TUHAN berkata kepada Abram, "Tinggalkanlah negerimu, kaum keluargamu dan rumah ayahmu, lalu pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan memberikan kepadamu keturunan yang banyak dan mereka akan menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau dan membuat namamu masyhur, sehingga engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan karena engkau Aku akan memberkati semua bangsa di bumi." Abram berusia tujuh puluh lima tahun ketika ia meninggalkan Haran, sesuai dengan perintah TUHAN kepadanya. Abram berangkat ke tanah Kanaan bersama-sama dengan Sarai istrinya, dan Lot kemanakannya, dan segala harta benda serta hamba-hamba yang mereka peroleh di Haran. Setelah mereka tiba di Kanaan, Abram menjelajahi tanah itu sampai ia tiba di pohon keramat di More, yaitu tempat ibadat di Sikhem. (Pada masa itu orang Kanaan masih mendiami tanah itu.) TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berkata kepadanya, "Inilah negeri yang akan Kuberikan kepada keturunanmu." Lalu Abram mendirikan sebuah mezbah di situ untuk TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Setelah itu ia meneruskan perjalanannya ke selatan, ke daerah berbukit di sebelah timur kota Betel, dan berkemah di antara Betel dan kota Ai: Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur. Juga di situ ia mendirikan mezbah dan menyembah TUHAN Kemudian ia meneruskan lagi perjalanannya dari satu tempat ke tempat berikutnya, menuju ke bagian selatan tanah Kanaan.
“Setelah beberapa saat Terah tidak tenang juga, dia bertanya, “Abram, bukankah engkau masih percaya pada ilah-ilah kita?”. “Maafkan aku Ayah, kurasa aku tak percaya lagi....” Itulah sepenggal percakapan dalam buku Nico Ter Linden Cerita itu Berlanjut [1]mengenai Abram sebelum dia pergi dari Ur-Kasdim ke Kanaan. Jarak yang sangat jauh. Sementara, kampung halamannya, Haran, sangatlah baik dan menjadi pusat peradaban: menjadi awal penulisan kitab suci dan kota-kota pertama di dunia didirikan.
Semuanya bermula dari sebuah kegelisahan. Gelisah karena mendengar satu suara. Abram bertanya dan ingin Suara itu menjawab pertanyaan, mengapa begini dan begitu dalam hidup? Di antara sekian banyak manusia di bumi yang percaya saja dengan omongan orang, Abram adalah seseorang yang gelisah dengan makna hidup: asal mula iman. Dia percaya segala sesuatu pasti ada Penciptanya. Bukan ilah-ilah yang dibuat bapaknya dan dijual di pasar. Dia tahu ada yang tidak beres dengan “kediaman” dan “kepasrahan” manusia zamannya. Dia ingin mencari tahu dan itu yang menggerakkannya menuruti Suara itu.
Kita yang berjalan bersama dengan Abram ibarat ada di sebuah garis lurus. Sebuah garis yang terus melaju ke depan dan bukannya berputar di sana sini. Sebuah perjalanan menemukan iman. Perjalanannya Abraham, perjalanannya bangsa Israel, dan saya tidak tahu, apa itu juga jadi perjalanan bapak, ibu dan saya atau tidak?
Pasti ada sebuah alasan, mengapa Abraham pergi dari kampungnya. Dan, itu bukan untuk kembali lagi, melainkan mendongak ke atas, menerima semua janji dari Suara yang telah bersabda kepadanya. Meski, Abraham tidak pernah melihatnya, dia percaya pada Suara itu. Kepada-Nya, dia menyerahkan hidup dan masa depannya, membawa istri dan keponakannya, menerima semua perjanjian yang dibuat dengan Suara itu dan dirinya: bahwa dia akan beranakcucu banyak sekali dan keturunannya akan membawa berkat. Entah mengapa Abraham rela dan menjadi percaya?
Perjalanan iman Abraham tentu saja tidak selalu sempurna. Tapi panggilan awalnya bersama Allah, Sang Suara menjadi sebuah awal menarik untuk memperkenalkan kita pada iman monotheisme (percaya satu Allah). Semua orang percaya pada ilah: patung yang bisa mengendalikan hujan dan angin, tapi lahir dari tangan manusia dan bisa dibawa-bawa. Abraham adalah satu-satunya orang yang berpikir berbeda. Dia membuat seisi surga gemetar karena kegelisahannya dengan sang Pencipta.
Kita, sekarang hidup di tengah bangsa beragama. Kita sendiri, umat Kristen percaya pada satu Allah saja. Tapi, apakah kita terus berjalan lurus seperti Abraham dan terus menerus berusaha menemukan iman kita? Atau, malah berhenti di tengah jalan seperti Terah, dihadang ketakutan luar biasa di masa depan, dan mulai ada keraguan?
Tanpa keberanian plus sedikit rasa penasaran seperti Abraham, tidak mungkin kita bisa menggenapi janji Allah mencapai Kanaan. Tidak mungkin bisa rela menuruti Suara itu berjalan di dunia yang luas dan penuh kejutan. Meski, ada janji Allah: bahwa keturunan Abraham akan diberkati Allah luar biasa: jika terus mencari Allah dan bergumul dalam iman.
Ada di barisan mana anda dan saya?
Jika anda tahu, kita ada di arak-arakkan ini, bukankah harusnya kita rela hati, ridho mencari dan ikhlas menjalani. Kenapa? Kita tahu, masa depan gilang gemilang menanti di ujung sana. Bagi para pencari Tuhan, seperti Abraham.
[1] Nico Ter Linden, Cerita itu Berlanjut...:Cara Baru Membaca Kitab Taurat (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), 44 .










