Setiap perempuan selalu memimpikan seorang pasangan, pemimpin, imam, sekaligus sahabat yang bisa dijadikan acuan dalam hidupnya. Yang selalu bisa mendukungnya, membimbingnya, dan menasihatinya dengan perkataan lembut yang penuh cinta.
Tapi nggak semua laki-laki bisa seperti itu. Mereka besar akan ego dan rasa lebih tahunya, atau mungkin kasarnya "sok tahu". Seakan dia lebih tahu dan lebih benar, lalu menyampaikan apa yang ada dalam kepalanya kepada orang yang dia sayang dengan kata-kata yang dia sendiri nggak pernah sadar kalau apa yang keluar dari mulutnya telah menyakiti hati perempuannya.
Pantaskah seorang imam lebih mendahulukan ke-egoannya agar terlihat baik di mata orang lain, tapi tidak peduli dengan situasi, kondisi, dan perasaan makmumnya (perempuannya)?
Bisakah kalian membedakan mana nasihat dan mana justifikasi, mana yang sopan dan mana yang tidak sopan?
Hal paling menakutkan dalam kehidupan rumah tangga mungkin salah satunya adalah ego yang kadang susah untuk diturunkan. Perbedaan sudut pandang yang selalu berhenti di itu itu saja. Kadang, orang yang merasa punya lebih kecukupan, tak selalu mau tahu dengan perasaan orang lain di bawahnya, sekalipun orang lain itu adalah orang yang dia sayangi. Hidup acapkali selucu itu.
















