Surat Penutup: Dari Aku, Yang Pernah Menunggumu
Untukmu — yang pernah kunamai sunyi, yang pernah ku undang tinggal di jantungku, yang pernah kupeluk diam-diam lewat doa yang tak pernah kau tahu.
Aku pernah jatuh cinta padamu, lebih dulu dari kata-kata yang sempat kutulis, lebih dalam dari jarak yang kau ciptakan, lebih keras dari rindu yang kupendam sendirian.
Aku pernah memaafkan diam-diam, pernah menunggu di sudut paling gelap, pernah menutup mulutku sendiri agar kau tenang, meski hati ini riuh menuntut dipandang.
Aku pernah marah — karena kau membuatku menunggu tanpa pernah menoleh.
Aku pernah kecewa — karena tak ada satu pun kata yang kau ucapkan untuk menenangkan tangan yang kugenggam dalam gelap.
Aku pernah hancur — saat kusadari aku jatuh sendirian, berdoa sendirian, berharap sendirian.
Dan hari ini, dengan sisa gemetar di dadaku, aku menulis ini untuk meyakinkan diriku sendiri: aku berhenti. Bukan karena rasa ini mati, bukan karena rindu ini sirna, bukan karena aku membencimu. Aku berhenti karena aku mencintai diriku lebih dari rasa sakit yang kau tanam.
Kalau suatu hari angin membawa namaku ke telingamu, biarlah kau tahu: aku pernah mencintaimu sedalam ini — dan aku pernah rela mengubur semua kata demi kau bisa berjalan tanpa menoleh.
Pergilah, tetaplah jadi sunyi yang pernah kupuja. Aku di sini — membereskan serpihanku, merawat ruang kosong di dadaku, belajar memanggil namaku sendiri lebih keras daripada namamu yang kupanggil pelan-pelan.
Terima kasih sudah membiarkanku jatuh, terima kasih sudah mengajariku patah. Hari ini aku menutup pintu itu, membawa pulang hatiku yang pernah kutitipkan padamu.
Kalau kau bertanya, aku baik-baik saja. Aku hanya tak lagi menunggumu — dan itu caraku mencintaimu untuk terakhir kalinya.
🌙 Dari aku, yang pernah menunggumu dalam sunyi.🤍🍀