Sebuah Pengakuan
Entah bagaimana harus menyikapi awal tahun yang belum apa-apa aku sudah lebih terdahulu merasa lelah dan muak. Bulan Januari yang diselimuti kehampaan.
Berbagai hal yang menyakitkan tiba-tiba datang bertumpang tindih menindih tubuh ini yang sebenarnya sudah cukup banyak memikul beban.
Diri ini berkali-kali mengeluhkan lelah.
Aku masih bisa bertahan saat itu, namun benar saja masalah lain datang, padahal yang sedang aku pikul saja belum selesai.
Lelah itu berbuah menjadi muak. Meski muak itu berkecamuk, diriku yang sudah didoakan banyak orang untuk tumbuh kuat dan sabar ini masih mampu memikulnya, hingga aku tiba dipenghujung pasrahku. Aku yang menurut orang adalah sosok yang tangguh dan sabar akhirnya tumbang dan tak sanggup berdiri.
Entah kuat bagian mana yang orang lihat dari aku yang sebenarnya sudah rapuh ini?
Aku lelah pada dunia yang berjalan tak mengiringi langkahku. Bagaikan didunia ini, tak ada cahaya. Aku berjalan di kegelapan yang tentu saja aku tak dapat melihat jika kaki ini terus menginjak masalah.
Ditengah pencarianku atas jawaban “Mengapa masalah ini tiba-tiba menghujami ku?”, aku tersadar. Ternyata akulah yang menjadi alasan mengapa dunia tak memberi cahayanya untukku.
Ternyata, akulah pembuat dosa yang hebat namun tak mengakui semua kesalahanku. Aku lari dari Tuhanku. Aku lalai dalam mencintai-Nya. Aku sudah sejak lama tak bergantung pada-Nya.
Sungguh aku adalah manusia yang tak tahu diri.
Teringat disuatu masa saat aku berdoa. Aku merasa bahwa aku telah melangkah menjauh dari-Nya, aku memohon dan meminta agar didekatkan kembali pada-Nya.
Inilah jawaban dari doaku..
Didekatkannya aku kembali kepada-Nya, melalui masalah-masalah yang Dia beri untukku.
Sungguh Kasih-Nya, Cinta-Nya, dan Ampunan-Nya tak terbatas.
Ampunilah diri ini, Yaa Allah.
Kuatkanlah kembali langkahku untuk menghadapi segala ujian Mu. Sungguh, didunia yang gelap ini, Aku percaya bahwa cahaya-Mu akan segera datang menyinari langkahku.















