Bertahan itu gampang, sesederhana hadapi dan jangan mundur. Yang berat itu sabar.
— Taufik Aulia
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
we're not kids anymore.
taylor price

No title available
Jules of Nature
ojovivo
Keni

❣ Chile in a Photography ❣

JBB: An Artblog!
RMH

No title available
Not today Justin
styofa doing anything
No title available
Alisa U Zemlji Chuda
I'd rather be in outer space 🛸
Sade Olutola
wallacepolsom
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Belgium

seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from T1
seen from Germany

seen from Türkiye

seen from Poland
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@epiyulia
Bertahan itu gampang, sesederhana hadapi dan jangan mundur. Yang berat itu sabar.
— Taufik Aulia
Yakin saja! Sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi milik kita, Allah tidak akan biarkannya menjadi milik orang lain.
Termasuk perkara jodoh.
Orang yang Pernah Datang Kepadamu tapi Kamu tidak Memiliki Tempat untuk Menerimanya
©kurniawangunadi
Suatu hari, pernah beberapa kali terjadi di hidupmu. Ada orang-orang yang kamu rasa cukup baik, hadir di hidupmu. Ia berkata kepadamu, kata terbaik yang pernah diucapkan oleh siapapun yang berniat baik. Kamu tersipu, kamu merasa menemukan, ia pun demikian. Kamu merasa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik.
Siapa sangka. Ia adalah ujian.
Hidup ini kadang membuat kita khawatir, mengapa seseorang dinilai begini dan begitu, mengapa sulit melihat kebaikan orang lain, juga mengapa seringkali - kita pun begitu - lebih mudah melihat sisi buruknya. Mencari-carinya untuk menjadi alasan penyangkalan itu. Juga, ada pikiran-pikiran yang dipaksakan untuk seragam, padahal manusia itu sendiri amatlah beragam.
Ia datang kepadamu sebagai dirinya. Kamu menerimanya, tapi tidak dengan mereka. Alasannya beragam dari mulai terlalu jauh, terlalu asing, berbeda asal, berbeda usul, berbeda ini-itu, yang dicari adalah perbedaannya. Alangkah sedihnya hatimu, mendapati kenyataan bahwa ia adalah ujian.
Dikatakan kepadanya, bahwa tidak ada tempat untuk menerimanya. Ia pun berlalu. Begitu seterusnya hingga berkali-kali terjadi dalam hidupmu, kejadian serupa. Berulang-ulang. Sampai kamu bertanya-tanya, apakah akan selamanya begitu?
Salah satu bagian sulit di hidup ini adalah melewatkan kebaikan-kebaikan. Saat kebaikan itu berlalu, tidak sempat menjadi milikmu, dan ia menjadi milik orang lain. Menjadi pahalanya, menjadi amalannya. Kebaikan itu berlalu berkali-kali.
Kini coba perhatikan. Berapa waktu berlalu. Masih tidak ada ruang di dirimu untuk semua itu. Coba perhatikan bagaimana orang-orang yang dulu berlalu, perhatikan bagaimana hidupnya kini. Itu adalah pelajaran berharga yang amat penting.
Sebab satu hal yang sering luput untuk kita insyafi adalah kita sulit menerima kenyataan, kita sulit menerima perbedaan, kita sulit untuk menerima kebaikan hanya karena orang yang melakukannya tidak kita sukai.
Pelajarilah hal-hal yang berlalu, karena mereka adalah ujian. Tentu saja, mereka dititipi oleh Tuhan pelajaran berharga yang bisa kita petik. Sayangnya, tidak semua dari kita bersedia menerima pengetahuan itu dengan terbuka.
Berlalu~
ZINA YANG MENJADI GAYA HIDUP
By. Ario Muhammad
“Bagaimana kamu yakin bakalan puas berhubungan seksual dengan calon Istrimu kalau gak pernah nge-seks sebelum menikah?”
Pertanyaan ini meluncur santai dari salah satu sahabat saya dari Jepang beberapa waktu lalu saat kami sedang makan siang bersama karena dia sangat tahu, seks bebas tak lazim bagi orang Indonesia.
“Saya tidak pernah berhubungan badan dengan yang lain. So how can I make a comparison?” saya membalasnya tenang.
Sejujurnya saya kaget mendapatkan pertanyaan dari dia seperti ini. Tidak pernah terbayangkan dalam otak saya bahwa hal ini akan menjadi masalah bagi seseorang jika dia tidak bisa menikmati kehidupan seksnya, maka pernikahannya tidaklah bahagia.
Kekagetan saya ini juga menjadi pertanda bahwa latar belakang yang berbeda, gaya hidup yang berbeda, nilai-nilai kebenaran yang berbeda ternyata juga melahirkan cara pandang yang berbeda.
Saya muslim, lahir di negeri mayoritas muslim dengan kultur islam yang kuat. Teman saya di Jepang tentu saja berbeda. Agama bukan lagi bagian dari hidup, seks bebas bukanlah aib apalagi dosa bagi mereka. Gonta ganti pasangan tidaklah masalah karena memang begitulah kehidupan mereka. Saya tidak bisa memaksa pemahaman saya seperti ini dalam sehari agar bisa diikuti olehnya. Begitu juga sebaliknya. Wajar jika dia keheranan soal kepuasan berhubungan seks kepada saya. Karena baginya, ini bagian terpenting dari sebuah hubungan resmi bernama PERNIKAHAN.
Dan zina adalah lifestyle di negeri-negeri barat dan tanpa agama. Karena memang mereka tumbuh dengan kultur seperti itu. Agama bukan lagi menjadi pelindung dan pengontrol atas nafsu manusia. Selama suka sama suka, bukanlah sesuatu yang terlarang bagi mereka. Entah itu lelaki sama lelaki, perempuan sama perempuan, semua sama saja. Tak ada masalah sama sekali.
Tak berapa jauh dari kampus University of Bristol, Inggris tempat saya dan Istri mengenyam pendidikan S3, ada club malam untuk Gay, di tempat-tempat umum sudah biasa orang berciuman mesra walau batas-batasnya tetap terjaga dan tidak sembarangan. Karena memang norma mereka dengan kita berbeda. Nilai yang mereka anut dengan kita berbeda. Di UK, pasangan lesbian bisa memiliki anak dari sperma sumbangan. Begitu juga dengan pasangan Gay, mereka juga melakukan hal yang sama. Maka alasan kepunahan manusia terbantahkanlah dengan cara mereka seperti ini. Kehidupan mentalnya bagaimana? tentu tidak akan sempurna sesuatu yang tidak pada fitrahnya, tapi teman saya Fissilmi Hamida ini pernah memiliki landlord (tuan rumah) pasangan lesbi yang punya skill parenting jauuuh lebih baik di banding orang tua-orang tua muslim yang pernah ditemuinya.
Lalu dengan “nyamannya” kondisi di negara barat yang menjadikan zina sebagai lifestyle, LGBT sebagai sesuatu yang lumrah, haruskan di Indonesiapun terjadi seperti itu?
Saya tidak ingin membahas soal penyebaran penyakit akibat dari perilaku zina ini. Karena informasinya sudah banyak beredar dan sudah jelas penyebabnya. Untuk itulah program-program seks sehat digalakkan di negara-negara maju yang kemudian juga disarankan oleh para aktivis YANG ANTI DIURUSI RANJANG-nya mengkampanyekan hal yang sama.
Tapi ingat para orang tua dimanapun!
Terutama kamu yang masih percaya dengan Allah dan syariat-Nya.
Kita sedang memandang wajah anak-anak kita di masa depan. Tentang ketakutan kita akan bahaya pornografi, tentang ketakutan kita akan perilaku seks menyimpang yang begitu mudah tertular, kita sedang khawatir ibu-ibu RT yang kemudian harus tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) karena suaminya sering “jajan” di luar, kita sedang resah karena pelakor yang menghancurkan rumah tangga orang dengan dalih suka sama suka, kita sedang benci dengan maraknya tindakan seks bebas di kalangan remaja.
Ini bukan soal PMS yang bisa diatasi, ini bukan menjunjung tinggi hak asasi seseorang karena atas dasar pilihannyalah dia berzina. Kita sedang mencoba untuk saling menasihati sebagai sesama muslim. Karena agama ini nasihat [1].
Kita sedang ingin mengingatkan saudara kita diseberang rumah atau mungkin saudara kandung kita bahwa masih ada Iman yang harus kita pegang, masih ada kekuatan ruhiyah yang bisa kita perjuangkan agar jauh dari tindakan tak senonoh seperti ini.
Ini bukan hanya tentang kekhawatiran akan masa depan anak-anak kita, keluarga terdekat kita, ketakutan ini jauuuuh lebih panjang dari itu. Yang kita takut adalah saat kita sakratul maut nanti. Saat kita menghadap Allah nanti. Tidak ada kekhawatiran yang mendera begitu hebatnya selain melihat saudara muslim kita sendiri terjebak dalam pusaran maksiat seperti ini. Untuk itu kita memberi nasihat, untuk itulah kita berjuang hingga ke parlemen dan undang-undang.
Ini bukan karena saya lebih baik dan anda lebih buruk dari saya, tapi tentang saling membuka lebar-lebar tentang mana yang salah dan mana yang benar. Tentang kembali ke kultur kita sebagai seorang muslim, seseorang yang masih percaya bahwa ada aturan Allah yang harus kita ikuti, ada rambu-rambu yang harus kita jaga.
Anda mau anak-anak SMA terbiasa hamil lalu cuti melahirkan dan kembali sekolah lagi? ini terjadi di negeri Inggris yang menjadikan zina sebagai lifestyle.
Anda mau suka sesama jenis adalah hal lumrah yang tak perlu dikhawatirkan dan sudah dimulai sejak anak-anak anda remaja? ini terjadi di negara yang tak mau lagi percaya akan Tuhan.
Anda mau jika agama yang menjadi penyelamat hidup kita kelak hanya menjadi atribut tak berguna yang hanya menjadi sumber pengekang kehidupan manusia?
Kalau anda mau silahkan. Tapi tidak dengan kami yang masih ingin nafas islam itu bernyawa di tubuh dan jiwa generasi-generasi kami.
Kami masih ingin lantunan qur'an itu merdua disetiap maghribh maupun subuh di rumah kami dan anak-anak kami kelak.
Kami masih ingin semangat menuntut ilmu di sekolah selalu teriring dengan keinginan yang kuat untuk mendekat kepada Allah.
Kami masih ingin itu terjadi sekalipun kami mati. Untuk itulah kami berjuang menjaga ketahan keluarga agar tetap memiliki nafas Allah dan Rasul-Nya dari rumah-rumah setiap keluarga muslim.
Jika anda tak suka, jangan menuduh kami tak mau memperjuangkan hakmu yang kamu atur sesukamu. Kami sedang khawatir keindahan berislam itu hilang dan luntur dari akar keluarga kami. Untuk itulah kami bersuara.
Saya tidak pernah menyesal terlahir sebagai muslim dan dianggap “terkekang” dengan aturan-aturan agama.
Karena dengan itulah jiwa kami bisa lapang, dengan mengingat-Nya lah hati kami tenang. Kami tak perlu pusing memikirkan akhir pekan harus mabuk berapa lama seperti teman saya dari Romania, kami tak perlu berfikir berapa banyak uang yang harus kami keluarkan hanya untuk MENCARI KEBAHAGIAAN persis seperti rekanku dari Italia yang kebingungan mencari destinasi liburan, kami tak perlu bingung memikirkan apakah calon pasangan kita memuaskan di ranjang atau tidak karena tak pernah mencobanya sebelum menikah, kami tak perlu sibuk bekerja hingga meninggal seperti orang Jepang hanya untuk memuaskan dahaga dunia.
Untuk itu setiap orang tua dimanapun, keluarga adalah kunci dan fondasi paling awal menantang “keras"nya dunia. Jika Agama hilang dari keluarga kita, maka bersiaplah menerima gaya hidup baru yang semakin menjauhkanmu dari Tuhan.
Bagi kalian yang senang semakin jauh dari Tuhan, silahkan. Tapi bagi kami, keberadaan Allah di hati adalah segalanya. Bagi kami, menjaga anak dan keluarga kami dari api neraka lebih kami takutkan dibanding mengikuti mau manusia yang selalu berujung pada nafsu belaka.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [at-Tahrîm/66:6]
Salam musim dingin dari Bristol, Inggris.
[1] Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
Ngeri juga. Nangis di bagian ujung closing statement Bunda Elly Risman.
Yokk di nonton videonya :)
Tunjuki Kami Jalan yang Lurus
Tidak peduli siapapun anda, seberapa alim dan taat diri anda. Tidak peduli se-salaf apapun atau se-sufi apapun anda. Allah telah memposisikan manusia sebagai individu yang belum benar. Individu lemah yang rawan akan kesalahan. Individu rapuh yang sangat membutuhkan pertolongan Allah.
Karena hakekatnya manusia itu belum ada yang benar, maka di dalam sholatnya selalu meminta kepada Allah untuk ditunjukkan jalan. Sebuah jalan yang lurus. Jalan yang diridhoi oleh-Nya. Kemudian berharap Allah mengukuhkan dirinya untuk berjalan di jalan yang lurus tersebut.
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Bagi saya pribadi, ayat ini menyiratkan :
Tiada satupun manusia yang berhasil menjadi “individu yang benar.”
Kita semua masih menjadi “individu yang bersalah.”
Kita semua tak lebih dari “individu yang berdosa.”
Kita semua berharap selalu diberi petunjuk oleh-Nya.
Kita semua terus memohon petunjuk dari-Nya.
Kita semua ingin diteguhkan hati di jalan-Nya.
Kita dituntut untuk terus memperbaiki diri.
Seumur hidup.
Dengan semua “salah tak berhingga” yang ada pada diri manusia, tentu saya akan terpingkal-pingkal jika menyaksikan manusia saling menyalahkan hanya karena merasa dirinya paling benar. Saling menyerang hanya karena merasa idenya yang paling tepat.
Tidak, saya tidak menyindir siapapun. Saya hanya sedang menyentil diri sendiri.
Resolusi Pengasuhan 2018
Berbagai kegiatan dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi perubahan tahun beberapa saat tadi.
Terpikir oleh saya dengan semua perkembangan situasi akhir akhir ini untuk mengajak diri saya, keluarga saya dan anda memikirkan bersama rumusan resolusi pengasuhan untuk tahun ini, 2018.
Berita yang paling mencuat diakhir tahun ini yang sangat mengguncangkan hampir semua keluarga adalah berita berita yang berseliweran tentang meluasnya LGBT dan zina akibat kalahnya sahabat sahabat saya dari AILA, yang berjuang meminta adanya Judicial Review di MK, terhadap beberapa fasal dari KUHP kita yang sudah terlalu tua untuk disesuaikan dengan kenyataan yang ada sekarang ini dimasyaraat kita. Saya tidak akan membahas hal tersebut karena sudah sangat banyak kita simak dari berbagai media terutama TV dan media social. Tapi saya akan mengajak diri saya dan anda untuk memikirkan langkah langkah kongkrit yang bisa dan harus kita lakukan di keluarga kita, segera.
Ajakan saya ini ini juga didasari dengan sangat kuat oleh data dari hasil penelitian yang kami lakukan hampir sepanjang tahun 2017 untuk mengetahui dampak kerusakan otak akibat pornografi terhadap anak dan remaja, yang insha Allah akan kami sosialisaikan diakhir bulan Januari yang akan datang.
Resolusi 1: Perkuat ketahanan Ayah-Ibu.
Selain dari tantangan terhadap pengasuhan anak anak kita, ketahanan terhadap eksistensi keutuhan ayah dan ibu tak kurang kurang di goyang berbagai godaan dizaman ini. Bagaimana kita akan berjuang melindungi anak anak kita kalau ayah dan ibu sendiri menghadapi masalah yang seperti tak berujung. Jadi mau tidak mau ayah dan ibu sebelum mampu menjalankan peran ‘mengasuh berdua’ saya himbau untuk berusaha sekuat tenaga menemukan dulu pokok masalah, berusaha untuk saling terbuka dan mengerti masa lalu dan pengaruhnya bagi kehidupan sekarang. Kita sedang berjuang mempertanggung jawabkan pengasuhan anak kita kepada Allah. Bila ayah – ibu sudah mampu bersatu dan kokoh maka ayah ibu harus segera membuat list apa yang perlu diperbaiki, ditingkatkan dalam hal pengasuhan untuk masing masing anak agar tangguh hidup di era digital ini .
Masing masing ayah dan ibu membuat 3 hal saja yang perlu diprioritaskan ditahun ini untuk masing masing anak.Kemudian gabungkan hasil ayah dan ibu dan terakhir pilih lagi hanya 3 saja minimal untuk di perbaiki dan disempurnakan 6 bulan kedepan. Setelah itu, dijadwalkan topik pembahasannya dan siapa penanggung jawabnya. Bila 3 hal ini telah teratasi maka nanti bisa dijadwalkan 3 hal lainnya untuk waktu berikutnya dengan proses yang sama. Dengan begitu insha upaya yang kita lakukan akan terukur dan bisa dievaluasi. Semua upaya ini harus disesuaikan dengan usia, tingkat kecerdasan dan keribadian masingmasing anak.Dalam hal ini semua haus dipimpin oleh ayah. Peran ayah dalam pengasuhan semakin kritis dan mutlak diperlukan dalam keadaan yang semakin genting sekarang ini. Kurangnya peran dan kehadiran ayah dalam pengasuhan justru sangat signifikan menjadi penyebab dari berbagai masalah moral dan spiritual yang kita hadapi sekarang ini.
Resolusi 2: Menyicil “hutang jiwa” dan merumuskan ulang Tujuan Pengasuhan .
Kalau kita berhutang di bank harus kita cicil begitu jualah hutang jiwa pada anak anak kita. Untuk mewujudkan peningkatan kualitas pengasuhan anak kita, tak bisa tidak kita harus berusaha mencicil dulu “hutang hutang jiwa” yang kita buat tak sengaja sepanjang pengasuhannya ditahun tahun yang lalu. Ayah ibu harus bekerjasama menutup lubang lubang pengasuhan ini, dengan lebih banyak memberikan perhatian dan kasih sayang, kesempatan untuk bersama, mendengarkan perasaan anak, berdialog tentang kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi. Jangan lupa bahwa Tujuan utama pengasuhan adalah untuk menjadikan anak anak kita menjadi penyembah hanya Allah saja.Mereka bukan saja harus mengerti tentang berbagai aturan dasar agama tetapi juga senang menjalankannya dan bisa menerapkan batas batas yang boleh dan tidak, yang haram dan halal. Tujuan lainnya adalah bagaimana secara bertahap sesuai dengan usianya anak memiliki kualitas untuk menjadi calon suami istri dan ayah ibu. Sederhana saja, mulailah dengan bertanggung jawab dengan diri sendiri dan punya empati pada orang lain. Bagaimana anak bisa menunjukkan semua hal diatas, kalau kita sekarang mengabaikan perasaannya. Hal lainnya akan berjalan sesuai usia. Tujuan pengasuhan lainnya adalah membantu anak untuk menjadi professional dengan sukses ditiap jenjang pendidikan dan seperti yang ditentukan oleh agama kita bahwa setiap manusia itu harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarganya serta bermanfaat bagi orang banyak.
Resolusi 3 : Komunikasi yang benar, baik dan menyenangkan.
Kemampuan berkomunikasi adalah salah satu kemampuan yang sangat dibutuhkan dimasa depan, dimana kini komunikasi tersebut telh sangat diringkas dan di”hemat” dengan adanya perangkat teknologi komunikasi. Tetapi komunikasi tatap muka tak bisa dihilangkan begitu saja dan menjadi hal yang penuh tantangan untuk dilakukan dimasa depan, karena sekarang antar kamar saja anak dan ortu berkomunikasi lewat wassap atau sms!.
Kitab suci kita sudah merumuskan aturan baju tentang berkomuikasi yang benar. Biasakanlah untuk tak kehilangan komunikasi tatap muka, bicara baik baik dan berkata benar, bicara dengan kasih sayang, bicara dengan lemah lembut dan dengan suara yang rendah, karena dengan suara tinggi dan besar adalah suara Himar.Komunikasi juga harus mengindahkan kaidah cara kerja otak. Hanya kombinasi agama dan cara kerja otak itulah komunikasi bisa menyenengakan dan mengikat hati dan rasa antar ayah ibu dengan anak anak dan antar anak dengan saudara dan teman2nya.
Resolusi 4: Mengajarkan agama sendiri.
Kewajiban kita pada Allah sebagai “baby sitter”Nya adalah memperkenalkan Allah,RasulNya dan kitabNya serta berbagai aturan dalam kitab suci kita secara langsung pada anak anak kita.Kalau dasar pengetahuan kita kurang, itulah yang harus kita upyakan untuk ditingkatkan terlebih dahulu. Tidak ada salahnya dan tidak usah malu bila kita harus belajar “bersama” anak, karena itu lebih benar dan mulia dibandingngkan mensubkontrakkannya ketangan orang atau institusi lain. Kita perlu memantau pemahaman dan pengetrapannya sepanjang kehidupan mereka sehari hari. Ya keimanannya, ibadahnya, amalan hariannya , akhlaknya adalah tanggung jawab utama kita. Buat kerangkanya untuk masing masing anak sesuai usia, tempel ditempat yang sering terlihat agar mudah teringat, dan berusaha melaksanakan dan mengevauasinya. Kita tidak perfect, jadi jangan berharap anak kita perfect. Pendidikan itu perlu proses. Prinsipnya yang penting SUKA bukan BISA saja. Kalau suka , anak mengerjakan perintah Allah sebagaimana semestinya, bukan hanya BISA melakukannya ketika kita ADA saja!.
Resolusi 5 : Persiapkan anak Baligh.
Karena makanan yang bagus dan rangsangan juga “bagus”, anak kini baligh lebih cepat dibandingkan masa kita remaja dulu. Jadi jangan pernah berfikir “Ah masih lama!”. Tanggung jawab persiapn baligh ini tidak sederhana dan tidak bisa dianggap sepele. Karena begitu anak baligh yang artinya dia telah “sampai” ketahapan dewasa, berarti hukum agama sudah berlaku baginya. Dia sudah dewasa!. Akhirnya khusus untuk anak laki laki, kita abai. Padahal mereka adalah target pebisnis Narkoba dan pornografi!. Orang tua sudah harus mempersiapkan anak pelan pelan dengan penjelasan yang sederhana apa yang akan dihadapi anak pada masa pubertasnya sejak diatas usia 7 tahun. Dari segi ibadahnya,menjaga tubuhnya, berpakaian, pisahkan tempat tidurnya, pergaulan dengan keluarga maupun teman dan sekitarnya dan berbagai adab hidup lainnya.Jangan hanya fokus pada reputasi akademis saja, karena kerusakan otak akibat pornografi tak bisa dilihat dari terganggu atau tidaknya prestasi akademisnya, tapi pada kehidupan emosinya dan spiritualnya!.
Resolusi 7 : Bijaklah berteknologi.
Mengejutkan sekali data yang kami peroleh dari angket yang kami sebarkan dibeberapa propinsi sejak pertengahan tahun 2017 ini, bahwa kecenderungan orang tua memberikan gadget dan social media semakin membenkan diusia semakin muda. Ada beberapa kota dan kabupaten tertentu yang persentase pemberian gadget pada anak BATITA DAN BALITA lebih tinggi dari pada anak SD!.
Kami kawatirkan hal ini terjadi karena orang tua benar benar LATAH, memberikan gadget pada anak karena anak orang lain punya . Tapi lebih menyedihkan lagi kalau pemeberian itu karena orenga tua NGGAK MAU REPOT ngurus anak yang ‘lasak/aktif dan menangis/ rewel atau yang lebih parah karena mereka tidak mau terganggu dalam membaca dan membalas pesan2 teman dari berbagai grup yang dia miliki.
Andai saja para orang tua ini tahu akibatnya bagi otak anak itu, gangguan pada mata, jemari, tulang belakang, perilakunya, dan keberhasilan hidup secara emosional dan spiritual dan betapa repot dan ruginya mereka nantinya, pasti mereka berjuang untuk menunda memberikan perangkat canggih itu pada anak anaknya.
Kendali ini letaknya pada ayah. Berilah anak perangkat teknologi sesuai dengan para penciptanya memberikan pada anak anak mereka 12- 13 tahun. Dan mulai denga perangkat yang sederhana fungsinya.Pemberian perangkat canggih ini tidak bisa tidak harus dengan penjelasan akan fungsi dan bahayanya, aturan yang harus dibahas dan disepakati bersam dan merumuskan konsekuensinya bial dilanggar. Itu saj juga tidak cukup, tpi harus disempurnakan dengan pendampingan , dialog dan diskusi dan pembuatan peraturan berikutnya sesuai dengan meningkatnya usia. Ayah ibu harus menjelaskan pada anak bahaya pornografi, kriminalitas, berbagai jenis narkoba dan kemungkinan kejahatan melalui perangkat tersebut dan bagaimana menghindarinya dengan cara melakukan “bermain Peran” atau Role Play.
Menyedihkan sekali menemukan fakta dari kegiatan kami, anak anak yang diberikan HP pada usia muda, ternyata mengakses pornografi mulai jam 10 malam sampai dini hari…
Sekali lagi ayah bunda, anak anda generasi Millenials dan generasi Alpha (lahir diatas 2010!), tantangannya luar bisa.
Selamat berjuang, Tawakkal dan selalu minta petunjuk Allah dan perlindungannya dan selalu baut semua usha dengan doa yang tiada putus.
Insha Allah!
Elly Risman
# ParentingEraDigital
Silahkan share bila dianggap perlu
Dunia tak boleh tau kamu sedang babak belur. Dunia hanya boleh tau kamu masih tegak dan tak hancur selepas badai menerjang.
— Taufik Aulia
Antusiaslah pada setiap liku perjalanan hidup. Sekalipun bertemu susah dan musibah, tetaplah antusias, tetaplah curiga, bahwa di depan sana ada kejutan yang entah apa, yang telah Allah siapkan sebagai buah dari kesabaranmu.
— Taufik Aulia
Jika perempuan adalah tempatnya salah, maka lelaki adalah tempat sabarnya. Sebaliknya juga sama.
— Taufik Aulia
aku masih di sini, menggigil karena gagal membuatmu kembali, dan kau masihlah sama. terlalu lama untuk pergi, terlalu jauh untuk pulang.
(via karizunique)
Memahami Ketidakpahaman
Dalam berumah tangga, suami dan istri harus berusaha untuk saling memahami.
Tebalkan dan beri penekanan pada kata “berusaha”. Ya, ber-u-sa-ha.
Jika sudah dialami, sebenarnya memahami itu bukan proses mudah. Derajat memahami berbeda dengan mengetahui dan mengenali. Memahami tidak selesai di titik, “Oke, kebiasaan dia adalah suka tidur pakai kaos kaki.” Memahami adalah, “Dia merasa nyaman jika tidur dengan kaos kaki karena itu menghangatkannya, itu sebabnya dia selalu melakukannya.”
Memahami bukan, “Dia pasti marah jika tahu aku tidak meletakkan handuk ke jemuran, biasanya demikian.” Memahami adalah, “Dia mengurus banyak hal seharian. Tak sepantasnya aku membuatnya semakin sibuk hanya karena satu handukku. Maka aku akan menjemurnya segera untuk meringankannya.”
Memahami melibatkan empati dan emosi, bukan hanya kognisi. Dan itu butuh proses belajar sepanjang hayat. Tidak selalu berhasil, tidak semuanya bisa dipahami. Karena itu, saya pun memberi penegasan di paragraf pertama soal usaha.
Usaha pasangan dalam memahami kita pantas kita apresiasi. Meski ada banyak sekali persoalan, yang bagaimana pun pasangan kita berusaha memahaminya, ia akan terhenti di depan pintu dan kembali tanpa menemukan jawabannya.
Kalau sudah demikian, tersisa satu cara untuk tetap menjaga keseimbangan keluarga, yaitu dengan memahami ketidakpahaman pasangan kita.
Laki-laki mungkin tidak akan paham bagaimana kompleksnya emosi istrinya yang baru melahirkan. Laki-laki juga tidak akan paham mengapa perempuan suka bercerita, juga mudah menangis, tapi di lain waktu begitu galak.
Maka perempuan tak perlu menjadikan ketidakpahaman suami tersebut sebagai tanda genderang perang dunia ketiga. Dunia perempuan berbeda dengan dunia laki-laki, pahami dulu itu. Agar perempuan bisa melapangkan hati memahami ketidakpahaman suaminya.
Perempuan mungkin tidak paham mengapa laki-laki masih senang bermain seperti anak-anak bahkan ketika dia sudah menjadi seorang ayah.
Maka laki-laki tak perlu menjadikan ketidakpahaman istrinya tersebut sebagai korek api di ladang jerami. Dunia laki-laki berbeda dengan dunia perempuan, pahami dulu itu. Agar laki-laki bisa melapangkan hati memahami ketidakpahaman istrinya.
Perempuan dan laki-laki tidak perlu memasang standar yang sama terhadap pasangannya dalam beberapa urusan yang memang tidak bisa disatupahamkan.
Memahami ketidakpahaman pasangan terhadap keunikan karakter kita pun adalah proses yang mesti diusahakan dan dipelajari terus menerus.
Penerimaan adalah hulunya. Pantas kita ingat, bahwa saat kita berkata “Aku menerimamu,” itu juga berarti, “Aku menerima kemungkinan bahwa kamu tidak bisa selalu memahamiku dan duniaku, sebagaimana aku pun tidak selalu bisa memahamimu dan duniamu.”
Namun, selama pasangan kita menunjukkan usaha untuk memahami kita, sepatutnya kita menghargainya dan menunjukkan usaha yang sama untuk memahaminya. Selama kita tidak tergesa-gesa; tidak saling menuntut untuk bisa dipahami dengan cepat.
Sebab, bukankah kita masih punya waktu seumur hidup bersamanya–jika Allah menakdirkan? Rasanya, itu waktu yang cukup bagi kita untuk terus belajar memahami satu sama lain, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, dari windu ke windu, dari dasawarsa pertama, ke dasawarsa-dasawarsa selanjutnya.
Bukankah demikian?
😍😍😍
Sometimes giving someone a second chance is like giving them an extra bullet for their gun because they missed you the first time.
https://twitter.com/goodquoteco (via thelovenotebook)
If you’re thinking of studying psychology, follow this @mypsychology.
Untuk setiap yang diperjuangkan, ditunggu, dijalani, dan dibayangkan, bersiaplah untuk semua twisted ending yang mungkin belum pernah kita perkirakan. Tapi, tetap tenang dan bersabar, ya! Allah menjanjikan ada kebaikan di setiap ketetapan, bukan?
(via novieocktavia)
Agar dada terasa lapang, kamu hanya perlu jujur, tentang kelebihan orang dan tentang kekurangan diri sendiri.
— Taufik Aulia
If you’re thinking of studying psychology, follow this @mypsychology.