Sebaris Do'a
Mega berkelebat di ufuk timur siap menyambut sang raja bangkit. Tak ada satupun aktivitas terlihat, hanya saja kokok ayam mulai terdengar rendah bersahutan dari lain dimensi. Semilir angin menyusupi lembah kami melalui celah kecil pintu da jendela, menusuk raga yang masih terbuai oleh bunga-bunga di alam tidurnya. Masih sangat pagi. Ia sedikit terusik dan terperanjat kemudian saat matanya tertuju pada petunjuk waktu yang bertengger tepat d hadapannya.
āAstagfirullah, sudah siangā¦.ā pekiknya, padahal jam masih menunjukkan pukul 3.30 pagi!
Ia bangkit perlahan dari tempat tidurnya dengan mata sedikit terpejam dan mulut yang tampak meringis menahan sakit. Satu tangan ia letakkan pada pinggangnya seolah menunjukkan dimana rasa sakit itu berasal, sementara tangan lain menumpu pada tepi ranjang mendorongnya agar dapat segera berdiri. Sudah beberapa hari ini ia merasakan itu namun enggan sekalipun memeriksakannya ke dokter. Hati dan pikirannya beradu hebat, ia sangat ingin pergi ke dokter hanya saja secara logika ada kebutuhan lain yang menurutnya harus didahulukan.
Air wudhu diambilnya dan ditunaikan 2 rakaat sebelum kemudian ia berganti pakaian dinas tanpa mandi terlebih dahulu. Tak lupa ia berkunjung ke bilik sebelah mengambil semangat lebih untuk melawan dinginnya pagi dan kantuknya mata yang sedari tadi meggoda semangatnya. Bibirnya tersenyum namun matanya sedikit berkaca, gemuruh dalam dadanya kembali menggelora dan kini ia siap untuk menggempur dunia sekalipun.
Berdirinya sudah tidak lagi simetris, sepertinya demi menahan rasa sakit ia condongkan badannya ke bagian lain agar mendapati posisi nyaman. Ditangannya tergenggam sebuah senjata yang selama ini memberikan nafas untuk terus hidup, senjata ini pula yang digunakan untuk memberikan tambahan nyawa pada manusia-manusia di belahan bumi manapun. Sebuah cangkul. Ia mulai menyusuri dunia yang masih gulita menuju ladang tempatnya mengais rizki, ia sudah tertinggal jauh dari kawannya sehingga langkah kakinya mulai ia percepat meski sama sekali tak ada pengaruh dengan kondisinya yang seperti itu. Tetap saja lambat.
Ditengah perjalanan kumandang adzan subuh terdengar, langit semakin terang benderang. Hatinya mulai cemas takut-takut ia tak bisa mendapatkan hasil yang cukup, takut-takut kawannya menghabiskan semua jatahnya dan ia pulang dengan tangan hampa. Namun ia kembali berfikir dan yakin ada Allah yang maha mengatur rizki manusia, hingga ia putuskan untuk mampir ke mushola terdekat untuk menunaikan kewajibannya terlebih dahulu.
Satu jam setengah waktu yang ditempuhnya dari rumah menuju ladang hari itu dari setengah jam waktu biasanya. Matahari sudah mulai menampakkan batang hidungnya cuacapun mulai terasa hangat. Alhamdulillah apa yang ia cemaskan ternyata tidak benar terjadi, meski sistem borongan kawannya tak serta merta menghabiskan jatahnya. Mungkin mereka merasa iba pada kondisinya, tapi ia tak pedulikan itu, yang jelas ia bersyukur masih bisa pulang dengan membawa hasil meski tak sebanyak biasanya.
Terima kasih ayah, sudah mau berjuang untuk senantiasa memenuhi kebutuhan kami anak-anakmu meaki kondisimu tidak memungkinkan untuk itu. Terima kasih karena dari perjuanganmu kami bisa belajar apa makna dari tanggungjawab, kerja keras serta rasa ikhlas.
Besar keinginanku untuk menegurmu agar kau tak lagi bergelut dengan aktifitasmu saat ini. Namun apa daya pundak ini masih belum cukup mampu untukku menggantikan posisimu. Maafkan ayah, hanya sebaris doa semoga ayahanda terus diberikan kesehatan dan kekuatan yang bisa aku sampaikan hingga detik ini. Semoga tidak lama lagi aku dapat membantumu, doakan saja. :ā)








