āApa yang tersampaikan oleh Anginā
Leuwilaja, 27 Oktober 2016
Ā Semua hal yang terjadi dalam kehidupan,
Sudah barang tentu ada yang mengatur lagi merencanakan
Tak ada sesuatu hal yang kebetulan
Jia ia pahit, sakit dan menyesakkan
Belum tentu Sang Maha Perencana menyiksa
Mungkin saja, Sang Pencipta sedang merindukan isak tangis
Atau bahkan sujud panjang sang hamba
Bisa jadi segala yang menyakitkan itu,
Merupakan rel pelajaran bagi kehidupan.
Ā Semua yang nampak,
Belum tentu menggambarkan apa yang terlihat oleh mata.
Manusia itu tempatnya berprasangka,
Hal baik, hal buruk bahkan segala asumsi ,
Saling berkejaran layaknya anak panah yang hendak lepas dari busurnya.
Manusia itu tempatnya berprasangka.
Sangkaan apapun bisa menjadi kecamuk hati.
Bijaklah dalam memandang sesuatu,
Bijaklah dalam memutuskan sesuatu,
Bijaklah pula pada diri sendiri.
Ā Apa yang terdengar,
Belum tentu itu yang hendak disampaikan oleh hati.
Hati manusia itu tempatnya menaruh segala macam perkara,
Segala jalan dan pintu ia masuki,
Terkadang ada lirih yang menyelinap dalam tawa.
Atau mungkin, tawa yang sedang menutupi isak tangis kesedihan.
Hati manusia itu pandai sekali bersandiwara.
Bersandiwaralah dalam kebaikan.
Bersandiwaralah menjadi yang paling berbahagia.
Bersandiwaralah seolah hidup itu selalu penuh kebahagiaan.
Bersandiwaralah seolah tak ada kesedihan yang menghampiri kehidupan.
Ā Apa yang terasa,
Belum tentu itu yang hendak disampaikan.
Manusia itu pandai sekali menebak.
Menebak segala sesuatu yang belum sempat dijelaskan.
Menebak segala sesuatu yang tertutupi.
Menebak segala sesuatu tanpa sadar semuanya hanya menjadi terkaan belaka.
Tidak selamanya apa yang tertebak itu adalah kebenaran.
Bisa jadi ia hanyalah asumsi semata.
Bisa jadi ia hanya sesuatu yang terasa oleh hati.
Hati manusia itu pandai sekali bermain peran.
Perankanlah hati kita sebagai pelaku yang selalu bersyukur, ikhlas dan bertawakal kepada yang Maha Kekal.Ā










