Post Crisis Dakwah Kampus
Pandemi mau tak mau banyak sekali merubah kebiasan manusia, terutama aktivis dakwah. Dari nyamanya forum daring, minim mobilitas, progam kerja, bahkan dalam aspek militansi dakwah.
Mas-mas @sorotbalik berpendapat bahwa pandemi kemarin adalah sebuah masa krisis DK yang memunculkan banyak masalah dan selanjutnya bagaimana mitigasi kita menyelesaikanya di fase post crisis DK.
Satu mindset awal yang harus kita pahami, bahwa setiap progam kerja yang dilakukan haruslah bertujuam untuk merekatkan ukhuwah antar kader. Lakukanlah mabit, lokakarya, rihlah, atau agenda lainya yang tujuanya merekatkan satu sama lain, menyamakan persepsi diawal.
Jangan sampai kedepan bingung lembaga mau dibawa kemana, qiyadah kurang jelas arahan, jundinya kurang tanggap, karena ghiroh saja tak cukup.
Kedua, perkuat silaturahmi antar sesama kader. Kalau sebelumnya secara komunal, di fase ini harapanya bisa lebih intens antara person to person, ikhwan-ikhwan dan akhwat-akhwat.
Atau bisa juga antara ketua dengan kabid-sekbid, dalam upaya ejawantah visi-misi lebih mendetail kalau perlu secara teknis. Ini penting dilakukan di awal.
Ketiga, semangat untuk terus belajar secara bersama-sama. Menurut kacamata pribadi, dalam aspek litbang dakwah kadang menjadi hal yang kurang diperhatikan. Sesederhana membuat survey publik akan persepsi dakwah, pendekatan dengan mad'u secara fardiyah, yang kadang dari data yang dikumpulkan bingung mau diolah seperti apa.
Jangan sampai progam kerja yang kita hadirkan hanyalah asumsi-asumsi pribadi, yang terkadang kurang relate dengan lapangan. Atau menyusun progam kerja berdasar tahun kemarin seperti ini, tahun ini kita lanjutkan saja tanpa analisis kritis yang mendalam serta renstra yang jelas. Sekali lagi, dakwah bukan hanya ghiroh semata.
Terakhir, giatkan kembali konsolidasi langit. Tentu mafhum bersama bahwa kekuatan ADK adalah amal harianya. Jangan sampai kita membicarakan masalah umat, namun sholat subuh keteteran, masbuk jadi andalan, tilawah kalau ingat, dan lain sebagainya. Jangan sampai.
Kita bergerak mencari ridho Allah. Maka ikhtiarkan keberkahan dalam setiap langkahnya.
Giatkan kembali gerakan subuh jamaah nasional, al-kahfi bersama, mabit, iftar jamai, dan agenda-agenda yang mengantarkan kepada ketaqwaan dan keberkahan.
Selanjutnya, dalam upaya menjaga keberkahan juga, hindari hal-hal yang sifatnya membuka aib pribadi dengan oversharing di media sosial. Kita jaga izzah kita sebagai representasi izzah umat.
Hindari ikhtilat. Jangan berlindung dalam alasan bonding dan foto apresiasi, yang justru berpotensi menghadirkan vmj-vmj baru, mencari kesempatan dalam kesempatan juga. Oke zaman sudah berubah, tapi batasan harus tetap dijaga.
Coba sedikit renungi surat As-Shaff ayat 10-13 :
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang besar.
Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Manusia hanya berikhtiar, Allah yang menentukan hasilnya.
Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi Ala Diinik
#MenujuRamadan #MenyambutGemar