Perjuangan, Persahabatan, dan Indonesia
“Saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang, tapi beringin lain akan menggantinya. Saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling, tapi batu lain akan menggantikannya.” -Pattimura.
Saya percaya akan sebuah teori bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang memiliki regenerasi yang baik pula. Melalui program pemberian beasiswa, saya juga yakin bahwa (entah disadari atau tidak) pemerintah Indonesia percaya akan teori ini. Tulisan ini merupakan cerita tentang suatu proses regenerasi bangsa yang sarat akan nilai perjuangan, persahabatan, dan kecintaan akan Indonesia.
Dalam kurun waktu lebih dari 2 bulan, saya diharuskan untuk berinteraksi dan mengerjakan tugas-tugas yang jumlahnya ratusan bersama dengan orang-orang yang tidak saya kenal, yang juga menjadi calon penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Saya diperkenalkan melalui dunia maya dengan orang-orang yang tergabung dalam suatu program yang dinamakan Program Keberangkatan (PK), dan 126 orang lainnya yang tergabung dalam kelompok ini kemudian disebut sebagai peserta PK angkatan ke-59. Kami dibebankan berbagai tugas yang mengharuskan kami berinteraksi melalui dunia maya, dan juga (pada akhirnya) terkadang melalui pertemuan langsung. Salah satu tugas kami adalah memberi nama angkatan ini, agar kami dapat dilihat menjadi satu kesatuan. Kami memilih nama Pramudya (Para Muda Indonesia Berkarya) menjadi nama angkatan kami.
Remeh, itu pikiran awal saya. Saya hanya ingin mengerjakan tugas-tugas ini, bersama wajah-wajah yang tidak familiar ini, secepat mungkin, menyelesaikan PK sebaik mungkin tanpa harus berpikir apa-apa dan kembali ke kehidupan ‘normal’ saya.
Kemudian, siapa sangka keremehan yang saya sudah bangun pada awalnya, pelan-pelan bergeser menjadi suatu perasaan heran dan menjadi satu dengan bangga. Suatu siang di hari Minggu tanggal 6 Maret 2016, saya perhatikan satu persatu anggota kelompok baru saya ini. Kegiatan resmi dari LPDP belum lagi dimulai. Saat itu, dari kejauhan saya memperhatikan mereka. Wajah-wajah tidak familiar ini terbagi menjadi enam kelompok kecil. Kelompok-kelompok ini kemudian sering berkumpul untuk menyelesaikan tumpukan tugas, dan kebanyakan adalah tugas yang akan ditampilkan selama kegiatan PK. Mereka berdiskusi layaknya kawan lama. Mereka berbagi ide layaknya kolega kerja tahunan lamanya. Mereka berbagi tawa atas komedi seakan-akan sudah lama bersama.
Hari berganti hari, materi demi materi pun diberikan kepada kami. Kami diajarkan untuk mengedepankan integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan. Kami diajarkan untuk disiplin akan waktu, komitmen akan tindakan, dan kontribusi akan ilmu kami. Kami diingatkan akan kecintaan kami atas Indonesia. Kami diingatkan akan cantiknya tanah yang kami jejaki. Kami dipersiapkan untuk menjadi pemimpin berkaliber untuk bangsa ini. Setiap kali materi berakhir, hanya satu yang ada di pikiran saya: apa yang sudah saya lakukan untuk berkontribusi?
Pelan-pelan, perasaan heran tumbuh menjadi perasaan bangga. Wajah-wajah itu tidak lagi asing. Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah yang karena takdir Tuhan dipertemukan untuk bersatu menjadi aset bangsa. Wajah-wajah itu yang diharapkan untuk merangkul satu sama lain untuk membangun negara. Wajah-wajah itu yang akhirnya belajar bahwa tujuan kami pada akhirnya bukanlah semata-mata menyelesaikan PK, bukanlah semata-mata mengenal satu sama lain tanpa arti, tetapi wajah-wajah itu lah yang akhirnya belajar bahwa ini adalah analogi dari perjuangan untuk pengembangan bangsa.
Enam hari, tanpa pulang ke rumah, yang saya lalui kemarin bersama 126 orang calon pemimpin bangsa, hanyalah sebuah gerbang perjuangan. Enam hari itu hanya lah kunci untuk menyadarkan kami akan kecintaan kami terhadap Indonesia. Tetapi karena enam hari itu lah, yang saya harapkan jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, bisa menjadi awal dari persahabatan agar kami dapat bergandengan tangan kedepannya untuk berkontribusi bagi generasi selanjutnya.
Setelah enam hari itu lah, suatu proses regenerasi bangsa telah dimulai. Setelah enam hari itu lah, saya pulang ke rumah dan tersenyum mengingat perjuangan kecil kami untuk membangun karakter masing-masing demi menjadi pemimpin bangsa. Setelah enam hari itu lah, saya menemukan calon-calon sahabat baru dengan tujuan yang sama. Setelah enam hari itu lah, saya bisa mengubur pikiran remeh saya akan program ini. Setelah enam hari itu lah, saya percaya bahwa Indonesia punya pejuangnya yang siap mengabdi untuk dirinya.
Terima kasih, Pramudya. Sampai jumpa lagi dalam pengabdian kita untuk Indonesia.













