(Calon) Psikolog Kok Galau?
“Kok kamu galau, sih? Kamu kan (calon) psikolog. Seharusnya kan kamu tahu gimana harus bersikap dan menyelesaikan masalah itu …” Sebagai calon psikolog, saya pernah mendapat tanggapan ‘menarik’ seperti itu ketika bercerita kepada orang lain. Seolah-olah, saya tidak boleh merasakan perasaan-perasaan negatif karena katanya saya mempelajari bagaimana cara mengendalikan dan menyelesaikannya di perkuliahan. Bukan hanya saya, rupanya pengalaman seperti ini juga sering terjadi pada teman-teman sejawat yang lain hingga suatu ketika kami saling bercerita, “Iya ya, kayak enggak percaya banget gitu kalau kita juga bisa sedih dan pernah galau.” Hehe.
Sebagai (calon) psikolog (dan atau anak psikologi di jenjang manapun), kami memang mempelajari bagaimana caranya mengurai benang-benang kusut yang ada di dalam kepala dari pembelajaran di ruang-ruang kelas perkuliahan. Kami juga tahu bagaimana mestinya kami bersikap kepada masalah ketika masalah tersebut terjadi pada kami. Namun, terlepas dari semua itu, kami juga memiliki kebutuhan untuk didengarkan sebagai seorang teman, sahabat, keluarga, dan diri sendiri yang diterima apa adanya tanpa harus diinterupsi dengan kalimat, “Kamu kan (calon) psikolog …” dan atau kalimat lain yang bernada serupa. Sebab, meski benar kami adalah (calon) psikolog, bukan berarti perasaan kami sudah tak penting lagi.
Ketidaktepatan dalam menanggapi barangkali terjadi karena ketiadaan informasi. Kami memahami bahwa mungkin tanggapan-tanggapan 'menarik’ tadi lahir karena ketidaktahuan. It’s okay! Bagaimana pun, terima kasih sudah percaya bahwa kami terampil menyelesaikan masalah kami sendiri. Sekarang, mari kita belajar bentuk tanggapan lain yang lebih positif.
Apa yang harus dilakukan jika ada seorang teman, yang mana dia adalah (calon) psikolog, yang menceritakan masalahnya kepadamu?
Dengarkan, dengarkan, dengarkan. Terima perasaan, terima perasaan, terima perasaan. Setelah emosinya mereda, barulah kuatkan, kuatkan, dan kuatkan dirinya bahwa sebagai (calon) psikolog ia sebenarnya bisa memahami dengan baik apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya sehingga ia akan menemukan pula apa tindakan penyelesaian yang sebaiknya dilakukan. Sebagai penutup dan penguat yang paling ultimate, ajaklah dirinya untuk kembali bergantung kepada Rabbnya, bukan pada dirinya sendiri.
Selamat menjadi pendengar yang lebih baik! Kalau kamu mau tag teman-temanmu yang (calon) psikolog (dan atau anak psikologi) atau siapapun, boleh banget! Have a nice day. Baarakallahu fiik.











