ya Allah, buat aku lebih banyak menangis karena dosa-dosaku daripada karena luka-lukaku. ampuni aku dan sembuhkan aku ya Allah. ya Jabbar, Engkau Maha Perkasa dan Maha Berkehendak.

roma★
Claire Keane
d e v o n

Kaledo Art

★
Sweet Seals For You, Always
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Product Placement
Cosimo Galluzzi
NASA
Not today Justin
I'd rather be in outer space 🛸
DEAR READER
untitled
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

if i look back, i am lost

shark vs the universe

ellievsbear
we're not kids anymore.
Mike Driver
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from Venezuela
seen from Mexico
seen from Mexico

seen from Mexico

seen from Bangladesh

seen from Mexico
seen from Mexico
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia
seen from United States
@dinanurhayati
ya Allah, buat aku lebih banyak menangis karena dosa-dosaku daripada karena luka-lukaku. ampuni aku dan sembuhkan aku ya Allah. ya Jabbar, Engkau Maha Perkasa dan Maha Berkehendak.
Kita sering mendengar: “Hidup itu sekali, jadi nikmatilah”.
Tapi kadang lupa bahwa: “Akhirat itu abadi, jadi persiapkanlah”.
-Adzkia N
Banjarmasin, 14 Agustus 2023 pukul 21.25 WITA.
Percayalah, disaat engkau ikhlas dengan keadaanmu, disitulah Allah merencanakan kebahagiaan untukmu. Allah amatlah mampu mengubah situasi paling terpuruk menjadi momen terbaik dalam hidupmu.
Dr. Syafiq Riza Hasan Basalamah, Lc., M.A. حفظه لله تعالى
Dari banyaknya kemungkinan-kemungkinan perihal masa depan, satu-satunya yang pasti hanyalah kematian.
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Tidak semua yang berangkat pagi pulang malam itu mengejar dunia, tidak semua yang memutuskan merantau jauh juga gila dunia. Perlu kita garis bawahi, bahwa; kita tidak tau apa-apa tentang tujuan dan target hidup mereka. Dan kita juga tidak pernah tau bagaimana rapihnya mereka menyembunyikan ibadah mereka. Maa syaa Allah~
Kita sepakat, kan? Kalau ibadah haji, umroh, berkurban, infaq dan shodaqoh juga memerlukan harta dunia. :”)
Ya Allah, mampukanlah kami meletakan dunia itu dalam genggaman tangan kami dan akhirat dalam jiwa kami. Aamiin Allahumma aamiin.. :”)
Ramadan #12
Beberapa orang yang kita kenal mungkin telah tiada, meninggalkan dunia ini lebih dulu. Padahal, rasanya baru kemarin kita bercengkerama, berbagi kabar, atau hal lainnya yang membuat kita teringat bahwa pernah ada masa dimana kita dan mereka pernah tidak hanya bertemu, tapi juga berteman.
Kematian memisahkan sekaligus menyadarkan bahwa kematian tidak menunggu usia tua. Tidak menunggu sakit. Semuanya bisa terjadi seketika. Dan kita masih merasa bahwa hidup masih akan lama. Terlena.
hari yang berat.. tidak ada yang tersembunyi.. dan tidak ada penolong kecuali mereka yang Allaah rahmati..
Lelah sekali rasanya jika semua harus soal dunia, selalu perihal untung dan rugi.
Kemarin, ada hati yang sakit oleh keadaan dunianya, entah patah oleh rezeki yang tak kunjung membaik, atau sakit karena jodoh yang tidak tiba padahal usia sudah semakin bertambah.
Dan kini semua membaik, sebab menyerahkan semuanya pada pemilik waktu dan dunia. Hati dan harinya tenang, ia sekarang hanya bisa melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan.
"Perihal waktu dan masa depan, ia serahkan saja pada pembuat skenario terbaik. Allah."
Ternyata, setenang itu menyerahkan segalanya pada Allah, sebab ada bagian dan sisi kehidupan yang tidak bisa kita ikut campur, kita hanya bisa berprasangka baik dan melakukan yang terbaik dari amal-amal yang bisa kita pilih dan kerjakan.
Semoga, Ramadan ini menjadi obat, untuk setiap hati patah dan rapuh tersebab dunia dan keadaannya. Bukankah sebaik-baik obat adalah takdir yang diberikan dan disajikan oleh Allah? Ramadan dan obat terbaik.
@jndmmsyhd
Ramadan #13
Melanjutkan tulisan sebelumnya soal kematian. Kemudian disambung sama ayat terakhir dari An Naba ini. Bergidik.
Saking dahsyatnya kondisi pada hari kiamat nanti, saat orang-orang yang tidak beriman melihat adzab di depan mata, mereka bahkan berpikir lebih baik dulu menjadi tanah. Saking dalamnya penyesalan sekaligus rasa takut.
Merasa tidak jika waktu terasa semakin cepat di usia dewasa ini, serasa melesat, bahkan ramadan berlalu begitu saja. Seperti baru tahun kemarin ramadan, sudah ketemu ramadan lagi. Dan tahun ini adalah ramadan ke-33 ku dalam hidup.
Dunia yang sering dikhawatirkan ini soal rezeki, soal pencapaian, dsb. Semuanya bisa hancur dan hilang. Mulai menata, mulai berpikir lagi tentang makna dan tujuan hidup. Mulai memilah mana yang lebih prioritas dan tidak. Mulai merasa bahwa hidup ini sangat singkat, terlalu singkat jika harus digunakan untuk mengejar sesuatu yang nantinya akan hancur dan hilang.
Mulai berpikir, bagaimana bisa melepaskan keterikatan dengan dunia ini. Agar hati menjadi lebih tenang. Agar prioritasnya mempersiapkan diri untuk ke kehidupan berikutnya.
Sudah tidak tertarik dengan pencapaian dunia. Mati rasa ketika teman persebayaan mencapai ini-itu. Pintaku hanya satu; yaAllah, berikanlah aku ketentraman hati dan kecintaan untuk melakukan ibadah wajib ataupun sunnah.
Karena kehilangan yang paling membuat rapuh adalah ketika nikmat ibadah telah tercabut.
Maafnya Allah beda.
Ramadan #29
Cawan hanya akan mengeluarkan apa yang menjadi isinya. Kalau isinya air, maka yang akan tertuang adalah air. Kalau isinya kopi, yang tertuang juga kopi. Isinya susu, yang akan tertuang juga susu.
Seperti itulah kita melihat ke diri sendiri, selama ini apakah yang keluar dari pikiran, lisan, dan tindakan kita. Kalau sulit melihatnya, minta orang lain untuk melihat diri kita sendiri seperti apa, apa yang mereka lihat dan rasakan selama ini tentang diri kita sendiri.
Jangan-jangan selama ini, kita tertipu dengan diri. Merasa diri sudah baik, ternyata yang keluar dari dalam diri kita adalah muntahan-muntahan kalimat negatif, pikiran negatif nan pesimis, kasar, kalau bicara tidak mampu memfilter kata-kata, dan tetap merasa diri telah berbuat hal yang benar dan membenarkan karakter diri yang demikian.
Astaghfirullah hal adzim.
Di salah satu kajian Ust. Adi Hidayat, saya pernah teringat bahwa salah satu ciri orang beriman itu tenang, tidak hanya dirinya. Tapi membuat orang-orang di sekitarnya juga tenang ketika bersamanya. Ini bikin refleksi lagi, apakah selama ini orang-orang disekitarku merasa terusik dan tersakiti oleh perilaku/lisanku dalam ketidaksadaranku? Atau mereka merasa tidak nyaman ketika berkomunikasi? Dan rasa-rasa lainnya.
Memang paling benar sebelum kita menilai orang lain, mari belajar untuk menilai diri sendiri. Khususnya di bulan ramadan yang penuh dengan refleksi diri ini.
Semoga kita semua bisa menjadi cawan dengan isi yang baik, sehingga apa-apa yang keluar dari diri kita adalah hal-hal baik, diterima oleh orang-orang di sekitar kita juga hal yang baik dan bermanfaat.
Aamiin
Ramadan #27
Hanya karena seseorang pernah berbuat salah dalam hidupnya, bukan berati seluruh hidupnya buruk. Sehingga kita merasa tidak layak untuk belajar dari mereka, menganggap mereka sebagai orang yang harus dihindari bahkan dibenci. Itu sama saja kita menutup diri dari kebaikan-kebaikan yang dimiliki oleh orang lain yang sebenarnya bisa saja sebelumnya bisa kita dapatkan dengan sangat amat mudah. Tapi kita buang begitu saja.
Jangan sampai diri ini menjadi diri yang sombong karena merasa layak untuk menghukum dan menghakimi orang lain hanya karena ada satu hal yang kita tidak sukai/tidak berkenan, apalagi jika hal itu tidak dengan terbuka dan sampaikan secara langsung, hanya memendamnya di dalam hati dan pikiran, menjadi rasa benci, hasad, dan pikiran-pikiran yang buruk.
Jangan sampai rasa kecewa kita terhadap orang lain yang mungkin tidak mereka sadari telah mereka lakukan, membuat kita merasa benar untuk menganggap bahwa mereka adalah orang yang buruk. Padahal barangkali, diri kita tidak pernah lebih baik dari mereka. Kita hanya tidak tahu kebaikan-kebaikan apa yang mereka miliki diam-diam.
Dan selamanya diri kita terjebak pada persepsi hidup kita sendiri, terus merasa benar, tidak bisa menerima nasihat, hati menjadi keras, hidup dengan kesepian, dan terjebak pada lingkaran pikiran-pikiran negatif tentang hidup.
Sementara orang-orang yang kita benci tadi, melesat dengan kehidupannya. Bahkan mereka mungkin tidak pernah tahu jika kita membenci mereka.
Terlalu sering mungkin dalam hidup, kita salah membaca niat baik seseorang. Karena mungkin dalam hidup ini, bahkan kita tidak berniat baik dengan diri sendiri. Menganggap niat baik orang lain pasti ada niat terselubung. Bahkan mungkin sampai curiga kepada Tuhan yang menganugerahkan takdir yang kita jalani. Seburuk itu prasangka yang tumbuh di dalam diri kita.
Lelah sekali rasanya jika semua harus soal dunia, selalu perihal untung dan rugi.
Kemarin, ada hati yang sakit oleh keadaan dunianya, entah patah oleh rezeki yang tak kunjung membaik, atau sakit karena jodoh yang tidak tiba padahal usia sudah semakin bertambah.
Dan kini semua membaik, sebab menyerahkan semuanya pada pemilik waktu dan dunia. Hati dan harinya tenang, ia sekarang hanya bisa melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan.
"Perihal waktu dan masa depan, ia serahkan saja pada pembuat skenario terbaik. Allah."
Ternyata, setenang itu menyerahkan segalanya pada Allah, sebab ada bagian dan sisi kehidupan yang tidak bisa kita ikut campur, kita hanya bisa berprasangka baik dan melakukan yang terbaik dari amal-amal yang bisa kita pilih dan kerjakan.
Semoga, Ramadan ini menjadi obat, untuk setiap hati patah dan rapuh tersebab dunia dan keadaannya. Bukankah sebaik-baik obat adalah takdir yang diberikan dan disajikan oleh Allah? Ramadan dan obat terbaik.
@jndmmsyhd
Doa.
Jangan jadikan uang sebagai orientasi/tujuan. Nasihat yang dulu kujawab dengan bebal ini berangsur bisa kupahami. Seiring waktu berjalan, dari yang dulu single dan sekarang berkeluarga. Kalau dihitung sekali jalan perlu 4 tiket jika pakai pesawat / kereta. Sekali menginap langsung booking 2 kamar. Rasanya kalau kekhawatiran soal uang dan materi apalagi jadi tujuan / orientasi. Aku akan diselimuti kegelisahan sepanjang waktu karena takut kekurangan, berpikir bahwa uang/materi adalah satu-satunya pembebas biar leluasa ke sana kemari dan ngapa2in. Lupa bahwa rezeki itu sudah diatur, sudah dialokasikan sama Yang Maha Pengasih. Apalagi setelah berkeluarga, saat kebutuhan tak lagi soal diri tapi sudah merambat ke biaya pendidikan, properti, dsb. Pasti ada jalannya, ada rezekinya, yang penting terus berikhtiar sebaik mungkin.
Belajar lebih tawakal. Stres di tahun 2023 dipikir-pikir karena ingin sekali mengendalikan banyak hal. Ingin semua hal bisa berjalan dengan baik, tapi ternyata tidak. Ada hal yang akhirnya eror, tidak berjalan sesuai rencana, tidak bisa kukendalikan. Akhirnya stress. Belajar utk lebih berserah pada hasil setelah berusaha. Ada Allah yang mengatur segalanya, kita tidak perlu pusing untuk memikirkan semuanya. Apalagi terus berharap bahwa apa yang kita usahakan, selalu berhasil sesuai yang direncana. Nanti jadi mudah kecewa.
Komunikasi adalah kunci dari kelanggengan relasi. Baik itu dalam pertemanan, pernikahan, pekerjaan, dsb. Belajar untuk lebih komunikatif, lebih banyak mendengar, dan juga belajar untuk berkata yang baik-baik. Berhati-hati dengan lidah yang tak bertulang, yang berpotensi menyakiti orang lain - fitnah - dan berbagai hal yang bisa jadi keluar darinya karena tak mampu dikendalikan. Yang berakhir pada hilangnya kepercayaan, kesempatan, bahkan hubungan.
Jangan ragu untuk memutus pertemanan yang tidak sehat. Belajar untuk lebih dekat dengan lingkaran-lingkaran kebaikan, yang mengajak pada hal-hal baik, yang mengingatkan pada hal-hal baik, yang semakin dewasa ini sangat dibutuhkan banyak sekali nasihat ketimbang haha-hihi. Apalagi lingkaran-lingkaran salih yang membuat kita lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Lebih banyak menerima feedback. Meski terdengar tidak nyaman, tapi kita sangat memerlukan kritik dari orang lain. Alih-alih denial, coba resapi bahwa bisa jadi ketidakpekaan kita selama inilah yang menghambat diri untuk berkembang. Karena diri menolak untuk dinilai dan dikritik. Tidak mendapatkan evaluasi, tidak mendapatkan saran untuk hal-hal yang perlu dibenahi, bersembunyi dibalik kata-kata mutiara "Aku memang seperti ini, kalau gak suka ya gak apa-apa, aku mau jadi diri sendiri." Apakah benar menjadi diri sendiri itu artinya tidak mau berubah lebih baik lagi atas sifat-sifat buruk yang dimiliki?
POV Orang Tua, anak-anak di masa kecilnya hanya akan terjadi sekali. Jangan sampai lalai dengan urusan pekerjaan dsb yang menyita waktu hingga tidak ada waktu untuk menjadi orang tua yang utuh, yang hadir, yang dengan segala keadaan yang nanti terjadi, tetaplah hadir sebagai orang tua bagi anak-anak.
Jangan memelihara rasa benci. Jangan memelihara pikiran yang picik. Jangan terus menerus berpikir buruk tentang orang lain dan juga diri sendiri. Apalagi memiliki sekeciiilll apapun buruk sangka kepada Allah - jangan sampai terjadi.
kemarin aku mikir, kalau rezeki sedang seret, mungkin karena sholatku belum tepat waktu, dhuha dan tahajjudku yang tidak lagi jalan, atau baca Quranku yang sudah tidak lagi rutin.
tapi belakangan aku menyadari, dikasih anugerah sholat tepat waktu, bisa dhuha dan tahajjud, bisa baca Quran dengan tenang, semua itu justru bagian dari rezeki. bukan lagi sekadar pembuka rezeki💔