-garis batas dari bombardir reblog postingan Dani-
Saya yang masih merasa baru kembali lagi ke ladang tumblr ini, memulai dengan mengunjungi beberapa halaman tumblr teman saya.
Mengunjungi Dani seperti semudah menghadirkan diri ke kenangan beberapa tahun lalu. Ketika pertama bertemu malu-malu (versi saya adalah malu-malu mengejar Dani di halaman mesjid salman ITB), ketika Dani mau menjalani tes Indonesia Mengajar dan numpang nginep ke kosan super sederhana saya (ini bukan merendah, tapi memang demikian, kamarnya ada sekitar 40, tapi jumlah kamar mandinya 10 juga ndak sampai, hehe), sungguh saya sangat mengapresiasi nyali beberapa teman saya yang singgah bahkan numpang mandi dan pup di kosan saya tersebut. Cepat saja kemudian teringat kembali kenangan saya dan Dani ke pasar kaget sunmor UGM. Saya suka jajan cemilan dan baju pasaran di situ, Dani senang pegang-pegang packaging benda jualan situ (yaiyalah anak FSRD) dan beli-beli gelang. Makan angkringan di dekat kosan, dan Dani hebat, bisa menjelaskan sesuatu ke mas-mas yang agak sotoy komentarnya. Ada juga kenangan ketika saya dimampukan membalas kunjungan kenegaraan tersebut ke Surabaya. Naik motor goncengan, dimasakin omelet, dan masih juga ngobrol random dengan tema yang melompat-lompat. Makan angkringan di Surabaya.
Saya belum terlalu percaya diri untuk memproklamirkan bahwa Dani ini semacam tempat saya ngaca. Ooh masih jauuuh. Saya belajar banyak dari Dani. Saya ya saya. Dani ya Dani. Hehe. Mungkin sekarang ikatan solidaritasnya agak lebih erat karena berstatus sama-sama perempuan lajang menjelang kepala 3. Semoga dilancarkan semua takdir terbaik dari Allah dan ikhtiar kita masing-masing ya, Dan.
—
Ini foto salju yang saya ambil langsung di kampus, Kobe sekitar tahun 2014. Pagi hari sekitar pukul 6 pagi. Saya sendirian di laboratorium kala itu. Beruntung? Iya. Alhamdulillah. Beruntung akhirnya bertemu pagi setelah semalaman ketakutan di lab mengerjakan tesis, takut pipis, dan bodohnya masih takut hantu. Sudah menjadi hal yang biasa bagi siswa untuk menginap di kampus, entah dengan alasan menghemat listrik apartemen, maupun supaya bisa berkonsentrasi mengerjakan tesis. Bahkan menjelang subuh sebenarnya saya mendengar bunyi kuda berderap, anggap saja kampus memang punya pasukan berkuda.
Perjuangan memang terasa manis ketika dilihat hikmahnya. Entah itu perjuangan yang gagal maupun yang berhasil. Demikian kira-kira kesimpulan fotonya. Manis melihat salju turun halus-halus seperti ketombe… Namun menahan tangis lagi di lab? Oh no way. Kuharus lebih kuat.















