Waktu mau menikah, aku bilang pada suamiku yang pada waktu itu masih calon, kalau aku ingin lanjut S2. Aku ingin menikah tidak membuatku berhenti belajar dan upgrade ilmu. Pada waktu itu, beliau bilang begini,
“Aku dukung, sekalipun kamu mau S2 keluar negeri kita capai itu sama-sama. Sekalipun kita harus pakai uang sendiri.”
Dan itu semakin memperkuat diriku menerima lamarannya. Waktu bergulir, dan kini aku menjadi istrinya. Kesempatan untuk S2 itu belum aku ambil, pun kuusahakan dengan serius karena saat ini aku masih fokus di keluarga.
Tapi suamiku tetap suamiku, yang selalu mendorong istrinya untuk tetap belajar dan aktualisasi diri. Semangat menuntut ilmu tersebut, kami masukkan dalam visi misi keluarga. Beliau selalu support agenda-agenda keilmuan yang ingin aku ikuti ataupun mengalokasikan budget khusus untuk memfasilitasiku tetap menuntut ilmu.
Akupun kadang jadi melunjak, hahaha. Ingin ikut kursus ini, itu, seminar ini, itu, beli literatur ini, itu, banyak sekali. Beliau tidak pernah tidak mengizinkan selagi itu baik dan bermanfaat.
Lain halnya kalau aku mau beli baju, skincare, atau sekedar ke salon…harus melobi izin sampai waktu. Sekalipun suamiku mengizinkan, proses acc-nya cukup lama. Misal pengen ke salon besok, di acc baru minggu depan. Kalau hendak membeli baju, sepatu, atau tas–aku bakal dikritisi habis-habisan. Mulai punyaku masih bagus, masih ada banyak, tidak perlulah, ingat hisab blablabla.
Tak apa, aku jadi tahu bahwa ukuran yang beliau gunakan bukan yang tampak, bukan duniawi, dan bukan materi saja. Dia mengukur kedalaman segala sesuatu dengan ukuran lain, yang tidak semua laki-laki memilikinya. Dan aku bersyukur beliau salah satu diantara laki-laki jenis ini.
Mungkin aku juga akan tertekan apabila suamiku adalah seseorang yang selalu mendorong istrinya untuk cantik lahiriah, tanpa mengakomodir urusan cantik batiniah #halah.
Memastikan pasangan juga sama-sama bersemangat menuntut ilmu menurutku banyak untungnya. Selain pola pikir yang terus meluas, biasanya akan lebih terbuka pada diskusi dan ide-ide baru. Dampaknya keluarga bertumbuh sama-sama. Jadi memperpanjang ‘sumbu’. Nggak sering konflik perkara remeh :D
Baik laki-laki maupun perempuan, punya kebutuhan dan kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu dan aktualisasi diri di mayarakat. Maka gandenglah tangan pasanganmu, ajak dia untuk sama-sama bersemangat menunaikan hal-hal yang Allah cintai itu. Lillah, demi keluarga yang kompak, untuk peradaban yang lebih baik. #tsaaahhhh 😆