IM SEJUN — FANART
He just approved it being live as meme..
He is always do more troll for him self during live on vlive😂
Fanart by me.
h
occasionally subtle
taylor price

#extradirty
he wasn't even looking at me and he found me
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
AnasAbdin
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

if i look back, i am lost
Misplaced Lens Cap
we're not kids anymore.
No title available

oozey mess
Sweet Seals For You, Always
Cosmic Funnies

blake kathryn

tannertan36
cherry valley forever
Xuebing Du
Jules of Nature
seen from Switzerland

seen from United States
seen from Germany

seen from Italy
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from T1
seen from United States
seen from Uzbekistan
seen from Chile

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Mexico
@evvahsw941224
IM SEJUN — FANART
He just approved it being live as meme..
He is always do more troll for him self during live on vlive😂
Fanart by me.
힌승우 Fanart by me.
Can't wait for his solo debut on August! Fighting my luv, Capt. Woo😘
Yoon Seobin fanart by Me
My first pick on ProduceX101.. Sadly he must out really quickly.. actually, before the program aired on tv:)
But somehow, I think maybe this is his luck, when I remember that program has many scandal issue.. and being the worst survival program.. I mean the voting system that they had was the worst ever..not the trainees or trainers, lol. Honestly, them both are the best.
Please support his activity♥️♥️
Feel free to save. Simple wallpaper design by me
I'm getting bored today and then tried to make something.
When I see this photo of seungsik while he celebrate his b'day on radio, 3 months ago, I got an idea to make this one..
Once again, happy b'day dearest Seungsik
xoxo
VICTON ICON WALLPAPER
Fell free to save.
Wallpaper design by Me.
Isn't cute? ><
Anyway this can be use as sticker printed or phonecase*
*)only for middle- position long camera
Please support them!!!
Victon 2nd Single Album - MAYDAY
Realease : 2020.06.02
CAN'T WAIT THIS SUPRISE COMEBACK💙💛
(Promises - CSY AU : Chap.125)
Keduanya masing masing terdiam. Sore itu, keduanya tengah berada didalam mobil. Tenggelam dalam pikiran masing masing.
Gina tengah memikirkan nasib mobil tua yang telah menemaninya pergi bekerja selama ini.
Sedangkan Seungyoun, sibuk menyusun rencana bagaimana caranya ia memberi kejutan bagi perempuan satu ini.
Ketika mobilnya berbelok menuju arah kawasan sudirman, alis Gina sedikit berekerut. Ia tau ini bukan arah menuju rumahnya.
"Ada yang harus perlu kuambil dikantor, tidak lama kok." Seungyoun tersenyum, seolah tau apa yang sedang dipikirkan oleh Gina.
"Oh gitu."
Mereka memasuki halaman sebuah gedung tower kira kira setinggi 14 lantai. Dibawahnya terdapat sebuah showroom mobil mewah yang tampak begitu luas.
Selain showroom mobil, ia melihat ada dua coffee shop ternama disana. Satu - satunya tempat yang pasti sering dikunjungi oleh pegawai disana saat jam makan siang.
Seungyoun memarkirkan mobilnya di depan lobi pintu masuk. "Gina, kamu ikut turun dengan ku. Mobilnya akan di parkirkan sama petugas vallet disini."
"Oh baiklah," wanita itu mengangguk. Ia lalu mengambil tasnya dan membula pintu mobil. Ia pun berjalan dibelakang, ikut masuk bersama Seungyoun kedalam kantor.
Melihat sikap Gina, Seungyoun tersenyum. Ia menarik tangan Gina dengan lembut dan menggandengnya. "Kamu bukan lah asistenku. Jangan berjalan dibelakang ku apalagi jauh jauh dari ku.."
"Tapi, Youn malu kalau diliat sama para pegawaimu," tolak Gina halus.
"Kenapa musti malu Gin.." Seungyoun mendekatkan wajahnya ketelinga Gina dan berbisik lembut, "Aku ingin memperkenalkan kepada mereka calon Nyonya Cho. Jadi jangan jauh jauh dariku."
Wajah Gina memerah, ia teringat lagi ajakan lelaki itu untuk menikah dengannya. Ia belum menjawab ajakan tersebut. Ia tak tahu apakah dengan menerima kembali Cho Seungyoun adalah keputusan yang tepat atau bukan. "Jangan ge-er dulu. Aku belum mengiyakan ingin menikah dengan mu Youn."
Seungyoun tertawa. Ia sadar ucapan Gina memang benar. Namun, entah mengapa ia selalu merasa yakin kalau Gina akan menjadi istrinya. Ia mengecup sekilas pucuk kepala wanita tersebut, "Iya aku tahu. Jadi kapan kamu akan mengiyakannya, Gin? "
"Mungkin besok atau lusa. Sabtu atau Minggu. Dimusim kemarau atau dimusim penghujan. Tahun ini atau tahun depan. Tak tahu. Hanya itu yang bisa ku ucapkan saat ini"
"Dasar labil.."
"Karena ulah siapa aku jadi ragu ragu begini?"
"Iya deh maaf. Aku sudah sering minta maaf sama kamu. Emang masih belum cukup?"
"Kurang..hehe"
"Dasar.." hanya itu yang bisa dijawab oleh lelaki tersebut.
Mereka tiba di depan sebuah lift. Seungyoun lalu menekan kartu tanda pengenalnya dan pintu lift pun terbuka.
Ia lalu menekan tombol 8E dan setelah bunyi dentingan, pintu lift pun tertutup dan membawa mereka naik hingga kelantai yang dituju.
Ding, pintu lift terbuka dan mereka berada di tempat parkir. Tidak mungkin kan berkas yang diinginkan Seungyoun ada disini?
"Kamu ga salah pencetkan kita sampai disini sekarang?"
"Nggaklah Gin. Emang barang yang mau kuambil ada disini."
Lalu, langkah mereka terhenti didepan sebuah mobil mercedes benz berwarna kelabu. Masih terlihat sangat jelas kalau itu masih baru.
"Itu, mobil baru buat kamu," ia tersenyum pada wanita disebelahnya.
"Happy Birthday Gin..", bisiknya pelan ditelinga wanita itu. "Aku ga terima kata penolakan. Itu hadiah buat kamu.."
(Promises - CSY AU : Chap. 121)
"Pensiunin aja" ucap Seungyoun tiba tiba memecah keheningan.
"Apanya yang di pensiunin?" tanya Gina.
"Mobil kamu. Di pensiunkan aja," ulangnya. Ia mengatakan hal itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. "Kamu gamau ganti mobil aja? Mobil kamu yang tadi emang udah waktunya diganti kan?"
Gina terdiam. Ia memandangi jalanan melalui kaca mobil dikursi penumpang. Ia tau mobilnya itu sudah keluaran lama, dan memang sudah seharusnya diganti. "Hm.. gimana ya, beli mobil bukan prioritasku saat ini. Nanti aku coba pikirkan ulang."
"Memangnya mobil itu udah kamu pake berapa lama?" tanya Seungyoun.
"Berapa lama ya.." suara Gina tampak mengawang, seperti sedang berpikir. "Hm.. itu sebenarnya mobil second pas dulu kubeli. Mungkin kalau sama pemakaianku..ada lebih dari 10 tahun kayaknya."
"Itu udah lama banget Gin.."
"Ya memang," Gina tertawa. "Tapi aku juga butuh uang untuk membiayai sekolah rara dan keperluan lainnya. Mobil bukanlah prioritasku sekarang."
Seungyoun hanya diam mengangguk angguk mendengarnya.
(Promises - CSY AU : Chap. 118)
"Jadi gimana rencana lu selanjutnya?" tanya Jinhyuk.
"Ya itu, menikah lagi.. Memangnya apa lagi?" ucap Seungyoun tertawa.
Pagi itu, Seungyoun mendatangi kantor pengacara milik Jinhyuk, sesuai dengan janjinya. Ia menandatangani sejumlah berkas berkas akhir yang harus diserahkan besok.
"Memang nya Gina sudah mengiyakan?"
"Belum sih," Seungyoun menutup tutup pulpennya. Itu lembar berkas terakhir yang dia tanda tangani. "Btw, kemarin persidangan gimana pas gw absen? Bella ga minta macam macam kan?"
"Nggak. Anehnya justru ia segera mengakui dan ikhlas sama perceraian ini."
"Seriusan?" tanyanya. Ia benar benar tidak mempercayai sepenuhnya. "Masa sih? Bukannya malah jadi aneh? Lu ga curiga sama sekali?"
"Iyalah jelas gw sempat curiga, soalnya dia dari awal ngotot banget buat pertahanin pernikahan kalian."
"Makanya. Aneh banget kalau tiba-tiba dia mengakui dan menerima begitu saja.."
"Ini gak ada kaitannya ama Gina kan? Dia ga diapa apain ama Bella kan?" tampak jelas sorot mata pengcara itu terlihat khawatir. Ia khawatir apa yang dia takutkan akan terjadi.
"Nggak. Semuanya aman kok. Ga ada kejadian aneh aneh..." jawab Seungyoun dengan gamang. Ia sendiri kurang yakin dengan hal itu, sebab tak sempat menanyakannya ke Gina.
"Lu yakin?" tanya Jinhyuk.
"Er..kayaknya..?"
Helaan nafas panjang dikeluarkan oleh Jinhyuk. Lagi - lagi, temannya satu ini tidak berpikir sampai kesana. "Bener ya bucin bikin orang agak bego.."
"Kampret.. ngeledek pula nih si jamet satu"
"Ya elu ga ada tobatnya juga. Capek gua nasehatin elu," ucap lelaki itu dengan nada putus asa. Tiba - tiba saja kepalanya mendadak terasa pening. "Sekarang Gina dimana?"
"Di rumah gua sih..masih urus renovasi."
"Dia dah tau kalau perceraian dah kelar?"
Tak ada jawaban dari Seungyoun selama beberapa detik. Jinhyuk yang tadinya bersandar di kursi empuknya sambil memijit pelipisnya, menoleh ke arah sohibnya ini sekilas.
"Oke, gua anggap dia belum tahu. Ya kan?" tebak pengacara itu.
"Iya," jawab Seungyoun lirih.
"Sebaiknya lu segera menikah dengan Gina. Tanyakan segera. Setelah surat cerai lu keluar, lu harus segera mengurus pernikahan lu," ia mengambil cangkir dihadapannya. Dan menyesap minuman tersebut, "Ingat, setelah berkas pernyataan cerai lu keluar dari kantor agama. Sekarang yakinin Gina aja dulu"
"Iya.. ini lagi usaha.." jawab Seungyoun.
"Dan satu hal Youn.. pastikan Bella benar benar tidak mengusik hidup mu lagi.. karena jujur saja firasat gua ga enak soal perempuan tersebut."
(Promises - CSY AU : Chap. 114)
“Aku pulang,” bisik lelaki itu lembut di telinga Gina. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gina dari belakang dan menarik wanita itu mendekat pada tubuhnya. Kepalanya ia senderkan di bahu wanita itu dan melihat pekerjaan Gina yang ada di tablet. “Hoo.. udah mau kelar ya kamar Rara?”
Wanita itu tersentak kaget. Ia yang tengah tenggelam dalam pekerjaannya, begitu kaget ketika tiba – tiba saja di peluk seperti itu dari belakang oleh Cho Seungyoun. Rambut halus di tengkuknya meremang begitu hembusan hangat napas Seungyoun membelainya saat dia berbisik tadi. Ia berusaha tetap tenang dan mengatur nafasnya. Lebih tepatnya, mengatur detak jantungnya yang tidak karuan. “Kapan sampainya? Baru aja?”
Lelaki itu mengangguk pelan. Ia masih berseder di bahu wanita itu, “Baru banget. Capek banget aku kelamaan di pesawat, Gin.”
Gina menjulurkan tangannya, dan mengusap kepala Seungyoun dengan lembut walau cuman sebentar. Walaupun pandangan matanya tak lepas dari layar tablet itu, “Yaudah kamu langsung istirahat aja. Aku gapapa kok, ini tinggal nyelesein pesanan buat furniture lainnya..”
Seungyoun mengeratkan pelukannya, dan membenamkan wajahnya di tengkuk wanita itu. Ia bisa mencium harum samar bau lembut parfum dan shampoo yang bercampur disana. “Biarkan aku sebentar seperti ini saja, dan aku akan merasa sedikit baikan,” pintanya manja.
Gina menghela nafas pelan, ia ingin protes, namun tidak tega karena tau Seungyoun pasti benar benar Lelah karena efek Jetlag. Berada diudara selama hampir 20 jam lebih, membuat lelaki itu sangat kelelahan. Untuk kali ini saja, ia akan membiarkan Seungyoun bersikap manja seperti itu. “Kamu sudah makan?”, tanyanya.
“Belum. Terakhir aku makan pas sarapan sebelum checkout di Singapura..” ujar Seungyoun.
“Singapur? Kamu gajadi ke New York?”
“Abis dari New York aku singgah di Singapura sebentar, mumpung lagi jalan, sekalian ngecek kondisi perusahaan di Singapura”
“Ohh..” gumam Gina pelan.
“Rara tidak cerita padamu?”
“Cerita. Cuman kupikir karena emang pesawatmu transit disana.”
“Hmm..gitu,” gumamnya pelan. “Kamu udah makan?”, tanyanya balik.
“Belum. Habis ini paling, bentar dikit lagi,” Gina mengetik beberapa kata dan akhirnya menekan tombol kirim. “Youn, bisa lepas? Kamu berat banget.”
“Ringan kok, cuman rasa cintaku ke kamu yang buat semuanya jadi berat selama ini,” ucap Seungyoun sambal terkekeh. Ia lalu melonggarkan pelukannya. “Yaudah aku taruh koper dulu dikamar terus cuci muka bentar, baru kita keluar beli makanan.”
Gina mengangguk pelan. Ia masih berusaha tetap kelihatan tenang, namun mungkin sebenarnya rona merah diwajahnya tak bisa hilang sejak tadi. Ia merasakan jari jari Seungyoun yang mengusap lembut pucuk kepalanya, sebelum beranjak pergi menggeret kopernya yang ditinggalkan begitu saja di ruang tengah.
Ia memperhatikan sosok Seungyoun yang tengah berjalan masuk kedalam kamar. Sudah lama ia tak menyadari kalua punggung seungyoun ternyata selebar itu. Benar – benar berbeda ketika masih di jaman sekolahan dulu. Gina menahan nafas sejenak, mengagumi sosok itu dari belakang.
Rasa hangat pelukan Seungyoun tadi, masih bisa dirasakan oleh jelas oleh Gina. Meski itu sudah berlalu dari beberapa menit yang lalu, namun jantungnya masih saja berdetak tidak karuan. Berkali – kali ia mencoba mengingatkan dirinya untuk tetap bersikap tenang, ia sudah bukan remaja yang tengah kasmaran.
Begitu suara pintu terbuka dari arah kamar Seungyoun, dengan segera Gina mencoba merapikan rambut dan lipatan bajunya didepan cermin yang berada di selasar ruang tengah tersebut.
“Kamu udah cantik Gin, jangan dandan lagi,” ujar Seungyoun santai. Ia bersender pada dinding dan memperhatikan wanita itu yang memoleskan sedikit lipstick di bibirnya. Sesaat matanya terpaku pada polesan lipstick yang membalur bibir wanita tersebut. Ia menelan ludah, berusaha menahan diri.
Ia sadar sikapnya yang langsung memeluk Gina tadi sudah pasti membuat wanita itu risih, ia tak ingin membuat segalanya menjadi lebih canggung. Untung saja dia tak langsung dihajar akibat tiba – tiba main peluk seperti tadi.
“Kenapa? Apa ada yang salah di wajahku?,” suara Gina membuyarkan lamunan Seungyoun. “Kalau beneran capek, mending istirahat aja. Kita pesan makanan aja deh..”
Seungyoun menggeleng pelan. Ia berjalan menghampiri wanita itu, “Nggak. Aku ga capek kok. Kamu terlalu cantik hingga aku terhanyut saat melihatmu.”
Gina memandang Seungyoun dengan tatapan sinis, “Kamu ke New York buat belajar gombal ya? Bukan buat perjalanan bisnis? Apa bisnis mu yang selanjutnya adalah jasa biro kencan?”
Seungyoun tertawa mendengar ucapan Gina yang sangat sarkastik itu. “Terdengar konyol ya? Hahaha”
“Banget, aku sampai merinding mendengarnya,” tukas wanita itu.
“Aku hanya sangat senang kali ini bisa benar benar mengajakmu makan siang diluar sejak hampi 4 bulan tidak bisa kemana-mana karena pandemic ini. Dan selama akhir April hingga Mei kemarin, jadwalku cukup padat hingga jarang bertemu denganmu. Sekarang sudah mau Juni, dan kini larangan untuk tinggal dirumah sudah dicabut. Syukurlah pandemic ini tidak berlangsung lama”
“Iya juga sih.. ya, aku bersyukur ini tidak berlangsung lama dan segalanya mulai kembali sedia kala.”
“Jadi, kita keluar?” tanya Seungyoun.
“Bagaimana kalau aku saja yang menyetir?” tawar Gina. “Kamu istirahat saja, aku tahu kamu sangat lelah..”
Seungyoun menggamit tangan Gina, dan mengecup pungung tangan wanita itu dengan lembut. “Kamu khawatir ya? It’s okay, aku ga capek kok, beneran.”
“Yaudah deh.. tapi kalau kamu minta gantian nyetir bilang ya.. aku gak keberatan gantiin kamu nyetir.”
“Iya, gin.. iya.. yaudah yuk jalan,” ajak Seungyoun.
Ia tak bisa menyembunyikan senyumannya. Rasa rindu yang harus ditahannya selama perjalanan bisnis, dan sikap Gina hari ini begitu menggemaskan, membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
(Promises - CSY AU : Chap. 105)
Ia terus terusan melihat layar handphonenya sembari mengigiti kuku jarinya. Baru kali ini ia segelisah itu. Berharap, ia tak salah mendengar penjelasan Seungyoun tadi di persidangan.
Nikah? Tidak mungkin, ini mustahil. Mana mungkin dia bisa saja tiba tiba bertemu dengan mantan pacarnya?
Siapa namanya ? Kenapa namanya sangat susah untuk diingat ?
Ia berusaha mengingat kembali persidangan mereka tadi. Tapi yang ia ingat hanya tampang Seungyoun yang biasanya terlihat uring uringan dan dingin, tadi justru malah terlihat tenang.
Ia sempat mengira Seungyoun akan berubah pikiran dan mengajaknya untuk rujuk. Ia sudah sangat berharap hal itu terjadi.
Karirnya sudah mulai meredup, dan kembali rujuk dengan Seungyoun hanyalah satu satunya cara untuk membuatnya kembali bersinar. Berita perceraiannya membuat banyak jobnya dibatalkan begitu saja. Citra sebagai istri ideal yang dibangun selama ini hancur karena scandal perselingkuhannya sendiri.
Ia harus mencari cara, bagaimana caranya agar semua kembali seperti semula. Meski itu artinya, ia harus berlutut dan memohon kepada Seungyoun.
Tapi, bagai disambar petir disiang bolong, pengakuan Seungyoun yang ingin menikah lagi dengan mantan pacarnya dulu sudah membuat dirinya terkejut. Ditambah, anak Seungyoun yang tadinya dianggap sudah meninggal karena digugurkan, ternyata masih hidup dan kini tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria.
Begitulah yang ia dengar dari penuturan calon mantan suaminya di persidangan tadi.
Seungyoun sempat menyebut nama keduanya. Namun, ia begitu susah mengingatnya karena terlanjur shock dengan penuturan lelaki tadi.
Perasaan frustasi karena kesempatan untuk rujuk sepertinya sangatlah tidak memungkinkan lagi.
Tapi ada satu hal yang pasti, ia tidak ingin mantan suaminya itu malah bahagia.
Sebaliknya, jika ia tak bisa mendapatkan Seungyoun, maka lelaki itu tidak boleh pula mendapatkan kehidupan yang diinginkannya bersama wanita tersebut.
Ia teringat satu hal, Seungyoun pasti kini sudah tinggal di rumah baru. Karena rumah yang dulu ditempati oleh mereka berdua kini menjadi miliknya. Bahkan, segalanya sudah dibuat atas nama dirinya. Seungyoun benar benar tak ingin meninggalkan sedikitpun sisa kenangan bersama dirinya. Semuanya benar-benar diberikan kepadanya.
Dan ia tahu pasti, Seungyoun tidaklah betah tinggal di kamar hotel untuk waktu yang lama. Ia tahu pasti lelaki itu tidak begitu suka dengan ruangan yang sempit dan meninggalkan kesan seperti memenjarakan dirinya.
Jarinya terus mengusap layar handphone sambil berharap ia masih menyimpan nomor tersebut. Satu satunya orang yang akan dihubungi oleh Seungyoun apabila sesuai dugaannya, bila mantan suaminya itu sudah memiliki tempat tinggal yang baru.
"Ah, ketemu. Syukurlah aku masih menyimpan nomornya," ucapnya lega ketika melihat kontaknya.
Dengan segera, ia mengetikkan sesuatu dan menekan tombol kirim.
(Promises - CSY AU : Chap.98)
"Hah? Apa? TV? Youn plis jangan bercanda," ujar Gina. Ia menatap Seungyoun dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Terakhir pengerjaan aja kamu minta mengganti bathtub ini loh. Sekarang kamu ingin nambah tv? Ga sekalian ku buatin kamar cadangan aja disini?"
Perempuan itu menghela napas panjang. Bisa saja kamar mandi itu di ubah lagi. Tapi dengan kondisi sekarang, akan agak cukup sulit melakukannya. Ya, permasalahan virus ini cukup membuat banyak pekerjaannya jadi terhambat.
Kamar mandi itu sudah cukup fancy untuk ukuran pemakaian satu orang. Bahkan, dibawah ada tempat untuk sauna. Ya, sebenarnya tak masalah. Hanya saja pemasangan sauna berarti diperlukan solar system untuk penyediaan air panas buat penguapan. Dan mencari orang yang mau melakukan instalasi itu agak susah. Kebanyakan sudah menghentikan sementara dan meliburkan karyawan untuk melakukan karantina mandiri selama 2 minggu.
Sama seperti halnya dengan kantornya, usaha yang memang diharuskan untuk bekerja langsung dilapangan seperti ini, cukup terlambat untuk melaksanakan kebijakan tersebut ketimbang dengan yang hanya bekerja didalam ruangan.
Lelaki itu cuman terkekeh, "Ya kan kalau boleh. Lagi pula aku cuman minta ubah ke yang lebih luas dikit... biar lebih rilex aja.."
"Aku ga ngerti sama jalan pikiran orang kaya seperti dirimu. Semakin kaya, semakin aneh keinginannya," sarkas perempuan itu. Ia lalu menatap tabletnya, ah lebih tepatnya tablet pemberian Seungyoun.
Seungyoun yang sedari tadi berdiri tak jauh dari perempuan itu, melirik sekilas ke arah tablet tersebut. "Progress pengerjaan rumah ini udah tinggal berapa persen lagi? Kurasa tinggal ruangan dibawah kan?"
"Huum.. sekitar 85% lagi, dan semuanya selesai," jawabnya. Ia merapikan sedikit anak rambut yang jatuh dan menyelipkannya dibalik telinga dengan begitu anggun, "Seharusnya ini bisa selesai dalam dua minggu kemarin, tapi karena sempat tertunda jadi terpaksa agak mundur dari rencana awal."
Gerakan tangan Gina yang menyelipkan anak rambutnya dan ekspresinya yang cukup serius saat sedang bekerja, membuat Seungyoun sempat menahan napas untuk sepersekian detik. Untuk sesaat, ia bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak resah tak karuan saat memandang setiap inci wajah wanita tersebut.
Sudah dua minggu ia tak melihat wanita itu, semakin cantik pula ketika bertemu lagi dengannya. Rasa rindu dan kekaguman bercampur aduk menjadi satu. Hingga tak bisa digambarkan dengan kata kata.
"Seungyoun.."
Suara Gina membuyarkan lamunan lelaki itu. "Ah, yaa..?? Kenapa, Gin??"
"Kamu melamun?"
"Ngg.. ada sedikit tadi yang mengganggu pikiran ku," elaknya. Ia menyandarkan dirinya pada wastafel agar terlihat santa. "Bukan apa-apa. Kenapa, Gin?"
"Untuk kedepannya kemungkinan pengerjaannya akan sedikit lebih lambat. Sehari masuk, sehari libur. Dan yah, gabakal banyak pekerja yang bakal bekerja disini. Sekitar 4-6 orang aja. Jadi, aku harap kamu segera memberi tahuku jika ada yang ingin kamu ubah lagi.."
"Oh.." jawab Seungyoun. "Tak masalah.. lagipula tinggal dilantai bawah kan?"
Gina mengangguk. "Ya, tinggal disitu."
Mereka lalu keluar dari kamar mandi utama, dan kemudian turun kelantai bawah. Lebih tepatnya, Seungyoun hanya mengikuti Gina turun kebawah.
"Gimana kabarmu selama karantina dirumah?" tanya Seungyoun membuka pembicaraan.
"Hmm gimana ya.. banyak project yang harus ku reschedule ulang. Ada pula yang terpaksa dibatalkan. Cukup melelahkan," jawab Gina. "Bagaimana dengan mu? Nyaris sebulan kamu sudah work from home kan?"
"Ya, sebenarnya tidak terlalu berpengaruh bagiku. Terlebih aku sudah biasa melakukan meeting jarak jauh ketika sedang ada perjalanan bisnis di luar negeri. Hanya saja aku tak tau dengan karyawan ku yang lain. Terutama bagian public relation pasti cukup memberatkan bagi mereka"
"Yah..kamu bosnya Seungyoun. Tak perlu memusingi pekerjaan yang cukup berat seperti karyawanmu. Kamu hanya ketemu dengan klien saja, sedangkan mereka pusing memikirkan untuk mengubah janji temu untukmu.."
Seungyoun menaikkan alisnya, ia sedikit terkejut dengan ucapan Gina, "Kamu sedang menyindirku, ya?"
Gina mengedikkan bahunya, "Bukankah kenyataannya seperti itu? Aku merasakannya, kalau boleh jujur."
Seungyoun terdiam. Perkataan Gina memang tidak ada yang salah. Hanya ungkapan jujur dari seorang yang berposisi sebagai pegawai juga.
Untuk sejenak keduanya terdiam. Gina kembali melakukan pekerjaannya. Ia menghampiri para tukang yang tengah mengerjakan ruangan untuk sauna. Beberapa kali ia memberi arahan agar sauna tersebut dapat sesuai dengan design yang telah dibuatnya.
Tak ingin mengganggu, Seungyoun memutuskan ke dapur dan memperhatikan segalanya dari bar. Dapur itu sudah tidak memiliki sekat, sehingga pandangannya jadi lebih luas. Ia sendiri yang meminta agar ruangan di lantai bawah tidak terlalu banyak sekat untuk memisahkan antar ruangan. Ia ingin menampilkan kesan luas bagi rumahnya.
Seungyoun menyalakan mesin kopinya, ia lalu mengambil dua cangkir didalam lemari cabinet gantung yang ada dihadapannya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Gina.
Diceknya isi kulkas, ia teringat kalau kemarin sempat memesan cake. Dan menyiapkannya semua diatas meja bar yang panjang itu.
Gina yang baru saja kembali dari ruangan sauna di bagian belakang rumah, lalu menghampiri Seungyoun yang tengah asik didapur. Ia duduk di kursi tinggi disebelah meja bar dan hanya memperhatikan Seungyoun yang tengah memunggunginya. Asik meracik kopi.
"Kamu gamau nyoba bikin dalgona?"
"Minuman yang lagi tren itu kan? Sudah kok wkwk.. memangnya Rara ga cerita ke kamu?"
"Nggak.. kamu cerita ke Rara?"
"Aku bikinnya malah sambil facetime bareng Rara loh," Seungyoun menaruh secangkir kopi di hadapan Gina.
Gina memperhatikan kopi yang disodorkan. Tampak ragu-ragu.
"Tenang, itu kopinya decaff kok," ucap Seungyoun. Seolah tau maksud dari sikap Gina.
"Ah iya..makasih.."
Mereka lalu menikmati kopi dan kue di meja bar panjang itu. "Jadi Rara ga cerita kalau aku sering facetime sama dia?"
Gina memotong sebagian kue itu dengan garpu dan menyuapkannya masuk kedalam mulut, "Kalau soal facetimenya sih, dia cerita. Tapi, aku gapernah menanyakan kalian ngapain aja. Lagipula aku percaya kamu gabakal aneh aneh."
"Hmm..kirain kamu bakal marahin aku terus ngelarang buat ngontak Rara lagi."
"Youn jangan mulai, aku mohon. Aku tau aku salah kemarin, tapi sekarang aku ingin memberikan Rara ngerasain berinteraksi dengan papanya."
"Tapi kan Rara belum tau, Gina. Atau jangan jangan udah kamu kasih tau?"
"Belum," Gina menyesap kopinya. "Aku belum berencana ingin memberi tahunya."
Mendengar hal itu, Seungyoun hanya bisa menahan kekecewaannya, "oh begitu.."
"Hanya saja, kurasa Rara sudah jatuh hati padamu, Youn. Mungkin karena secara ga langsung ikatan darah diantara kalian kayaknya," lanjut Gina.
Seungyoun tersenyum tipis, ia senang mendengar hal itu. "Mungkin. Karena aku juga sangat menyayangi Rara. Dia anak yang cerdas, kamu berhasil mendidiknya, Gin. Aku hanya orang ketiga yang masuk begitu saja setelah sekian lama menghilang."
Ada rasa iba menyelimuti dirinya ketika mendengar perkataan Seungyoun. Dia tahu maksud dari itu. Gina tak ingin membuat Seungyoun terus terusan merasa bersalah, segera ia mengganti topik pembicaraan, "Bagaimana dengan persidangan ceraimu? Apa tertunda juga?"
"Ya, tertunda. Apa kamu penasaran?" goda Seungyoun. "Aku tak menyangka kamu akan menanyakan hal itu."
Wanita itu nyaris tersedak ketika ditanya seperti itu. Penasaran? Benarkah dirinya terlihat seperti orang yang penasaran?
"Ah..tidak.. aku hanya melihatnya di TV, dan aku cuman ingin tanya itu beneran atau nggak."
Dengan sekali tegukan, Gina lalu menghabiskan kopi yang ada di dalam cangkirnya. Ia sudah tak ingin melanjutkan pembicaraan kali ini.
"Waktunya kembali bekerja, thanks buat kopi ama kuenya, Youn, " Gina tersenyum.
Ia merapikan rambutnya dan hendak berdiri dari kursi yang dia duduki. Tapi tangannya segera dihentikan oleh Seungyoun.
"Gin.. aku boleh meminta sesuatu? Aku ingin kamu mengubah sesuatu di lantai dua."
"Hm..kamu mau ubah yang mana?"
"Kamu tau ruangan kosong dilantai dua kan? Yang tadinya mau kubiarkan begitu saja."
Gina mengangguk, ia tahu ruangan yang dimaksud oleh Seungyoun. "Lalu?"
"Kamu bisa kan mengubahnya menjadi kamar anak anak? Yang sesuai untuk Rara?"
"Ha?" Gina tercengang. Berusaha mencerna pertanyaan Seungyoun barusan.
"Gin..ayo kita menikah. Selepas perceraianku ini.. ayo kita menikah.."
I MISS BYUNGCHAN😭😭
Please watch their new special MV
The boys and the setting are beautiful lol.. Also the song too..
Atleast this will calming you while in these quarantine days:')
Now we have a new season
Get ready to greet
It’s flying, will you remember that spring day?
In a world where I am you
I’ll be the season
It’s flying like a petal
[Blue Rose - Chap 3]
Pukul 14.30, bel sekolah terakhir berbunyi. Menandakan kegiatan belajar hari itu telah usai. Selepas memberi salam, para murid membereskan buku serta alat tulisnya dan bergegas untuk pulang.
Tak terkecuali dengan kelas XI-IPS 1, kelasnya Hangyul.
"Gyul, langsung cao ke dojang kuy"
Kim Yohan, atau akrab dipanggil dengan Yohan, menghampiri bangku Hangyul yang berada di urutan ketiga pada barisan meja yang sejajar dengan meja guru. Selain teman sekelas, ia dan Hangyul berlatih taekwondo di dojang yang sama. Oleh karenanya mereka berdua cukup akrab satu sama lain.
"Bentar, gua musti ke kelas XII-IPA 3 dulu.." ucap Hangyul. Ia menenteng sebuah tas bekal berwarna abu abu yang dimilikinya, "Mau ngasih ini hehe"
Mendengar nama kelas tersebut, sesaat Yohan menahan nafasnya. Ia tahu kelas yang dimaksud oleh temannya itu. Kelasnya Diva, seniornya, yang juga adalah kakak dari Hangyul.
Terkadang ia masih tidak mempercayai kalau Hangyul dan senior bernama Diva itu adalah saudara kandung. Tampak mereka berdua sikapnya sangat berbeda.
"Yaudah, gua ikut deh.. males nungguin lu di parkiran," ucap Yohan kemudian tanpa berpikir panjang.
Hangyul mencibir, "Cih, bilang aja lu mau cuci mata pas lewat di koridor kelas IPA.."
Serasa tertangkap basah, Yohan hanya bisa nyegir sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya, ia tak bisa mengatakannya langsung pada Hangyul, kalau dirinya ingin bertemu dengan Diva, kakak temannya itu.
Diam-diam, Yohan kagum sama senior satu itu.
Untuk sampai ke kelas IPA, mereka harus memutari sekolah karena letaknya yang berseberangan dengan kelas IPS. Mereka harus menyeberangi lapangan sekolah yang berada ditengah tengah. Lalu, mereka harus menaiki tangga karena semua kelas XI IPA berada di lantai 2.
Namun, sepertinya kali ini mereka berdua tak musti harus menaiki tangga untuk ke lantai 2. Sebab, saat mereka hendak naik keatas, mereka berpapasan dengan Diva yang tengah menuruni anak tangga.
"Loh, Yohan..nemenin Hangyul kesini?" sapa Diva ramah. Gadis itu tersenyum ramah pada keduanya.
Yohan hanya bisa mengangguk sopan dan membalas senyuman seniornya tersebut. Terlalu gugup, ia tak sanggup untuk mengabaikan suara detak jantungnya yang tidak karuan, tiap kali melihat seniornya itu tersenyum saat menyapanya.
"Baru aja gua mau nyamperin ke kelas lu kak," ucap Hangyul. Ia lalu menyodorkan tas bekalnya kepada kakaknya, "Ini kak, kotak bekal gua.."
Diva mengambil kotak tersebut, "Yaudah ntar gw anterin bekal lu pake gosend aja kayak biasa.."
"Sip kak, sans," jawab Hangyul. "Abang udah datang belum?"
"Belum.. tadi pas gw telpon katanya udah dijalan.."
"Ohh.." gumam Hangyul. Ia memeriksa jam di ponselnya, "masih ada waktu. Gua temenin deh sampe abang datang."
Diva mendengar hal tersebut, langsung melirik Yohan sekilas, "Ntar lu telat ke dojang, Gyul. Udah gw gapapa kok sendirian disini. Lagian masih rame tuh. Abang juga ga mungkin lama.."
Diva mengedikkan kepalanya ke arah lapangan, menunjukkan suasana sekolah yang masih terdapat beberapa murid sekolah yang melakukan kegiatan ekstrakulikuler.
"Lu tega biarin Yohan nunggu lebih lama?," lanjut Diva.
"Eh?," sahut Yohan. "Hm..nggak apa apa kok kak.. aku ga keberatan sama sekali.."
"Tuh Yohan aja gapapa kok. Udahlah kak, gua temenin lu 10-15 menitan lagi disini. Gua bisa diamuk abang kalau lu dibiarin sendirian disini."
"Hh..makanya biarin gw cari pacar," gumam Diva pelan. "Biar ada yang jagain gw..."
Hangyul jelas mendengar gumaman Diva tersebut. Hangyul mendengus lalu tersenyum sambil menatap layar ponselnya, "Jangan ngadi-ngadi lu Kak. Gua yakin abang juga gabakal ijinin.."
"Hhh.." dengus Diva kesal. "Ya daripada ga ada yang jagain gw.."
"Lagipula, ga jamin ada yang bisa lindungin elu deh kak.. Gua gabisa mempercayai orang lain buat jagain lu.." balas Hangyul.
"Lu ama abang sama aja. Overprotektif banget. Kesel."
"Ya lu saudari gua ama abang satu-satunya, bego", Hangyul lalu menjitak kepala Diva pelan. "Udah ga usah banyak protes lu kak.."
"Iye iye..." jawab Diva cemberut. Ekspresi bad mood nya tak bisa dia sembunyikan.
Sedari tadi, Yohan hanya bisa menyimak percakapan dua Cho bersaudara dihadapannya itu. Seru juga ternyata melihat interaksi keduanya.
Namun, saat ia mendengar Hangyul tak bisa mempercayai siapapun untuk menjaga kakaknya, dalam hati Yohan membulatkan tekad untuk meyakinkan Hangyul.
Ia ingin lebih dekat dengan seniornya itu. Ia ingin menjaganya.
Disaat itu, tanpa ia sadari, perasaan Yohan yang hanya sekedar mengagumi kini berkembang..
[ Blue Rose - AU : Prologue ]
Suasana hening, para pelayat sudah pergi. Tersisa ketiga bersaudara itu. Memakai hitam – hitam, ketiganya masih berdiri hening menatap tanah kuburan yang baru saja selesai digali. Kuburan kedua orang tua mereka. Meninggal saat baru saja tiba di Indonesia. Kecelakaan.
Tak ada yang menangis. Sang sulung hanya memegang nisan kedua orang tuanya, “Pa, Ma, mulai sekarang abang akan menjaga kedua adek abang. Abang janji akan merawat keduanya, seperti yang kalian berdua harapkan.”
Seungyoun, sebagai anak tertua, yang baru saja lulus kuliah, sudah harus menjadi kepala keluarga bagi kedua adiknya, Diva dan Hangyul. Ia yang bahkan baru menerima ijazah dan belum memiliki pekerjaan apapun, kini berdiri dan menatap kedua adiknya yang hanya berdiri diam menatapnya. Ia menepuk pundak kedua saudaranya itu, “Sekarang kita pulang, yuk.”
Sebenarnya, Seungyoun ingin mencoba tersenyum, agar kedua adiknya juga tidak begitu murung dan sedih. Namun apa daya, dirinya sendiri pun tak sanggup untuk tersenyum. Sekedar menarik sudut bibirnya pun ia tak bisa.
Mereka bertiga terlalu berkabung untuk kehilangan yang secara mendadak. Apalagi yang bisa lebih menyedihkan dari ditinggal oleh orang terkasih tanpa kita sadari sebelumnya? Terjadi cepat dan begitu saja, seolah hari kemarin hanyalah mimpi belaka.
Sepanjang perjalanan, tak ada satupun yang bersuara. Semuanya sibuk dengan pikiran masing masing. Seungyoun yang tengah menyetir pun, juga sebenarnya tengah sibuk memikirkan bagaimana keadaan mereka selanjutnya.
Diva, saudara perempuan satu satunya, baru saja menginjak kelas 3 SMA. Sedangkan Hangyul, ia baru saja memulai karir atletnya dibidang taekwondo, dan itupun dia juga baru menginjak kelas 2 SMA. Kedua adiknya masih sekolah. Ia tentu harus memikirkan biaya sekolah adiknya.
Walaupun ada sedikit harta warisan yang ditinggal oleh orang tua mereka, tapi Seungyoun tak ingin bergantung hanya pada harta warisan tersebut. Tidak, dia harus kerja. Bagaimanapun itu sudah menjadi tanggung jawabnya kini.
“Hmm.. Gyul, Va, malam ini kalian mau makan apa?” tanya Seungyoun. Ia berusaha mencairkan suasana duka yang masih menyelimuti mereka. Mumpung mereka masih terjebak macet di lampu merah.
Hening. Tak ada jawaban sama sekali. Bahkan Hangyul yang biasanya langsung menjawab pertanyaan jika itu berkaitan soal makanan, tidak menanggapi sama sekali.
“Hei..ayolah, kita memang sedang berduka, tapi bukan berarti kita ga makan sama sekali,” seru Seungyoun. Ia melirik Diva, yang duduk dikursi penumpang di sebelahnya, “Va.. lu musti makan. Lu kan ada maag.. Jangan sampai lu gak makan sama sekali.” Seungyoun lalu melirik melalui kaca spion tengah, melihat hangyul yang duduk di bangku penumpang di tengah, “Gyul lu beneran gamau makan? Tumben loh.”
“Gua lagi ga ada napsu makan,” tukas Hangyul. Matanya terus melihat kearah jalanan ibukota yang begitu padat. “ Beliin buat Kak Diva aja, kasian kalau sampai harus sakit lagi.”
Diva terdiam, lalu melirik ke arah lampu lalu lintas yang sudah berubah hijau, “Abang, itu udah lampu ijo.” Ia menghela nafas pelan, masih berusaha mengurai kesedihannya, “Aku juga lagi ga nafsu makan.”
Seungyoun terdiam. Tak menyangka akan jawaban adik – adiknya. Ia juga sebenarnya tidak sedang berselera untuk makan sama sekali malam ini. Tetapi, ketimbang itu, ia lebih khawatir sama kondisi kedua adiknya. “Kalian berdua harus makan, biar ga sakit. Besok udah kalian juga musti ke sekolah kan? Jangan sampai kalian sakit dan gak pergi ke sekolah..”
Biasanya, disaat seperti ini, mereka berdua akan protes kalau abangnya sudah mulai bertuah sepanjang ini. “Yaudah, terserah abang aja..” jawab mereka bersamaan. Mereka tak ingin membatah, ataupun protes.
Mobil lalu berbelok ke arah Kemang, Jakarta Selatan. Iya, pulang kerumah mereka. Tempat mereka tumbuh dan banyak kenangan kedua orang tua mereka disana.
Tanpa suara sama sekali, ketiganya langsung masuk kekamar masing masing, begitu kunci rumah dibuka. Hari yang cukup melelahkan, secara fisik dan mental.
“Dek, gamau tidur dikamar bawah aja bareng abang?” tawar Seungyoun ketika Diva, adeknya baru menginjak dua langkah di tangga rumah tersebut. Kamar cewe itu ada dilantai dua, bersebelahan dengan kamar Hangyul. Sedangkan kamar Seungyoun berada dibawah, berhadapan dengan kamar utama yang biasa ditempati oleh mendiang orang tuanya.
Diva menggeleng pelan. “Gapapa bang. Aku bisa tidur dikamarku kayak biasanya,” ucapnya sambil tersenyum tipis. “Aku ganti baju dulu, ntar turun lagi bantuin abang siapin makan malam.” Selepas berkata seperti itu, ia langsung melesat naik ke kamarnya dan terdengar suara pintu kamar yang dikunci.
“Itu benaran gapapa, kita biarin seperti itu?” tanya Hangyul yang baru saja menuruni tangga dari lantai dua. Ia sudah mengganti pakaian berkabungnya, dengan baju kaos oblong dan celana pendek. “Lu tau kan, kakak seperti apa?”
“Lu sendiri? Gapapa?,” tanya Seungyoun balik. “Lah anjir, lu kok cepet banget ganti bajunya..”
“Gerah,” jawab Hangyul singkat. Ia berjalan ke ruang tengah dan duduk diatas sofa, lalu menyalakan TV. “Gw sebenarnya juga masih sedih, namun mau sampai kapan terus terusan sedih? Gua yakin Papa sama Mama juga bakal ikutan sedih kalau tau kita bertiga masih menangisi mereka.”
Seungyoun mencoba untuk tersenyum, ia tak menyangka adeknya yang bungsu akan berkata seperti itu, “Iya juga sih..”
“Ya, kan?” lanjut Hangyul sembari menonton tv. “Lagipula, hanya ada gua dan abang yang menjaga Kak Diva. Kita udah janji sama Papa untuk melindungi Kak Diva.” Hangyul menoleh, melihat abangnya masih berdiri di depan pintu kamarnya tanpa ada tanda tanda akan masuk untuk berganti pakaian, “Lu mau sampai kapan berdiri disitu? Kan yang nyuruh kita ganti baju perasaan elu.. tapi lunya masih berdiri bengong kek patung gitu.”
“Sue juga lu.. iye iye ini gua ganti baju dulu deh.. kalau Diva belum turun juga, minta tolong segera cek dikamar dia..” pesan Seungyon sebelum memasuki kamar.
Hangyul hanya mengangguk. Diam – diam, dia sendiri juga mengkhawatirkan kondisi kakak perempuannya itu. Ia tahu pasti, kakak perempuannya itu, meski tak pernah kelihatan dari luar, sebenarnya memiliki perasaan yang paling kompleks diantara ketiganya. Ini yang sangat dikhawatirkan oleh abang dan dirinya.
Terlebih, kakaknya itu sangat dekat dengan papa. Berbeda dengan mereka yang sebagai saudara laki laki, justru lebih didekat terhadap mama. Kehilangan kedua orang tua sekaligus, meninggalkan sebuah lubang besar diantara mereka.
Ya, kini hanya tinggal mereka bertiga. Saling menjaga, mensupport, dan saling mengingatkan satu sama lain.
Bagaimana rasanya merasa memiliki seseorang, tapi ia tidak pernah mau memberikan status yang jelas atas hubungan yang kamu jalani?
Sementara ia sudah berhasil membuatmu nyaman. Ia berhasil memenangkan hatimu, dan kamu merasa ia adalah bagian penting dari hidupmu.
Tetapi rasanya menjalaninya membuatmu tersiksa. Kamu tidak memiliki alasan untuk menyampaikan kecemburuanmu. Kamu tidak berhak marah bagaimanapun keadaanya.
Seringkali kamu merasa sedih dan terluka karena kamu tidak bisa menuntut perhatiannya.
Ia bisa datang dan pergi sesukanya. Bahkan ia sering menghilang tanpa kamu tahu ia sedang berada di mana dan bersama siapa.
Saat bersamamu ia memang selalu berhasil memperlakukanmu dengan baik. Kamu selalu merasa menjadi yang paling spesial berada di sisinya.
Tetapi setelahnya kamu selalu saja merasa kehilangan.
Di satu sisi kamu tidak rela jika hubunganmu harus berakhir. Di sisi lain kamu tidak bisa menerima, jika kamu terus-terusan diperlakukan dalam ketidak jelasan.
Sampai-sampai kamu sering menyimpan kesedihanmu sendiri. Ia membuatmu tidak dapat bersikap dan serba salah.
Terjebak dalam hubungan tanpa status membuatmu harus siap kapan saja menerima kepergiannya.
Sebab baginya kamu bukan siapa-siapa. Baginya kamu bukan satu-satunya orang istimewa yang sedang ia pertahankan.
Saat kamu berjuang dan menantinya, bisa jadi ia justru sedang menuju ke arah yang lain.
—ibnufir
Last Call (Park Yury x Reader)
Telfon tidak? Telfon tidak?
Aku terus berkomat kamit sambil menatap layar ponselku. Terpampang jelas nomor Kak Yury disitu. Iya, Kak Yury, mantan pacarku. Entah kesambet setan mana, tiba-tiba saja aku ingin menghubungi mantanku ini.
Nomornya masih kusimpan. Tidak tahu untuk alasan apa dan tujuannya apa. Tapi, aku masih saja menyimpannya.
Sudah 2 tahun berlalu sejak kami putus, nomor itu masih tersimpan rapih di daftar kontakku tanpa ku otak atik sekalipun. Kak Yury (恋人) bahkan namanya dikontakku pun masih sama. 恋人 koibito, atau diartikan sebagai pacar dalam bahasa jepang.
Aku kembali menatap layar ponsel ku. Aku tahu Kak Yury sebenarnya tidak akan keberatan jika aku menghubunginya. Bahkan, dia akan menjawab panggilanku dan kami akan ngobrol dengan normal.
Tapi, nyaliku tidak sebanyak itu. Tidak. Aku masih belum sanggup melakukan hal itu.
Aku menghempaskan diriku diatas kasur. Berbaring dan menatap layar ponselku yang tergeletak di sebelahku.
"Huuh..aku sebaiknya tidak usah menghubunginya. Ntar ngeganggu dia.."
Baru saja 5 detik yang lalu aku berkata seperti itu, tanpa sengaja, jariku yang hanya mengusap ngusap layar ponsel, malah menekan tombol panggilan. Dan yang lebih bikin panik ialah nomor yang sedang melakukan sambungan itu adalah nomor Kak Yury.
Aku terlonjak dan menyambar ponsel ku. Dengan panik aku mencoba memutuskan panggilan itu segera.
"Halo? Maaf ini dengan siapa?"
Suara yang sudah tak asing bagiku. Bergaung masuk ke telingaku bagai nada nada dari lagu lama yang kurindukan.
"Halo?"
Suara Kak Yury masih memanggil dari arah seberang telpon.
"Iyolik bentar dulu, papa lagi ada panggilan.."
Aku bisa mendengar suara Kak Yury yang sedang berbicara dengan kucing kesayangannya, Iyolik. Terbayang sudah tangannya yang lentik itu tengah mengusap kucingnya.
"Salah sambung ya? Halo?"
Suara itu bertanya lagi.
Aku masih terdiam. Menikmati suara Kak Yury dari arah seberang.
Aku tahu bagi sebagian orang, ini akan jadi terlihat sangat mengerikan karena jadi seperti penguntit mesum. Tapi ini semua yang kurasakan
"K-kak Yury.." gumam ku pelan. Nyaris tidak kedengaran. Suaraku tercekat ditenggorokan.
"Ya? Halo? Apa aku mengenalmu?"
Pertanyaan itu serasa meremukkan hatiku.
Apakah nomorku sudah dihapus olehnya? pikirku sedih.
Tapi, bukankah wajar jika ia harus melakukan hal itu.
"K-kak Yu-ry..." ulangku lagi. Aku tak tau kenapa suaraku terdengar terbata bata.
"K-kak..aku..kangen.." sambungku tanpa sadar.
Dua kata itu, yang selama ini kusimpan begitu saja. Yang sudah lama tidak pernah lagi keluar dari mulutku. Akhirnya sukses meluncur begitu saja dari bibirku. Bersama dengan air mata yang membasahi pipiku.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung memutuskan panggilan tersebut. Tidak ingin membuat Kak Yury semakin kebingungan.
Menelponnya saja sudah cukup membuatnya kebingungan. Apalagi, kalau aku melanjutkan telpon itu.
Aku berbaring dan memeluk boneka teddy besar yang selalu menjadi teman tidurku. Aku memeluk boneka itu erat dan menangis.
Aku tak tahu kalau ternyata, bisa merindukan Kak Yury. Setelah semua rasa sakit yang pernah ku alami. Setelah semua kesalahan yang susah ku maafkan.
Tapi, mengapa hanya kata aku kangen yang bisa keluar dari mulut ku? Jadi itukah suara hatiku? Suara hati kecilku?
Sekelebat memori yang sudah lama kulupakan tiba tiba saja berputar didalam benakku bagaikan film lama yang diputar berulang kali.
Pertengkaran itu...
Perselingkuhan itu..
Tawa dan tangis...
Rasa marah, rasa sedih
Dan rasa bahagia...
Semua yang pernah kurasakan saat bersama Kak Yury memenuhi diriku. Terasa menyesakkan.
Sudah lama aku tidak merasakan ini. Sudah lama aku melupakan rasa ini. Sudah begitu lama aku meyakinkan diriku untuk move on dari ini.
Namun malam ini, entah dorongan dari setan mana, aku mencoba membuka luka lama dan menghubungi dirinya.
Ding
Disaat aku tengah menangis. Memeluk dan membenamkan wajah didalam boneka teddy besar itu, aku mendengar suara notifikasi dari ponselku.
Ingin rasanya mengabaikan begitu saja, tapi tubuhku berkata lain. Tanganku lalu meraih ponselku dan membaca isi notifikasi tersebut.
[Kak Yury (恋人)]: "Dek, itu kamu ya?"
[Kak Yury (恋人)]:"Kamu ganti nomor?"
[Kak Yury (恋人)]:"Kakak telpon kamu lagi boleh?"
[Kak Yury (恋人)]:"Kakak juga kangen.."