I hate my own thoughts 🙂
selamat menjilat muntah sendiri ya margarethafia💛 td lupa nulis di dm udah keburu diblok. hehe

❣ Chile in a Photography ❣

Game Changer & Make Some Noise
art blog(derogatory)
The Stonewall Inn

PR's Tumblrdome

pixel skylines
todays bird
$LAYYYTER

izzy's playlists!
sheepfilms
Sade Olutola
Monterey Bay Aquarium
Color Me Curious

No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Jar Jar Binks Fan Club

ellievsbear
𓃗
Game of Thrones Daily
Lint Roller? I Barely Know Her
seen from Indonesia
seen from Colombia

seen from United States
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from United States

seen from Ukraine
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Bolivia
seen from Colombia
seen from Iraq

seen from Italy
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
@ceritalewatlensa
I hate my own thoughts 🙂
selamat menjilat muntah sendiri ya margarethafia💛 td lupa nulis di dm udah keburu diblok. hehe
Setiap kali pertemuan. Racauan ini kacau memikirkan.
Hati seseorang itu luas. Tapi mudah juga untuk membuatnya penuh.
The Lives, Times, and Deaths of Stars
Who among us doesn’t covertly read tabloid headlines when we pass them by? But if you’re really looking for a dramatic story, you might want to redirect your attention from Hollywood’s stars to the real thing. From birth to death, these burning spheres of gas experience some of the most extreme conditions our cosmos has to offer.
All stars are born in clouds of dust and gas like the Pillars of Creation in the Eagle Nebula pictured below. In these stellar nurseries, clumps of gas form, pulling in more and more mass as time passes. As they grow, these clumps start to spin and heat up. Once they get heavy and hot enough (like, 27 million degrees Fahrenheit or 15 million degrees Celsius), nuclear fusion starts in their cores. This process occurs when protons, the nuclei of hydrogen atoms, squish together to form helium nuclei. This releases a lot of energy, which heats the star and pushes against the force of its gravity. A star is born.
Credit: NASA, ESA and the Hubble Heritage Team (STScI/AURA)
From then on, stars’ life cycles depend on how much mass they have. Scientists typically divide them into two broad categories: low-mass and high-mass stars. (Technically, there’s an intermediate-mass category, but we’ll stick with these two to keep it straightforward!)
Low-mass stars
A low-mass star has a mass eight times the Sun’s or less and can burn steadily for billions of years. As it reaches the end of its life, its core runs out of hydrogen to convert into helium. Because the energy produced by fusion is the only force fighting gravity’s tendency to pull matter together, the core starts to collapse. But squeezing the core also increases its temperature and pressure, so much so that its helium starts to fuse into carbon, which also releases energy. The core rebounds a little, but the star’s atmosphere expands a lot, eventually turning into a red giant star and destroying any nearby planets. (Don’t worry, though, this is several billion years away for our Sun!)
Red giants become unstable and begin pulsating, periodically inflating and ejecting some of their atmospheres. Eventually, all of the star’s outer layers blow away, creating an expanding cloud of dust and gas misleadingly called a planetary nebula. (There are no planets involved.)
Credit: NASA, ESA, and the Hubble Heritage Team (STScI/AURA)
All that’s left of the star is its core, now called a white dwarf, a roughly Earth-sized stellar cinder that gradually cools over billions of years. If you could scoop up a teaspoon of its material, it would weigh more than a pickup truck. (Scientists recently found a potential planet closely orbiting a white dwarf. It somehow managed to survive the star’s chaotic, destructive history!)
High-mass stars
A high-mass star has a mass eight times the Sun’s or more and may only live for millions of years. (Rigel, a blue supergiant in the constellation Orion, pictured below, is 18 times the Sun’s mass.)
Credit: Rogelio Bernal Andreo
A high-mass star starts out doing the same things as a low-mass star, but it doesn’t stop at fusing helium into carbon. When the core runs out of helium, it shrinks, heats up, and starts converting its carbon into neon, which releases energy. Later, the core fuses the neon it produced into oxygen. Then, as the neon runs out, the core converts oxygen into silicon. Finally, this silicon fuses into iron. These processes produce energy that keeps the core from collapsing, but each new fuel buys it less and less time. By the point silicon fuses into iron, the star runs out of fuel in a matter of days. The next step would be fusing iron into some heavier element, but doing requires energy instead of releasing it.
The star’s iron core collapses until forces between the nuclei push the brakes, and then it rebounds back to its original size. This change creates a shock wave that travels through the star’s outer layers. The result is a huge explosion called a supernova.
What’s left behind depends on the star’s initial mass. Remember, a high-mass star is anything with a mass more than eight times the Sun’s — which is a huge range! A star on the lower end of this spectrum leaves behind a city-size, superdense neutron star. (Some of these weird objects can spin faster than blender blades and have powerful magnetic fields. A teaspoon of their material would weigh as much as a mountain.)
At even higher masses, the star’s core turns into a black hole, one of the most bizarre cosmic objects out there. Black holes have such strong gravity that light can’t escape them. If you tried to get a teaspoon of material to weigh, you wouldn’t get it back once it crossed the event horizon — unless it could travel faster than the speed of light, and we don’t know of anything that can! (We’re a long way from visiting a black hole, but if you ever find yourself near one, there are some important safety considerations you should keep in mind.)
The explosion also leaves behind a cloud of debris called a supernova remnant. These and planetary nebulae from low-mass stars are the sources of many of the elements we find on Earth. Their dust and gas will one day become a part of other stars, starting the whole process over again.
That’s a very brief summary of the lives, times, and deaths of stars. (Remember, there’s that whole intermediate-mass category we glossed over!) To keep up with the most recent stellar news, follow NASA Universe on Twitter and Facebook.
Make sure to follow us on Tumblr for your regular dose of space: http://nasa.tumblr.com.
Tumblr, aku pulang.
Promosi Gratis #1
Jadi kemarin-kemarin saya berniat memberikan “promosi gratis” khusus penduduk Tumblr yang punya usaha, dan usahanya bisa dijual online.
Tapi, nggak ada yang nyautin (sedihnya hatiku). Memang banyak faktor, sih. Pertama karena follower saya samenel. Kedua, memang karena nggak pada paham promosi dengan metode “Content Placement”.
Ehiya, ada sih seorang yang nyautin, cuma kang @rubahlicik saja. Dan saya menjadi serasa ada yang …. nganu.
Rate promosi dengan metode content placement ini sekitar 300-350K per konten. Tapi, untuk teman-teman Tumblr saya berikan gratis.
-
Ada dua metode promosi yang saya tawarkan. Dan ini saya sediakan untuk 8 orang saja, ya. 4 orang dengan metode pertama dan 4 orang dengan metode kedua.
Langsung saja ya.. Ini metode pertama
-
Promosi metode pertama adalah khusus produk yang bisa dijual sebagai hadiah ulang tahun. Misal: Jasa doodle art, jasa digital art, boneka rajut, paket sukulen, atau paket-paket lain yang menarik.
Kenapa hadiah ulang tahun?
Sebab beberapa minggu lalu kami membidik kata kunci “HADIAH ULANG TAHUN MURAH”.
sekarang coba kamu ketik kata kunci berikut di Google:
- hadiah ulang tahun murah
- ide hadiah ulang tahun murah
- ide hadiah ulang tahun
Contohnya seperti ini:
Nah, website kami berada di halaman satu Google, dan peringkat kedua (belum peringkat pertama).
Dengan URL https://ceroboh.com/ide-hadiah-ulang-tahun-murah/
—–
Artikel ini merupakan salah satu artikel kami yang paling banyak dikunjungi.
—–
Coba kamu bayangkan, ada berapa orang yang ulang tahun setiap harinya, di Indonesia?
dan sebagian besar orang mencari ide hadiah dengan menggunakan GOOGLE.
Nah, jika produk yang kamu jual merupakan salah satu produk yang direkomendasikan GOOGLE, dan tampil di halaman satu mesin pencari.
Bukankan ini metode promosi yang halus?
—–
Kamu bisa mengenalkan produkmu pada artikel yang sudah kami buat. pada website kami yang sudah di halaman satu GOOGLE.
Nanti saya sisipkan produk milikmu pada artikel tersebut. Kamu bisa menambahkan halaman sosial media atau kontak WhatsApp. Agar pembaca yang minat membeli bisa langsung menghubungi kamu.
Saya sediakan khusus 4 orang saja, dengan metode ini.
Syaratnya produk harus bisa dijadikan hadiah ulang tahun.
Selebihnya bisa inbox saya. 4 orang pertama
—–
Bisa bantu share, barangkali ada temanmu yang minat. :)
Saya ingin ikut. Tapi saya punya usaha di bidang fotografi saja. Maka akan saya bagikan. Kepada followers saya yang barangkali sedang memrlukan.
Bertumbuh Bersama
“Karena barangkali, tantangannya kelak bukan lagi menumbuhkan mimpi sendiri, namun menumbuhkan mimpi bersama, dan sudah pasti memastikan bahwa orang-orang terdekatmu kelak sama-sama bertumbuh” - Mushonnifun Faiz S
Beberapa minggu yang lalu mendapat kabar bahwa seorang ayah dari teman selama di asrama dulu, sekaligus teman semasa kuliah di Eropa meninggal dunia. Sosok ayah yang bagi saya mampu dijadikan role model untuk membangun sebuah keluarga. Bagaimana tidak, ke-10 anaknya menjadi penghafal Al-Quran, walau beliau dan istrinya sendiri tidak menghafal keseluruhan Al-Quran. Padahal beliau dan istri sama-sama sibuk di ranah legislatif pemerintahan, juga segala aktivitas layaknya para aktivis dakwah. Namun di tengah kesibukan tersebut, beliau mampu menghasilkan generasi pecinta Al-Quran. Betapa haru saya membayangkan, mungkin beliau sekarang sedang tersenyum sembari bersiap menerima sepuluh mahkota dari anak-anaknya kelak di yaumul hisab. Bukan satu, bayangkan Sepuluh!
Pun juga banyak role model keluarga lainnya yang ada di Indonesia, juga dunia yang seperti ini. Dari yang sukses di aspek dunia. Ada yang sekeluarga menjadi dokter, memiliki bisnis bersama, mendirikan pesantren, dan lain sebagainya. Namun tak sedikit pula keluarga yang kesuksesannya bisa timpang satu sama lain. Ada yang benar-benar sukses, namun ada pula yang justru jauh dari kata sukses, bahkan masih bergantung ke orang tua dan kakak-kakaknya.
Fenomena ini selalu membuat saya kembali bermuhasabah dan merenung bahwa kelak ketika kita sudah berkeluarga, bukanlagi membicarakan tentang kesuksesan individu. Apalah arti dari sebuah sukses, jika ternyata anak dan cucu masih terlunta-lunta. Apalah arti dari sebuah kepandaian, jika ternyata anak sendiri ternyata tidak lulus sekolah. Apalah arti dari sebuah bisnis yang besar, jika ternyata kelak anak-anaknya tidak ada yang mampu meneruskan, dan justru anak-anaknya menjadi bergantung akan kehadiran sosok ayah dan ibunya saat semisal diberi kepercayaan memegang bisnisnya.
Apakah mudah? Tentu saja barangkali tidak, namun semua sudah tentu bisa diperjuangkan. Dari awal kelak ketika berumah tangga, tantangannya sudah tentu dari iktikad kuat dari diri sendiri, dalam hal ini terutama seorang kepala keluarga, bagaimana ia harus memiliki visi yang kuat untuk mewujudkan keluarga yang diinginkanya. Juga bagaimana ia mampu meyakinkan pasangannya untuk menapaki visi yang telah di buat bersama, dan yang paling penting adalah istiqomah. Yang terakhir ini barangkali tidak mudah.
Pun demikian kelak jika sudah memiliki anak. Dalam buku Bukan Sekedar Ayah Biasa, tulisan Ustadz Misbahul Huda, yang pernah saya baca beberapa tahun silam, bahwa banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anak. Misal, anak dipaksa masuk ke fakultas kedokteran, padahal ia sangat passion di bidang kesenian. Seolah orang tua lupa bahwa setiap anak dilahirkan dengan potensi kecerdasan masing-masing.
Maka bertumbuh bersama, barangkali perlu dimaknai lagi jauh lebih luas. Bahwa jalan menuju surga tidak hanya satu, namun Allah hamparkan begitu banyak, pun demikian jalan untuk bertumbuh bersama-sama tidak semata-mata sekeluarga harus menjadi ini itu. Namun tetap, bahwasanya dari keluarga di atas kita bisa belajar bahwa Al-Quran tetap menjadi landasan utama dalam menapak perjuangan.
Dan barangkali, surga, adalah tujuan tertinggi dari bertumbuh bersama. Seperti perkataan Ustadz Salim A. Fillah yang fenomenal, bahwa Bersamamu, aku tidak mau lagi jatuh cinta. Namun membangun cinta, tinggi hingga menggapai surgaNya. Kalau dipikir-pikir memang benar apa adanya.
Sebab surgaNya terlalu luas, jika hanya ditempati sendirian. Dan menempatinya bersama keluarga besarmu kelak, barangkali adalah puncak dari bertumbuh bersama.
Malang, 24 Ramadhan 1441 H 14.25
𝐌𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐞𝐬𝐞 𝐐𝐮𝐫'𝐚𝐧𝐢𝐜 𝐯𝐞𝐫𝐬𝐞𝐬 𝐞𝐚𝐬𝐞 𝐲𝐨𝐮𝐫 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭. 𝐀𝐦𝐞𝐞𝐧.
—𝘩𝘢𝘣𝘪𝘣𝘴𝘩𝘢𝘧𝘹 𝘷𝘪𝘢 𝘐𝘎
History Insight; Menghadapi Bencana Tanpa Ilmu, Berujung Bertambahnya Petaka
@edgarhamas, Founder Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin
Dalam sejarah Islam, kita mengambil banyak hikmah. Tak hanya sekadar menikmati kehebatan masa lalu, tapi juga untuk belajar dari musibah di zaman dulu agar tak terulang lagi di zaman kita. Apalagi dalam bab bencana, ternyata Ulama kita banyak menulis buku-buku tentang treatment menghadapi bencana.
Dr Ali Muhammad Audah menghimpun 24 kitab sepanjang zaman yang mengisahkan bagaimana Umat mengalami bencana —dalam hal ini wabah penyakit— dan bagaimana pemerintah mereka melakukan penanggulangannya. Salah satu pelajaran penting yang perlu kita garis bawahi adalah kisah yang ditulis Imam Ibnu Hajar Al Asqalani.
Apa itu?
Dalam kitabnya, 'Badl Al Maun fi Fadhli At Tha'un', Imam Ibnu Hajar mengisahkan bahwa tahun 749 Hijriah atau sekitar tahun 1348 Masehi, terjadi wabah penyakit menyerang Kota Damaskus. Banyak Ulama memberi arahan agar manusia tidak berkumpul dan agar menjauhi keramaian.
Namun apa yang terjadi?
Orang-orang malah tak mendengarkan, "kemudian manusia keluar menuju lapangan luas, disertai para sesepuh. Mereka berdoa dan meminta pertolongan Allah secara beramai-ramai. Tapi wabah itu malah makin besar, padahal sebelum mereka berkumpul, korbannya hanya sedikit." (hal. 329)
Imam Ibnu Hajar pun mengisahkan apa yang terjadi di eranya, "pernah juga terjadi di zaman kita ketika sebuah wabah menjangkiti Kairo. Pada tanggal 27 Rabiul Akhir tahun 833 Hijriah (tahun 1430 Masehi)
Awalnya korban meninggal kurang dari 40 orang. Namun kemudian orang-orang keluar ke tanah lapang pada 4 Jumadil Ula setelah sebelumnya melakukan puasa 3 hari sebagaimana yang mereka lakukan ketika akan Shalat Istisqa. Mereka berkumpul untuk berdoa kemudian pulang ke rumah masing-masing."
Imam Ibnu Hajar melanjutkan, "tak sampai sebulan setelah mereka berkumpul, jumlah korban malah meningkat menjadi 1000 orang perhari dan terus bertambah." (hal. 329)
Beberapa orang waktu itu asal memberi fatwa bahwa berkumpul untuk berdoa itu perlu karena beranggapan "umumnya begitu", dan ada juga yang menerangkan legenda mitos bahwa dulu di zaman seorang raja bernama Al Muayyad hal itu terjadi dan wabah bisa hilang.
"Jama'ah dari Ulama kala itu memberi fatwa bahwa tidak berkumpul adalah hal yang utama untuk menghindari fitnah penyakit."
Sahabat, di saat-saat genting seperti ini, sangat penting kita ikut arahan ulama dan ahli medis. Jika hanya bermodal semangat tanpa ilmu, maka akan lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki.
Kita hanya takut pada Allah, tak takut pada korona. Betul. Sangat betul. Namun justru karena takut pada Allah maka laksanakanlah sunnatullah yang perlu diikhtiarkan.
Dr Majdi Al Hilali menulis dalam Kitabnya "Innahu al Qur'an Sirru Nahdhatina", bahwa sebuah umat yang menyepelekan ikhtiar manusiawi artinya sudah mengkhianati Allah. Sebab Allah memberikan pada manusia hukum sebab-akibat, dan yang tak peduli dengan itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah.
Ikhtiar manusiawi itu bisa dalam bentuk physical distancing, di rumah aja. Dengarkan fatwa Ulama tentang menghindari keramaian, termasuk himbauan untuk sementara waktu tidak shalat Jum'at dulu di masjid. Keputusan itu semuanya dengan dalil dan dengan musyawarah yang panjang. Bukan dengan ego dan kepentingan pribadi.
Sebab nyawa seorang manusia itu mahal harganya. Umar bin Khattab imannya tinggi, tapi ketika diberi pilihan suatu hari untuk datang ke daerah wabah atau kembali ke Madinah, Umar memilih untuk pulang ke Madinah. Kalimatnya terkenal,
"kita pergi dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain."
Maka ambillah pelajaran dari sejarah ini. Agar kita mawas dan tak jatuh dua kali. Agar kelak ketika wabah selesai, masjid kembali ramai dengan kamu. Agar kajian bisa kembali penuh dengan kamu. Semuanya bermula dari jaga dirimu dan ikuti arahan orang-orang berilmu.
Tokyo 2020
KEDEWASAAN EMOSI
Salah satu topik yang agak jarang diangkat di Indonesia adalah kedewasaan emosi (emotionally mature).
Yang saya lihat, kebanyakan orang di Indonesia beranggapan bahwa kedewasaan emosi ini akan berjalan seiring dengan umur.
Padahal, berdasarkan pengalaman diri sendiri, kalau nggak sering-sering dikulik, kita jarang sadar bahwa secara emosi, kita kurang dewasa.
Setidaknya, ada 20 tanda kedewasaan emosi seseorang, diantaranya adalah:
1. Sadar bahwa kebanyakan perilaku buruk dari orang lain itu akarnya adalah dari ketakutan dan kecemasan – bukan kejahatan atau kebodohan.
2. Sadar bahwa orang gak bisa baca pikiran kita sehingga akhirnya kita tau bahwa kita harus bisa mengartikulasikan intensi dan perasaan kita dengan menggunakan kata-kata yang jelas dan tenang. Dan, gak menyalahkan orang kalau mereka gak ngerti maksudnya kita apa.
3. Sadar bahwa kadang-kadang kita bisa salah – dan bisa minta maaf.
4. Belajar untuk lebih percaya diri, bukan karena menyadari bahwa kita hebat, tapi karena akhirnya kita tau kalau bahwa semua orang sebodoh, setakut, dan se-lost kita.
5. Akhirnya bisa memaafkan orang tua kita karena akhirnya kita sadar bahwa mereka gak bermaksud untuk membuat hidup kita sulit – tapi mereka juga bertarung dengan masalah pribadi mereka sendiri.
6. Sadar bahwa hal-hal kecil seperti jam tidur, gula darah, stress – berpengaruh besar pada mood kita. Jadi, kita bisa mengatur waktu untuk mendiskusikan hal-hal penting sama orang waktu orang tersebut sudah dalam kondisi nyaman, kenyang, gak buru-buru dan gak mabuk
7. Gak ngambek. Ketika orang menyakiti kita, kita akan (mencoba) menjelaskan kenapa kita marah, dan kita memaafkan orang tersebut.
8. Belajar bahwa gak ada yang sempurna. Gak ada pekerjaan yang sempurna, hidup yang sempurna, dan pasangan yang sempurna. Akhirnya, kita mengapresiasi apa yang 'good enough'.
9. Belajar untuk jadi sedikit lebih pesimis dalam mengharapkan sesuatu - sehingga kita bisa lebih kalem, sabar, dan pemaaf.
10. Sadar bahwa semua orang punya kelemahan di karakter mereka – yang sebenarnya terhubung dengan kelebihan mereka. Misalnya, ada yang berantakan, tapi sebenernya mereka visioner dan creative (jadi seimbang) – sehingga sebenernya, orang yang sempurna itu gak ada.
11. Lebih susah jatuh cinta (wadaw). Karena kalau pas kita muda, kita gampang naksir orang. Tapi sekarang, kita sadar bahwa seberapa kerennya orang itu, kalau dilihat dari dekat, ya sebenernya ngeselin juga 😂 sehingga akhirnya kita belajar untuk setia sama yang udah ada.
12. Akhirnya kita sadar bahwa sebenernya diri kita ini gak semenyenangkan dan semudah itu untuk hidup bareng
13. Kita belajar untuk memaafkan diri sendiri – untuk segala kesalahan dan kebodohan kita. Kita belajar untuk jadi teman baik untuk diri sendiri.
14. Kita belajar bahwa menjadi dewasa itu adalah dengan berdamai dengan sisi kita yang kekanak-kanakan dan keras kepala yang akan selalu ada.
15. Akhirnya bisa mengurangi ekspektasi berlebihan untuk menggapai kebahagiaan yang gak realistis – dan lebih bisa untuk merayakan hal-hal kecil. Jadi lebih ke arah: bahagia itu sederhana.
16. Gak sepeduli itu sama apa kata orang dan gak akan berusaha sekuat itu untuk menyenangkan semua orang. Ujung-ujungnya, bakal ada satu dua orang kok yang menerima kita seutuhnya. Kita akan melupakan ketenaran dan akhirnya bersandar pada cinta.
17. Bisa menerima masukan.
18. Bisa mendapatkan pandangan baru untuk menyelesaikan masalah diri sendiri, misalnya dengan jalan-jalan di taman.
19. Bisa menyadari bahwa masa lalu kita mempengaruhi respons kita terhadap masalah di masa sekarang, misalnya dari trauma masa kecil. Kalau bisa menyadari ini, kita bisa menahan diri untuk gak merespon dengan gegabah.
20. Sadar bahwa ketika kita memulai persahabatan, sebenernya orang lain gak begitu tertarik sama cerita bahagia kita – tapi malah kesulitan kita. Karena manusia itu pada intinya kesepian, dan ingin merasa ada teman di dunia yang sulit ini.
Written by @jill_bobby
Referensi: https://youtu.be/k-J9BVBjK3o
:")
I am 26 years old but i dont have any friends i am sad because my sister has fruends
Assalamu Alaikum,
Try to make friends and try to find out reason what’s making difficult for you to interact or make friends. It’s really hard to find good friends but we need someone to be with so try to have nice relationship with others. Here, I found an article that will help you in shaa Allah
“Many teens find socializing awkward due to personal shyness or anxiety. This can make the process of forming friendships complicated. During high school, already established connections can also break up because of different interests, disagreements or the general process of growing up. Regardless of the specific reason, if you find yourself stuck in high school without friends, it is important to find other outlets for your time and energy.
Nurture Mental Health
Not having friends in high school can affect self-esteem, social adequacy and general psychological well-being. Therefore, it is essential that you take notice of how situations affect you. Good mental health during the teen years can help you have positive interactions in your future relationships. It can also aid you in decision making and help you navigate life challenges, according to the article “Change Your Mind About Mental Health,” published by the American Psychological Association. If you think you are depressed or overly anxious, or if the stressors associated with high school seem overwhelming, it is important that you tell a trusted adult and seek the advice of a professional.
Interact With Family
If you find yourself needing elements of a friendship, such as emotional support or someone to talk to, it may be a good idea to turn to a trusted family member. Healthy relationships with siblings and parents can facilitate cognitive development, social skills and intimacy, which are needed for relationships later in life, according to Elizabeth Hair, Ph.D., and colleagues in the report “Helping Teens Develop Healthy Social Skills and Relationships: What the Research Shows about Navigating Adolescence,” published by the U.S. Department of Health and Human Services. These qualities are similar to those that can be nurtured by friendships during the teenage years.
Find a Passion
A healthy pastime can also make coping with not having friends a little easier. This could include sports, volunteering for an important cause, writing or practicing your artistic skills. Becoming involved in one or more extracurricular activities can help you find others with similar interests — not to mention that it looks good on college applications and presents a way of learning something new, according to an article on TeensHealth entitled “Extracurricular Activities.” Finding activities that you enjoy doing is also a good way to pass the time without resorting to unhealthy behavior.”
Dua for righteous friend
“My Lord, grant me authority and join me with the righteous.” (Quran 26:83)
I hope it will be helpful. May Allah guide us to the straight path.
Ameen
キャンディ
❥ | y.na_ on ig
Matcha milk bread turtles with chocolate dutch crunch!
Just because you're a jerk doesn't mean everyone else is a jerk too. You may be a real scumbag, but you're still Pil Gu's dad. And I think I've shown enough respect for that. But eating noodles with her here is where that respect ends. You really should stop being so clingy now.
Who do you think you are? Why do you keep getting involved without knowing your place?
Me? I'm an active player. I'm sure you already know that you can't beat an active play no matter how good you were in the past. Right now, I'm the guy that is next to her. And Dongbaek, likes me, not you. Don't think of Dongbaek and Pil Gu as something you can take back.