Curhat : Kehidupan Pascamenikah (Adaptasi)
Akhirnya setelah berhari-hari belum menulis, saya nulis juga. Sebenarnya banyak sekali yang ingin dituliskan, cuma rasanya kemarin belum pas aja buat nulis #alesan.
Mungkin tema soal Kehidupan Pascamenikah ini banyak yang penasaran (GR), akan saya coba tuliskan sebagai catatan perjalanan untuk saya sendiri dan barangkali bisa menjadi pelajaran buat teman-teman yang lain. Tulisan-tulisan ini akan sangat subjektif jadi ngga bisa disamakan seutuhnya dengan pihak lain tapi bisa diambil hikmahnya wkwkwkwk. Bismillah ya ;)
Banyak sepertinya di luar sana yang membayangkan bahwa kehidupan setelah menikah akan terasa menyenangkan setiap harinya, termasuk saya dulu. Romantis gitu, ada yang diajak bareng-bareng. Ibadah bareng, belajar bareng, sehari-hari ada yang nemenin, kalau sedih ada yang ngepuk-pukin. wkwkwkwkkwkw. Sampai-sampai melupa bahwa kebahagiaan itu beriringan dengan tantangan-tantangan. Kita justru lupa menguatkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut.
Dan bahkan, ada kejadian, beberapa ingin menikah karena ingin lari dari kehidupan dia sebelumnya, membayangkan bahwa dengan menikah akan menyelesaikan semua persoalan hidup, padahal…nggak juga. wk ;p
Dan tantangan yang pertama saya hadapi adalah : Adaptasi.
Di awal menikah, tantangannya adalah lebih-lebih soal adaptasi dan berkompromi. Karena ada peran, tanggungjawab, dan hak baru yang harus dijalani.
Adalah saya yang nggak pernah ngerjain pekerjaan rumah sebegitunya, setelah menikah jadi harus melakukannya sehari-hari mulai nyapu, ngepel, masak. nyetrika. Saya yang hobi kelayapan, main sama temen-temen, setelah menikah jadi harus sadar bahwa ada kewajiban yang lain yang nggak bisa saya tinggal begitu aja. Saya yang biasanya kalau lapar tinggal merajuk sama Umi, sekarang saya harus siapkan sendiri, masak sendiri, bahkan memikirkan suami saya kepengen dimasakin apa, sukanya apa, yang mungkin kejadiannya selera makan kita dan suami jauh berbeda. Saya yang rencana kehidupan mau begini, begini, jadi harus dikompromikan. Saya yang dulunya dekat sekali dengan orangtua dan adik-adik, tiba-tiba udah nggak tinggal bareng sama mereka. Sekarang udah nggak nangis-nangis lagi karena kangen sama Umi sama Abah dooong. Dasar bocah. wkwkwk. Maklum, saya nggak pernah rantau sebelumnya. Ngga diizinin lebih dari tiga minggu pergi dari rumah wkwk.
Selain beradaptasi dengan status yang berubah menjadi istri, saya juga harus beradaptasi dengan pasangan. Karena karakter kami jauh berbeda, pola asuh juga berbeda, jadi harus banyak-banyak legawanya. Harus banyak pengertian dan pemahaman satu sama lain. Harus belajar komunikasi yang baik. Belajar untuk meredam dan mengelola emosi (lain kali di postingan yang lain saya mau bagi tips dari guru saya).
Adaptasi selanjutnya adalah dengan tempat tinggal baru. Setelah menikah, saya tinggal di kota yang bukan tempat saya berproses selama ini. Bukan tempat saya sekolah, bukan tempat kuliah, bukan tempat membangun jaringan, bukan tempat saya bekerja. Dan yaaah…saya di bawa keluar dari zona nyaman. Malang nyaman, sangat nyaman. Semua sumberdaya yang saya punya untuk mendevelop diri sendiri maupun orang banyak tersedia disana. Tiba-tiba harus pindah ke Jogja. Dan membangun semuanya dari awal. Pertemanan, kerjaan, lifeplan, mimpi-mimpi.
Awalnya, saya stress bukan main. Sedih. Seringkali nggak tahu harus ngapain. Makin hari makin panik. Masak gagal terus, suami sakit, belum lagi kalau lagi mager dan rumah belum rapi. Saya pengen main, tapi belum tau mau main sama siapa. Saya mau aktif di kegiatan-kegiatan sosial seperti dulu, tapi juga jaringannya belum ada. Kondisinya juga lagi nggak memungkinkan karena jadwal saya sebagai istri masih belum tertata rapi.
Dan belum pernah ada yang segigih Mas untuk membuat saya baik-baik saja dari sebelumnya. Yang mencari cara agar saya lekas terbiasa di situasi ini. Mas gigih sekali memotivasi saya cari kegiatan, ngenalin saya sama temen-temennya, ngasih saya PR biar saya belajar, mengapresiasi jerih saya, bantuin pekerjaan rumah, kalau saya ketiduran dikit, rumah udah beres aja. Huhuuuuu makasih suamikuuu.
Kok saya nggak segigih Mas? Bahkan ini buat diri saya sendiri?
Akhirnya saya ada di titik bahwa saya nggak bisa cuma duduk diam dan meratapi. Harus lebih gigih lagi berusaha beradaptasi!
Adaptasi terus berjalan. Saya masih harus belajar setiap harinya. Akan banyak hal-hal baru yang ditemui. Dan semuanya memang butuh proses. Proses untuk menerima. Proses untuk lebih banyak sabar dan bersyukurnya. Proses untuk memotivasi diri sendiri. Proses untuk lebih kuat lagi.
Ini curhatan kok nggak ada konklusinya. WKWKWK. Gapapa. Jadi maksudnya tuh saya nulis biar ada bayangan gitu buat yang belum menikah, semoga terus membekali diri dan mulai memikirkan tantangan-tantangan menikah (meskipun tantangannya juga banyak yang di luar perkiraan) HAHA. Jangan ingin menikah dengan mindset bahwa dengan menikah bisa menyelesaikan persoalan dan semua masalah. Nggak. Justru harus lebih kuat karena ada masalah-masalah baru yang harus dihadapi.
Setiap pasangan pasti dicoba dengan masalah yang berbeda-beda, tapi bobotnya sama. Karena semua sudah sesuai porsinya. Mungkin yang lain tantangannya LDRan, ada juga yang harus sambil kerja, yang lain mungkin dicoba dengan kehidupan bersama mertua, dan banyak lagi. Jadi memang jangan dibanding-bandingkan kehidupan pernikahan kita dengan orang lain. Allah adil kok dalam menempatkan hambaNya di masing-masing keadaan.
Buat yang baru nikah kaya saya, semangat untuk terus beradaptasi dan menjalani sebaik-baik peran. Karena setiap peran pasti punya makna.
Semangat! Terimalah keadaan, banyak-banyak bersyukur, tetap berikhtiar dan tawakkal. Semoga cerita saya bisa jadi pelajaran :)
Purworejo, 2 Februari 2017.