Doug Jones
almost home

titsay
Today's Document
sheepfilms
Game of Thrones Daily
Cookie Run:Kingdom Official!

gracie abrams
𓃗
I'd rather be in outer space 🛸
untitled

Kiana Khansmith

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Cosimo Galluzzi
Not today Justin

pixel skylines
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
$LAYYYTER
seen from United States

seen from Italy
seen from United States
seen from United States

seen from Ecuador
seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Kenya
seen from Canada
seen from Italy
seen from Germany
seen from China
seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from Colombia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Hungary
@chocolatevocado
Memikirkan dan mengkhawatirkan detik-detik kehidupan selanjutnya, yang belum tentu milik kita.
Ada sebuah nasihat dari Imam Syafi'i;
"Ketika engkau menginginkan sesuatu, maka bayangkan jika saat itu juga engkau kehilangannya. Jika engkau merasa tidak apa-apa kehilangannya, itulah tanda bahwa aman bagimu memilikinya."
Alangkah dalam hikmah yang terkandung dari nasihat itu. Bahwa penting sekali bagi kita meneliti apa yang mendasari keinginan kita untuk memiliki. Sebab tanda jika keinginan untuk memiliki didominasi oleh hawa nafsu adalah muncul rasa kepemilikan sebelum dan setelah terkaruniai sesuatu yang diinginkan itu.
Rasa memiliki seringkali menjadi sebab kelalaian (kemaksiatan).
Coba perhatikan, bukankah orang yang merasa memiliki kuasa membuat ia jadi semena-mena pada yang dianggap berada di bawah kuasanya?.
Bukankah orang yang merasa memiliki harta bisa menjadikan ia sombong dan menganggap semua bisa dibeli dengan hartanya?.
Begitu pula ketika kita merasa memiliki seseorang (baik itu pasangan, anak, saudara, atau pun orang tua), bisa menjadikan kita tak rela ketika kehilangan (entah karena ia memutuskan pergi dari hidup kita atau karena Allah yang mengambilnya kembali dari sisi kita).
Padahal sejatinya, semua yang terkarunia hanyalah titipan dari-Nya. Kita tidak pernah benar-benar memiliki, kita hanya (saling) dititipi.
Oleh karena itu, saat kita menginginkan sesuatu, kata Imam Syafi'i, tolak ukurnya adalah dengan membayangkan seberapa lapang hati kita jika kehilangannya.
Kalau sebelum Allah karuniakan saja sudah ada rasa tak rela atau jadi takut sekali kehilangannya, berarti nafsulah yang mendominasi.
Maka, segera batalkan/tinggalkan. Karena yang seperti itu, jika tetap dipaksakan berpotensi menjadikan kita punya rasa kepemilikan yang akan melalaikan dan menjerumuskan ke dalam kemaksiatan.
Ingatlah, kebaikan itu selalu menenangkan. Yang sejatinya baik, tak akan membuatmu jadi khawatir berlebihan atau takut sekali kehilangan.
Wallahu a'lam bishawab.
@rizqan-kareema.
“Sesungguhnya iman di dalam hati bisa (menjadi) usang (lapuk) sebagaimana pakaian yang bisa usang, maka mohonlah kepada Allah 'Azza wa Jalla untuk memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu.”
HR. Al-Hakim
30
Tiga puluh. Kelihatannya cuma angka—kecuali kalau kamu sadar: ini artinya kamu benar-benar kehilangan usia dua puluhan-mu. Usia yang sudah cukup tua untuk ‘main-main’. Tapi terlalu muda untuk benar-benar mengerti: hidup ini sebenarnya mau ke mana.
Aku masih ingat, 13 tahun lalu... aku baru 17.
Pukul 10 pagi, dua hari setelah ulang tahunku, teman-teman ngasih kejutan di kantin. Rainbow cake—yang waktu itu lagi viral. Dan betapa ringannya dunia saat itu, saat hal paling berat yang kupikirkan cuma: “Duh, besok ulangan sejarah tiga bab,” atau bolak-balik login Facebook cuma buat ngecek: “Dia udah accept friend request belum ya?”
Dan sekarang... 30.
Banyak yang berubah. Aneh ya?
Dulu, waktu terasa lambat. Kayak nunggu jemputan yang nggak datang-datang.
Sekarang? Semuanya lewat kayak mimpi semalam: cepat, kabur, nggak pamit, nggak kasih jeda, nggak ada pertanda.
Dan… ini beneran aku sudah 30?
Dulu, aku pikir tiga puluh itu artinya stabil. Punya kerjaan mapan, sibuk dengan hobi keren, bebas liburan kapan aja, dan benar-benar menikmati hidup.
Tapi lucunya... versi kecilku yang naif itu, kayaknya malah lebih paham hidup daripada aku yang sekarang.
Dan, tahu nggak apa yang paling ironis?
Dulu aku yakin, bahwa menjadi dewasa itu berarti semuanya jadi lebih masuk akal, lebih mudah, lebih tertata.
Ternyata enggak. Ternyata... jadi dewasa justru bikin kita makin banyak mikir, makin sering nanya ke diri sendiri: “Ini bener nggak sih jalan yang aku pilih?”
Dan dari semua hal yang aku coba pahami, yang paling ingin aku tahu—cuma satu: "Kenapa jadi dewasa rasanya kayak dihukum, cuma karena kita bertumbuh?"
Tapi ya, biar gimana juga, aku pengen mulai bab 30 ini... dengan cukup saja.
Di tengah rasa bingung dan takjub yang belum selesai juga, aku nulis ini—dengan jantung yang deg-degan, dan pikiran yang bercabang kayak tab Google Chrome: semuanya kebuka, nggak ada yang bisa ditutup, karena semuanya kerasa penting.
Mungkin karena kopi. Mungkin karena anxiety. Atau mungkin karena... aku sadar, hari ini, aku tiga puluh.
Serius? Sekali lagi... ini aku? Udah 30?
Setelah ini apa? Beneran dewasanya? Siap nggak? Ayo?
Hidup kadang selucu itu. Kadang, kita cuma pengen punya lebih banyak jawaban, tapi yang datang malah pertanyaan-pertanyaan baru. Dan lebih kejamnya... hidup nggak pernah ngasih reminder: “Hei, kamu sekarang harus ngerti semuanya.” Padahal... aku belum mengerti apa-apa.
Dan mungkin... kalau semuanya ini harus kujawab dengan satu kalimat aja, itu adalah: “Boleh gak... aku balik ke waktu dulu?”
Bukan karena saat itu tanggung jawabnya belum besar. Tapi karena dulu aku… belum terlalu takut.
Dulu, keinginanku sederhana: pulang sekolah, makan es krim, nunggu film yang ada Morgan-nya.
Dulu, angka ‘tiga puluh’ terdengar seperti milik orang dewasa. Jauh. Matang. Sampai.
Sekarang? Itu aku.
Dan sudahkah aku sampai?—Itu menjadi pertanyaan yang bikin kepalaku migrain…setiap harinya.
Lalu, katanya, kadang keindahan baru bisa dilihat dari kejauhan. Mungkin nanti, di hari yang biasa banget—waktu aku bengong nunggu tram atau antri beli matcha di Edition Roasters—aku bakal sadar:
Umur tiga puluh itu sebelas dua belas dengan matahari jam lima tiga puluh. Nggak langsung indah, tapi semua orang ngerti... kenapa butuh waktu segitu lama.
Tapi hari itu? Aku harap bukan hari ini. Belum. Belum dulu.
Baru sadar ternyata aku udah jalan sejauh itu dari Allah. Gak pernah tahajjud, dhuha apalagi qobliyah subuh baca Al-Qur'an pun sekarang udah jarang. Capek kerja tapi betah banget kalo nonton tiktok sambil rebahan. Permintaanku banyak tapi quality time sama yang punya segala-Nya minim sekali. Setelah dapat kerja rasanya aku jadi manusia yang sombong dan angkuh kayak udah gak butuh sama Allah. Ya Allah... gimana cara mulainya lagi? :"
Baru sadar, kenapa pada setiap raka'at sholat kita terdapat Al-Fatihah di dalamnya. Dan di dalamnya kita selalu minta ditunjukkan jalan yang lurus. Bahkan berkali-kali.
Ya, karena memang potensi kita berbelok dari jalan lurus ini banyak sekali. Tiap waktu godaan itu akan datang teruus. Bahkan sesederhana kita ga bersyukur dengan nikmat Allah saja sudah sedikit membelokkan kita dari jalan lurus itu.
Maka benarlah, Al-Fatihah dalam sholat mengajarkan kita untuk senantiasa bergantung sama Allah. Hanya sama Allah. Minta 'pegangin' Allah terus supaya ga menyimpang dari jalan kebenaran. Karena nyatanya semakin ke sini fitnah dunia itu semakin menyilaukan. Semoga kita tetap kuat untuk menempuh jalan ketaatan. Meski dihampar dengan berbagai kerikil ujian.
Qur'anic Double Date, 17 Februari 2025
Allah Mengabadikan Perbuatan Ibrahim as. dan Ismail as.
Kita semua sudah mengenal kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah umat Islam. Begitu banyak perbuatan mereka yang diabadikan oleh Allah dan menjadi bagian dari syariat hingga hari ini.
1. Lempar Jumrah: Mengusir Godaan Setan
Ketika Ibrahim hendak menyembelih putranya Ismail, setan berusaha menggodanya di tiga tempat yang berbeda di antara Muzdalifah dan Mina. Ibrahim pun melempar batu sebanyak tujuh kali di setiap tempat tersebut hingga setan pergi.
Hari ini, peristiwa tersebut diabadikan dalam rangkaian ibadah haji dengan lempar jumrah. Setiap tahun, jutaan jamaah haji melaksanakan ritual ini, dan pahala terus mengalir kepada Ibrahim dan Ismail. Jika satu orang melempar 21 batu dalam tiga kali lemparan, maka betapa banyak pahala yang terus mengalir kepada mereka berdua sepanjang zaman.
2. Idul Adha dan Kurban: Simbol Keikhlasan
Asal mula ibadah kurban terjadi ketika Nabi Ibrahim bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya. Karena seorang nabi tidak mungkin mendapat wahyu dari setan, Ibrahim yakin bahwa perintah itu datang dari Allah. Dengan penuh keikhlasan, ia bersiap untuk menjalankan perintah tersebut.
Namun, saat pedangnya hampir menyentuh Ismail, Jibril datang membawa seekor domba sebagai pengganti. Allah telah menerima keimanan dan ketundukan mereka.
Hingga hari ini, ibadah kurban menjadi bagian dari syariat Islam, di mana umat Muslim menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketakwaan dan pengorbanan. Pahala terus mengalir kepada Ibrahim dan Ismail setiap kali umat Islam menjalankan ibadah ini.
3. Pembangunan Ka’bah: Kiblat Umat Islam
Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun Ka’bah bersama putranya, Ismail. Mereka berdua mengangkat batu dan menyusun pondasi dengan tanah liat yang dicetak dan disusun rapi. Setiap kali bangunan semakin tinggi, Ibrahim melangkah ke tempat yang lebih tinggi untuk memastikan bangunannya rata.
Tempat pijakan Ibrahim ini kemudian diabadikan sebagai "Maqam Ibrahim", yang menjadi tempat salat bagi umat Islam hingga hari ini.
4. Hajar Aswad: Batu dari Surga
Saat membangun Ka’bah, Ibrahim meminta Ismail mencari batu yang kuat untuk mengokohkan bangunan. Ismail pun datang membawa Hajar Aswad. Ketika ditanya asalnya, Ismail menjawab, “Ini dari Allah, wahai ayahku.”
Hajar Aswad berasal dari surga dan awalnya berwarna putih bersih. Namun, karena banyaknya dosa manusia yang menyentuhnya, kini warnanya menghitam.
Allah kemudian memerintahkan Ibrahim dan Ismail untuk menjaga Ka’bah dari kemusyrikan dan mengajarkan tata cara tawaf. Hingga kini, umat Islam bertawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad sebagai sunnah, dan salat di belakang Maqam Ibrahim.
Keabadian Amal Saleh
Semua perbuatan Ibrahim dan Ismail diabadikan dalam ibadah umat Islam:
✅ Kiblat yang kita hadapi saat salat adalah Ka’bah yang mereka bangun.
✅ Tawaf yang kita lakukan adalah mengikuti ajaran mereka.
✅ Lempar jumrah yang dilakukan jamaah haji meniru tindakan Ibrahim saat mengusir setan.
✅ Ibadah kurban menjadi simbol keikhlasan mereka kepada Allah.
Betapa luar biasa pahala yang terus mengalir kepada dua manusia terbaik ini. Amal mereka tidak hanya menjadi sejarah, tetapi tetap hidup dalam setiap ibadah yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia.
Belakangan, saat lelah dengan dunia. Aku kembali membuka dan membaca Qur'an awal juz 20. Qs. An-naml ayat 60-64. Lanjut membaca terjemahan nya. Aku selalu terpaku pada terjemahan di setiap akhir ayatnya. "Apakah disamping Allah ada Tuhan yang lain?" Allah mengulangi hingga 5x disetiap penghujung ayatnya
Seakan sedang berbicara kepada ku, Apakah disamping Allah ada Tuhan yang lain dihati mu? Jika tidak, sebenarnya ridho siapa yang sedang kau tuju?
Sebelum tidur;04022025
Pada akhirnya, detikdetik akan terus bergerak, sedangkan langkah kaki akan selalu menemukan persimpangan jalan;
—sebuah titik di mana pilihan dan keputusan akan menjadi kompas kehidupan.
Hari ini, setelah sekian lama mengaku muda, pada akhirnya taklagi bisa mengelak. Hanya berharap jika apa pun yang kelak terjadi, semua itu akan menjadi mudah dengan segala rintangan yang selama ini telah—dan akan—dijalani.
Hari ini hanya ingin merayakan sejenak sebelum berakhirnya tanggal 27 di bulan ini. Menikmati detikdetik sebelum semuanya akan kembali seperti hari-hari biasa.
Selamat datang, 30.
Ide Pernikahan Minimalis ala Saya Pt 2
Okay, kemaren saya udah coba sharing tentang ide pernikahan minimalis ini (bisa diakses disini). Nah mari kita lanjut ke Part 2-nya. Let's check it out dan selama membaca . . .
Undangan PDF, Gak Pake Website
Sebagai orang yang dulu suka website, saya tuh kepikiran mau gitu nikah pake website gitu dimana orang-orang naruh ucapan dan tentunya ada nomor rekening saya disitu HHH. Tapi saat itu, istri menyarankan yang lebih sederhana aja. Apa itu? Undangan via PDF. Terus dimana uniknya? Jadi saya coba design (pake canva) PDF tiga laman yang designya minimalis tapi isinya cukup compact. Berikut Beberapa screen shotnya. Tautan undangannya bisa dicek disini.
2. Meja DIY dan Susunannya (Ampun)
Kalau ditanya seberapa niat, jujurly meja yang ada disini itu adalah buatan saya sama Bapak. Kita berdua yang literally ngebuat meja ini dari kayu yang beli di material sampe akhirnya dibawa ke villa tempat nikahan. Dan karena yang diundang itu kita udah tau siapa siapa namanya (dan sebelumnya minta konfirmasi). Di depan deket meja tamu, saya minta tim saya buat ngarahin setiap yang datang duduk di meja masing-masing yang sudah ada namanya (gambar kiri list nama-nama dan meja mana). Ini gak ngerti lagi sih saya sama istri. Beneran disusun genk ini duduk dimana, genk itu duduk dimana HHH (termasuk genk saya di lingkungan pertemanan mobile legends) Sungguh terlalu niat!
3. The Story
Sebenernya ada yang lebih niat kebanding saya ngebuat meja buat pernikahan itu. Apa itu? Akun instagram yang susunan post-nya mengadung kode-kode. WHUT. Iya, jadi saya buat susunan story pertemuan bahkan hingga chat pertama kali di facebook, di instagram, hingga akhirnya baru tau juga kalau dia ternyata adik kelas SMA saya. Dan yang buat saya paling well planned adalah gambar wisuda yang seadanya, tapi dari semua post. Cuman ini yang tulisan di pojok kanannya itu "Open it Up".
Iya jadi jauh sebelum ke nikah, saya sama istri saya ini lagi deket saat itu, dari mulai pinjem buku hingga sering projek-an bareng. Nah saya buat lah gambar itu yang dibelakang nya itu ada tulisan yang intinya "Terima kasih karena telah membersamai di masa masa perjuangaan sampe akan ada waktunya surat dibalik figura ini harus dibuka (isinya ngajak nikah kurang lebih HHH)".
NB: di meja meja yang saya buat itu, udah saya siapin QR Code yang kalau di scan, bakal ngarah kesana. Tapi sekarang post nya udah di archive. Entar disangka sombong HHH.
4. Ada Prancis Prancisnya (Dikit sih)
Di SMA saya, dulu ada mata pelajaran bahasa Prancisnya. Karena kebetulan saya sama istri berasal dari sekolah yang sama. Alhasil ide saya membawakan sedikit Prancis-Prancis nya disetujui. Emang apaan? Iya jadi yang kemaren udah dibahas dengan gak pake foto prawedding tapi lagi foto di Prancis, Bawa sepatah dua patah kata pake bahasa Prancis (walaupun ga semua), dan souvenir yang ada tag bahasa Prancis nya. Lupa tapi tulisannya apaan ya HHH.
Okay mungkin segitu dulu Part 2 nya dan jadi part penutup tulisan ini. Saya yakin pasti temen-temen pun sudah punya referensi wedding masing-masing. Searching aja banyak ko konsep konsep menarik atau bahkan sekarang tanya AI aja yang menarik gimana, tinggal gimana nantinya menyesuaikan.
Pertanyaan
Kemaren ada yang tanya rundown nya gimana? Rundown nya itu lupa file nya dimana tapi itu udah tercantum diundangan ya. Harus nanya ke EO kayaknya. Soalnya mereka yang punya juknis nya. Terus gimana cara ngeyakinin orang tua biar bisa kaya gitu? Ini tantangan banget. Untuk sampei bisa kesana, beuh panjang ceritanya. Tapi intinya ada dua solusi yang bisa dicoba:
Jangan pake uang orang tua sama sekali
Substitusi keinginan orang tua. Kemaren, saya substitusi dengan cara tetap mengadakan pengajian di rumah H-2 pernikahan (biar ga dianggap macem macem sama tentangga kali HHH)
Berikan pemahaman bahwa ini konsep nikah kita, bukan orang tua (dengan sedikit ego dari istri saya yang wow sekaleh setiap hari saya menghadapinya HHH).
Dah lah, mungkin segitu dulu aja tulisan kali ini. Mari kita move on ke tulisan bertema-tema selanjutnya. As always, merci beaucoup and thanks for having a beautiful mind.
Jangan biarkan salat lima waktu di waktu yang tepat itu hilang dari rutinitas kita.
Jangan biarkan salat sunnah itu hilang dari rutinitas kita.
Jangan biarkan puasa sunnah itu hilang dari rutinitas kita.
Jangan biarkan membaca dan mengkaji alquran itu hilang dari rutinitas kita.
Jangan biarkan dzikrullah itu hilang dari rutinitas kita.
Jangan biarkan berdoa itu hilang dari rutinitas kita.
Jangan biarkan pergi ke majelis ilmu itu hilang dari rutinitas kita.
Jangan biarkan belajar ilmu syar'i itu hilang dari rutinitas kita.
Semakin kita kehilangan hal-hal yang membuat kita taat sama Allah, semakin jauh dan semakin lemah juga koneksi antara kita dengan Allah. Di keadaan yang jauh dari Allah itu akhirnya menjadi celah bagi syaitan untuk memperdaya kita. Jangan pernah menormalisasi dosa, sekecil dan seringan apapun.
Ada cinta dan hubungan yang harus selalu kita jaga, yaitu cinta dan hubungan kita sama Allah. Kita boleh kehilangan apapun di dunia ini. Asal jangan kehilangan iman dan Allah.
Bandung, 24 Desember 2024
@monicasyarah
kita kan ga tau masa depan ya, bisa aja tiba-tiba S3 di UK mungkin 😅
Dalam perjalanan menuju jauh yang kita tuju, barangkali ada banyak ragu yang menunggu
Kadang kehilangan arah, lelah, monoton dan rasa ingin menyerah
Tak jarang meratapi, apa sih yang ingin dicari?
Mungkin perlu menepi sesekali, ambisi kita semestinya tak melulu harus dituruti
Lebih Mudah.
Ada suatu titik ketika hidup kita akan berada di sebuah titik yang belum pernah kita lalui sebelumnya. Titik-titik yang sulit dan rumit, yang agaknya tak kita kuasai sedikitpun.
Akan ada masanya kita menjalani sebuah peran yang bagi kita teramat berat di permulaannya. Entah peran yang dimulai dari rumah, tempat menimba ilmu, tempat kerja, atau pada skala lain yang lebih besar dan lebih luas manfaatnya.
Di suatu waktu di masa depan sana, kita akan menghadapi sebuah permasalahan keruh yang sulit kita jernihkan. Masalah yang kadang membuat kita lupa untuk kembali pada pondasi kokoh yang mendasari segala jawaban di muka bumi ini.
Dan akan tiba saatnya, kita akan mulai mengemban amanah-amanah berat yang baru. Amanah-amanah yang mungkin akan terlalu berat kita pikul sendirian.
Oleh karenanya, bersamailah seseorang yang membuatmu merasa lebih mudah melewati fase demi fase pendewasaanmu. Seseorang yang dengannya kamu lebih mudah meningkatkan iman dan ketaqwaan. Yang dengannya lebih mudah untuk mengingat-ingat kebaikan.
Temukan seseorang yang juga mampu membersamaimu untuk bisa lebih mudah merenda syukur dan merajut sabar. Seseorang yang membuatmu lebih mudah berbagi teduh. Seseorang yang bersamanya, membuatmu lebih mudah untuk menguatkan diri meski barangkali ada hal pelik yang perlu kamu selesaikan.
Karena pada akhirnya, hidup tak mungkin tanpa masalah. Kita tak sedang berlayar di lautan mati yang tanpa ombak dan karang. Kita tak sedang melaut yang tanpa badai dan angin kencang. Entah apa yang nantinya lebih dulu menerjang, semoga kita masih sempat untuk mengusahakan sekuat mungkin untuk berpegang pada tali-Nya.
Namun, sebelum itu semua, pertama-tama mari kita buat diri kita untuk lebih mudah membuka mata hati untuk menerima nasihat-nasihat kebaikan. Mari buka pintu itu lebar-lebar tiap kali hidayah mengetuk. Persilakan mereka masuk dan jamu sebaik mungkin. Jangan hanya tunggu, tapi mari kita hampiri selangkah demi selangkah. Buat diri kita lebih mudah untuk meminta dan memberi maaf, juga berterima kasih. Dengan itu, kelak kita juga akan membuat siapapun seseorang itu jadi lebih mudah untuk membimbing dan mengarahkan.
Aamiin.
(Semarang, 22 Juli 2024. 20:35. Baru tiba di kamar kos. Sebuah tulisan untuk diri sendiri yang buru-buru dituang dari kepala karena terlintas pas lagi perjalanan motor ke kosan. Terinspirasi dari percakapan dan nasihat tak terduga dari bapak penjaga parkir di pertigaan Masjid Agung Pandanaran. Terimakasih bapak!)
Pinokio jawa
Masih ingat seminggu lalu rasanya muak melihat berita si pinokio jawa, ya yang minta maaf lah, atau apapun. Puncaknya 3 hari ini, berulah semakin rakus, menjegal ABW yang dilepeh partai oren di detik terakhir. Kesel banget, padahal bukan ktp jakarta.
Well, aku termasuk yang posting "im on the right side" 10 tahun lalu, juga mendukung ybs 2 periode. Jujur untuk saat itu, aku hanya ingin posisi tertinggi diisi masyakarat biasa, bukan "dinasti penguasa old money TNI/POLRI". Plot twist, ternyata makhluk gorong-gorong "polos" yang satu ini, lebih lapar se-lapar-laparnya macan yang belum makan sebulan. Berlindung dibalik opini "kaget, bingung, geram" dan "ya... saya ndak tau". Sampah.
Dalam 3 hari ini, kata "goblog" semakin sering terdengar dan terasa syahdu ketika memaki Mulyono oflen dan onlen.
Maneh goblog.
Kalau memang orang jahat itu panjang umur. Minimal si pinokio jawa ini tiap merem didatengin gerombolan ulet bulu sampe trauma gak bisa tidur nyenyak selama hidupnya. Juga antek-anteknya, semoga mereka didatengin dan dihisep lebah sampe napas terakhir. Amiiin.
22 Agustus 2024
bayangkan
bayangkan sebuah pernikahan
yang masing-masingnya tidak perlu khawatir yang lainnya tidak setia. karena kuat agamanya, kokoh komitmennya.
bayangkan sebuah pernikahan
yang jarak separuh bumi pun tidak akan membuat jauh apalagi terpisah. karena rindunya diwujudkan dalam bentuk menjaga. karena hatinya sudah selalu bisa ditata.
bayangkan sebuah pernikahan
yang keduanya tidak perlu khawatir akan hari yang belum datang. karena kesadaran bahwa semuanya adalah titipan. karena keyakinan bahwa rezeki selalu tepat takaran. karena keimanan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.
bayangkan sebuah pernikahan
yang pasangannya tidak perlu khawatir menjadi tua, diuji kesehatannya, menjadi lupa, atau tidak lagi elok rupa. karena cintanya jauh lebih dalam dari yang terlihat, jauh lebih besar dari yang memikat.
bayangkan sebuah pernikahan
yang orang-orangnya hanya khawatir akan perpisahan. khawatir bilamana kehidupan yang selanjutnya tidak mempertemukan mereka. khawatir bilamana bekal mereka belum cukup. sehingga mereka pun berupaya bersama, mencukupkan semua perbekalan.
pernikahan itu bisa saja adalah pernikahan kita.