Make Progress not Excuses.
Sebagai bagian dari makhluk yang perasa, mood swing, melankolis, sensitif maka sebaik-baiknya pengendali adalah dengan ilmu agar tidak melebar ke mana-mana dan menimbulkan mudarat yang lebih besar.
Sebelumnya kamu harus pahami dengan seksama tentang karakteristik dirimu dan orang lain sebagai manusia, di mana telah Allah Subhanahu Wata’ala terangkan dalam QS. An-Nisa’: 28, “Manusia dijadikan bersifat lemah.”, dan QS. Al-Ahzab: 72, “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”
Harapannya dengan memahami ini kamu dapat memanusiakan manusia sebab kamu atau orang lain pasti melakukan kesalahan, menyebalkan atau mengecewakan satu sama lain, itulah default-nya. Allah Subhanahu Wata’ala pun telah memperingatkan di QS. Asy-Syarh: 8, “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
Hal ini seharusnya membuatmu berpikir dengan default manusia yang telah Allah Subhanahu Wata’ala terangkan demikian, lalu apa yang dapat diharapkan? Allah Subhanahu Wata’ala pun telah memberikan panduan sebagai antisipasi dari karakteristik manusia yang diciptakan oleh-Nya, hendaknya hanya kepada-Nya kamu berharap.
Dengan demikian, kamu paham bahwa berhubungan dengan manusia tidak akan selamanya air susu dibalas air jordan melainkan pasti akan kamu temui pula kondisi di mana air susu dibalas air tuba. Dan sudah jelas, hendaknya hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap, dapat dipastikan pula tidak hanya orang lain namun kamu pun akan membuat kesalahan, mengecewakan orang lain, dst.
Dan berlaku tidak hanya untuk orang lain bahkan seseorang yang dianggap dekat atau memiliki hubungan kekerabatan tidak menutup kemungkinan akan berbuat yang demikian sebab tetaplah mereka bagian dari manusia.
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)
Dengan demikian, apa pun yang Allah Subhanahu Wata’ala kehendaki pasti terjadi di antaranya orang terdekatmu melakukan hal yang menyebalkan dan hal tersebut terjadi atas Kemahabijaksanaan Allah Subhanahu Wata’ala yang tentu membawa hikmah, manfaat, pelajaran dan hal positif lainnya.
“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Di sinilah, apabila tauhid yang bermain maka mana mungkin akan kesal, komplain, dsb? Namun, apabila kamu tidak meyakini kaidah tersebut maka akan mudah terpancing dan rauwis-uwis.
Sebagaimana dikatakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Aku membantu Nabi shallallahu alaihi wasallam selama 10 tahun. Selama itu, beliau tidak pernah mengucapkan padaku ‘Ah’ sekali pun. Beliau tidak pernah mengomentari sesuatu yang kulakukan dengan mengatakan, ‘Mengapa kau lakukan ini?’. Dan sesuatu yang tidak kulakukan, ‘Mengapa kau tinggalkan ini?’.” (HR. At-Tirmidzi)
Mengapa hal demikian dapat terjadi? Sebab tauhid beliau bahwa apa yang dilakukan oleh Anas itu semuanya dalam lingkup apa yang Allah Subhanahu Wata’ala kehendaki pasti terjadi maka akan terjadi dan yang tidak terjadi pun tidak mungkin terjadi.
Dan apa yang terjadi tidak mungkin terjadi kecuali atas Kemahakuasaan Allah Subhanahu Wata’ala dan di waktu yang sama yang berkuasa tersebut adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang ketika menghendaki sesuatu pasti ada hikmahnya walaupun kamu tidak mengerti dan ketidakmengertian inilah yang membuatmu kadang meresponnya dengan marah-marah.
Culture dunia ilmu adalah sebuah dunia yang isinya penahan-penahan amarah. Ini tidak mudah butuh waktu namun harus ada progresnya. Dengan mengikuti kajian, mendengarkan keterangan Ulama diharapkan dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk menahan amarah lebih baik lagi dari sebelumnya atas seizin Allah Subhanahu Wata’ala.
Ahli ilmu adalah orang-orang yang senantiasa berusaha untuk menahan ketidaknyamanan yang lahir dari manusia. Perlu ditekankan dari awal bahwa prinsip yang dibangun adalah sabar dalam menahan ketidaknyamanan, gangguan atau sesuatu yang menyakitkan.
“Seorang Mukmin yang berinteraksi dengan manusia dan bersabar atas ketidaknyamanan yang mungkin terjadi ketika berinteraksi lebih baik dibanding seorang Mukmin yang tidak berinteraksi dengan manusia sebab tidak sabar terhadap gangguan mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
Seorang ahli ilmu harus sabar menghadapi ketidaknyamanan yang mungkin saja terjadi di keluarga, rumah tangga, lingkungan, dsb dan perlu meminta pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala sebab tidak mudah.
Salah seorang Ulama saja perlu melatih dirinya selama 10 tahun untuk belajar diam atau tidak terpancing. Dan hasilnya atas pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala beliau tidak pernah mengucapkan 1 kata pun ketika dirinya marah yang akan disesalinya ketika marah itu reda.
Adapun tipe orang yang apabila sedang marah inginnya dipahami tanpa diungkapkan. Padahal tidak semua orang peka dan tiada hati yang dapat diterka dalam artian adakalanya bagi si A kata-katanya biasa saja namun ternyata bagimu kata-katanya membuat tersinggung.
Kamu tidak mengungkapkan padanya apabila kamu tidak berkenan dengan kata-katanya dan justru menceritakan kepada orang lain namun kamu berharap dia meminta maaf padamu. Tentu hal ini tidak akan menemukan titik temu.
Terbuka adalah kunci bagi keduanya, apabila tidak berkenan, katakan. Kesal, bicarakan; dengan cara yang baik. Biasakan untuk mengungkapkan, tiadakan menggunakan sandi morse atau silent treatment agar tidak panjang urusan dan hal-hal yang tidak berkenan bagimu dapat tersampaikan dengan baik.
Bagi yang ditegur pun harus membuka hati, “Oh, oke bisa jadi memang saya salah.”, dengan orang lain memberitahu tandanya sayang dan ingin memperbaiki, minta maaf jangan kemudian jadi marah balik atau menjauh.
Dan hindari mengungkapkan dengan cara meledak-ledak. Jika kamu melakukan kesalahan tentu inginnya dinasihati dengan lemah-lembut, baik-baik ya kan? Maka terapkan hal ini pula pada orang lain, semisal suamimu yang melakukan kesalahan, bicarakan baik-baik dan gunakan bahasa yang tepat, substansi yang tepat, waktu yang tepat serta tempat yang tepat.
Jika tidak memperhatikan kondisi tersebut, ditambah kamu mengungkapkannya sambil teriak-teriak bukan tidak mungkin akan menimbulkan kemungkaran yang lain, KDRT misalnya. Nasihat bagi seorang istri apabila suami marah, diam dan minta maaf, “Tetapi saya tidak salah, dia yang salah. Mengapa saya harus diam?”
Dia salah, oke. Mengecewakan, betul. Apa tujuanmu? Untuk memperbaikinya atau menambah kacau? Jangan mengingkari kemungkaran dengan menimbulkan kemungkaran yang lain. Selesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah. Apabila suami marah, istri diam dan sebaliknya. Seseorang yang sedang marah tidak dapat menerima nasihat dan dia pun tidak dapat memberi nasihat sebab dia sedang bermasalah dengan dirinya maka jangan meladeninya.
Sebuah analogi sederhana dari ujian Matematika, dengan 10 soal, kamu salah 1 di nomer 3, seorang guru akan menandai dengan tanda (X) yang artinya salah di nomer 3 bukan? Ada rasa menyayangkan, mengapa salah? Padahal sudah diajarkan berulang kali. Namun, di sisi lain ada rasa bangga pula sebab salahnya hanya 1.
Objektif bukan? Salah di nomer berapa, itu yang disalahkan. Namun, sebaliknya di kehidupan, semisal suamimu membuat kesalahan berulang-ulang (5X), coba bandingkan dengan kebaikan-kebaikannya? Apakah 5X kesalahannya (bukan yang fatal) tersebut dari kebaikan-kebaikannya relatif lebih banyak/lebih sedikit yang mana? Sering kali tidak fair di sini, oke, beliau salah namun bukan berarti kebaikan-kebaikannya dilupakan.
Untuk itu, apabila kesalahan suamimu 1 maka jangan melebar ke mana-mana, kemudian perlu dicermati pula dari kesalahannya yang 1 tadi tentu kebaikan-kebaikannya pun lebih banyak bukan? Kesalahannya dikoreksi, kebaikannya diapresiasi. Dan ketika hawa nafsu yang bermain, sebagaimana dikatakan oleh Ulama, “Apabila mata sudah tidak suka maka semua akan terlihat salah.”
Kamu menikahi manusia, kamu pun bagian dari manusia, setiap anak Adam ‘alaihis salam pasti melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya upaya untuk tidak mengulangi kesalahan dengan menuntut ilmu, salah satunya atas seizin Allah Subhanahu Wata’ala.
Perfectly imperfect but don’t make excuses; make changes :)
Pencerahan dari kajian Ust. Muhammad Nuzul Dzikri hafidzahullah, Ust. Syafiq Riza Basalamah hafidzahullah, #TuturKata, dsb.