Bagaimana rasanya benar-benar tidak memiliki pekerjaan? Rasanya seperti berjalan di tengah keramaian dengan tangan kosong, sementara semua orang sibuk menenteng hasil perjuangannya. Rasanya seperti duduk di kursi paling belakang dalam sebuah pertunjukan hidup, hanya menonton bagaimana orang lain bergerak maju, sementara kakiku seperti diikat, tak bisa melangkah ke mana pun.
Semuanya berubah terlalu cepat. Pekerjaan yang dulu jadi pegangan tiba-tiba terputus. Usaha yang pernah dibangun dengan penuh harap runtuh tanpa ampun. Pajak naik, begitu tinggi, begitu mencekik, hingga aku tak lagi bisa menanggung beban itu. Rasanya aku menatap angka-angka dengan mata kosong, tahu bahwa aku kalah bahkan sebelum pertempuran dimulai.
Seolah belum cukup, tubuhku pun ikut menyerah. Kondisi kesehatanku tak juga membaik. Setiap bulan aku harus membeli obat dengan harga yang membuat jantungku nyaris berhenti—puluhan juta hanya untuk bisa bertahan. Dan bayangan operasi besar, bedah dada, semakin dekat, seperti pintu hitam yang tak bisa kuhindari. Aku menatap diriku di cermin, bertanya apakah aku masih kuat, atau apakah aku sudah terlalu hancur untuk berharap.
Perlahan aku mulai menjauh. Aku takut menerima perhatian. Perhatian dari keluarga, yang seharusnya menenangkan, kini jadi sesuatu yang kutakuti. Aku takut mereka tahu betapa lemahnya aku, betapa kosongnya aku. Aku takut tatapan kasihan yang tidak pernah kuminta. Bahkan perhatian dari teman pun terasa seperti beban, karena aku tidak tahu harus menjawab apa. Dan di balik semua itu, aku mulai meragukan diriku sendiri. Aku merasa apa pun yang kulakukan selalu salah, selalu kurang, selalu gagal.
Suatu malam, aku menemukan sebuah tulisan di Quora. Orang-orang bercerita tentang pekerjaan, tentang kegagalan, tentang jatuh bangun. Dari 10 orang, ada yang ditolak kerja, ada yang sakit, ada yang tidak sempurna. Dari ratusan cerita, hanya segelintir yang berhasil. Aku membaca itu lama sekali, sampai air mataku jatuh sendiri. Aku sadar, ternyata aku bukan satu-satunya. Ternyata ada begitu banyak orang lain yang juga terluka, yang juga kehilangan, yang juga merasa dunia terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Lalu aku teringat apartemenku. Juli lalu kontrakku jatuh tempo. Aku harus memilih: tetap di kota dengan segala keterpurukan, atau pulang kampung ke orang tua dengan hati yang patah. Aku mencoba bertahan, mencoba memaksa diriku untuk kuat, tapi akhirnya aku menyerah. Aku pulang. Dan rasanya seperti mengakui kekalahan terbesar dalam hidupku.
Namun di balik semua itu, ada sedikit cahaya kecil yang berusaha kutahan agar tidak padam. Aku berjanji pada diriku sendiri: kali ini aku akan sungguh-sungguh. Aku akan mencari jalan, sekecil apa pun peluangnya. Aku akan mencoba, aku akan mengetuk pintu satu per satu, aku akan melangkah meski lututku gemetar. Karena aku tidak ingin berhenti di sini.
Tapi tetap saja, rasa itu tidak hilang. Rasa frustrasi, rasa putus asa, rasa ingin menyerah pada semuanya. Rasanya seperti hidup ini mengajakku bercanda dengan cara yang paling kejam. Kadang aku ingin bertanya pada Tuhan: mengapa aku masih di sini? Mengapa aku tidak diberi jeda, tidak diberi ruang bernapas sedikit saja?
Jika kamu juga berada di posisi ini, aku ingin kau tahu: aku merasakanmu. Aku tahu rasanya ingin menutup mata dan tidak bangun lagi. Aku tahu rasanya berpura-pura tersenyum padahal dada terasa sesak. Aku tahu betapa menyakitkannya melihat diri sendiri seperti beban.
Tahun 2025 ini benar-benar berat. Berat sampai membuatku berpikir:
Mungkin bertahan satu hari lagi pun sudah bisa disebut pencapaian.
Jadi kalau kamu membaca ini, aku ingin mengingatkanmu, sekaligus diriku sendiri: kita memang kalah dalam banyak hal, tapi kita belum benar-benar habis. Selama kita masih bernapas, mungkin masih ada alasan untuk tidak menyerah.
Dan meski aku menulis ini dengan air mata, aku tetap ingin percaya—bahwa suatu hari nanti, akan ada versi diriku yang bisa melihat ke belakang dan berkata, “aku sudah melewatinya.”
😭





















