48 jam menikmati (hampir) musim dingin London
Hanya berbalut celana jin, kemeja putih, dan jaket seadanya, tubuh yang terbiasa dengan udara tropis ini rasanya ingin menyerah saat kali pertama diterpa angin jelang musim dingin. Saya masih ingat betul bagaimana saya menggigil dan seperti mati rasa seketika saat terkena udara luar Bandara Heathrow London.
Desember menjadi target utama perjalanan saya ke London. Sederhana alasannya, ingin melihat butiran salju akhir tahun. Setelah beberapa bulan mempersiapkan keberangkatan membelah benua, mulai dari berburu tiket pesawat, visa, dan hotel, akhirnya awal Desember 2016 pukul 7 malam saya bertolak dari Jakarta.
Berdasarkan jadwal, saya akan tiba di Ibu Kota Inggris tersebut keesokan hari pukul 10.45 setelah sebelumnya transit di Amsterdam. Saat tiba waktu berangkat, saya hanya mengenakan kemeja putih, celana jin, dan jaket hangat ala kadarnya untuk penerbangan.
Semustinya, penerbangan yang saya tempuh hanya berdurasi 14 jam. Bertolak dari Soekarno Hatta menuju Singapura transit sejenak untuk kembali terbang menuju London. Namun, perjalanan saya harus molor beberapa jam pasalnya pada hari keberangkatan maskapai yang saya tumpangi, Garuda Indonesia, menghapus jadwal penerbangan langsung ke London. Walhasil, saya harus transit di dua negara sebelum bisa menginjakkan kaki di London.
Sebagai orang Asia yang baru pertama terbang lintas benua pada musim dingin, tidak bisa saya elakkan kalau ada sedikit kekhawatiran tubuh ini tidak bisa beradaptasi dengan udara di sana. Alhasil, mengecek prakiraan cuaca London secara teratur mendadak menjadi bagian dari rutinitas saya setiap hari.
Tepat sebelum terbang, saya kembali mengecek prakiraan cuaca dan suhu di sana. Salju belum turun dan cuaca diprediksi hanya berkisar antara 5—8 derajat Celcius. Aman, pikir saya. Sempat cukup percaya diri balutan baju saya bisa menahan cuaca dingin, namun ternyata benteng keyakinan saya pun roboh ketika pintu keluar bandara terbuka dan udara luar masuk ke ruang terminal.
Seketika bulu roma di tengkuk leher berdiri saat wajah diterpa udara luar. Sejenak terpikir membongkar koper di terminal bandara untuk mengambil jaket yang lebih tebal dan sarung tangan, tapi niat saya urungkan dan segera memesan taksi agar bisa lebih cepat sampai di penginapan.
Setelah mengecek semua kelengkapan, koper dan tas, saya memesan taksi daring dengan memanfaatkan wifi bandara untuk menuju penginapan di daerah Kensington Street. Harga taksi daring jauh lebih murah daripada harus meggunakan taksi hitam bandara. Jika dengan taksi bandara, saya harus mengeluarkan sekitar GBP70 (Rp1.173 ribu) menuju hotel, sedangkan dengan taksi online saya hanya harus membayar GBP35 (Rp587 ribu).
Konfirmasi penjemputan masuk ke aplikasi, saya dan kawan bergegas menuju lokasi temu yang berada di lantai 2 area luar parkir. Menurut aplikasi, mobil Ford akan menjemput kami di lokasi. Tapi, saya luput, di tempat menunggu tak ada wifi dan saya pun alpa mengisi pulsa sehingga sama sekali tidak bisa berkirim pesan dengan si penjemput. Ditambah lagi, paket komunikasi internasional kawan seperjalanan pun ternyata belum bisa langsung diaktifkan.
Tubuh menggigil saat menunggu jemputan di lantai 2 parkiran luar Bandara Heathtrow. Tangan memerah dan mati rasa. Saya yakin, saaat itu tubuh sedang bekerja keras beradaptasi menyesuaikan diri dengan suhu setempat.
Tak ada yang bisa dilakukan selain celingak-celinguk dan keliling parkiran untuk memeriksa jemputan. Untuk menghangatkan diri, saya pun menyimpan kedua tangan di bawah ketiak. Lumayan ampuh untuk menghangatkan diri sejenak.
Sekitar 20 menit menunggu, tak juga tampak mobil yang diinformasikan di lokasi tersebut. Tubuh menyerah. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke ruang terminal dan menggunakan taksi bandara.
Saran bagi kamu yang tidak ingin mengaktifkan paket internasional atau mengganti kartu sim ponsel, setidaknya isilah nomormu dengan pulsa secukupnya sehingga kamu masih bisa tetap berkomunikasi melalui pesan teks. Manfaatkan wifi gratis untuk memesan taksi online, selanjutnya kamu bisa tetap berkomunikasi dengan si supir melalui pesan teks. Cara ini cukup ampuh untuk menghemat biaya komunikasi.
Lokasi penginapan menentukan ongkos selama perjalanan
London saat itu cukup ramai. Dari bandara menuju penginapan memerlukan waktu sekitar 30 menit. Kensington Street menjadi tempat pilihan untuk menginap. Hal ini tentu dengan mempertimbangkan beberapa hal, yakni lokasi yang strategis dan dikelilingi tempat makan (terutama restoran yang menjual masakan Asia), serta tidak jauh dari London Tube Underground, sistem moda tranportasi umum yang jadi andalan warga London.
Dua poin tersebut penting untuk membantumu menghemat biaya hidup dan berpindah tempat selama di sana. Kereta cepat London Tube Underground menjadi tranportasi termurah dan tercepat untuk mengantarkanmu ke tempat tujuan, maklum ternyata macet bukan cuma punya Jakarta.
Selama tiga hari di London, saya mengisi kartu Oyster (kartu yang digunakan sebagai tiket kereta cepat) sekitar 30GBP (Rp503 ribu). Harga ini terhitung murah dibandingkan jika kamu menggunakan taksi konvensional atau taksi online untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain. Selain kereta dan taksi, kamu juga bisa menggunakan bus. Hanya saja, untuk waktu-waktu tertentu kamu harus siap terjebak di kemacetan London.
Sebenarnya, saya berada di sana selama 3 hari dan 2 malam. Akan tetapi, pada hari terakhir saya harus meninggalkan London dengan cepat sehingga waktu efektif untuk menikmati kota tersebut hanya sekitar 48 jam.
Buat daftar tujuan wisata
Hari pertama sampai di London, setelah beristirahat sejenak dan bersih-bersih, agenda saya adalah mengunjungi The Shard di St. Thomas Street, letaknya tidak jauh dari London Bridge dan Borough Market. The Shard merupakan ikon wisata London yang sedang banyak dibicarakan.
Dari Kensington Street menuju The Shard, kamu bisa menggunakan kereta cepat. Lokasi menara tertinggi di Inggris ini juga tak jauh dari London Bridge Underground, sekitar 250 m, yang bisa ditempuh dengan 5 menit jalan kaki.
Di sini, kamu bisa memotret 360 derajat kota London dari ketinggian lantai 68, 69, dan 72. Pemandangan yang paling dinantikan saat berada di menara ini adalah ketika lampu gedung dan kota menari menerangi malamnya London.
Tak hanya bisa menikmati kecantikan London dari ketinggian, The Shard juga dilengkapi oleh teropong yang akan membawamu memahami sejarah setiap sudut kota tersebut. Sebagai contoh, misalnya saat kamu mengarahkan teropong ke satu bangunan tertentu, maka di layar tampilan yang ada di bagian bawah teropong akan muncul nama dan sejarah bangunan tersebut secara otomatis.
Saya langsung membayangkan akan sangat menyenangkan jika teknologi serupa ditempatkan di Monas. Setiap pengunjung yang naik tak hanya bisa menikmati pemandangan Jakarta dari ketinggian, tapi juga bisa menelusuri sejarah kota Batavia.
Cukup mahal memang harga yang harus dibayar untuk masuk ke The Shard. Untuk satu kali kunjungan, kamu harus merogoh kocek 30.95GBP (Rp519 ribu), jika membeli tiket masuk di tempat. kamu bisa mendapatkan harga tiket lebih murah dengan diskon 15 persen jika membeli melalui situs resmi The Shard.
Kunjungan kali ini, saya membeli tiket untuk 2 kali waktu masuk, masuk ketika London masih diterangi matahari dan kunjungan kedua adalah saat matahari sudah beranjak turun. Tapi jangan salah, kedua waktu kunjungan harus dilakukan pada hari yang sama.
Jika kamu mengunjungi The Shard pukul 1 siang, kamu bisa keluar sementara untuk menikmati aktivitas lain dan kembali lagi ke The Shard saat petang. Demi potongan harga, saya memesan tiket melalui situs resmi mereka dan membayar 35.95GBP (Rp600 ribu) untuk tiket masuk.
Saran untuk kamu yang ingin berkunjung ke The Shard saat musim dingin pada malam hari, kenakan pakaian hangat yang cukup. The Shard mengusung konsep semi terbuka. Bayangkan kamu berada di ketinggian saat malam hari dengan angin yang cukup kencang. Angin musim dingin malam hari siap menerkam tubuh dan wajahmu dari sela-sela bangunan. Dingin? Tak lagi perlu ditanya.
Hari pertama hanya sempat digunakan untuk mengunjungi The Shard. Terbang lebih dari 18 jam dan badan yang masih menyesuaikan diri dengan perbedaan suhu rasanya membuat tubuh tak kuat lagi diajak beraktivitas.
Dari The Shard, saya kembali ke London Bridge Underground untuk pulang. Satu perasaan yang pasti saat berada di stasiun kereta bawah tanah ini, semua seperti berjalan sangat cepat. Warganya yang selalu tampak terburu-buru membuatmu secara tidak sadar juga bergerak lebih cepat dari biasanya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, saya tiba di Bayswater Station, Underground terdekat dari penginapan. Hanya perlu 5 menit jalan kaki dari stasiun tersebut. Sebelum ke hotel, saya mampir ke restoran cina untuk membeli makan malam.
Hari kedua di London saya gunakan untuk ikut tur Warner Bross Studio Harry Potter dan menyambangi Borough Market. Saat itu, tubuh sudah mulai terbiasa dengan suhu di sana. Angin dan cuaca dingin pun sudah lebih santai saya hadapi, walaupun sesekali gigi gemeretak tanpa disadari.
Untuk mengikuti tur Harry Potter, kamu harus membayar tiket mulai dari Rp800 ribuan hingga jutaan rupiah. Jika kamu berencana untuk berkunjung ke tempat ini, belilah tiket di situs resminya dari jauh-jauh hari. Pasalnya, perbedaan harga tiket di situs resmi dan tiket dari pihak ketiga terpaut cukup jauh, sekitar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu.
Bagi pecinta tokoh Harry Potter, rasanya bagian ini wajib masuk dalam daftar wisatamu. Selama di sana, kamu akan puas menjelajah dunia sihir Harry Potter. Sapu terbang, Hogwarts Express, hingga mobil terbang bisa kamu saksikan di sana. Dan tentunya, jangan lewatkan untuk mencicipi butterbeer dan es krim butterbeer.
Selesai menjelajah dunia Harry Potter, saya meluncur ke Borough Market. Rasanya ingin berjingkrak saat memasuki kawasan pasar ini. Hamparan buah dan sayur segar, berbagai jenis roti, keju, makanan laut, hingga deretan kios penjual minuman beralkohol berjejer rapi.
Sebagai penyuka buah, pasar ini bak surga buat saya. Rasanya ingin memborong semua buah segar yang ada di sana. Segar dan sangat murah. Bayangkan, buah persimmon yang harga per kilonya bisa mencapai ratusan ribu di Indonesia, saya mendapatkan 5 buah persimmon kira-kira lebih dari 1 kilo hanya dengan harga 2GBP (sekitar Rp35 ribu). Bahkan, harga buah jauh lebih murah dibandingkan dengan harga satu pastry.
Bagi kamu yang ingin berbelanja, kawasan Oxford Street menjadi persinggahan wajib selanjutnya. Mulai dari brand fesyen mewah hingga brand yang identik dengan anak muda, semua ada di sini. Siapkan saja dana yang cukup dan stamina kaki yang kuat untuk mengitari kawasan ini.
Jangan lupa juga untuk meminta formulir tax refund di toko untuk mengurus tax refund saat di bandara. Setidaknya kamu bisa mendapatkan kembali 20 persen uang belanja dari tax refund.
Cermat memilah makanan, hemat pengeluaran selama pelancongan
Selain masalah ongkos transportasi, salah satu biaya yang juga memerlukan dana besar adalah masalah perut. Untuk menghemat pengeluaran, saya berbekal makanan kering selama bepergian, rendang dan abon jadi andalan. Rendang Uni Farah jadi salah satu amunisi andalan saya setiap bepergian. Kenapa? Selain rasanya bisa mengingatkan kita akan "rumah", kemasannya juga aman untuk di dalam tas atau koper. Oh ya, semua makanan harus masuk bagasi kalau tidak ingin disita saat pemeriksaan di bandara.
Jika kamu termasuk orang yang tidak bisa lepas dari nasi, pastikan kamu memilih penginapan yang dekat dengan restoran yang menyajikan makanan Asia, chinese food. Area tempat saya menginap, Kensington Street cukup banyak dikelilingi restoran Asia, mulai dari yang menyajikan chinese food hingga makanan India.
Untuk jatah makan besar, saya biasanya memesan satu porsi nasi dan sayur. Untuk perkara protein, saya sudah membawa makanan kering yang cukup menjadi pelengkap asupan protein selama di perjalanan. Porsi nasi dan sayur di sana cukup untuk makan dua orang. Sekali makan, saya menghabiskan sekitar 17GBP (Rp300 ribu).
Saat bepergian jauh, urusan makanan wajib diperhitungkan. Menghemat biaya makan bukan berarti kamu bisa sembarangan makan dan mengabaikan nutrisi selama perjalanan. Dengan siasat yang tepat, kamu bisa tetap menjaga asupan nutrisi.