Dari Bawah Atap Rumah Seorang Hamba
Tanpa terasa, sudah dua pekan berlalu sejak himbauan #dirumahaja dimulai. Sebagian besar dari kita hari ini sudah mulai memasuki hari ke-15 masa-masa work, stay, or study from home. Kalau kita perhatikan, semakin hari tagar-tagar bertuliskan #dirumahaja ini pun semakin ramai kita temukan di sosial media, posisinya masih lebih ramai daripada tagar #untiltomorrow. Hehe. Bagaimana kabarmu di masa-masa #dirumahaja seperti saat ini? Ada yang sudah mulai bosan, kah?
Sejujurnya, saat mulai menginjak hari belasan, saya mulai merasa bosan! Saya kangen beraktivitas di luar, bertemu teman-teman, dan juga nyetir motor melewati jalanan-jalanan di Bandung. Hehe. Ketika saya menceritakan ini kepada seorang sahabat, ia menanggapinya dengan, “Eh, ini tuh Alhamdulillah.” Maksudnya, ini tuh perlu disyukuri. Ah yaa, benar sekali! Saya jadi mulai mengevaluasi diri. Jangan-jangan, saya memang sedang kurang bersyukur dengan apa yang saya jalani hari ini. Duh duh duh, astaghfirullah! Tapi, kalimat lainnya membuat saya lebih tercengang, katanya,
“Lama-lama di rumah, jangan sampai amal shalih gak nambah.”
Waduuuh, tolong~
Kalimat ajaib itu terus berulang di dalam kepala saya: lama-lama di rumah, jangan sampai amal shalih tidak bertambah. It hits me, a lot! Betapa tidak, masa-masa di rumah ini membuat jarak kita dengan kasur menjadi semakin dekat, dekat, dan dekat sekali. Bawaannya ingin rebahan terus, kan? Duh, gravitasi kasur ini memang menarik dengan daya tarik yang luar biasa kencangnya! Ternyata, barangkali memang disitulah letak ujian dan perjuangan kita: melawan kemalasan diri agar tetap produktif beramal shalih. Meski #dirumahaja, apa memangnya yang membuat kita perlu tetap produktif beramal shalih? Jelas, karena dimana pun kita berada, waktu kita terus berputar, sementara perbekalan amal belum tentu sudah cukup untuk kita bawa pulang. Lalu, harus bagaimana? Apa yang harus kita lakukan untuk bisa tetap produktif di dalam rumah?
Rancang produktivitasmu!
Pertama, khususnya bagi yang terbiasa produktif di luar rumah, barangkali kita perlu mendefinisikan ulang tentang arti dari produktivitas itu sendiri. Jangan sampai, kita menilai diri kita lebih rendah dan menganggap diri tidak produktif hanya karena tidak pergi ke luar rumah dan melakukan aktivitas-aktivitas di luar rumah seperti biasanya. Percayalah, dari dalam rumah, kita bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat. Hal kecil seperti misalnya menyapu, mencuci piring, merapikan rak buku, atau bahkan potong kuku, itu juga produktif! Jangan sedih. Hehe.
Kedua, saya biasa memulainya dengan mengevaluasi diri terkait hari-hari dan hal-hal yang bergulir di hidup saya dalam beberapa waktu ke belakang: apa yang perlu diubah, ditingkatkan, diperbaiki, dst. Berangkat dari sini, biasanya jadi muncul check list harian apa saja yang perlu dilakukan. Misalnya, membaca buku-buku yang belum selesai, ikut course online, meningkatkan skill masak dan beres-beres rumah, dst.
Ketiga tapi paling utama, cek apa saja yang berkaitan dengan profesionalitas kita sebagai hamba yang ingin kita tingkatkan. Kalau sebelumnya shalat sunnah kita masih berantakan, mungkin inilah saat yang tepat untuk kita memperbaikinya. Kalau sebelumnya baca Sirah tapi belum juga selesai, mungkin inilah saat yang tepat untuk kita menyelesaikannya. Kalau sebelumnya shalat tahajud masih suka kesiangan, mungkin inilah saat yang tepat untuk kita memperbaiki siklus tidur dan terjaganya kita, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Melakukan ini semua itu rasanya menantang, bukan? Yup, tentu saja! Tantangan pertamanya adalah bahwa kita butuh adaptasi untuk bisa melakukannya. Untuk membantu proses adaptasi itu, kamu bisa memakai alat bantu, baik itu yang manual seperti buku catatan atau yang digital seperti aplikasi di ponsel. Kalau saya, biasanya saya menggunakan tools of productivity yang digital. Kamu boleh bebas menggunakan apa saja yang nyaman bagimu. Selain itu, seru juga untuk melakukannya bersama teman-teman agar bisa saling mengingatkan dan menyemangat.
Bagaimana pun, meski kita #dirumahaja, dari bawah atap-atap rumah kita pada akhirnya kita tetap dan masih selalu menjadi seorang hamba yang tidak bisa terlepas dari tugas-tugas kehambaannya.
Masa-masa banyak di rumah seperti ini jangan sampai melunturkan produktivitas ibadah kita. Remember, meski hanya diam di rumah, ada begitu banyak hal yang bisa kita lakukan untuk tetap meraih cinta-Nya. Jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk membuat produktivitasmu dari dalam rumah bisa melesat?
Yuk bisa yuk, semangat ya!
___
Picture: Pinterest
#SalamProduktif #dirumahaja












