Rekap Agustus: Tentang Indonesia Saat Ini
Beberapa waktu terakhir banyak sekali kejadian entah itu baik maupun buruk. Di bulan Agustus ini, Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-80. Tentu saja harapan baik akan selalu digaungkan agar negara ini menjadi lebih baik seiring semakin bertambah umurnya. Tetapi dalam beberapa waktu terakhir, bukannya semakin baik negara malah semakin memburuk.
Terpantik dari awal Agustus, dimulai dari ekspresi kekecewaan rakyat terhadap negara adalah dengan dikibarkannya bendera Jolly Roger khas One Piece. Beberapa pejabat menganggap ekspresi kekecewaan sebagai hal yang makar sehingga beberapa bendera ditindak tegas oleh aparat. Jika saya sendiri menarik benang panjang dari hilir ke hulu tentang keadaan Indonesia akhir-akhir ini, maka inilah titik hulu dari segala permasalahan di akhir Agustus ini.
Menjelang hari kemerdekaan, berhembus kabar kalau segala transaksi akan dikenakan pajak berlebih. Pada waktu itu, ini memang berita yang masih simpang siur. Tetapi jika memang akan terjadi hal seperti itu, artinya memang benar pejabat negara ini seperti seorang vampire yang menghisap darah mangsanya sampai habis.
Dan benar saja, saya mendengar-dengar ada kabar mengenai Pajak Bumi dan Bangunan yang bisa melonjak 250 hingga 1000 persen. Dan itu semua sudah direncanakan tanpa ada persetujuan dari rakyat. Tentu saja rakyat murka dengan hal ini.
Di hari kemerdekaan, seakan tak peduli dengan protes rakyatnya para pejabat itu berjoget di kala rakyat Indonesia sedang hidup tidak layak. 60 persen penduduk Indonesia berasal dari kalangan miskin.
Tanpa empati, beberapa hari setelah kemerdekaan pejabat-pejabat khususnya di parlemen dikatakan akan menerima tunjangan lebih banyak yang dikatakan mendapatkan 3 juta per hari untuk perumahan. Di saat rakyat rata-rata mendapatkan gaji minimum 2 hingga 3 juta per bulan, tunjangan parlemen bisa 30 kali lipat rakyat biasa.
Jika dibandingkan dengan parlemen negara lain, tunjangan dan gaji parlemen sendiri sudah 20 kali lipat daripada gaji minimum pegawai di Indonesia. Belum lagi gaji itu didapat kebanyakan dari pajak. Ya memang betul, 82 persen penghasilan negara Indonesia ini memang dari pajak. Tetapi, apakah saking kurangnya pejabat ingin memeras lebih lagi rakyatnya? Tentu saja, dan rakyat tidak terima.
Dan jadilah aksi yang terjadi di paruh akhir Agustus. Aksi ini didasarkan pada kekecewaan rakyat Indonesia terhadap parlemen dan pemerintah pusat yang membiarkan permasalahan pajak dan tunjangan parlemen yang terlalu berlarut. Rakyat dari berbagai elemen turun ke jalan, mulai dari mahasiswa hingga buruh. Mereka menuntut untuk membubarkan parlemen periode ini karena tindakan mereka yang semena-mena dan menantang masyarakat.
Dari sisi parlemen, ada seorang yang menganggap rakyat t0l0l karena parlemen tidak bisa dibubarkan. Hal itulah yang semakin menyulut amarah rakyat kepada pemerintah sepenuhnya. Aksi semakin gencar dilakukan di beberapa daerah, tidak hanya di pusat saja. Di daerah saya, ada aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dan rakyat di depan Gedung DPRD. Hal yang diminta tentu saja adalah sama, agar pejabat tidak semena-mena dengan rakyat yang telah memilihnya.
Tentu saja aksi demonstrasi ini membawa beberapa korban entah itu luka-luka maupun korban jiwa. Tetapi ada satu sulutan besar yang membuat aksi ini semakin masif bahkan mengarah ke anarkis. Berawal dari polisi yang menabrak seorang pengemudi ojek online hingga tewas, kini pengemudi ojek online juga ikut murka. Akhirnya bisa ditebak? Tentu saja pengemudi ojek online juga ikut aksi dan menyerang kantor polisi di kota besar. Dan oleh sebab inilah aksi berubah menjadi anarkis di beberapa kota. Polisi dan warga ikut menyerang, seakan teralihkan fokus mereka kepada parlemen.
Lalu bagaimana kondisi parlemen saat ini? Mereka ketakutan bahkan sampai membatalkan rapat. Beberapa ada yang kabur ke luar negeri dengan uang rakyat. Ada yang ke Singapura, ada yang ke China, dan beberapa negara lain. Rakyat yang sudah terlanjur anarkis mulai menyerang ke rumah-rumah pejabat. Melucuti harta-harta pejabat, mereka tanpa ampun mengambil apapun yang ada di rumah-rumah mereka.
Itulah yang menjadi hal yang saya tahu di Agustus awal hingga akhir ini. Bulan kemerdekaan yang harusnya penuh suka cita berubah menjadi penuh petaka dan keributan. Dan itu sendiri berawal dari ulah pejabat yang macam-macam kepada rakyatnya sehingga aksi di berbagai daerah tak bisa dihindari. Apakah akan terus begini? Sepertinya selama rakyat masih belum menemukan jawaban dari pejabat pemerintahan, aksi akan terus meluas.
Pemerintah memang seharusnya mendengarkan apa yang rakyat katakan. Bukankah negara kita ini negara demokrasi? Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Ataukah negara kita menuju otoriter absolut dengan segala pembungkaman yang terjadi? Entahlah, saya harap negara saya ini baik-baik saja. Saya sangat suka negara ini dengan segala rakyatnya, tetapi tidak dengan pejabat pemerintahan yang tidak saya sukai karena tidak pernah jujur kepada rakyatnya.