian saat sudah dekat rumah aku langsung lari (pengen hujan-hujanan sebenarnya).
memori itu muncul kembali. hujan pernah menjadi saksi. meski akhirnya baju tetap basah dipinggiran, jika diingat senang juga ya Pak.










