Jangan merusak hubungan yang baik hanya karena masih memikirkan masa lalu. Biar bagaimana pun, yang sekarang itu jauh lebih baik karena ia memilihmu dari sekian banyaknya ia mempunyai pilihan.
(via mbeeer)

roma★
Today's Document
ojovivo

Origami Around

Kaledo Art
Stranger Things

No title available

@theartofmadeline
AnasAbdin

Discoholic 🪩

No title available

titsay
he wasn't even looking at me and he found me
d e v o n
sheepfilms
occasionally subtle
noise dept.
No title available

No title available
TVSTRANGERTHINGS

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from Germany
seen from Jamaica

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Arab Emirates
seen from United States

seen from Kazakhstan
seen from Albania
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
@embunsunyi
Jangan merusak hubungan yang baik hanya karena masih memikirkan masa lalu. Biar bagaimana pun, yang sekarang itu jauh lebih baik karena ia memilihmu dari sekian banyaknya ia mempunyai pilihan.
(via mbeeer)
BAGAIMANA MARAHNYA RASULULLAH ﷺ
RASULULLAH Muhammad ﷺ marah kerana beberapa hal. Namun dapat dipastikan, semuanya bermuara pada satu sebab; sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan agama, bukan kepentingan peribadi.
Marah atau gembiranya Nabi dapat dibezakan dari warna raut wajahnya, kerana kulitnya sangat bersih. Bila marah, pelipisnya memerah. Bila marah dan saat itu sedang berdiri, ia duduk. Bila marah dalam keadaan duduk, ia berbaring. Seketika, hilanglah amarahnya.
Bila Nabi sedang marah, tak ada seorang pun yang berani berbicara padanya, selain Ali bin Abi Thalib. Lepas dari itu, ia sulit sekali marah, dan sebaliknya, mudah sekali memaafkan. Kesaksian ini dikutip secara valid oleh Yusuf an-Nabhani dalam “Wasail al-Wushul ila Syamail al-Rasul”.
Bagaimana Nabi marah, padahal ia sendiri melarang umatnya untuk marah?
Dalam riwayat Abu Hurairah misalnya, Nabi mengatakan, “Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Malik).
Dalam riwayat Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meredhai.” (HR. Ahmad).
Jawapannya, kemarahan Nabi itu memang disebabkan oleh beberapa hal. Namun dapat dipastikan, kesemuanya bermuara pada satu sebab, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan agama, bukan kepentingan peribadinya. Nabi perlu marah untuk memberikan penekanan bahwa hal tertentu tak boleh dilakukan umatnya. Sebagai guru seluruh manusia dan pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Nabi perlu marah agar mereka menjauhi segala perbuatan yang tidak elok.
Oleh kerana itu, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam marah saat mendengar laporan bahwa dalam medan peperangan, Usamah bin Zaid membunuh orang yang sudah mengatakan La Ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah).
Sedang Usamah membunuhnya karena menyangka orang itu melafalkan kalam tauhid hanya untuk menyelamatkan diri. Nabi menyalahkan Usamah dan berkali-kali mengatakan, “Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengatakan La Ilaha illallah?” (HR. al-Bukhari)
Raut wajah Nabi berubah kerana marah, ketika sahabat merayu agar dia tak memotong tangan seorang wanita yang mencuri. Alasan mereka, dia adalah wanita terpandang dari kabilah Bani Makhzum, salah satu suku besar Quraisy. Nabi tegaskan, “Apakah layak aku memberikan pertolongan terhadap tindakan yang melanggar aturan Allah?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Di waktu lain, Nabi melihat seorang lelaki memakai cincin emas. Melihat pelanggaran agama itu, Rasulullah marah. Ia lantas mencabut cincin lelaki itu dan melemparkannya ke tanah. “Salah seorang di antara kalian dengan sengaja menceburkan diri ke jilatan api dengan menggunakannya (cincin emas) di tangannya,” sabda Nabi (HR. Muslim)
Sumber: Habib Quraisy Baharun
SILA SHARE DAN SEBARKAN
“Menikahi seseorang adalah menikahi takdir wafatnya. Seseorang yang akan kamu nikahi adalah manusia yang pasti mati. Maka pastikan setiap detik kebersamaanmu dengannya adalah mempersiapkan kehidupan yang baik di akhirat kelak. . . Menikahi seseorang adalah bersiap sepenuh hati untuk kehilangan dirinya (di dunia). Tapi berjuang dengan segenap jiwa agar berkumpul di surga, selamanya.” (Apa Kabar Rindu? hal 84) . . Beberapa hari lagi kami akan membuat promosi khusus untuk buku ini ( #ApaKabarRindu). Bagi yang ga mau ketinggalan silahkan klik link ini http://bit.ly/QouteGratis
Biar jadi yang pertama tahu dan ga kehabisan promonya 😊 . Btw, yakin ga mau ngetag teman untuk diajak baper? 😂😂😂
Untuk yang belum memahami bagaimana Jerusalem, ibu kota Palestina, dicaplok oleh Israel dan diaku-akui sebagai punya mereka, vidéo singkat ini bisa menjelaskan dengan sangat gamblang. Jerusalem atau Al-Quds adalah tanah umat Islam. Final dan garis merah.
Jika kita tidak bisa melindunginya dengan tangan-tangan kita, setidaknya berikan dukungan kepada pejuang di Palestina untuk menjaga Al-Quds agar tetap menjadi milik kita.
Shalat lima waktu adalah registrasi ulangnya orang beriman. Hatimu dimurnikan lagi dengan mengingat-Nya. Syahadatmu diperbarui lagi di tiap tasyahudnya. Dan do'a minta petunjukmu dilantunkan lagi di tiap rakaatnya. Sudahkah kamu registrasi ulang imanmu hari ini?
— Taufik Aulia, di tengah ramai-ramainya registrasi ulang SIM Card
Kau yang di sisi ku kini, yang saat kau hadir semuanya terasa cukup, yang dengan hadirmu kau menepis semua batas sekat yang kubangun, mematahkan semua bentuk idealisme ku. Kau bukan yang pertama bagiku, akupun bukan yang kali pertama membuat jantungmu berdetak kencang. Kau bukan yang pertama menemaniku merancang masa depan yang indah, aku pun bukan yang pertama kali kau janjikan untuk kau temani menua bersama. Kau punya masa lalu, akupun sama. Kau pernah meninggalkan orang yg begitu menyayangimu, akupun pernah menyia-nyiakan seseorang yg begitu kuat berjuang untukku. Kau yang pernah merasa tak diinginkan karena kurangmu, akupun pernah begitu dicampakkan karena segala ketidak sempurnaan ku. Kau bisa lihat persamaan kita kini? Kita adalah dua manusia yang dulu pernah merasakan hal-hal pahit dan manisnya sementara. Kita adalah dua manusia yang sama-sama pergi memeluk hati kita sendiri menjauhi luka. Kita adalah dua manusia yang dulu pernah sengaja dilepaskan dan dibiarkan pergi untuk kembali menemukan/ditemukan. Kau menemukan ku, ku ditemukanmu. Demi segala yang pernah kulalui sebelum ditemukanmu, aku berusaha menjadi yang paling bisa memahamimu, selalu bisa mengimbangi segala ego mu, menjadi tempatmu pulang dgn segala kelemahan mu Aku tak mau berjanji akan selalu menjadi yang terbaik bagimu atau berjanji selalu membahagiakanmu. Aku hanya akan berjanji untuk tidak pergi di saat dalam keadaan termarahmu sekalipun, yang tidak pergi di saat terpurukmu sekalipun, dan tidak akan goyah meski seluruh dunia meninggalkanmu. Karena denganmu lah, bagiku segalanya terasa CUKUP.
اللهم صل وسلم على نبينا محمد
@ghozydes
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
فكر بغيرك
Think upon others
Distansi
Aku tidak punya apa-apa, selain jarak ini. Satu-satunya hal yang menautkan sekaligus membatasi. Semua yang ringan di awal mendadak menjadi sangat berat untuk dijalani. Tapi, rasanya sulit untuk berlalu begitu saja, ketika kita sudah mencintainya dengan terlalu.
Ada yang tertinggal, ialah sebentuk harapan untuk segera melepas rindu dengan senyata-nyatanya. Betapa aku ingin matanya adalah hal pertama yang kulihat saat aku membuka mata. Dengan dekat. Dekat yang dekat sekali. Sayang, waktu tidak mau bersahabat baik dengan jarak. Belum diizinkannya aku mewujudkan keinginan terbesarku itu. Aku, sampai saat ini, harus terus bergerilya memelihara rindu ini sendirian.
Kadang, dia bertanya mengenai kapan dan berapa lama lagi. Aku tidak pernah punya jawabannya. Atau barangkali aku punya, namun aku hanya tidak ingin memberitahunya.
Kapan eksistensimu ada di sini agar bisa kunikmati dengan nyata? Berapa lama lagi aku harus menanti agar tubuh kita segera terpaut? Besokkah? Bulan depankah? Tiga tahun lagi? Atau tidak akan pernah ada hari baik itu?
Dia melontarkan pertanyaan itu berulang pada apa saja. Pada dinding kamarnya, langit-langit tempatnya menatap sebelum terpejam, meja kerjanya, cermin, dan padaku. Apa yang harus kukatakan padanya, ketika aku sendiri tidak berdaya untuk menyentuhnya dari jarak sekian?
Aku melamun, atau lebih tepatnya merenung. Sembari berandai-andai hari besar itu tiba. Hari pertemuanku dengannya. Yang tidak tahu kapan. Kalau saja bisa, aku sangat ingin menukarkan distansi ini dengan apa saja yang aku punya.
Sekarang juga.
Rumah yang paling menyenangkan adalah rumah dengan ibu. Perjalanan yang paling menyenangkan adalah perjalanan dengan kamu.
Kurniawan Gunadi (via kurniawangunadi)
Tadabbur: Nabi Ayyub
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. — (QS. Al-anbiya: 83)
Bismillah, singkat saja mari kita belajar dan mentadabburi kisah nabi ayyub.
Ujian yang Allah berikan terhadap nabi ayyub berupa ujian jasadnya, harta dan juga keluarga, Allah uji ia dengan meninggalnya anak-anaknya, dan mendapat penyakit yang membuat orang-orang tidak mau mendekatinya. Namun meskipun begitu nabi ayyub tetap dekat dengan Allah, tidak pernah berhenti berdoa kepada-Nya
Pelajaran dan Tadabbur dari ayat dan kisah ini
Pertama, perihal cobaan beratnya cobaan tidaklah berarti hinanya seorang hamba di mata Allah. Justru sebaliknya ujian berupa kesusahan malah akan menjadi penggugur dosa-dosa. Cobaan juga banyak macamnya, jika ia berupa kesusahan maka nabi Ayyub mengajarkan kita bahwa obatnya ialah sabar, atau jika berbentuk kenikmatan maka obatnya adalah syukur
Perihal cobaan lainnya, adalah hadist Rasulullah: “Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang shaleh, kemudian yang semisalnya dan semisalnya” (HR. Ahmad) Memang dengan semakin tingginya keimanan seseorang akan semakin berat pula cobaan yang Allah berikan.
Saat ujian seseorang terasa semakin berat dan semakin berat, berarti memang kadar keimanannya yang juga semakin tinggi :)
(Bersambung)
Saat ini, aku lebih menyayangi diriku sendiri. Memulihkan hati dengan memperbaiki diri. Mengobati sepi dengan menyibukkan diri. Bukan mencari pengganti, bukan pula meratapi sepi. Hidupku masih berjalan, dan kamu akan besar kepala jika terus menerus aku jadikan alasannya.
Tenang, aku tetap doakan yang terbaik untuk kamu dan hidupmu. Tak ada lagi luka atas kepergian. Kehilangan itu pasti, namun tak selalu yang memilih untuk hilang akan ku cari lagi. Sekalipun kamu pindah ke lain hati, doaku hanya satu, semoga kamu bahagia. Sebab, jauh sebelum dari hari ini, aku sudah pernah merasakannya. Kamu harus tahu itu. (via fillyshertia)
Time heals everything. Every wound, every tears. Mungkin saat ini, kau sedang memeluk rintih, tak apa, rayakan dalamnya luka. Menangislah sepuasnya, menjeritlah sekerasnya, caci maki saja semaunya. Lambat namun pasti, pada suatu saat nanti, kau akan lelah sendiri dan menemukan titik untuk mengalah pada sayat-sayat perih. Lalu pada hari baik setelahnya, kau akan memerangi duka dengan berbagai senjata. Kau akan tahu senjata apa yang dapat mematikannya. Untuk kemudian menang dan rela. Ketahuilah, sakit mempunyai tenggat hidupnya sendiri, ia pasti mati. Maka sekarang, rasakan saja, hisap semua pahitnya. Hingga kau tumbuh dari energinya, menyisakan ia tanpa bisa. Percayalah, waktu menyembuhkan semua luka. Dengan sendirinya. Karena Waktu adalah raja bagi segala panasea.
(khsnulfitriani)
Love this writing. Keep it up! 🙌
(via karenapuisiituindah)
Ternyata kamu tidak pernah untukku.
Aku hanya mencurimu pada suatu kesempatan. Yang sebenarnya dijatahkan memilikimu datang membawamu kemudian. Menyisakan aku dan kedua telapak tangan yang haus genggaman. Sekalipun aku genggam tanganku sendiri, kanan dan kiri, aku tetaplah pencuri yang kehilangan hatinya sendiri.
Tanpamu Ternyata Aku Baik-Baik Saja
Ramadhan tahun ini tak ada lagi kamu. Tak ada lagi kekesalan karena kamu susah dibangunkan sahur, dan tak ada lagi kamu yang selalu mengucapkan selamat berbuka puasa.
8 bulan kepergianmu. Dulu kepergianmu membuatku takut, takut jika saja aku tak mampu tanpamu. Selalu kuhadapi pertanyaan yang sama; jika bukan kamu, siapa? Tapi Tuan, ternyata aku salah. Dulu aku memang terlalu naif dan terbutakan akan dirimu.
Tuan, ternyata kepergianmu membuatku belajar akan banyak hal. Rasa sakit yang kau tinggalkan mampu mendewasakanku, membuatku lebih tegar dan belajar mengikhlaskan. Kepercayaan yang kau hancurkan membuatku lebih berhati-hati lagi. Tak ingin lagi aku terluka akan hal yang sama.
Kini, hatiku lebih lega. Aku tak perlu mengkhawatirkanmu karena ada seseorang di sisimu. Mari kita saling melupakan masa lalu. Lanjutkan langkahmu tanpa menggenggam tanganku, aku tahu kamu pasti mampu hidup lebih baik lagi. Begitu juga diriku, tanpamu akupun akan baik-baik saja.
ingatan
jalan itu pernah menjadi tempat kaki kita berpijak. beriringan sambil mengenggam tangan. langkah-langkah kita terhapus langkah-langkah kaki manusia lainnya. jejak kita terhapus hujan. dijatuhi dedaunan pada musim kemarau. dilintasi waktu yang terus bergerak ke depan. tapi, setiap kali aku menyusuri jalan itu, aku kembali hidup di masa lalu. aku melihatmu yang kini tak lagi bersamaku.
kursi itu pernah menahan beban tubuh kita. kali pertama kamu mencuri kecup di pipiku. kali pertama mengabadikan foto bersama dengan telepon genggam seadanya. jejak tubuh kita terhapus tubuh-tubuh lain di kursi itu. pemandangan di malam itu, disaksikan manusia-manusia lainnya. menu yang kita pesan, dipesan dan dinikmati sepasang lainnya. tapi, foto buram dengan latar warung beranyam bambu itu hanya memuat kita dan masih kusimpan sampai hari ini.
terminal itu dipadati manusia-manusia. dilintasi kendaraan-kendaraan. tempat mengantar kepergiaan banyak orang. tempat menjemput kedatangan banyak orang. kursi berwarna biru di dekat warung itu pernah menjadi tempat berhentiku, menunggumu datang. warung di dekat loket itu pernah menjadi tempatku berdiri, menunggumu bus membawamu pergi. tapi, pada setiap kepergianmu, harapku terus tumbuh. kita akan berjumpa lagi, bersama lagi.