The Shift in Perspective. Seiring bertambahnya umur disertai dengan kehidupan yang penuh riuh setiap hari di pikiran kita. Ada perubahan-perubahan cara pandang dalam hidup. Tadinya mungkin kita sangat ambisius untuk memiliki segala hal dalam hidup, kini kita lebih bisa menghargai setiap hal sekecil apapun yang berhasil kita raih dan miliki.
Ketenangan saat minum teh di pagi hari. Tidur yang nyenyak. Punya teman yang salih. Waktu yang berkualitas dengan keluarga. Merasa cukup dengan rezeki dan takdir yang kita miliki. Badan yang sehat. Dan banyak hal lain.
Dulu, karier, uang, popularitas, harta benda, adalah kehidupan paripurna yang kita gadang-gadang sebagai barometer keberhasilan hidup. Kita mengejarnya, pagi-siang-sore-malam. Memenuhi setiap penjuru ruang pikiran dan hati kita. Sampai-sampai kita merasa tidak tenang saat kita tidak memiliki uang yang cukup banyak (menurut kita), tidak bisa ke sana dan ke sini, dan mengikuti standar keberhasilan hidup di media sosial.
Kita pulang dalam keadaan lelah. Hingga menguap rasa nikmat dan kebahagiaan pada hal-hal yang sederhana. Kita bisa beristirahat tanpa kehujanan, masih bisa makan tiga kali sehari, masih sehat dan bisa beraktivitas, bahkan - saat kita masih bisa mengakses internet dan membaca tulisan ini. Semua hal yang terasa biasa-biasa saja ini, kini berhasil kita hargai dengan lebih baik.
Seiring bertambah dewasa, betapun kita bersiap akan sesuatu, seberhasil apapun kita dalam hidup. Kita sadar bahwa ada hal-hal ada yang di luar kendali, sebuah kejadian bisa secepat kilat mengubah kehidupan kita. Kematian mungkin menjadi sebuah hal yang sering mengingatkan. Tapi pernahkah kita membayangkan seluruh wujud keberhasilan kita tiba-tiba rata dengan tanah karena bencana? Seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita di tempat lain?
Kita begitu rentan, saldo yang banyak di rekening, rumah yang besar, segala hal yang kita tumpuk. Tidak menjadikan kita sebagai manusia yang layak untuk berbangga. Semua itu bisa hilang seketika, jika Tuhan berhendak. Semakin dewasa, kita semakin menyadari kita sangatlah rentan. Dan kesadaran akan hal itu, adalah langkah pertama kita untuk lebih rendah hati.
Hidup kita sebagai manusia ini tidaklah lama. Kita semua mungkin tidak akan mencapai umur 100 tahun. Bahkan jauh sebelum itu, di usia 60 tahun ke atas. Tenaga kita sudah berkurang banyak. Kita tidak segesit hari ini. Kita akan menghadapi ketidakberdayaan dan ketergantungan. Semua hal yang kita miliki, akan menjadi warisan. Harta yang kita kejar mati-matian, jika ia halal akan dihisab, jika ia haram akan diazab.
Kita tidak perlu disibukkan dengan kebanggan diri atas pencapaian-pencapaian yang pada hakikatnya adalah anugerahNya, kehendakNya. Tanpa seizin-Nya, kita tidak akan mencapai semua itu. Bukan banyaknya harta yang akan membuat kita selamat. Bukan sehatnya badan yang akan membuat kita terus hidup. Tapi anugerahNya. Sesuatu yang saat kita semakin dewasa, kita menjadi lebih memahami bahwa kapasitas kita memang sebagai seorang hamba. Dan pengetahuan akan hal ini, sangat menenangkan.
Menjadi rendah hati adalah sebuah proses mengikis ego. Kita belajar untuk menanggalkan keangkuhan diri dan merasa benar. Kita belajar memberi ruang kepada empati, pemahaman hidup, kebijaksanaan, resiliensi, dan ketenangan. Hal-hal yang semakin dewasa, kita semakin merasa bahwa nilai-nilai itu adalah nilai yang lebih kita butuhkan dalam hidup.
Kita bekerja setiap hari bukan sekedar mencari uang untuk hidup. Tapi juga mencari kebahagiaan, ketenangan, dan harmoni. Kita membangun keluarga tidak hanya sekedar menuntaskan tuntutan sosial, tapi juga ingin membangun nilai-nilai yang kita yakini bersama. Semakin dewasa, kita semakin belajar untuk menilai sesuatu dengan proporsi dan prioritas yang berbeda. Kita bisa melihat mana yang lebih penting dalam hidup. Dan kadang, untuk bisa menghidupi keyakinan itu, kita akan kehilangan beberapa hal yang tak lagi sejalan, teman, lingkungan, materi, atau hal-hal lain yang tidak lagi sesuai dengan apa yang kita cari.
Hidup yang begitu keras kita lalui setiap hari, seharusnya bisa membuat kita lebih rendah hati. Bahwa tidak ruang sama sekali bagi kita untuk merasa lebih hebat dari siapapun, lebih berhasil dari siapapun, dan merasa lebih benar dari siapapun. Seiring bertambah dewasa, kita menyadari bahwa kesederhaan menjadi sesuatu yang amat mewah. Saat kita bisa bahagia dengan apapun yang kita miliki. Saat pikiran kita bisa tenang dengan apapun yang sedang kita hadapi. Dan saat hati kita tetap tak tergoyahkan, seberat apapun tantangan yang kita temui.