My friend said that I am still just a 21 yo girl and still craving for experience.
I admit, it is true enough. May be later, when I get older, I think about another responsibilities and life purpose.
I am afraid that the purpose is just about making money. Since my goal is to live more and worry less. I mean, I think I will be worry less if I have enough cash in my bank account and secure investment. At the end, is it all about money?
On the other side, I still want to "Live More". Doing routinity in 9 hours of working, go back home and doing nothing, it is not the definition of live more I want to achieve.
Anyway, there is one sentence I agree about from her:
"Di Suatu Pagi yang Cerah" . . Udah, itu dulu captionnya, nanti diedit kalau udah ada ide (kayaknya sih engga). Edited with Inshot on Android. #flirtingwithnature (di Have A Nice Day好處餐廳) https://www.instagram.com/p/B2fi5uOBXm2/?igshid=2rdnet9cyxmh
Semakin gue engage dengan pekerjaan ini, semakin gue feeling lost.
Seharusnya hal-hal seperti ini bisa dihindari ya, gue yakin setiap orang punya hal yang disuka dan diminati.
Tapi kalau udah kecebur gini, salah satu pilihannya adalah berusaha memberikan yang terbaik aja.
Masalahnya, semakin gue terlibat, semakin jauh gue ngerasa tersesat.
Gue tau ini pekerjaan yang sebenernya oke2 aja. Punya penghasilan tetap, punya teman-teman seru, tapi rasanya kok kosong. Pelampiasan gue justru ke jalan-jalan, yang bikin lupa sejenak sama kejenuhan pekerjaan.
Mungkin gue boleh ga suka sama kerjaan gue. Gue harus punya hobi, harus punya minat, harus punya selingan selain kerjaan. Tapi apa ya, goal jangka panjang mau gue tuju? Gue gak mau menekuni pekerjaan ini sampai nanti-nanti. Jujur awalnya cuma penasaran, pengen tau industri ini seperti apa, pengen nerapin ilmu yang didapat selama kuliah.
Kata salah satu orang yang gue follow di IG, gak ada orang bodoh, adanya yang gak mau dengerin kata hati. Hhh, sebel bener banget.
Gue sadar waktu terus berjalan, kasian diri ini yang masih gak punya tujuan.
Ini adalah kiriman pertama yang aku unggah di Tumblr-ku, setelah sekian lama. Tercatat bahwa tahun 2016 yang lalu adalah terakhir aku menulis dan berbagi di kanal ini. Mulai saat ini, aku ingin kembali untuk mulai menuangkan pikiran-pikiran dan hal-hal keseharianku di Tumblr.
Sedikit cerita, sebelum menulis ini, aku menggulir halaman-halaman Tumblr-ku hingga sampai di kiriman-kiriman lama. Lucu juga ya melihat perkembangan jalan pikiran seorang Wulan (atau yang mungkin akrab kamu kenal dengan sapaan Yayan). Aku bergabung di Tumblr sejak 2012, sekarang sudah di penghujung 2018, enam tahun sudah! Dari bocah SMA berumur 14 tahun yang cukup aktif membagikan kesehariannya di Tumblr (karena di sini tidak ada yang membacanya hehehe), hingga masuk ke dunia perkuliahan dan mulai terbuka dengan banyak hal, dan sekarang aku sudah lulus kuliah! Sudah lulus, sudah kerja, dan tetap bocah :D kata salah satu temanku, “tua itu fana, kita bocah selamanya”, pernyataan itu kemudian aku amini 1000x, hahaha.
Bicara tetang pekerjaan, aku sekarang bekerja di salah satu perusahaan swasta di bidang konsultan pajak. Junior Tax Consultant, setidaknya itu yang tertera di kartu nama yang kantor buatkan untukku. Bohong kalau menjadi konsultan pajak tidak pernah terbayang olehku semasa kuliah. Aku kuliah di jurusan administrasi fiskal. Pekerjaan-pekerjaan yang menanti di luar sana, dan linier dengan jurusanku, tidak jauh-jauh dari dunia konsultan pajak.
Aku senang aja, sih, bisa belajar bagaimana praktik di dunia nyata mengenai teori-teori yang aku pelajari di ruang kelas. Justru, tujuanku untuk masuk ke industri ini adalah untuk belajar lebih jauh. Ibarat main ke pantai, sudah melihat bagaimana rupanya air laut, sudah jauh-jauh naik perahu untuk pergi ke spot snorkeling, sudah keciprat-ciprat dan basah, ya sekalian aja aku berenang dan belajar menyelam. Begitu juga dengan pekerjaan yang aku pilih saat ini. Empat tahun aku belajar, waktu yang cukup lama, sayang kalau ditinggalkan dan dilupakan tanpa tau keadaan sebenarnya. Jadi, ya, langkahku di dunia kerja saat ini aku anggap sebagai langkah belajar di tahun ke-lima. Akankah sampai di tahun-tahun berikutnya? Apa iya, bekerja harus linier dengan jurusan kuliah? Apa harus bekerja sesuai jurusan, sehingga ilmu yang sudah dipelajari bertahun-tahun dapat dirasa bermanfaat bagi diri sendiri dan sekitar? Akan kubahas di kiriman terpisah :)
Tenang, tidak kan dibebankan perkara melebihi kemampuan kita. Mana mungkin Tuhan berbohong.
(via palawija)
Kemarin di hari Rabu, saya datang ke dosen saya dan pulang dengan segenap kekecewaan. Kecewa pada diri sendiri, mungkin. Satu orang kemudian berkata, “aneh.. orang lain pada bisa, kamu gak bisa.”
Sedih, karena itu keluar dari orang yang saya sayang. Entah itu maksudnya apa, mungkin ia bermaksud baik, tapi itu pertama kali saya dengar dia bilang saya gak bisa. Rasanya sedih, sedih betul. Di saat saya butuh dukungan, butuh semangat, tapi kenapa statement itu yang keluar.
Mungkin harusnya saya tidak mengambil perkataan itu lebih jauh bahkan lebih dalam. Tapi, setelah membaca kiriman di atas, saya sadar mungkin itu waktunya untuk melibatkan doa kepada Tuhan, bahwa saya bukan hanya butuh dukungan dari manusia-manusia terdekat, tapi juga iman yang kuat. Kemarin bukannya berbicara dalam doa, saya malah menggerutu dan membiarkan diri sendiri mengecap saya bodoh, gak bisa mikir, dan sebagainya. Bukannya berusaha keras untuk diri sendiri, saya malah menyalahkan orang lain. Saya lupa kalau di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Saya lupa kalau tidak akan dibebankan perkara yang melebihi kemampuan saya. Terima kasih sudah mengingatkan, bahwa kalau saya dihadapi dengan masalah, berarti saya akan bisa melewati itu, cepat atau lambat, dengan segala usaha.
Tempat di mana kamu bakal ngerasa gak jauh beda dengan di Jakarta--cuman lebih rapi dan ga macet--at least ga semacet Jakarta, dengan bahasa yang gak begitu asing, tapi tetep terdengar "aneh" di telinga orang Indonesia.
Anehnya bukan terletak di logat melayunya, tapi di vocabulary mereka.. Stasiun KLCC, misalnya, tempat pertama gue sadar ada papan dengan nama "Papan Kenyataan". Secara literal bener sih, cuman tetep asing dan berhasil bikin gue nyengir.
Untuk menerangkan kalau yang boleh masuk cuma staff aja dan dengan isengnya, jadilah foto di bawah ini.
Well, lebih ke norak sih. Foto di atas diambil sembari nungguin temen beli tiket kereta ke bandara di vending machine. Dulu di Jakarta belom ada. Tapi di awal tahun 2016, vending machine untuk tiket KRL bisa ditemukan di beberapa stasiun komuter di Jakarta. I'm waiting it at UI, too. Dan enaknya, seperti di negara-negara tetangga lainnya, dari dan menuju bandara difasilitasi kereta jadi lebih gampang dan no macet. Kalau yang satu ini, Jakarta belum menyusul ya.. katanya sih 2017 nanti udah selesai proyek kereta bandara, semoga lancar biar kita makin mudah ke bandara yaap.
Next, kata temen gue, bahasa malaynya "jalan-jalan" atau "keliling-keliling" adalah "pusing-pusing". Pas gue praktekin, eh dijawab "Jangan pusing! Sakit. Headeache". Fail, guys..
Kocaknya lagi, pas lagi nawar2 harga, penjaga tokonya bilang "15 keles". Ternyata kosakata Keles seterkenal itu ya..
Di malaysia ada banyak banget orang Bangladesh yang gue temuin, mulai dari penjaga sevel sampe penjual di China Town dan orang-orang lalu lalang. Gue kira mereka orang India.. karena ada tempat gak jauh dari China Town, namanya Masjid India. Dan fyi, di situ juga banyak toko2 murmer serba ada.
Dari informasi yang gue dapetin dari percakapan dengan penjaga sevel, ternyata di sana memang banyak orang Bangladesh dan memang udah menetap di sana. Bahkan gue pernah chatting omegle sama orang Bangladesh yang tinggal di Malaysia.
Karena upload foto di depan Petronas Twin Tower udah terlalu mainstream, kita upload foto di dalem Petronasnya aja lah ya. Muter-muter dan nemenin temen gue nyari sepatu ke salah satu toko sepatu terkenal yang harganya bisa setengah dari harga di Jakarta.
Ketika gue pulang dari Petronas, gue ngelewatin lapak yang sama di daerah China Town. Lewatin toko tempat gue dan temen-temen belanja dan ngobrol-ngobrol semalem dan bilang sambil jalan kalo kita mau pulang ke Indonesia, goodbye. Gue malah bilang "Goodluck!" dan ada yang nimpalin dari toko seberang "Hello, my friend! Good luck!" Taunya Abang2 Bangladesh yang ngobrol sama gue semalem. Goodluck for you too, my friend!
Kau tanyakan kepadaku, bagaimana keadaanku di antara empat dinding tebal itu. Kau tentu pikir tentang sebuah sel atau semacamnya. Tidak, Stella, penjaraku adalah sebuah tembok tinggi mengelilinginya, dan pagar itulah yang mengurung aku. Betapa luasnya pekarangan itu, kalau orang harus terus tinggal di situ, menjadi sesak juga rasanya. Aku masih ingat, bagaimana dalam putus asa yang gelap-gulita itu badanku selalu kulemparkan pada pintu-pintu yang terkunci dan pada tembok dingin. Arah mana pun yang kutempuh, akhir dari perjalanan itu selalu saja tembok batu atau pintu terkunci. -Via Pramudya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja-
Queing and waiting for our book to be assigned by the preacher or mosque caretaker.
Woken up by mom for sahur, but I was still can say “I’ll do fasting without sahur, mom”. When exactly I’ll eat at 9.
Very excited to walk around my neighbourhood with lots of another kids after subhi prayer.
And get shocked by fireworks.
And arrive at home at 8.
As I am growing up, that feeling is changing to another reason why I must be happy when Ramadhan comes.
My neighbours is on the other town to work/school. Same with me.
My age and cognition of tarawih stops me to talk or laugh while doing it.
My excitement to walk around the neighbourhood is gone, and change with “I wanna sleep please wake me up at 8″ and finds the clock is at 11 when opening my eyes.
That are not the reason why I must be happy when Ramadhan comes and wait it for year while praying may I have the opportunities to the next Ramadhan.
As I am growing up, it comes to be a more religious thing.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
I know I'm not an ordinary ten-year-old kid. I mean, sure, I do ordinary things. I eat ice cream. I ride my bike. I play ball. I have an XBox. Stuff like that makes me ordinary. I guess. And I feel ordinary. Inside. But I know ordinary kids don't make other ordinary kids run away screaming in playgrounds. I know ordinary kids don't get stared at wherever they go.
Last week, I go to University of Indonesia’s library, to meet someone—which was actually three. Then, in a few seconds later, I sat in front of two of them. I sat as an interviewee.
I was going to apply to an International Work Camp located in East Java. For your information, it is not an usual camp—for me. We will gather in Nganget, a village which locals is the people who ever had leprosy. Did you know Leprosy? Leprosy, also called Hansen’s disease, is a disease which causes skin become slightly red, darker, or lighter than its normal condition. It can be found in arms, legs, or back of them and makes that parts numb and damaged. Somehow, it can attack the facial nerve and causes deformity until blindness. Furthermore, whatever the conditions are, its social effect can grow much bigger to the person.
Just like a novel which I stole its quote above. Even it’s not because of leprosy, but Auggie was born with facial deformity. Facial. Deformity.
Orang-orang di Thailand, bisa dibilang cukup dikit yang bisa Bahasa Inggris. Waktu baru sampe di bandara aja, gue dan temen-temen ditegor petugas, larena melakukan kesalahan, dari ujung sana dengan nunjuk-nunjuk pake tangan tapi tetep pake Bahasa Thailand. Dan, kita gak ada yang ngerti! Dia ngegas banget, tapi gak ada usaha sama sekali buat pake bahasa inggris:((
Pernah juga gue temuin papan promosi villa dengan keterangan “Near bach and montan”..
Meanwhile, kalau lo ke MBK, cukup banyak pedagang yang bisa bahasa Indonesia, lho! Walaupun cuma bahasa pasar sih, seperti “Itu seratus baht. Dua ratus. Murah murah.”
Lucunya lagi, ketika mereka menyatakan harga barang seharga “wan Hwallid”.. Setelah pake bahasa kalkulator dan pindah-pindah toko, ternyata Hwallid itu adalah cara lidah mereka mengucapkan Hundred:’))))
Kemisteriusan mungkin dapat menggugah para tokoh jika digambarkan dalam novel-novel. Kali ini, misterius bukan melekat pada tiap sisi hidupnya. Tetapi, pada tiap sudut pertemuan aku dan dia. Seperti alasan dari setiap kebetulan yang tak dapat ditemukan, kesengajaan yang tak pernah ada, dan campur tangan semesta yang tak dapat diterjemah.
When you buy food, will it be eaten or will it end up contributing to the world's growing food-waste problem? Buy what you eat, and eat what you buy. Because if you waste a food, you also waste labor, energy, water, and of course other ecological and economics cost. ~Feeding The Zone: International Cooperation, Inovation and Investment in Indo-Pacific Agriculture.
Kecuekannya juga bikin sirik, andai saja aku bisa begitu, bersikap acuh tak acuh tapi tetap punya pengaruh. Ia seolah memiliki magnet untuk mendekati dan didekati siapa saja. Dan aku kebalikan dari itu semua. Dia sudah pasti tidak masuk dalam jajaran cowok paling keren di negeri ini, tapi bisa jadi ia salah satu orang yang paling cepat disuka. Dan yang dia lakukan cukup hanya menatap dan tertawa.
Pada pagi hari Tuhan tidak pernah seperti terkejut dan bersabda, “Hari baru lagi !”, ia senantiasa berkeliling merawat segenap ciptaan-Nya dengan sangat cermat dan hati-hati tanpa memperhitungkan hari.
Ia, seperti yang pernah kau katakan, tidak seperti kita sama sekali
Tuhan, merawat segala yang kita kenal dan juga yang tidak kita kenal dan juga yang tidak akan pernah kita kenal
Beberapa hari lalu, saya datang ke lokakarya sastra yang digagas oleh lembaga mahasiswa fakultas. Menghadirkan Sapardi Djoko Damono cukup mengundang antusiasme para penikmat sastra. Salah satu yang beliau katakan, puisi yang bagus adalah puisi yang mengandung makna berbeda-beda bergantung pada sudut pandang pembaca. Bahkan ketika diri sendiri membaca berulang kali, makna puisi itu dapat berubah-ubah. Karena pada dasarnya, puisi adalah kalimat demi kalimat yang tidak berkata lugas. Sehingga, puisi memberi peluang bagi pembaca untuk menafsirkan secara pribadi. Kontribusi besar sastra bukan hanya dilihat dari tulisan, tentu kita sadar jika lagu dan puisi memiliki hubungan. Begitu pula film, tarian, foto, semua dapat berasal dari sastra. Sastra yang dipentaskan, sastra yang diwakili gerakan, dan sastra yang diterjemahkan gambar. Sadarkah kamu? Aksara adalah gambar yang dibakukan. Dan dengan gambar itu, kita bercerita.