Malam itu tidak banyak pilihan. Semua sudah selesai: pekerjaan beres, obrolan membeku di tengah jalan, kopi terasa hambar, rokok cuma meninggalkan abu. Jadi apa lagi yang bisa dilakukan selain scrolling reels? Katanya ini cara paling efektif merawat brain rot—agar otak tetap sibuk meski tak jelas arahnya. Eh, tapi justru dari situlah, aku bertemu dua reels yang malah membuat agak merenung, mengaburkan pikiran, dan membuka pintu pada rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Yang pertama, video Corey Taylor menyanyikan Snuff. Tanpa topeng, tanpa gemuruh khas Slipknot, hanya gitar dan suaranya. Versi akustik itu terasa telanjang—seakan ia menyanyikan itu hanya untuk dirinya sendiri.
Gambar video agak burem, mungkin dari belasan tahun lalu, tapi justru itu yang membuatnya terasa intim, seperti potongan ingatan yang diambil sembarangan tapi tetap melekat.
Tak lama, reel berikutnya memperlihatkan sebuah band lama, Laluna menyanyikan Stand By Me dari Oasis. Cover yang sederhana, seadanya, tapi entah kenapa justru menempel di kepala, anehnya saat itu yang muncul di benakku malah lagu Selepas Kau Pergi milik La Luna. Ada nuansa yang sama: kosong, getir, dan melankolis. Lirik dan segalanya jelas berbeda, tapi bukankah kadang kita mendengar musik bukan dengan analisis kata per kata, melainkan dengan memori rasa yang dibawanya. Itulah sebabnya saat mendengar cover itu, aku justru teringat pada lagu Laluna yang lain—tapi keduanya serasa sama-sama membuka pintu pada rasa sepi yang singgah.
Kehilangan pertama yang paling nyata adalah pada sosok sosok ibu yang lain—istri dari adik ayahku, sejak kecil memang kupanggil “ibu”. Rumah kami bersebelahan. Aku sering tidur di rumahnya, bahkan punya kamar sendiri. Saat orang tuaku bepergian, ia yang menyiapkan sarapan, menjaga, merawat, menemaniku. Ia punya tiga anak, tapi sudah tidak tinggal disana: ada yang sudah menikah, masih sekolahdi luar kot. Rumah itu jadi sepi, hanya mereka berdua dan yang meramaikan adalah aku dan kedua sepupu.
Kini, setelah dua minggu ia dirawat, beliau pergi untuk selamanya. Sudah lima hari berlalu, tapi perasaan itu tetap berat. Aku merasa tidak cukup merawatnya selama itu, tidak cukup memberi salam perpisahan. Bahkan tangisanku terasa kurang. Mungkin terlalu sibuk, tidak ada ruang untuk meratap, tidak sempat diam, tidak bisa sepenuhnya larut dalam kehilangan. Aku iri pada mereka yang dimaklumi menangis keras, meratap panjang. Aku sendiri serasa ditahan: ingin lebih lama bersedih, tapi tak bisa.
Di sisi lain, ada kehilangan yang berbeda: sosok seorang wanita yang hampir empat tahun terakhir menemaniku. Kini, ia perlahan menjauh. Hubungan kami ibarat pohon yang diberi racun: mati pelan-pelan. Tuntutan, rasa cemburu, overthinking—semuanya adalah racun. Setelah beberapa hal besar menimpanya, jarak di antara kami makin jelas. Jauh.
Di titik ini, sebenarnya aku ingin sekali bercerita padanya tentang ibuku padanya. Tentang beratnya kehilangan, tentang rasa tidak puas melepas, tentang tangis yang tertahan. Aku ingin mengeluh, bersandar, menumpahkan semua bahkan menangis di bahunya. Dia satu-satunya yang bisa menerima itu semua. Tapi sekarang, justru ketika aku membutuhkan ruang itu, kami saling menjauh. Ia tetap ada, tapi sekaligus tidak ada.
Kadang kehilangan itu berlapis-lapis: seseorang benar-benar pergi untuk selamanya, sementara yang lain masih hidup, tapi terasa mustahil lagi untuk digapai. Dan yang kedua, anehnya, bisa lebih absurd rasanya—karena kita terus hidup dengan jarak yang tak bisa dijelaskan.
Mungkin inilah yang membuat dua reels tadi begitu menempel. Snuff dan Stand By Me—meski lahir dari panggung dan zaman yang berbeda—sama-sama bicara tentang kehilangan. Corey Taylor menulis, “My heart is just too dark to care, I can’t destroy what isn’t there,” sebuah pengakuan bahwa luka batin tak bisa sepenuhnya disembuhkan. Noel Gallagher, lewat Oasis, menyelipkan permohonan sederhana “stand by me nobody knows the way it’s gonna be.” Sedangkan La Luna meratap lebih gamblang: “Selepas kau pergi, sepi kurasa.”
Ketiganya bertemu di titik yang sama: perasaan rapuh ketika seseorang yang kita biasa kita sandari tiba-tiba menjauh—entah karena meninggalkan, menjauh perlahan, atau benar-benar pergi untuk selamanya. Perbedaan gaya hanya tampak pada permukaan, inti emosinya tetap satu: manusia selalu kalah di hadapan kepergian.
Dari situ aku teringat reels lain—yang dulunya pernah muncul secara acak, tapi kali ini sengaja ingin kutemukan. Kalian tahu kan betapa sulitnya mencari reels hanya dari deskripsi samar-samar? Tapi entah bagaimana, setelah beberapa waktu, aku menemukannya. Seorang pria tiduran santai dengan gitar, mungkin tidak sadar sedang direkam. Ia menyanyikan penggalan akhir So Far Away dari Avenged Sevenfold: “I love you, you were ready. The pain is strong and urges rise
But I'll see you, when He lets me
Your pain is gone, your hands untied… so far away…”
Versi itu jauh lebih syahdu dari suara M. Shadows sendiri. Tidak ada panggung megah, tidak ada efek tambahan, hanya gitar dan suara yang lepas begitu saja. Tapi justru di situ kehilangan terasa lebih pekat, dan merelakan itu terasa berat. Seolah ia sendiri benar-benar sedang memanggil seseorang yang telah tiada.
Itu salah satu alasan kenapa video pendek itu begitu lekat di ingatanku. Ada harmoni aneh antara suara, petikan gitar, dan kedalaman lirik. Kadang, yang membuat sebuah penampilan musik membekas bukanlah teknisnya, melainkan karena ia sanggup menyuarakan rasa yang selama ini kita tahan.
Pada akhirnya, musik selalu menemukan jalan untuk menyatukan potongan-potongan rasa kehilangan: dari ibu lain yang pergi, dari wanita yang menjauh, dari reels yang muncul tiba-tiba di tengah kebosanan. Setiap lagu menjadi semacam cermin—kadang jernih, kadang samar—tempat kita bisa melihat diri sendiri, lengkap dengan luka-lukanya.
Dan entah kenapa, dari semua yang paling sulit, justru kehilangan yang tidak pernah selesai. Yang permanen bisa dipeluk dengan doa, yang fana bisa diterima dengan air mata. Tapi kehilangan yang samar, yang masih hidup di seberang sana, hanya menyisakan absurditas: seperti lagu yang berhenti di tengah jalan, tanpa penutup, tanpa nada terakhir.