Seperti Menggenggam Bara Api.
“Kamu itu kalau beragama jangan berlebihan.”, katanya.
Ketika kamu berusaha menjalankan sesuatu yang memang disyariatkan, lalu ditanggapi demikian, sabarin saja :)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)
Dikatakan oleh Al Qari bahwa sebagaimana seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa. Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra.
Sebagaimana dalam QS. Al-’Ankabut: 2-3,
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
Dalam tafsirnya, masing-masing individu harus diuji terlebih dahulu, hingga dapat diketahui sampai di manakah mereka sabar dan tahan menerima ujian tersebut. Ujiannya pun bervariasi, umpamanya perintah berhijrah (meninggalkan kampung halaman demi menyelamatkan iman dan keyakinan), berjihad di jalan Allah Subhanahu Wata’ala, mengendalikan syahwat, mengerjakan tugas-tugas dalam rangka ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan bermacam musibah seperti kehilangan anggota keluarga, harta, dsb.
Ujian tersebut guna menguji siapakah di antara mereka yang sungguh-sungguh beriman dengan ikhlas dan siapa pula yang berjiwa munafik, selain itu guna mengetahui apakah mereka termasuk individu yang kokoh pendiriannya atau individu yang masih bimbang dan ragu hingga iman mereka masih rapuh.
Dan ini adalah sunatullah yang berlaku bagi umat terdahulu hingga akhir zaman, seperti kisah Mu’adzah binti Abdullah Al-Adawiyah rahimahullah yang kehilangan suami dan anaknya sekaligus. Suami dan anaknya terbunuh ketika berjihad melawan orang-orang kafir, beliau pun sabar dan rida terhadap takdir Allah Subhanahu Wata’ala tersebut.
Beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak menginginkan hidup di dunia hanya untuk kesenangan hidup dan tidak pula untuk menikmati hembusan angin semilir, tetapi aku ingin hidup di dunia agar aku beribadah kepada Tuhanku dengan segala cara. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala menyatukanku dengan Abu asy-Sya’tsa` dan anaknya di surga.”
Wanita salihah ini tetap teguh memegang jalan hidupnya dan bahkan kesalihannya semakin meningkat.
Kisah lainnya berasal dari Sumayyah binti Khayyath radhiyallahu ‘anha,
Bila kesabaran disebut, maka namanya disebut!
Bila ketulusan iman disebut, maka namanya disebut!
Bila keteguhan dalam membela kebenaran disebut, maka namanya disebut!
Dikisahkan bahwa Bani Makhzum keluar membawa keluarganya ke tanah lapang yang sangat panas di Makkah untuk membuatnya murtad, namun kebengisan Abu Jahal tidak dapat memalingkan mereka dari agamanya.
Ujian yang menimpa orang-orang yang menyambut Islam dengan segera pada hari itu amatlah berat, bahkan tidak sedikit pun dari mereka yang kembali kepada agama lamanya lantaran berbagai bentuk penyiksaan luar biasa yang mereka rasakan.
Namun wanita ini tidak tergoyahkan oleh cemeti, tekadnya tidak bengkok oleh panasnya bebatuan dan tidak gentar oleh tombak sang pengecut hingga ajal menjemputnya.
Beliau terbunuh dengan tekad yang kuat, iman yang kokoh dan keteguhan di atas agamanya agar bisa berjumpa dengan Tuhan yang beliau mempertaruhkan jiwanya dan mempersembahkan rohnya karena rida dengan apa yang ada di sisi-Nya. - Kisah Para Wanita Mulia (Azhari Ahmad Mahmud حَفِظَهُ اللهُ, Darul Haq)
Sebagaimana dalam QS. Ali ‘Imran: 146,
“Dan betapa banyak Nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.“
Sebagaimana dalam QS. Az-Zumar: 10,
“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
Allah Subhanahu Wata’ala memberikan ujian tersebut guna mengetahui siapakah yang betul-betul sempurna keimanannya dan yang menutupi kepalsuannya dengan sikap beriman, selain itu guna menentukan siapakah yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dan derajat tersebut tidak mungkin diperoleh kecuali dengan menempuh ujian yang berat.
Kamu kudu bakoh nduk (^^,)9