Tik tok tik tok tik tok. Jarum penanda waktu di tanganku terus bergerak tanpa memedulikan keresahan yang mengalir di sekujur tubuhku. Entah apa yang kutunggu di taman itu. Taman yang terasa asing bagi panca inderaku.
Pohon-pohonnya begitu subur dan hijau. Membuat pandangan mata terasa sejuk. Bangku-bangku taman tersusun rapi tanpa terlihat aneh sedikitpun. Sungai-sungai mengalirkan air seputih susu yang tak deras, tak pula sedikit. Dan terdapat menara-menara yang menjulang dan bercahaya di ketinggiannya.
Sebenarnya, suasana taman asing itu akan membuat hati siapapun merasa damai berada di sekitarnya. Tapi tidak denganku kali ini. Tak merasa damai. Tak merasa tenang.
Perasaanku tak menentu saat kupandangi setiap bagian taman “asing” itu dengan seksama. Senyap menghampiri keberadaanku. Hanya bunyi menderu aliran air yang kudengar, yang berasal dari sungai di dekat menara yang tak pernah kulihat sebelumnya. Tubuhku gentar. Tak kuasa memandang setiap detail taman asing maha agung ini. Semakin lama berada di taman itu, semakin lemah tubuh ini. Bangku yang kududukipun ikut bergetar akibat tak dapat menahan getaran yang berasal dari tubuhku.
Namun, tiba-tiba perasaan tenang hadir menyapaku dengan lembut. Cahaya di ujung taman itu seketika membuatku merasa lebih nyaman berada di taman itu. Seperti ada yang mengusap lembut hatiku saat kulihat cahaya itu. Ada yang menyemangati hati yang lemah. Ada yang menguatkan tubuh yang gentar. Aku penasaran. Apa yang telah membuat keresahan di tubuhku tiba-tiba mereda? Apa yang telah membuat tubuhku mampu berdiri beranjak dari tempat dudukku?
Perlahan aku mendekat ke tempat cahaya itu berasal. Semakin dekat, tubuhku menjadi gentar kembali, saat kudapati sosok remaja seumuranku di ujung taman itu. Tak segentar sebelumnya memang. Namun, langkahku terhenti. Kupandangi dengan seksama tubuh remaja itu. Pakaiannya menjulur menutupi tubuhnya yang seharusnya ditutupi. Semakin bercahaya dengan pakaiannya yang berwarna putih. Kulihat wajahnya dari samping. Begitu menenangkan. Membuat aku yakin melangkahkan kakiku untuk kembali mendekat pada sosok yang tidak kukenali itu.
Setelah melihatku, ia justru pergi menjauh dari tempatnya semula. Menuju menara di dekat sungai. Entah apa yang ada dalam pikirannya sehingga ia enggan bertemu denganku sekedar saling berkenalan. Ia membuatku harus mengejarnya dengan cepat. Namun, rasanya lamban sekali aku bergerak. Aku tak sanggup mengejarnya. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa peduli ada yang mengejarnya. Ada yang ingin berkenalan dengannya. Sampai aku tak dapat mengendalikan keseimbangan tubuhku sendiri saat berlari menuju dirinya. Dan akhirnya terjatuh di rerumputan hijau yang lembut bagai permadani.
Ia berhenti saat mendengar suara berdebam yang kutimbulkan karena terjatuh. Membalikkan badan. Dan tersenyum padaku. Senyuman yang indah. Belum pernah kudapati sebelumnya senyuman seperti itu. Begitu tulus dan menenangkan. Menyugestikan siapapun yang mendapatkan senyuman itu menjadi tenang di saat keresahan sedang menghampiri dirinya. Membuat secercah harapan kembali menggelora di saat keputusasaan berjaya dalam diri seseorang.
Belum sempat aku membalas senyuman terbaik itu, dia telah pergi melanjutkan langkahnya menuju menara di dekat sungai. Kemudian menghilang dari penglihatanku. Dan aku tetap tak mengenalinya.
Suara itu membangunkanku dari tidur singkatku.
Siang itu, keadaan kelas cukup ramai. Seperti biasa, saat tak ada guru yang mengajar karena berhalangan hadir, memang seperti ini suasananya. Banyak aktivitas yang dapat ditemukan, walaupun hanya di kelas. Ada yang asyik bermain, ada yang bernyanyi-nyanyi, ada yang hanya mengobrol satu sama lain, dan ada pula yang mengerjakan tugas yang diberikan. Aku sendiripun sejak tadi telah menyelesaikan tugas yang diberikan. Hingga akhirnya aku tertidur dengan kepala tertunduk di meja.
Bukan karena suara mereka yang sedang bermain. Bukan pula karena suara mereka yang sedang bernyanyi dan mengobrol. Apalagi karena suara mereka yang sedang belajar. Bukan karena itu semua aku terbangun. Namun, suara lembut itulah yang membangunkanku. Suara lantunan kalimat ta’awudz yang merdu. Dilanjutkan dengan kalimat basmalah dan ayat-ayat suci Al-Qur’an lainnya.
Sebenarnya kebiasaannya ini sudah kukenali sejak sebulan yang lalu. Saat jam pelajaran kosong, atau saat ia telah menyelesaikan tugas-tugasnya, ia pasti menyempatkan waktunya untuk sekedar membuka Al-Qur’an, lantas melafalkan 5 sampai 10 ayat suci itu.
Sedikit aneh memang. Di saat teman-teman yang lainnya mengobrol kesana kemari tanpa arah dan tujuan yang jelas, ia justru mengisi waktu kosongnya dengan membaca kitab suci umat muslim, Al-Qur’an. Sebelumnya, tak pernah kudapati seseorang seperti dirinya. Ia memberi warna baru dalam kehidupan kelasku. Memang, baru tiga bulan lamanya ia duduk bersama kami di kelas ini. Namun, entah mengapa, aku tertarik dengan warna baru yang dihadirkan olehnya.
Memandang wajahnya yang begitu tenang saat melantunkan ayat-ayat Allah. Mendengarkan ucapannya yang begitu fasih dalam melafalkan setiap huruf demi huruf dalam Al-Qur’an. Entah mengapa, ia membuatku iri. Sangat iri. Dalam hati aku berucap, aku ingin seperti Alsya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Lebih dari apa yang telah kuketahui sebelumnya tentang dia.
Langit sore itu amat teduh menaungi kawasan sekitar sekolahku. Tidak seterik biasanya. Awan-awannya beiringan satu sama lain seperti kapas yang beterbangan dengan santai. Anginnya begitu lembut menyapa. Membuat rambut depanku terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Untung saja cuaca kali ini bersahabat. Padahal selama beberapa hari terakhir, kota kami selalu diguyur hujan. Karena akan ada pertandingan final antara tim basket sekolahku dengan tim basket dari sekolah di kota sebelah. Dan aku termasuk dalam daftar pemain inti tim basket sekolahku.
Priiiiit. Lagi, peluit tanda dimulainya pertandinganpun dibunyikan kesekian kalinya. Saat ini, pertandingan telah memasuki kuarter terakhir. Namun tim basketku masih tertinggal 15 poin dari tim lawan. Itu artinya, dalam sisa waktu sebanyak sepuluh menit terakhir ini, kami harus dapat mengejar ketertinggalan itu untuk mendapatkan predikat juara. Ketertinggalan yang dapat dikejar dengan penuh peluh. Tak seberapa besar memang. Namun, dari peluh itulah kita dapat merasakan betapa berharganya arti sebuah perjuangan. Arti sebuah usaha. Dan arti dari sebuah langkah perubahan.
Ya. Mendribble bola menuju ring lawan, saling oper, dan memasukkan si bundar ke dalam ring. Tak lupa, berjibaku dengan tim lawan pula. Itulah yang kami lakukan, dan memang itulah yang harus kami lakukan dalam sebuah pertandingan basket. Dengan tujuan akhir yaitu mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya.
Dengan semangat yang telah menyala dalam diri kami para pemain, dan juga teman-teman pendukung yang menambah semangat kami dari balik kursi penonton, akhirnya sedikit demi sedikit tim kami dapat mengurangi selisih poin. Dan sekarang hanya tinggal tersisa enam poin untuk mengungguli tim lawan.
Di menit-menit terakhir, saat bola berada di tanganku, aku berusaha mencapai ring yang hanya berjarak kurang dari dua meter dari tempat aku mendapatkan operan bola. Tetap mendribble bola tersebut sambil berusaha menenangkan diri. Karena aku tahu, kalau aku sudah mendapatkan operan bola, itu tandanya teman-temanku telah percaya kepadaku bahwa aku akan dapat menambah pundi-pundi poin kami. Namun, insiden itu tak luput dari diriku. Insiden yang membawa ke hubungan pertemanan yang tak terlupakan.
Saat aku telah bersiap menshoot bola tersebut dengan ancang-ancang yang telah kupersiapkan tadi, tiba-tiba badanku terasa terguncang keras, terdorong, dan terlempar. Entah apa yang menjadi tumpuannya saat aku membiarkan tubuh ini terjatuh. Karena aku telah tak sadarkan diri.
Tubuhku terbaring di atas sesuatu yang tak keras. Saraf di hidungku mencium bau obat-obatan yang menelisik masuk ke tenggorokanku. Dalam hati aku bertanya, di manakah aku?
Perlahan aku membukakan kelopak mataku. Tetap dalam keadaan terbaring, aku menyelidik sekitar. Menatap ke langit-langit ruangan, ke kanan, dan kiri. Mencoba mengumpulkan keterangan untuk mengetahui di mana aku sekarang.
“ Kamu di UKS Ra.” Suara itu tiba-tiba mucul dari arah belakang, suara yang kukenal dengan baik.
Alsya rupanya. Selepas merapikan barang-barang di ruang UKS itu, ia melihat ke arah tempat tidur dan mendapati aku telah sadar. Bahkan tanpa aku bertanya kepadanya, dia telah dapat menjawab dengan benar apa yang kupertanyakan dalam hatiku.
“ E..eh iya. Terima kasih Sya.” Suaraku terbata.
“ Tadi kamu tertabrak pemain tim lawan. Akhirnya kamu terlempar dan terjatuh cukup keras di lapangan basket. Aku melihatmu dari lantai dua.” Ucap Alsya menjelaskan.
Ya, memang aku terdorong oleh beberapa orang dari tim lawan yang menjaga ketat ringnya agar tidak kebobolan lagi.
“ Aku ngga tega melihat kamu harus mendapati beberapa luka di tubuhmu.” Lagi, Alsya menjelaskan.
Inilah bagian yang tidak kuketahui. Setidaknya belum aku rasakan sampai Alsya memberitahukanku. Kata “luka” itu seketika memberikan rangsangan kepada otakku untuk menghasilkan rasa yang bernama sakit. Tapi tak seberapa. Hanya di lutut dan tangan saja. Yang sekarang telah mendapat penanganan dari seorang anggota PMR handal di sekolahku, Alsya maksudnya.
“ Tapi aku salut banget sama kamu. Permainan kamu bagus. Setidaknya bagi orang awam sepertiku. Yang terpenting bisa memasukkan bola ke dalam ring dan menghasilkan poin, hehehe.”
Kami menatap satu sama lain. Melihat ekspresi mukanya, kami pun tertawa bersama.
“ Dan yang harus kamu tahu Tara, teman-teman kita yang lain bisa mengejar ketertinggalan itu. Malah unggul lima poin.” Alsya memberitahukan kabar gembira itu dengan bersemangat.
Namun, kata-kata Alsya barusan tidak terlalu berarti untukku. Aku justru mengingat satu hal. Mata Alsya. Mata itu begitu familiar bagiku. Bukan karena aku sering melihat mata Alsya setiap kami berbincang di kelas. Bukan. Bukan karena itu. Tapi di taman itu. Seseorang di taman itu. Seseorang yang tidak kukenali di taman yang terasa asing bagi panca inderaku. Yang akhirnya aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara Alsya mengaji.
Otakku diputarkan ke sisi yang lain setelah ingat mengaji. Dan mata itu terlupakan. Aku justru mengingat janji yang kukatakan siang itu. Setelah mendengar Alsya mengaji. Aku ingin seperti Alsya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Lebih dari apa yang telah kuketahui sebelumnya tentang dia.
Aku ingin bisa mengaji sebaik yang dilakukan oleh Alsya. Selama ini, kemampuanku membaca ayat Al-Qur’an masih sangat terbatas. Dan akhirnya, saat itu juga aku memberanikan diri untuk meminta diajarkan oleh Alsya sendiri.
“ Emm, Sya.” Ucapku ragu.
“ Setiap kali kamu mengaji di kelas di waktu kosong, aku selalu mendengarkanmu. Aku selalu tertarik dengan kebiasaan yang kamu lakukan itu. Tapi… ”
“ Tapi kenapa Tara?” Potong Alsya dengan cepat.
“ Tapi aku hanya bisa mendengarkanmu Sya. Ya, aku hanya bisa mendengarkanmu.” Kalimat kedua itu lebih kutekankan.
“ Apa maksudmu Ra?” Tanya Alsya dengan heran.
“ Aku ingin seperti dirimu yang dapat membaca sendiri tulisan-tulisan yang teruntai itu. Dengan baik, dengan benar. Yang bisa mengobati hatiku sendiri, saat aku gundah, tanpa menunggu dirimu.” Jelas Tara.
“ Apa kamu mau mengajarkan aku Sya?” Tanyaku penuh harap besar untuk sebuah jawaban ya, aku mau.
Jawaban itu cukup lama kudapatkan. Sepertinya ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan Alsya untuk hal ini. Sampai akhirnya ia dengan mantap mengangguk.
Akhirnya sisa sore itu kami habiskan sambil berbincang banyak hal sambil menunggu aku dijemput. Dan karena ternyata rumah kami searah- yang sebenarnya baru aku ketahui hari itu, alhasil kami pulang bareng dan melanjutkan obrolan kami di perjalanan menuju rumah kami masing-masing.
“ Sya, kalau ada waktu, aku boleh bermain ke rumahmu kan?” Tanya Tara.
“ Aku ke rumahmu sekalian belajar mengaji. Oke kan ideku?”
“ Benar juga Ra, boleh kalau begitu. Nanti akan aku kenalkan dengan ibuku yang jago masak. Masakan apapun pasti enaak.”
“ Kamu juga boleh kok Sya main ke rumahku.”
Kami saling menatap lagi.
Kamipun tertawa bersama lagi.
Hari itu, aku mulai mengenalnya lebih dekat. Tak seperti hubungan aku dengan temanku yang lainnya yang sebatas teman bermain. Kedekatan ini berbeda. Entah apa penyebabnya, hanya saja aku merasa sangat nyaman bersama dia.
Setelah Alsya turun dari mobil, karena rumah Alsya lebih dekat dibandingkan dengan rumahku, maka aku memutuskan untuk merilekskan tubuhku di barisan kursi empuk di mobil bagian tengah. Meluruskan sekujur tubuhku dan akhirnya tertidur di sisa perjalanan menuju rumahku.
Ternyata dengan niat dan tekad yang kuat itu, semua hal yang semula kuanggap sulit, sekarang justru berjalan cukup mudah. Kurang dari dua bulan, setelah intensif belajar dengan Alsya, kini sekarang aku telah bisa membaca tulisan-tulisan yang teruntai indah itu. Cukup lancar. Lebih mudah dari sebelum aku mendapat pembimbingan dari Alsya.
Namun, Alsya belum mengetahui perkembangan terakhirku ini. Selama seminggu terakhir, Alsya sering tak dapat ditemui di luar sekolah. Di sekolahpun, setelah bel tanda pembelajaran selesai dibunyikan, ia langsung pulang. Entah apa yang membuatnya tak mengabarkan aku seperti biasanya kalau kami tidak pulang bareng. Mungkin Alsya memang terburu-buru sehingga tak sempat sekedar memberitahu alasan kepadaku mengapa ia harus pulang cepat.
Sore itu, kami sudah janjian. Maklum akhir-akhir ini Alsya sibuk sekali, jadi harus buat janji dulu kalau mau bertemu dengannya. Aku memberitahukannya kalau aku akan bermain ke rumahnya melalui pesan singkat yang kukirimkan kepadanya tadi siang. Alsyapun menjawab kalau dia bisa.
Aku melangkah dengan pasti menuju rumah Alsya yang tak bisa dilewati mobil, hanya jalan setapak. Sambil membawa Al- Qur’an di tangan dan membawa bingkisan untuk ibu Alsya. Aku siap memberi kejutan pada Alsya. Aku sudah lancar membaca ayat Al- Qur’an. Dan itu semua terjadi berkat kerja keras yang telah Alsya lakukan untuk membimbing dan mengajarkanku.
“ Assalamu’alaikum.” Teriak Tara.
“Assalamu’alaikum Bu, ini Tara.” Tetap mempertahankan suaranya yang keras.
Terdengar suara orang yang berjalan sedikit berlari menuju pintu. Itu pasti Ibu. Aku memang sudah sangat akrab dengan ibu Alsya.
“ Oh iya, wa’alaikumussalam Tara.” Seraya membuka pintu.
“ Alsya ada Bu?” sambil memberikan bingkisan yang dibawa.
“ Alsya belum pulang tuh. Tadi ibu minta tolong Alsya ke pasar untuk membeli beberapa bahan masakan. Kamu tadi sudah menghubungi Alsya?” Tanya Ibu sambil menerima bingkisan itu
“ Udah kok Bu, aku sms tadi.”
“ Oh ya sudah kalau begitu, ditunggu aja ya Nak, sebentar lagi Alsya juga pasti sampai rumah.”
Ibu Alsya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur. Dan aku menunggu di ruang tamu. Di saat aku menunggu kehadiran Alsya, aku hanya mengulang-ulang bacaan yang akan aku persembahkan untuknya. Aku tidak mau ada yang salah sedikitpun saat aku memperdengarkan bacaan Al- Qur’anku ke Alsya. Namun, karena cukup lama menunggu, akhirnya aku tak sengaja tertidur di sofa ruang tamu rumah Alsya.
Taman “asing” itu kembali menjadi latar mimpiku kali ini. Saat aku sedang menunggu, entah apa yang kutunggu lagi saat itu, sosok remaja seumuranku itu justru menghampiriku. Dalam hati, aku berbunga-bunga, karena akhirnya justru dialah yang akan mendatangiku. Aku tak perlu repot-repot mengejarnya sampai harus terjatuh, walaupun tidak sakit.
Pakaiannya begitu rapi. Putih bersih. Bercahaya. Dengan kerudung yang menjuntai indah dari kepala hingga dadanya. Dari kejauhan aku belum dapat mengenalnya. Namun, ia tetap mempertahankan posisi bibirnya untuk tetap tersenyum menatapku. Saat semakin dekat, aku mengenalinya. Sangat jelas. Mata itu. Mata yang teduh. Mata yang menghasilkan berbagai cahaya entah dari mana asalnya. Mata Alsya. Mata yang selalu membuat aku nyaman berada di samping pemilik mata itu.
Aku langsung berhamburan menujunya. Tak lagi menunggu agar Alsya sampai di tempat posisiklu berada. Kupeluk dia. Hangat sekali.
Namun, kami tak bisa berbincang dengan lama di taman yang menimbulkan bau wangi ini. Taman yang membuat hati sesorang akan bahagia. Apalagi bersama teman yang kita cintai. Bukan hanya cinta karena dunia, tapi juga karena akhirat.
Karena akhirnya, ia harus lekas pergi. Ia harus pergi menuju menara cahaya itu. Begitu indah rasanya memandang menara itu dari kejauhan. Aku sangat ingin diajak Alsya menuju menara itu. Menara yang tidak ada tandingannya dengan menara-menara di dunia. Namun, ia dengan tegas menjawab:
“ Tidak Tara, kau harus tetap disini. Teruskan perjuanganmu. Lanjutkan semua niat baikmu. Aku yakin kau pasti bisa.”
Dan ia hanya berkata kalau ia senang sekali mempunyai teman sepertiku. Teman yang akan menjadi teman di dunia maupun di akhirat. Ia juga berkata kalau nanti kita akan bertemu di menara cahaya itu bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita pula.
Aku berusaha mengejar Alsya. Namun, aku tak kuasa mengejarnya. Sia-sia. Tubuhku begitu lemah. Aku begitu lambat. Sangat lambat. Dan ada sesuatu yang tidak mengizinkanku melangkah lebih lagi. Sampai akhirnya sebelum ia hilang di kejauhan, aku melihat ia tersenyum.
Aku dan ibu Alsya segera bergegas menuju mobilku di depan gang. Dan setelah semua siap, mobilku melaju dengan cepat. Tak peduli dengan keadaan jalan yang cukup ramai.
Raut wajah ibu Alsya tak secerah biasanya. Ibu Alsya begitu shock setelah mendapat pesan singkat beberapa karakter, yang menyatakan bahwa Alsya berada di rumah sakit dan keadaannya kritis saat ini. Panik, tak mengerti apa yang harus diperbuat. Aku tau ibu Alsya sangat tidak tenang. Ia tak dapat duduk dengan rileks. Sama halnya denganku. Tapi aku mencoba bersikap biasa. Mencoba duduk serileks mungkin dan menguatkan ibu Alsya yang sudah hampir tak sadarkan diri.
Melihat raut muka Alsya yang terbaring lemah di kasur rumah sakit, begitu memprihatinkan. Sebenarnya aku tak kuasa melihat wajah itu. Begitu pucat. Namun, aku tetap dapat melihat secercah cahaya yang muncul di tengah-tengah muka yang sedang menderita karena menahan sakit itu.
Ibu Alsya mendekat ke ranjang dekat tempat aku duduk.
“ Bagaimana keadaan Alsya Bu?” Aku beranjak dan mendekat pada ibu Alsya.
“ Tak baik Tara.” Ibu Alsya menjawab tanpa ekspresi.
Tiba-tiba aku teringat mimpiku. Di mimpi itu, aku melihat Alsya. Tak salah lagi, itu Alsya. Aku berpikir apa maksud dari mimpi itu. Tapi, semakin aku menelisik maksud dari mimpi itu, semakin aku tak kuasa. Aku takut. Aku takut kehilangan Alsya.
“ Radang paru-paru stadium IV. Tak ada harapan lagi kata dokter.” Ibu Alsya berkata lemah.
Seketika hatiku buncah. Mendengar kalimat itu. Mengingat mimpi itu. Semua itu membuat tubuhku lemah. Bergetar. Tak dapat mengendalikan tubuhku sendiri. Tapi ada hal penting yang harus kulakukan. Bacaan Al-Qur’an itu. Aku harus menunjukkan kepada Alsya. Aku harus memperdengarkannya. Tapi bagaimana. Mungkinkah Alsya mendengarkanku saat ia terbaring tak sadarkan diri seperti itu?
Aku putuskan untuk mengambil air wudhu, kerudung, dan Al-Qur’anku. Duduk di dekat ranjang dan bersiap untuk memperdengarkan bacaan Al-Qur’an dengan lancar pertama kali ke Alsya.
“ A’udzubillahiminasysyaithaanirrajiim. Bismillahirrahmanirrahiim.” Suaraku sedikit bergetar.
Tiba-tiba, jemari Alsya bergerak lemah, saat kalimat itu selesai kuucapkan. Rupanya Alsya mendengar bacaanku. Alsya merespon atas kalimat ta’awudz dan basmalah yang kuucapkan. Aku putuskan untuk meneruskan bacaannya:
“ Qulillaahumma malikal mulki tu’til mulka man tasyaaa’….”
Aku terus melanjutkan bacaan itu, sampai akhirnya ranjang rumah sakit itu terasa bergetar. Alsya terbangun. Ya, Alsya terbangun. Seperti halnya aku terbangun saat mendengar Alsya mengaji di kelas. Ia langsung menatap lemah padaku. Akupun membalas tatapan lembut itu.
“ Lan..jut..kan Ta..ra…” Alsya terbata mengucapkan kata itu.
Setelah selesai membaca ayat itu, Alsya tersenyum kepadaku. Senyum seperti biasanya. Tetap menyenangkan dan menenangkan.
“ Ini berkatmu Sya. Aku tak akan dapat membaca ayat Al-Qur’an dengan lancar tanpa bantuan guru terbaikku, yaitu kamu.”
Ibu Alsya yang melihat kelakuan kami berdua, tersenyum bahagia dan tak sengaja menjatuhkan bulir air mata. Air mata bahagia. Ibu kemudian mendekat kepada aku dan Alsya.
“ Bu…, Ra…” Lagi, Alsya mengucapkan dengan terbata.
“Aku.. cinta kalian.. karena Allah.” Ucapan itu lemah, namun begitu kuat maknanya. Membuat hatiku bergetar.
Ternyata, kalimat itu, kalimat yang indah itu, kalimat yang penuh makna itu, adalah kalimat terakhir yang ia ucapkan. Alsya akhirnya memejamkan mata untuk selama-lamanya. Dalam dekapanku. Dalam hati aku menjawab aku juga cinta kamu karena Allah.
***
by Dwini Normayulisa Putri