“ Hikayat Si Midun “ By : #TemanNgopi
Sebut saja namanya Midun. Seorang pemuda minang , yang sejak kecil menghabiskan waktu balitanya di rantau dan bersekolah ranah minang. Midun tumbuh dengan adat dan kebiasaan orang minang yang idealis , peduli , gemar berdiskusi, cepat beradaptasi dan senang berdagang .
Pada sebuah pagi yang penuh kabut asap di kota Padang, bersamaan dengan itu hidupnya Midun pun bagaikan tertutup kabut, gelap seperti tak ada harapan dalam masa depannya. Mimpinya akan dagangan dan kegiatan-kegiatan membantu umat dan membangun ranah minang dan membanggakan keluarganya seperti lenyap tinggal jadi impian kosong. Usaha yang dibangunnya bersama temannya harus tutup buku dan menyisakan hutang-hutang. Idalisme yang dipegangnya juga seperti menyisihkan dirinya dari kolega nya yang dekat dengan kekuasaan. Sedih dan keluh kesahnya tentu menimbullkan pilu tersendiri bagi orang tuanya.
Mungkin sudah jalan dari Allah kesedihan itulah yang membuat Midun semakin dekat dengan tuhannya. Masjid lah tempatnya kembali menghabiskan galau dan menghidupkan kembali harapannya akan masa depan. Kepada Allah tempat kita bergantung karena hanya Allah yang sebaik-baik perencana. Mungkin kalimat itulah yang menjadi motivasi dan semangat Midun. Cintanya kepada orang tuanya pula lah yang membuatnya bangkit dan mencoba mencari jalan membangun mimpi dan masa depannya. Dia sadar benar keputus-asaannya adalah air mata ibunya dan semangat hidupnya adalah kehormatan bagi kedua orang tuanya.
Malam itu tepat setelah sholat Isya di tengah terangnya bulan dan indahnya bintang duduk lah Midun bersama ayah dan ibunya . Diutarakan lah keinginannya untuk merantau. Merantau bagi Midun jalan baru yang sebenarnya kala itu dia juga belum begitu yakin akan pilihannya itu, tetapi begitu kuat hatinya untuk meninggalkan tanah kelahirannya yang mendorongnya memohon restu kedua orang tuanya. Malam itu dengan keharuan yang mendalam ayah dan ibunya pun merestui Midun merantau , tak lupa merka juga memberi nasehat dan sedikit bekal uang .
Merantau bagi pemuda Minang sebenarnya adalah sesuatu yang biasa, Rantau adalah tempat baru bagi mereka mengembangkan diri, belajar akan hebatnya hidup, mengenal luasnya dunia ini dan tempat membangun harapannya di masa depan. Hal ini sesuai sekali dengan ajaran islam dimana Alloh menyuruh hambanya berhijrah dari suatu tempat yang lain untuk mempertahankan keimanan dan harapannya akan rahmat Tuhan-NYA . Dan Allah juga menjamin Rezeki bagi mereka yang berhijrah.
Subuh itu sebelum jadwal pemberangkatan kapal terbangnya menuju rantau Midun kembali menangis didalam doanya , terkenang dia akan kasih sayang orang tuanya sedari kecil. Teringat dia akan setiap sudut kota padang yang menjadi kenangannya. Dan didalam doanya dia meminta semoga Allah menjaga kedua orangtuanya yang kini hanya akan tinggal berdua saja karena adiknya Midun sudah dahulu Merantau.
“Ya Allah , engkaulah yang memperjalankan hamba, dan engkaulah yang berkuasa menjaga dan merawat kedua orangtuaku, rawatlahlah mereka , semoga suatu waktunya nanti aku kan membawakan kebahagian dan kebangaan bagi kedua orangtuaku “ .
Bimillah, pagi itu tepat pukul 8 tibalah Midun di Rantau ,Ibukota yang kata banyak orang lebih kejam dari ibu tiri. Tujuannya pagi itu adalah kantor pusat tempat dia akan di tes untuk sebuah pekerjaan.Midun tiba tepat sebelum dzhuhur dan dia merapat dulu ke mushola kantor dimana tes akan berlansung setelah jam istirahat siang.
Dan siang itu mulailah Midun merasakan sedikit kerasnya ibu kota, tes wawancara berjalan tak semulus bayangannya. Pengetahuan dan pengalaman serta idealisme nya tak serta merta membuat langkahnya mulus mendapatkan posisi itu. Bahkan pengalamannya menjadi bomerang baginya. Dan satu jam interview berlalu di tengah perjalanan menuju rumah bibinya ( mandeh ketek) yang akan menjadi tempat dia menumpang selama dirantau, Midun terlihat galau sepertinya perasaannya campur aduk entah apa yang akan dijawabnya nanti kalau-kalau orang tuanya bertanya bagaimana hasil tes siang itu.
Beruntung benar Midun dapat menumpang di keluarga Bibinya ini . Bibinya ini sudah merantau sejak dia masih muda. Kini bibinya ini sudah menikah dan memiliki suami dan sepasang anak-anak. Dari keluarga ini Midun belajar tentang bersyukur , belajar untuk lebih taat lagi dalam beribadah dan belajar bagaimana akan semangat hidup dan kecintaan anak kepada orang tua.
Dua bulan berlalu , namun Midun belum juga kunjung mendapatkan pekerjaan di ibu kota. Semakin sadarlah dia bahwa hidup ini tak bisa sekehendak kita, ada Allah yang mengatur setiap kejadian. Ikhlas menerima setiap takdir Allah ,Begitu lah yang belakangan ini mesti di jalani oleh Midun.
“Usaha juga butuh do’a, agar Allah turut serta dalam rencana kita “ begitu kata orang bijak .
Untuk melanjutkan ikhtiarnya Midun mencoba menemui gurunya di Bogor. Disini Midun mengiinap di kontrakan sahabatnya semasa sekolah dulu. Dari gurunya ini dia banyak mendapatkan petuah tentang bagaimana hidup di rantau. Lewat gurunya pula dia dapatkan informasi tentang peluang-peluang pekerjaan. Ibarat mendapatkan angin segar dengan bersemangat Midun mencoba mengambil kesempatan itu.
Namun Allah sepertinya belum mengabulkan doa dan ikhtiarnya. Midun masih saja dirundung pilu, usaha- usahanya dan kebaikan gurunya juga belum dapat membuatnya mendapatkan pekerjaan. Tentulah ada hikmah dari setiap kejadian. Dalam kesedihannya Midun semakin sadar bahwa ikhlas itu maknanya sangat dalam dan berserah diri serta berharap itu mesti hanyalah kepada Allah saja .
Kini dalam ihktiarnya hanya Allah tempatnya mengadu,hanya kepada Allah ia menggantungkan harapannya. Hambatan dan kesulitan hidup di rantau tidak melulu menjadi kesedihan baginya. Midun mulai terbiasa menerima takdir Allah,mencari pekerjaan bukan lagi menjadi beban baginya,tapi seperti bagian menjalankan perintah Allah dan sebagai usaha untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Seiring dengan perubahannya, Allah mulai menjawab doanya. Midun diterima bekerja dengan masa percobaan beberapa waktu. Pada pekerjaan ini lah Midun belajar bagaimana pola kerja di kota besar. Disini juga dia mendapatkan kenalan baru. Pengalaman dan kesempatan yang semakin mendewasakannya.
Pagi itu di tengah hiruk pikuk ibu kota Midun mendatangi kantor tempatnya bekerja belakangan ini. Hari ini Midun dijanjikan akan mendapatkan kejelasan akan nasibnya di kantor itu. Atasannya sebenarnya suah memberikan sinyal bahwa Midun akan dilanjut ikatan kontraknya. Namun lagi-lagi Alloh mengujinya, dikarenakan ada kebijakan internal kantor diputuskan bahwa Midun dan beberapa temannya belum dapat diangkat sebagai pegawai tetap. “ haduh, kasian sekali kau Midun Ibu kota begiitu kejam padamu” begitu jeritan pilu dari dalam dirinya .
Namun Midun berusaha tegar , ini dianggapnya sebagai awal petualangannya di Ibu kota , kini dia sudah mempunyai bekal sedikit pengalaman bekerja di ibukota , dan beberapa kenalan baru. Midun pun melanjutkan ihktiarnya mencari pekerjaan baru. Sembari menuggu pekerjaan baru Midun juga mencoba berdagang .
Atas kabar dari seorang sahabat barunya , Midun mencoba melamar pada sebuah kantor yang dirasa cocok dengan idealisme nya dan atas ijin Allah Midun pun diterima. Disini Midun begitu cepat beradaptasi pekerjaannya kali ini begitu menyita waktunya, meskipun begitu Midun terlihat menikmatinya. Disini pula Midun mendapatkan teman kerja baru, sahabat baru dan keluarga Baru.
Hutang-hutangnya pun sedikit demi sedikit mulai dilunasinya. Midun kini mulai menyusun rencana hidupnya di masa depan. Tak lupa Midun menyurati orang tuanya di kampung untuk mengabarkan nasib baik yang mulai menghampirinya. Bermunculan lah harapan-harapan baru Midun , mulai dari rencananya menyempurnakan agama ,kariernya di kantor ini ,target-target baru yang membantunya mendapatkan masa depan yang membahagiakan.
Di tengah optimisnya Midun menatap masa depan cobaan yang tidak disangka-sangka kembali tiba.
Kantornya yang begitu nyaman dan sangat stabil diterpa badai. Dikarenakan beberapa kebijakan Midun dipindahkan ke kota yang menjadi impiannya. Midun sempat bingung bersikap , apakah ini berkah ata musibah baginya. Karena diam-diam Midun punya cerita dan impian tersendiri akan kota yang menurutnya memiliki daya tarik sendiri bagi Midun.
Hidup mesti terus berjalan, Midun memilih menjalani saja setiap takdir Allah. Dia pun menjalani hari-hari nya bekerja di tempat barunya ini. Tentu kondisinya berbeda dengan awalnya, kadang sering juga dia mengeluh dengan dirinya. Tapi Midun faham dengan berbeda orang yang dihadapi tentulah akan berbeda suasananya dimanapun itu di berada. Disisi lain dan cenderung bertolak belakang Midun seperti tumbuhkan harapannya di kota ini. Cintanya tumbuh dan bersemi.
Boleh jadi kai ini Midun sedang di tes oleh Allah , sejernih apa hatinya dalam memilih , seberapa larutkah dia atas perasaan-peerasaannya dan dapatkah Midun memilih serta menentukan sikap.Maka malam itu tepatnya disepertiga malam Midun mengembalikan semuanya kembali kepada Allah. Baginya kini biarlah Allah yang menuntunnya untuk Memillih. Maka dirutinkannya lah kegiatan berdua-duaan bersama Allah.
Dua Minggu Berlalu bukannya jawaban dan pilihan yang didapatnya. Tapi Midun malah jatuh sakit. Sakit yang tak kunjung sembuh, padahal biasanya dengan minum obat pribadinya juga bisa sembuh. Menurut ahli kesehatan ( sebut saja tabib ) yang memeriksanya Midun rada kurang cocok dengan udara kota ini.
Hmm.. terlintas dibenaknya Midun apakah ini petunjuk dari istikhorohnya ???
Maka malam itu mulailah disusunnya petunjuk dari Allah, mulailah disimpulkannya , sepertinya Dia lebih baik meninggalkan kota ini terlebih dahulu. Soal cinta dan harapannya akan kota ini juga coba dikeesampingkan terlebih dulu.bisa jadi dengan b mengambil jaraka adalah pembuktian apakah ini benar-benar cinta ataukah hanya fatamorgana perasaan yang menggodanya. Menurutnya “ Cinta itu mesti lah di uji , bahkan bila perlu oleh jarak dan waktu yang memisahkannya “.
Dengan berat hati Midun Akhirnya memilih melanjutkan langkahnya menyambut takdir Allah berikutnya di tempat berbeda . sekali lagi baginya ini bukan karena tidak cocok apalagi tidak Cinta. Bahkan ini yang terbaik untuk membuktikan Cintanya.
Malam itu di atas sajadahnya Midun memohon kpd Allah agar disampaikan perasaan terima kasihnya untuk Kota impiannya ini dan Midun juga berjanji ,Bila memang Cintanya ditakdirkan Allah disini maka sesegera mungkin dia akan kembali untuk menghantarkan Cinta sejatinya kembali kesini.