#2 - 30 Hari Bercerita | Mlamun
Aku menemukan video ini direkomendasikan di antara algoritma youtube-ku.
Ini bukan video pertama atau saran pertama yang menyarankan bahwa manusia harus lebih banyak melamun; bahwa manusia harus lebih terbiasa dengan rasa bosan. Saran seperti ini semakin relevan buatku, terutama karena banyak hariku kulalui dengan menatap layar handphone sampai-sampai kadang terasa kalau mataku lelah.
Kelelahan mata ini begitu terasa di sekitar akhir november kemarin. Rasanya lampu di kantor terasa sangat terang dan kepalaku berada di ambang antara pusing dan baik-baik saja. Aku pergi ke klinik kantor kemudian, tapi dokter klinik bilang tidak ada alat untuk memeriksa mata. Akhirnya aku diminta melakukan tes snellen chart. Hasilnya baik, tentu saja–terutama karena sehari sebelumnya aku baru melewati medical check up (MCU) tahunan dari kantor dan hasilnya pun baik. Setelah itu aku diminta istirahat di klinik sambil mataku dikompres menggunakan air hangat. Setelah sekitar 4x10 menit ganti kompres air hangat, aku bangun dan melakukan cuci mata–ya, aku baru tau kalau cuci mata memang ada prosedur medisnya dan ada cairan khususnya.
Setelah dari klinik, mataku sedikit membaik. Beberapa jam setelahnya, sekira waktu makan siang, mataku terasa silau lagi. Kalau diminta mencari penyebabnya, aku kira aku bisa menyimpulkan sendiri. Sekitar tiga hari sebelumnya, di antara sabtu, minggu, dan senin, aku melakukan perjalanan PP ke Jogja untuk melayat. Di antara perjalanan malam saat gantian menyetir dengan sepupuku dan dalam upayaku menemanimya menyetir, aku bolak-balik membuka handphone, bermain game, scrolling di media sosial, dan lain-lain. Kombinasi antara gelap, silau layar, lelah, dan kurang tidur adalah penyebabnya.
Kelelahan ini berujung pada keinginanku membeli kacamata (sudah lama aku ingin), terutama dengan lensa anti radiasi. Keinginanku semakin besar saat aku melihat hasil MCU terkait mataku. Sekalipun hasil visus mata snellen OD dan OS 20/20, ternyata hasil visus mata OD dan OS menggunakan alat agak lucu. Keduanya memiliki minus dan silinder, lebih lucu lagi silinder keduanya memiliki nilai yang sama, tapi nilai minus keduanya jomplang. Nilai silinder dan minus pada mataku ini mungkin disebabkan karena kelelahan pada mataku, terlebih MCU itu dilakukan sehari setelah aku kembali masuk kantor sehabis PP ke Jogja.
Hasil MCU itu juga membuatku berefleksi kalau aku harus mengurangi waktuku menatap layar. Video di atas dari AsapSCIENCE menyebutkan kalau melamun ternyata memberi beberapa dampak positif pada otak, misalnya pembersihan neuron persis kondisi deep sleep saat tidur dan meningkatkan kreativitas. Sayangnya, kondisi melamun yang dibutuhkan itu makin sulit dicapai akibat paparan handphone.
Saat aku bertanya apa yang membuatku lebih banyak menatap layar handphone, aku menemukan beberapa jawaban. Pertama, kesendirian–bukan kesepian. Kesendirian ini mendorongku untuk kabur dari rasa bosan. Kalau aku di rumah, mungkin aku bisa coba mengobrol dengan bapak atau bercanda dengan teteh, tapi saat aku sendirian di kos, kesendirian ini mendorongku untuk terus membuka handphone. Tentu, dorongan ini akan menjadi-jadi saat kesendirian itu berubah menjadi kesepian di waktu-waktu tertentu.
Kedua, respons trauma. Ini analisis gembel yang kusimpulkan sendiri–armchair psychology at its finest. Tapi kira-kira begini, aku masih harus memproses banyak hal. Aku akui ada banyak perasaan, luka, dan duka yang harus kuhadapi. Namun, di antara 4F (fight, flight, freeze, fawn) respons trauma, hal yang kulakukan adalah freeze. Aku membeku, dissociate myself from the world. Salah satu jalannya adalah tentu dengan doomscrolling.
Hal counterproductive ini sayangnya terasa nyaman. Namun, aku paham kalau ini diteruskan tidak akan baik. Overstimulation dari ketidakmauanku menghadapi rasa bosan–terutama sebab saat bosan aku akan berhadapan dengan perasaan dan emosiku yang terpendam–ini tidak baik.
Dalam video di atas, disebutkan kalau rasa bosan saat melamun bisa meningkatkan kreativitas. Saat melamun dan otak tidak dibebani apa-apa, ide-ide kreatif akan lebih mudah muncul. Mungkin, ini salah satu penyebab kenapa dulu aku lebih mudah mendapatkan ide-ide untuk menulis. Sewaktu SMA (saat aku sedang keranjingan belajar menulis cerpen/puisi) aku bisa menghasilkan ide-ide saat perjalanan pulang ke rumah menggunakan angkot. Aku sering mencatat ide-ide itu dulu, sekalipun mungkin eksekusiku cenderung nihil atau payah.
Berada di dalam angkot untuk melamun seperti main character itu mungkin memang stimulasi baik untuk menghasilkan ide kreatif. Sewaktu kuliah, banyak hariku kulalui dengan mengendarai motor. Sekalipun aku bisa agak melamun saat naik motor, pikiranku tidak sepenuhnya bebas sebab aku harus menyisihkan fokusku untuk melihat jalanan. Seorang teman dulu pernah berkata, "Kalau ada opsi untuk naik transum dari kontrakanku ke kampus, aku bakal milih itu. Capek banget naik motor, mana bisa aku menghasilkan gagasan dan ide di kampus kalau pikiranku udah capek duluan di jalan?".
Aku bersyukur kantorku memberikan fasilitas bis antar-jemput, jadi aku bisa mengurangi waktuku untuk fokus berkendara saat commuting dan menggantinya dengan melamun atau istirahat tidur. Namun lagi-lagi, keinginanku untuk kabur realitas itu kadang mengganggu dan aku akan berakhir doomscrolling sepanjang perjalanan. Huff.
Pada akhirnya, secara perlahan dan dengan sadar, aku mesti mengatasi ketergantunganku menatap layar handphone. Perlahan aku mau kembali merasa bosan dan merasa nyaman dengannya dalam keseharianku. Dan dalam upayaku mewujudkan itu, aku mesti perlahan menghadapi apa-apa yang terpendam di dalam diriku. Untuk akhirnya aku bisa berani melakukan itu, aku harus menciptakan lingkungan yang aman dan menyakinkan diriku kalau aku aman, kalau hidup masih layak dijalani dan dipertahankan. Perlahan-lahan, satu per satu.