Barangkali kita merasa puas ketika bisa berguna bagi orang lain. Barangkali kita merasa besar ketika tangan kita mampu memberi. Barangkali kita menyebut diri berhasil ketika nama kita dipuji dan dibanggakan. Barangkali kita merasa cukup ketika hari-hari kita dipenuhi banyak peran. Barangkali kita merasa bernilai ketika kita bisa mengerjakan banyak hal. Barangkali kita dianggap mampu ketika langkah kita sejajar dengan langkah orang lain.
Namun dibalik itu semua, barangkali yg benar-benar dibutuhkan adalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Rupanya ini adalah proses, untuk melepaskan makna-makna lama, untuk melebarkan sudut pandang tentang apa artinya cukup, untuk tidak lagi memperdebatkan standar keberhasilan. Selayaknya perjalanan, dari ingin melihat tujuan, menuju berani melihat jalannya. Dari sibuk memberikan makna pada diri, hingga akhirnya duduk diam, menyadari bahwa setiap diri siapapun itu cukup untuk diterima.
Rupanya ini adalah proses, untuk membuka lapisan demi lapisan, hingga yg tersisa bukan pencapaian, melainkan kehadiran dan mengakui rasa, lalu kembali terhubung pada heningnya nafas. Dan di sanalah kejujuran tidak lagi terasa menakutkan.
Seperti yg dikatakan bapak beberapa hari lalu, “yg penting kamu nyaman, tidak tertekan, dan happy”. Kalimat yg singkat, tanpa teori, tanpa penghakiman, dan tanpa tuntutan. Ternyata perjalanan ini bukan tentang harus sampai mana, bukan tentang tujuannya apa, bukan tentang prosesnya terlihat seperti apa, melainkan tentang bagaimana rasanya saat menjalani.
Mungkin memang sesederhana itu, hidup tidak selalu meminta kita menjadi keren, kadang hidup hanya ingin kita menjadi hangat di dalamnya. Nyaman di badan, lega di dada, dan cukup damai untuk tersenyum tanpa alasan. Mungkin hari ini berat, tapi besok belum tentu akan selalu berat bukan?
Seringkali ada hal-hal kecil yg senantiasa mengingatkanku bahwa kita semua sama, jiwa yg sedang belajar menjadi manusia dan sedang bersekolah di bumi. Tidak ada remedi, tidak ada pedoman hidup, tidak ada langkah pasti, tidak ada dualitas, dan tidak bisa disamakan satu sama lain. Ya mungkin hanya ada guru sejati, yg bisa ditemukan di dalam diri kita.
Jadi, persetan dengan barangkali-barangkali di atas, karena hidup bukan soal kemungkinan yg terus bisa ditawar, karena ternyata aku datang bukan untuk diingat, melainkan untuk mengingat, mengalami, dan juga mengerti bagaimana cara mencintai hidup dengan hadir penuh dan sadar utuh.