Jodoh, Takdir, dan Kekhawatiran
Tulisan yang bahas tentang (mencari) pasangan hidup memang tidak ada habisnya. Seolah-olah, satu fragmen hidup ini menjadi hal yang begitu besar hingga menyita waktu, pikiran, dan tenaga yang besar.
Tapi sebenarnya, apakah benar demikian? Apakah segenting dan sekrusial itu hal ini, hingga kita memiliki pengharapan yang besar agar bisa melewati satu tahapan ini dengan kebaikan yang paripurna?
Sebagai orang yang sudah menikah hampir sepuluh tahun ini, saya bisa mengatakan : YA, INI SANGAT PENTING tapi dengan catatan.
Hal ini penting, tapi tidak sampai menjadi landasan untuk buru-buru.
Hal ini akan lebih mudah diterima pada orang yang memiliki value tentang pernikahan sebagai bagian penting dalam hidup, kalau bagi orang lain yang memiliki value tidak memilih untuk menikah, pembahasan ini tidak diperlukan.
Kita sedang dalam kondisi mental dan emosional yang stabil, karena pada saat lagi eror (baik secara anggapan pribadi / hasil assesement), ada dua kemungkinan : denial atau termotivasi sampai hilang logika.
Mari kita lanjutkan pembahasannya.
Mengapa fragmen hidup ini perlu kita usahakan sebaik mungkin?
Pasangan hidup adalah orang yang akan memiliki pengaruh sangat amat signifikan dalam hidup kita. Sehingga, memastikan diri kita mendapatkan pasangan yang baik dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan menjadi sebuah upaya yang penting untuk dioptimalkan. Sekalipun, konsekuensi dari proses pencarian ini akan memakan waktu, menguras emosi dan tenaga, bahkan menguras biaya.
Semua itu, worth it banget saat kita bisa mencapai tujuan besar kita. Mendapatkan pasangan yang baik, sekufu, karakter dan pemahamanya cocok sama kita, serta kita ridha sama agamanya.
Jika saja kamu bisa mengintip takdir dan tahu bahwa proses untuk mengusahakannya butuh waktu 4 tahun dari sekarang, bersediakah kamu bersabar selama empat tahun ke depan? tentu kamu bersedia bukan?
Tapi kita tidak bisa mengintip takdir. Kita tidak tahu, dimana dan kapan, kita akan sampai ke tujuan. Hal yang bisa kita kontrol pada diri kita hanya bagaimana diri kita selama proses ini. Mengendalikan diri, pikiran, dan rasa kita akan tidak terjerumus pada hal-hal yang justru menjauhkan kita dari tujuan.
Jika saja empat tahun tadi memang harus kamu lalui, bukankah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan puluhan tahun yang akan kamu lalui bersama pasangan yang tepat? Empat tahun yang rasanya lama dan menyesakkan, empat tahun yang membuatmu melompati umur kepala tiga, bukankah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seumur hidup bersama orang yang paling dekat di hidupmu?
Orang yang bahkan akan tahu luar dalammu, orang yang tadinya asing, bisa melihat auratmu seutuhnya yang bahkan orang tuamu tidak bisa. Orang yang akan menemani sekaligus mengusahakan keluargamu ke tujuan yang sama.
Untuk itu, setelah kujalani hampir sepuluh tahun ini. Ditambah dengan belajar kepada para guru dan mentor yang sudah puluhan tahun menikah. Ada satu kesimpulan besar yang terngiang-ngiang.
Nasihat finansial, karir, dan kehidupan (baik dunia/akhirat) yang terbaik dan universal adalah "pilihlah pasangan hidup yang tepat."
Sekuat itu pengaruh keberadaan pasangan hidup, pastikan kamu memilihnya dengan kesadaran, dengan keimanan, dan dengan keyakinan yang kuat. Kamu punya kuasa untuk membuat keputusan, gunakan kuasamu untuk membuat keputusan sebaik mungkin untuk dirimu sendiri.
Jangan lupa, senjatai diri dengan doa-doa yang kuat tak pernah putus. Mintalah doa pada orang-orang salih. Mintalah tolong pada orang-orang yang baik. Karena takdir-Nya mungkin akan melalui perantara siapapun, maka bukalah jalan untuk dirimu sendiri, jalan-jalan yang terbaik yang bisa kamu siapkan untuk kehadirannya dalam hidupmu.
Selamat berjuang. Menangkan!