Kepada teman-teman Tumblr sekalian. Kami sedang mencari beta-reader untuk beberapa naskah novel kami. Jika ada yang berminat, bisa segera hubungi kami. Terima kasih.
will byers stan first human second

#extradirty
DEAR READER
Sweet Seals For You, Always

Andulka

Origami Around
Alisa U Zemlji Chuda
Today's Document
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
trying on a metaphor
No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
he wasn't even looking at me and he found me

Janaina Medeiros
hello vonnie
todays bird

❣ Chile in a Photography ❣
Cosimo Galluzzi
taylor price

No title available

seen from Brazil
seen from New Zealand

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@mudabercerita
Kepada teman-teman Tumblr sekalian. Kami sedang mencari beta-reader untuk beberapa naskah novel kami. Jika ada yang berminat, bisa segera hubungi kami. Terima kasih.
Bagimu Negeri
Pohon-pohon menjulang tinggi, menyaksikan matahari terbit dan terbenam. Akarnya menancap dalam, memeluk bumi yang memberinya kehidupan. Begitulah cinta kita pada Indonesia. Ia tak hanya di permukaan, tapi mengalir dalam darah, mengikat setiap helai napas. Namun, di antara dedaunan rindang itu, ada ranting-ranting yang patah. Luka yang menganga, perih yang tak berkesudahan. Kita mencintai, tapi kita juga terluka. Mencintai rumah yang terkadang tak ramah pada penghuninya.
Bendera ini, bukan sekadar kain yang berkibar. Ia adalah jantung yang berdegup, detak yang tak pernah berhenti. Tapi detak itu sering kali berpacu, penuh kegelisahan. Kita merayakan kemerdekaan, seolah-olah semua sudah usai. Padahal, kita masih terkungkung dalam penjara ketidakadilan. Terkurung oleh suara yang tak didengar, oleh janji-janji yang menguap seperti embun di pagi hari.
Ada suara tangisan di balik gemuruh pesta. Ada kelaparan di tengah melimpahnya panen. Ada putus asa di antara senyum yang dipaksakan. Kita lelah. Lelah dengan sandiwara yang tak berkesudahan. Lelah dengan janji-janji yang hanya bualan. Kita hanya bisa menengadah ke langit, berharap hujan turun membawa kebaikan. Berharap awan mendung segera berlalu.
Harapan ini, mungkin bagai lilin kecil di tengah badai. Namun, kita genggam erat. Kita tahu, rumah ini bukan hanya milik mereka yang berkuasa. Rumah ini milik kita, para petani yang membajak sawah, para nelayan yang mengarungi lautan, para buruh yang membangun kota. Kita adalah akar, yang menopang seluruh pohon. Kita adalah jiwa, yang memberi arti pada raga.
Maka, biarlah badai datang. Biarlah ombak mengamuk. Kita akan tetap berdiri tegak. Karena pada akhirnya, Bagimu Negeri, jiwa raga ini akan dikorbankan. Untuk matahari yang terbit, untuk sungai yang mengalir, untuk anak-anak yang akan lahir. Kita tak akan pernah pergi. Kita adalah Indonesia, dan Indonesia adalah kita.
-Adzkia N
Banjarmasin, 17 Agustus 2025 pukul 18.00 WITA.
Titian Senja
Kita seringkali berjalan terburu-buru, seolah waktu adalah musuh yang harus dikejar. Terlalu fokus pada tujuan, hingga lupa menikmati setiap langkah di perjalanan. Padahal, keindahan sejati seringkali tersembunyi di jeda—di antara nafas yang kita ambil.
Saat jatuh, kita merasa seolah dunia runtuh. Jangan biarkan luka itu memenjarakan kita. Mari kita perlakukan setiap goresan sebagai ukiran, yang menceritakan tentang daya tahan dan kekuatan yang tak kita sadari.
Kita juga seringkali terlalu keras pada diri sendiri, menuntut kesempurnaan yang tak ada. Mari kita coba berdamai dengan kekurangan, karena di sana letak keunikan kita. Bukankah bulan terlihat indah karena ada bintik-bintiknya?
Jangan pernah ragu untuk membuka hati, untuk membiarkan cahaya masuk setelah badai. Berbagi cerita, berbagi beban, karena dengan begitu, kita akan menemukan bahwa kita tidak sendirian.
Pada akhirnya, hidup ini adalah sebuah lukisan yang kita goreskan setiap hari. Ada warna cerah, ada warna gelap—namun semuanya menciptakan keindahan yang utuh. Mari kita terus melangkah, dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
-Adzkia N
Banjarmasin, 8 Agustus 2025 pukul 17.48 WITA.
Tarian Kehidupan
Di balik cermin waktu yang buram, aku berdiri, menatap bayangan yang bukan lagi diriku yang dulu. Ada kerutan yang kini menghiasi sudut mata, peta perjalanan yang tak pernah kurencanakan. Rambut yang dulu hitam pekat, kini diselimuti salju, saksi bisu dari setiap badai yang kuhadapi.
Dulu, aku pikir hidup ini adalah sebuah balapan, siapa yang tercepat, dialah yang menang. Tapi, aku keliru. Hidup ini adalah sebuah tarian, di mana setiap langkah, entah itu jatuh atau bangkit, adalah bagian dari irama yang indah. Ada tawa yang beresonansi di ruang hampa, juga air mata yang membasahi bantal, mengajarkan bahwa untuk merasakan manisnya, kita harus mencicipi pahitnya.
Aku belajar, bahwa luka bukanlah aib, melainkan sebuah medali. Setiap luka adalah pengingat bahwa aku pernah bertarung, pernah jatuh, dan pernah bangkit. Luka-luka itu, pada akhirnya, membentukku. Mereka mengukir kekuatanku, mengajari empati, dan membuka mataku pada keindahan yang tersembunyi dalam kerapuhan.
Aku kini mengerti, kebahagiaan bukanlah tujuan, melainkan sebuah cara hidup. Ia tak pernah bisa dibeli, tapi bisa ditemukan di hal-hal sederhana: secangkir teh hangat di pagi hari, percakapan yang tulus, atau sekadar menikmati matahari terbenam.
Maka, kini, aku tak lagi mengejar. Aku berjalan. Aku tak lagi memandang ke belakang dengan penyesalan, melainkan dengan rasa syukur. Syukur atas setiap kesalahan yang membimbingku, setiap kehilangan yang menguatkanku, dan setiap pertemuan yang memberiku makna.
Aku adalah sebuah buku yang belum selesai, dengan lembaran-lembaran yang sudah terisi cerita sedih dan bahagia. Dan, setiap hari yang baru adalah halaman kosong, siap untuk diisi dengan aksara kehidupan yang baru, dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Karena pada akhirnya, hidup ini adalah tentang menjadi manusia yang utuh, yang mampu menerima setiap warna dalam palet keberadaan, dan menemukan keindahan di dalamnya.
-Adzkia N
Banjarmasin, 2 Agustus 2025 pukul 23.05 WITA.
Langkah Terakhir di Ujung Pelangi
Prolog
Mereka bilang, cinta yang tulus tak pernah mati. Ia hanya berpindah tempat—dari peluk menjadi kenangan, dari mata menjadi doa. Dan di antara senyap langit dan bisikan angin yang menari di helai rambutku, aku mendengar namanya masih bergema. Purnama.
Namanya bukan sekadar nama. Ia adalah malam yang tak pernah padam. Ia adalah lelaki yang membuat hujan tak lagi dingin, dan kesunyian terasa penuh. Purnama datang ke hidupku seperti musim semi yang terlambat, tapi ia datang untuk tinggal. Atau setidaknya, begitulah aku berharap.
Tapi hidup, rupanya bukan tentang siapa yang datang untuk tinggal. Hidup adalah tentang kehilangan yang tak pernah kita siap hadapi, tentang air mata yang jatuh di antara kata-kata yang tak sempat diucap, tentang pelukan yang hanya tinggal ingatan di ujung jemari.
Purnama, kini telah menjadi langit. Tapi aku masih di bumi, memunguti serpihan cerita yang pernah kita rajut. Dan setiap malam, aku menatap pelangi yang tak tampak—mencari jejak langkah terakhirnya, di ujungnya yang tak pernah bisa kujelang.
Part 1
Hari itu langit begitu tenang. Tak ada awan, tak ada gelap. Hanya biru yang membentang seolah enggan mengabarkan apa pun yang buruk, sungguh tenang. Dan di tengah ketenangan itu, Purnama menjemputku dengan motornya yang sudah akrab dengan setiap inci jalan kota ini. Helm hitam itu seperti mahkota, dan suaranya yang memanggil namaku selalu terdengar seperti puisi dari Tuhan.
"Arumi," katanya, seperti biasa—datar, tapi menyentuh hingga ke nadiku.
Aku menoleh dan tersenyum. "Sudah lama?"
Ia menggeleng. "Tidak selama aku menunggumu dalam hati."
Ucapan itu membuat pipiku memanas, memerah. Purnama memang bukan lelaki yang banyak bicara. Tapi ketika ia bicara, kalimatnya tak pernah biasa. Ia tahu caranya membuat diam terasa penuh arti, dan tawa terasa seperti nyanyian suci.
Kami berkendara menembus sore, melintasi jalanan yang kami hapal seperti kami menghapal satu sama lain. Tangannya yang menggenggam setang, bahunya yang kukepal lembut dari belakang, dan degup jantungnya yang selalu bisa kurasakan setiap kali aku bersandar.
“Kalau nanti kita nggak bisa bareng lagi... kamu bakal tetap ingat aku, kan?” tanyaku tiba-tiba, tanpa rencana, hanya didorong oleh firasat aneh yang menggelitik kalbu.
Ia diam beberapa saat. Lalu menjawab pelan, “Kita nggak akan berpisah. Kalau pun iya, aku akan jadi langit yang kamu lihat setiap pagi. Aku akan selalu ada, Arumi.”
Aku tertawa pelan. “Kamu percaya reinkarnasi?”
“Enggak. Tapi aku percaya cinta bisa hidup lebih dari sekali. Bahkan setelah kita mati.” ujarnya seraya menoleh sedikit ke arahku.
Tak ada yang bisa kubalas. Kata-katanya terlalu manis untuk disangkal, terlalu jujur untuk dicurigai. Aku hanya mendekapnya lebih erat, menyimpan semua rasa di dadaku—yang entah mengapa hari itu terasa berat, seperti menanggung hujan yang belum jatuh.
Matahari mulai tenggelam. Langit berubah jingga, lalu merah jambu. Senja mewarnai dunia seperti pelukis yang gila, memoles cakrawala dengan warna cinta. Dan aku, yang duduk di belakang Purnama, merasa bahwa ini adalah sore paling sempurna dalam hidupku. Bahagia.
Sampai akhirnya... dunia berhenti mendadak.
Sampai jeritan rem mendesing, dan tubuhku melayang tanpa arah. Bahkan pelangi tak lagi tampak indah.
Part 2
Semuanya pecah dalam sepersekian detik. Suara klakson, desing ban, jeritan orang-orang. Dunia berubah menjadi potongan-potongan gambar yang saling bertabrakan. Tubuhku terempas ke aspal.
Lalu... gelap.
Aku tak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri. Ketika kesadaranku kembali, segalanya terasa berat. Mataku buram, dadaku sakit, dan bau darah menusuk hidungku seperti kematian yang sedang menunggu di pojok ruangan.
Namun bukan rasa sakit yang membuatku ingin menjerit. Bukan luka di tubuhku.
Melainkan—ketiadaan Purnama.
“Di mana Purnama...?” bisikku parau, tapi tak ada yang menjawab.
Tangis menyelimuti ruangan. Aku mendengar suara isak yang asing dan kata-kata yang tak ingin kudengar.
“Yang laki-laki... pendarahan hebat di kepala. Dia masih belum sadar!.”
“Dia memeluk tubuh perempuan itu saat jatuh, seperti ingin melindungi.”
“Kalau tidak cepat dibawa tadi, mungkin keduanya sudah—”
Tubuhku gemetar. Aku ingin bangun, ingin melihatnya. Tapi seluruh tulangku seolah berubah menjadi batu. Bahkan air mata pun enggan turun. Semua tertahan. Semua terperangkap dalam satu kata: takut.
Hari-hari setelah tragedi itu adalah hari-hari yang kehilangan warna.
Syukurnya, Purnama masih hidup. Tapi ia belum juga sadarkan diri. Dokter menyebutnya trauma otak sedang dengan potensi komplikasi. Kata-kata medis yang tak kupahami, yang terlalu dingin untuk menjelaskan seseorang yang selalu hangat.
Setiap hari aku datang, menggenggam tangannya yang kini pucat. Setiap hari aku membacakan puisi-puisi kesukaannya, berharap jiwanya mendengar dan kembali.
"Purnama," bisikku suatu malam, "kalau kamu bisa dengar... kamu nggak boleh pergi dulu. Aku belum selesai mencintaimu."
Tanganku mengusap rambutnya. Wajahnya begitu damai, seolah hanya sedang tidur. Tapi aku tahu ini bukan tidur biasa. Ini seperti gerbang antara dunia kita dan dunia yang lain. Dan aku, Arumi, hanya bisa berdiri di ambang—menunggu, berharap.
Pada suatu malam ketika hujan turun tanpa suara, aku duduk di sampingnya dan berkata, “Kamu pernah bilang, kamu akan jadi langit kalau kita nggak bisa bersama. Tapi, Purnama... bisakah kamu tetap di bumi sedikit lebih lama?”
Ia tetap diam...
Tapi detak jantungnya—yang terekam dalam mesin—masih berdetak.
Dan selama itu, aku akan tetap menunggu.
Karena cinta yang tak diberi waktu untuk berakhir, layaknya lagu yang tak sempat mencapai nada terakhir.
Part 3
Hari demi hari kian berganti, tapi hujan di hatiku tak pernah berhenti. Setiap tetesnya membawa kenangan yang tak mampu kutepis, menggenang dalam pelupuk mata yang selalu menunggu kabar baik dari sosok yang kini terbaring tanpa suara.
Purnama... namanya seperti gema di lorong kosong jiwaku. Aku terus menyebutnya, berharap angin membawa jawab. Tapi hanya sunyi yang kembali.
Sore itu, aku duduk di bangku taman tempat kami biasa bertemu. Daun-daun berguguran perlahan, menyisakan jejak warna yang tak lagi cerah. Kupandang langit, berharap pelangi muncul setelah hujan yang lama sekali bertandang.
"Kalau pelangi itu janji, aku ingin tahu... kapan kamu akan datang, Purnama?" tanyaku lirih.
Hening.
Aku menghela napas panjang, menata kepingan hati yang berhamburan. Seolah setiap detik yang berlalu semakin menjauhkan kita dari kata ‘bersama’ yang dulu mudah diucap.
Malam-malamku kini diisi dengan doa yang tak henti. Doa agar Purnama kembali dari dunia yang tak terlihat. Doa agar langkah terakhirnya bukanlah akhir cerita kami.
Terkadang aku bermimpi—bertemu dengannya dalam dunia yang sunyi, di mana tak ada luka, tak ada perpisahan. Dia tersenyum, mengulurkan tangan, dan berkata, "Arumi, aku selalu di sini. Membersamaimu. Jangan takut."
Tapi bangun dari mimpi itu adalah kenyataan yang paling kejam.
Ia tetap terdiam, tak menjawab.
Suatu hari, dokter memberitahuku bahwa peluang kesembuhannya semakin tipis. Kalimat itu seperti palu yang menghantam, membuat seluruh tubuhku rapuh. Namun, aku berjanji pada diri sendiri—aku tidak akan menyerah.
"Purnama, kalau kau mendengar aku," bisikku, "tahanlah sedikit lebih lama. Biar aku yang akan menjemputmu, bukan sebaliknya."
Dan di malam yang dingin itu, aku tahu satu hal yang pasti—cinta kami diuji bukan oleh waktu, tapi oleh batas yang tak kasat mata. Karena cinta sejati bukan hanya tentang memegang tangan, tapi tentang bertahan saat tangan itu perlahan terlepas.
Part 4
Pagi hari pun tiba. Udara terasa lebih dingin. Cahaya matahari merayap pelan di sela tirai rumah sakit, tapi rasanya tak menghangatkan apa pun. Semua terasa redup, seperti jiwaku yang pelan-pelan kehilangan cahaya.
Saat aku memasuki ruang perawatan Purnama, aroma obat menyambut seperti biasa. Tapi kali ini... ada bunga kamboja di vas meja. Dan itu cukup untuk membuat jantungku berdegup tak beraturan.
Tubuh Purnama masih terbaring. Kabel-kabel masih melilitnya, suara mesin masih berdetak pelan. Tapi entah mengapa—aku merasa waktunya hampir habis.
Aku mendekat. Genggam tangannya.
"Purnama... ini aku... Arumi. Tolong jangan pergi..."
Tak ada jawaban, hanya suara alat monitor yang membisikkan detak hidupnya yang tinggal sedikit.
Air mataku jatuh. Lembut, perlahan, tapi tak terbendung. "Aku tahu kamu lelah. Tapi... kalau kamu pergi, kamu bawa apa? Semua kenangan? Semua janji? Semua rindu?"
Jantungnya masih berdetak—lemah.
Aku mendekatkan wajahku ke telinganya. "Kalau kamu memang harus pergi... tolong... pamitlah. Sekali saja. Jangan tinggalkan aku seperti angin yang berhenti berhembus tanpa alasan."
Dan saat itulah... jari-jarinya bergerak.
Hanya sedikit. Hanya sekejap.
Matanya terbuka pelan. Samar. Sayu.
Aku terisak. "Purnama...? Kamu... kamu bangun?"
Ia menatapku dengan tatapan kosong tapi damai. Bibirnya bergerak pelan. Sangat pelan. Aku dekatkan wajahku lagi, takut kehilangan satu kata pun.
"Kamu... cantik... saat menangis... Arumi..."
Lalu, senyum itu. Senyum yang selalu menenangkan, yang selalu membuatku merasa pulang. Tapi kali ini... senyum itu bukan tentang tinggal. Ia adalah tanda pamit. Senyum yang tak akan pernah kulihat lagi.
Detik berikutnya, layar monitor menunjukkan garis lurus.
Bunyi panjang.
Satu nada.
Datar.
"PURNAMA...!"
Jeritku memecah ruangan, memecah hatiku sendiri. Tubuhku gemetar, mengguncang tubuhnya yang tak lagi bernyawa.
"Jangan pergi... aku belum selesai mencintaimu..."
Namun ia tetap diam. Diam yang paling menyakitkan. Diam yang menandai akhir dari segala harap.
Epilog
Di pemakamannya, langit turun hujan pelan. Seolah ia tahu, tak ada kata yang bisa menghibur. Hanya air mata yang berbicara. Dan pelangi—pelangi yang muncul tepat saat aku berdiri sendiri di antara batu dan bunga.
Aku melihatnya. Di langit yang basah, di lengkungan warna yang seharusnya indah tapi kini hanya menyakitkan. Pelangi itu... adalah langkah terakhirnya. Langkah yang tak akan kembali.
Mereka bilang, cinta yang tulus tak pernah mati. Kini aku mengerti.
Karena setiap malam, aku masih menulis surat untuknya.
Karena setiap hujan, aku masih mendengar namanya.
Karena setiap pelangi muncul, aku tahu... Purnama menungguku—di ujungnya.
End
Kita merdeka karena pertolongan Allah. Kita merdeka karena berkat rahmat dari Allah. Kemerdekaan adalah anugerah dan kenikmatan dari Allah yang wajib disyukuri dengan ibadah, menegakkan syariat dan segala aturan-Nya. Mensyukuri nikmat dengan bermaksiat hanya akan melenyapkan kenikmatan dan mengundang musibah.
Cintai agamamu tanpa merusak negaramu. Dan cintai negaramu tanpa merusak agamamu.
-Adzkia N
Banjarmasin, 17 Agustus 2024 pukul 15.32 WITA.
Rilekskanlah hatimu dengan belajar menerima. Istirahatkanlah tanganmu dengan belajar melepaskan (yang tak bisa lagi digenggam). Dan biarkan segala sesuatu di sekitarmu berjalan sesuai takdirnya.
Kita tak punya kuasa dan kekuatan, melainkan hanya untuk pasrah dan menerima keadaan. Kita juga tak punya ilmu selain menyadari bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya.
-Adzkia N
Banjarmasin, 30 Juli 2024 pukul 14.59 WITA.
Jika kamu belum mampu menyembelih binatang ternak untuk berkurban, maka sembelihlah sifat kebinatangan yang kamu ternakkan dalam dirimu.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1445 Hijriyah.
-Adzkia N
Banjarmasin, 16 Juni 2024 pukul 23.10 WITA.
Hidup itu adalah bagaimana cara kita menyikapi dan mensyukurinya.
Bukan malah mengeluh dan menyalahkan keadaan. Ingat, Tuhan itu Maha Bijaksana.
Tidaklah Tuhan menetapkan sesuatu, kecuali ada hikmah yang indah di balik sesuatu itu.
-Adzkia N
Banjarmasin, 14 Mei 2024 pukul 14.16 WITA.
"Sedih yang berlarut tidak akan mengembalikan apa yang hilang. Rasa takut yang berlebihan tidak akan memperbaiki masa depan. Dan rasa cemas yang berlebihan pun juga tidak bisa mengantarkan keberhasilan."
"Namun, jiwa yang taat, tulus, serta hati yang ridho lah yang akan mampu menjadi dua sayap untuk menggapai keberhasilan."
-Alfiana U
Banjarbaru, 18 April 2024 pukul 00.03 WITA.
Pertemuan tak mampu dihindarkan, sama halnya dengan perpisahan, takkan terbantahkan. Mau bagaimanapun.
Suatu saat mungkin kau akan merasa berantakan, seusai ditinggalkan. Namun pasti akan hadir kembali, sosok yang memulihkan. Berpisah tak harus dimengerti dengan alasan, cukup kau ikhlaskan.
Semuanya pasti mengalami "selesai" yang disuarakan, tak usah banyak bertanya tentang apa, mengapa, dan bagaimana bisa. Sadarilah, semua berakhir karena mengandung "cukup" dan "lelah" di dalamnya.
-Adzkia N & Alfiana U
Banjarmasin, 29 Maret 2024 pukul 01.30 WITA.
Bagaimana bisa? Ramadhan dengan keberkahan yang dahsyat saja tidak mampu untuk memperbaiki apalagi mengubah dirimu.
Hal apa yang telah kau lakukan? Dan mengapa hatimu begitu keras? Sehingga bulan semulia ini pun enggan memberimu hidayah. Tangisilah dirimu itu.
-Adzkia N
Banjarmasin, 16 Maret 2024 pukul 23.29 WITA.
Ada yang lebih sulit keadaannya, tapi tak seberisik kamu keluhannya.
Ada yang tak seberuntung kamu, tapi riuh rasa syukurnya.
Ada yang tak senikmat kamu hidupnya, tapi dia bisa bahagia.
-Adzkia N
Banjarmasin, 5 Maret 2024 pukul 07.55 WITA.
“Jangan bosan bertaubat walaupun dosamu terus kau ulangi. Bukankah pakaianmu selalu kau cuci ketika ia kotor?”
"الإنسان محل الخطإ والنسيان"
“Manusia itu adalah tempatnya kesalahan dan lupa.”
“Kesalahan dan dosa itu sifatnya manusiawi. Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Karena itu, istiqomahlah dalam beristighfar dan bertaubat.”
-Adzkia N
Banjarmasin, 9 Februari 2024 pukul 21.50 WITA.
Ingin sekali rasanya menuangkan segala yang ada dalam wadah bernama kepala. Bertukar isi dengan makhluk Tuhan lainnya dari jenis manusia yang sedikit berbeda. Namun apa daya. Wadah dengan corak serupa, sulit sekali menemukannya. Sedang corak berbeda, sulit sekali menerimanya.
-Adzkia N
Banjarmasin, 9 Januari 2024 pukul 20.59 WITA.
Wahai Tuhanku, kali ini permintaanku serius.
Matikanlah hatiku untuk mencintai ciptaan-Mu.
Kecuali, kepada dia yang memang ditakdirkan untukku.
-Adzkia N
Banjarmasin, 26 November 2023 pukul 06.50 WITA.
“Hati-hati dengan cinta yang salah. Karena dengannya kau bisa membenci dirimu sendiri, atau bahkan memutuskan untuk tidak mencintai lagi.”
-Adzkia N
Banjarmasin, 5 Oktober 2023 pukul 19.54 WITA.