Jika kesalahan masa lalu sudah bisa kautatap seakan kau menggunakan mata orang lain. Maka kesalahan itu sudah berubah menjadi pelajaran.
````````````````````````````````````````````````
Aku berbohong sekaligus jujur saat kubilang aku tidak pernah menyesal. Sometimes, I wish I could go back in time.
Banyak sekali rupanya orang baik yang hadir ke hidupku. Tapi aku... malah bereaksi semena-mena.
Aku sempat membenci diriku dari masa itu. Tapi membencinya ternyata terlalu mudah, dan sekaligus tidak adil sebab versi diriku yang “belum tahu” itu hanya hidup dengan alat yang terbatas, emosi yang belum terlatih, dan kesadaran yang belum matang. Ia tidak jahat, bukan juga penjahat. Ia hanya belum siap menerima kebaikan.
Katanya, tidak ada orang yang bisa bersikap dewasa sebelum ia belajar dengan cara yang menyakitkan. Kurasa ada benarnya.
Kalau ditanyakan ulang, dan aku menjawabnya dengan diriku yang sekarang, aku bahkan tak mampu membenci diriku yang dulu itu. Jika ada yang harus kulakukan dengannya dengan diriku hari ini, itu adalah memeluknya. Memelukku.
Aku mengerti mengapa dulu aku begitu.
Memang, aku menyesal dan sesekali muncul keinginan untuk kembali. Tapi itu bukan keinginan sejati—hanya dorongan sesal.
Banyaknya pelajaran yang kuhimpun sekarang, adalah berkat semua masa-masa itu juga.
Kembali berarti membatalkan pelajaran. Membatalkan kedewasaan. Membatalkan kejernihan yang kupunya sekarang.
Dan karena aku tak bisa kembali untuk mengganti reaksiku dengan kesadaran yang kupunya sekarang, satu-satunya yang bisa kuperbaiki hanyalah bagaimana aku ke depan. Jika dulu aku bereaksi dengan cara tertentu, sekarang aku punya kesadaran untuk tidak menyikapi pengalaman dengan cara yang sama—yang kelak menjadi sesal lain di masa depan.
Namun hatiku juga sedikit tenang, karena rupanya, masih ada cara menghargai semua kebaikan yang mereka bawa ke hidupku.
Meskipun itu hanya dalam pikiran dan doa, tetap bisa ia menjadi caraku menebus tanpa harus mengulang masa lalu.
Kadang hidup hanya meminta jangan ulangi pola yang sama pada orang berikutnya.
Tidak semua penebusan harus berupa kontak ulang atau permintaan maaf yang egois.
````````````````````````````````````````````````
Memori ini terpantik saat mendengarkan Love More - Sharon Van Etten.



















