23.32 : Pemantik
Luang, kata sifat yang sampai kini masih saja belum mau bersanding dengan waktu milik kawan-kawan karibku. Hingga, selalu, kami dipaksa untuk merindu. Seperti malam ini, hanya 9045 detik (mungkin lebih sedikit) dari waktumu yang bisa kau luangkan untuk duduk menjamuku. Sengaja kugunakan detik dalam satuanku, setidaknya itu akan terbaca lebih panjang dibandingkan kalau kukatakan 2,5 jam.
"Makin kesini kok gua makin ngerasa kehilangan drive buat bergerak ye Bang? Rasanya kayak diluar diri gua udah terlalu banyak force gitu, jadinya males aja kalo mau inisiatif. Ya kalo sejalan, kalo berlawanan arah? too much effort euy!" Ucapmu tepat setelah mempersilahkanku duduk di ruang yang (lagi-lagi) tak begitu luang.
Untuk beberapa saat aku terdiam, memilih untuk mengabaikanmu sembari mencoba menyesuaikan diri dengan beberapa perubahan di ruangan ini. Sofa berwarna coklat muda sewarna dengan tembok ruang ini, terasa terlalu empuk untuk pantatku yang buluk. Tepat dihadapanku ada sebuah lukisan perempuan berselendang biru, matching dengan bola matanya yang nampak sendu, yang kecantikannya sangat kontras dengan lusuhnya pengawal penandu singgasananya. Selebihnya masih sama, aroma lembab ruangan ini, suasana hening dan ketenangan yang tak pernah luput tersajikan, dan tentunya kehadiranmu dengan segala resah yang sepertinya tak mengenal kata sudah.
"Yeee, malah dikacangin. Dikira gua sate kali. Lu mau minum apa? Kopi? Teh? Apa soda gembira?"
"Kopi item, nggak pake gula sama rokok surya 1 pack" untuk urusan ini tak mungkin aku mengabaikanmu. Kopi dan rokok adalah 2 dari 3 hal esensial saat bertemu denganmu, tentunya yang ketiga adalah bualanmu tentang apapun itu.
"Si setan, cepet amat kalo urusan sajen!" Umpatmu sembari meninggalkanku menuju warung kopi diseberang rumahmu.
Tuhan selalu memiliki cara yang unik untuk mempertemukan, seringkali tak terduga dan penuh kejutan. Begitu pula dengan memisahkan. 9 tahun lalu kita dipertemukan oleh perpaduan apik antara kemiskinan dan kerasnya tekanan hidup di kota metropolitan. Kita berdua adalah pelanggan setia gorengan Cak Ri saban pagi. Kala itu sarapan nasi adalah kemewahan bagi kita. Sebagai gantinya 2 biji gorengan, secangkir kopi dan sebatang rokok adalah kunci. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba saja kita sudah berkawan, berdiskusi dan bertukar maki setiap pagi sebelum kemudian menjadi saling asing lagi hingga esok hari. Begitu seterusnya sampai 3 tahun kemudian kita bertukar kontak. 3 tahun! Butuh waktu selama itu bagi kau dan aku untuk pada akhirnya beranjak dari zona kawan ngopi belaka. Itupun karena kebetulan resahku dan resahmu bertemu, atas nama kemanusian (mmmm, kebodohan deh kayaknya) saat itu kita memutuskan untuk turun ke lapang. Sebelum pada akhirnya kita berpisah, karena aku terburu muak dengan kemunafikan orang yang katanya memperjuangkan. Sementara kau masih keukeuh, memperjuangkan hal yang bagiku hanya dagangan.
"Ngelamun bae, nih kopi ama rokok lo!" Ujarmu membuyarkan lamun nostalgiaku.
"Gimana hidup? Masih nggelandang aje lo ya?" tanyamu.
"Nah gitu dong pertanyaan, nanyain kabar dulu, basa-basi dulu. Masak belum apa-apa udah ditanyain driving force. Lha dipikir aku Jedi." Jawabku sambil menyalakan sebatang rokok darimu.
"Alhamdulillah jeh, masih banyak yang bisa tak syukuri. Ya terlepas dari ketidakstabilan ekonomi, ketidakpastian status sosial dan keterasingan karena mulai banyak yang meninggalkan, semuanya bisa dirasa menyenangkan. Justru semua kondisi itu yang pada akhirnya memantik egoku yang selalu pengen jadi point of interest, egoku atas pengakuan serta egoku atas kebebasan. Jadinya nggak sampe kehabisan internal force deh. Nggak kayak temenku, menyamankan diri dalam segala macam kepastian. Kalo udah suntuk aja baru sambatan. Wkwkwkwk"
"Eh, kok ngelamak. Ditanyain kabar malah nyindir, nyinyir aje lo!" Sahutmu yang menangkap maksud dari ucapanku barusan.
"Lah situ mulai duluan, aku bukan nggelandang cok. Aku ini petualang, PE TU A LANG! Hamba Tuhan yang bertugas untuk menggaungkan keindahan dan kebebasan!"
"Petualang profesional itu nggak pernah merepotkan. Selalu mempersiapkan bekal untuk setiap perjalanan. Petualang profesional nggak akan memasukkan faktor keberuntungan dalam perjalanan. Ia memfokuskan diri pada apa yang bisa ia usahakan, pada apa yang bisa ia genggam, juga pada apa yang bisa ia lakukan untuk mengembangkan cakupan genggaman. Itu baru petualang!" Ujarmu tak mau kalah.
Sesaat kita terdiam. Saling memandang, hanya terhalang asap mengepul yang mulai memenuhi ruang. Sepersekian detik hingga akhirnya meledaklah tawa kita berdua.
"Wkwkwkwk, si anjing. Kangen gua cuk. Nginep sini ya. Lu belum pesen hotel kan? Eh duit darimana lu mau pesen hotel? Wkwkwkwk. Gua tinggal jemput bini bentar, lu mandi aja dulu abis itu ganti baju, ambil aja di tempat biasa" ujarmu.
"Males ah mandi, tak cuci muka aja. Ntar abis sebat. Udah sana berangkat. Jangan sampe gara-gara jemput telat bini minta pegat." Sahutku padamu yang sudah sibuk mencari kunci mobilmu.
Ucapku tak kau hiraukan lagi, nampak tergesa kau menuju mobilmu. Tetiba saja senyum mengembang dibibirku. Sisi ini yang kusuka darimu, kepiawaianmu dalam mengekspresikan rasa sayang. Hal-hal kecil tak pernah luput kau perhatikan. Seperti sekarang, kau bergegas berangkat menjemput istrimu, karena kau tak rela membuat ia menunggu. Seperti tadi saat kita berbincang, seutuhnya aku paham, bahwa setiap ucapmu adalah harapan. Harap tulus yang sewaktu-waktu bisa kau konversikan menjadi laku kala aku sedang buntu.
Terima kasih Tuhan, terima kasih telah menjaganya dalam jalan cinta. Terima kasih telah membuatnya tak berubah, ditengah segala macam godaan untuk goyah. Terima kasih pula, untuk membuatku semakin sadar bahwa aku tak pantas menjadi apapun, aku tak layak menjadi siapapun.
Segera kuseruput habis sisa kopi di cangkir putih bergambar ayam jago yang sangat ikonik ini. Kumasukkan sisa rokok kedalam tasku dan beranjak keluar dari rumahmu, menguncinya dan meletakkan kuncinya ditempat biasa kau meletakkannya.
"Sampai jumpa, sejumpa-jumpanya. Tak perlu tergesa. Semoga saja kesempatan berjumpa itu akan ada" tanpa sadar aku bergumam sambil berjalan semakin jauh dari rumahmu.
Gemerisik daun yang dibelai angin malam menjadi melodi yang mengiringi langkah kakiku. Tak tentu arah yang ku tuju. Masih belum tentu juga hal apa yang sebenarnya ku tuju. Untuk sementara, biar saja kakiku yang menjadi nahkoda. Sampai gundah tak lagi bermukim di jiwa, sampai tenang kembali menyapa.












