Anak kami akhirnya lahir ke dunia. Aku sendiri menyaksikan-nya langsung dari ruang operasi. Aku masuk ke dalam dan melihat perut istriku terbuka menganga sedikit dengan darah melingkari permukaannya.
Anak kami sedikit iseng, dia naik pada saat dokter mau tarik, lalu dengan bantuan vacum manual dokter mampu mengeluarkannya. Aku sendiri menyaksikan kepalanya muncul dengan rambut yang cukup banyak dan sedikit darah ada di badannya, lalu mukanya yang bulat mulai mucul terlihat, dada serta punggungnya, tangannya, kemaluannya, dan kakinya. Anak kami lahir dengan bersih tidak ada putih2 lemak yang menempel di tubuhnya.
-Lega hatiku saat mendengarnya menangis.-
Jatuh cinta pada pandangan pertama yang sebetul-betulnya pandangan pertama. Aku bersyukur menyaksikannya lahir dan dapat memberikan dukungan terhadap istriku langsung dari ruang operasi. Aku lihat dia, aku katakan kepadanya: you are loved, you are lovely, and we love you.
Aku ingin anak-ku, putriku yang kecil merasakan sebenar-benarnya kasih sayang. Dia benar-benar kami tunggu dalam kurang lebih 9 bulan istriku mengandung. Melihat ekspresinya yang terkadang sinis, matanya yang terkadang membelo, bibirnya yang bergerak-gerak kantuk, tangannya yang gemulai, atau tangannya yang menyamping di pipinya. Aku hafal semua ekspresinya.
Untuk anak kami, Papa berterima kasih kamu hadir di dunia mewarnai hidup kami yang sudah bahagia menjadi lebih bahagia. Berada di dekat kamu, papa menjadi tenang, sangat tenang. Berada di dekat kamu membuat papa sadar betapa baiknya Tuhan kepada mama dan papa. Kita dalam keadaan yang cukup secara materi, walau papa suka merasa kurang dan satu-satu rencana kami terpenuhi sesuai waktunya Tuhan.
Anak kami, terima kasih mengajari papa agar papa bisa mengurangi ritme cepat-cepat dan menikmati kehidupan yang lebih lambat. Kamu mengajari papa, tidak ada yang sia-sia. Seperti saat kamu sudah papa mandikan dan pakaikan baju, dan kamu tiba-tiba pup, lalu papa ganti dengan senang hati. Seperti saat kami sudah pulang dari dokter, tapi kamu mau minum susu lalu kita baru pulang satu jam setelahnya karena kamu ganti pempers, minum, dll. Papa menikmatinya.
Sebagaimana kami bersyukur kepada Tuhan atas kelahiranmu. Papa berharap kamu bersyukur mempunyai kami sebagai orangtua-mu.
Mari kita bertumbuh bersama sebagai satu ikatan keluarga. Seperti yang Dewi Lestari tulis dan papa bacakan kepada-mu:
"Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah. Ia merasa telah melihat segalanya dari ketinggiannya.
Karena kita tumbuh ke atas, tapi masih dalam petak yang sama. Akar kita tumbuh ke dalam dan tak bisa terlalu jauh ke samping. Selalu tercipta kutub-kutub pemahaman yang tak akan bertemu kalau tidak dijembatani.
Jembatan yang rendah hati, bukan kesombongan diri." Duren Sawit,